Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.
Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.
Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dermaga Penyeberangan Wanua Pakunden
Jenar Karana melirik ke arah luka sayatan pedang di lengan kiri atas lalu tersenyum pada Resi Wiramapati.
"Hanya luka kecil saja, Resi..
Selain itu, aku masih baik-baik saja", ujar Jenar Karana kemudian yang membuat pimpinan Pertapaan Linggapura itu menghela nafas lega.
" Syukurlah Sanghyang Siwa masih melindungi kita. Ayo kita lihat yang lain, barangkali ada yang butuh bantuan ", Jenar Karana mengangguk setuju dan bergegas mengikuti langkah Resi Wiramapati.
Beberapa bangunan pertapaan hancur dan dilalap si jago merah, menyisakan puing-puing arang dan asap yang masih mengepul. Beberapa mayat anggota kelompok perusuh nampak bergelimpangan dimana-mana, pun juga beberapa orang cantrik Pertapaan Linggapura yang turut menjadi korban serangan malam hari itu.
Limbu Jati, Si Kundu, Wanapati dan Dyah Rangga berjalan menyongsong kedatangan Resi Wiramapati dan Jenar Karana. Sedangkan Wulandari, Nyai Rompas istri Resi Wiramapati dan juga putra mereka Widarba juga ikut serta mendekati mereka.
"Bagaimana keadaan kalian semua? ", tanya Resi Wiramapati begitu keluarganya mendekat.
" Aku tidak apa apa, Kakang Resi.
Tapi gudang makanan kita dibakar oleh para perusuh itu. Hanya sedikit bahan pangan yang bisa diselamatkan ", lapor Nyai Rompas segera.
" Jalu dan Ki Mangun terbunuh Ayahanda, saat berusaha menyelamatkan biyung ", imbuh Widarba yang berjalan sambil memapah ibunya.
Hemmmmmmmmm..
" Kalian tidak perlu terlalu sedih dengan semua itu. Mereka sudah mengikuti garis takdir mereka masing-masing. Yang terpenting adalah kalian masih selamat.
Gusti Pangeran, apakah paduka masih baik-baik saja? ", Resi Wiramapati mengalihkan perhatian dari keluarga nya ke kelompok Dyah Rangga.
" Berkat perlindungan dari para cantrik Pertapaan Linggapura, saya masih baik-baik saja Resi. Terimakasih banyak saya berikan ", jawab Dyah Rangga tetap dengan gaya bangsawannya.
" Kalau para pengawal pribadi Gusti Pangeran, apakah juga masih baik-baik saja? ", kembali Resi Wiramapati bersuara.
" Hanya Gelarsena yang tidak nampak batang hidung nya, Resi...
Mungkin dia... ", Wanapati urung melanjutkan omongan kala mendengar suara yang sangat dikenal nya.
" Saya juga baik-baik saja, Gusti Wanapati.. "
Semua orang segera menoleh ke sumber suara dan mendapati Gelarsena sedang berjalan sambil menyeret seorang lelaki berpakaian hitam.
"Saya berhasil menangkap salah satu dari para perusuh ini, Gusti Pangeran. Saya yakin ia pasti bicara untuk mengatakan siapa dalang dibalik semua peristiwa ini", lanjut Gelarsena sambil mendorong si lelaki berbaju hitam yang mukanya babak belur bekas dia pukuli.
Lelaki bertubuh sedikit kurus itu nampak pucat ketakutan karena semua orang sedang menatap nya. Dia duduk bersimpuh di kelilingi oleh semua orang yang dalam pandangan mata nya sangat ingin menghabisi nyawa nya.
"Lebih baik kau jujur jika masih ingin melihat matahari esok pagi..
Katakan, siapa orang yang menyuruh kalian membuat kerusuhan di tempat ku ini?", tanya Resi Wiramapati segera.
" Eh saya saya saya... ", orang ini terlihat ragu-ragu untuk menjawab.
Si Kundu yang masih kesal karena ulah salah satu dari kelompok perusuh yang berhasil merobek baju kesayangan nya, mencari pelampiasan. Dia langsung bergerak maju dan menempeleng pipi orang ini dengan keras.
PLLAAAAKKKKKK!
Aaauuuugggggghhhh...!!!
Anggota perusuh itu mengerang kesakitan sebelum jatuh tersungkur dengan bibir pecah. Darah segar langsung merembes keluar dari luka itu.
"Ngomong yang benar, jangan cuma saya saya saya..
Lama-lama tak jadikan makanan ikan kau nanti", maki Si Kundu sambil mencengkram baju si lelaki berpakaian hitam ini.
" Ampun ampun, saya akan bicara. Jangan pukul lagi..", hiba lelaki itu yang membuat Si Kundu langsung melepaskan cengkeraman nya dan berdiri.
"Kami semua adalah utusan dari Patih Mpu Ranu dari Paguhan. Anak Ki Patih yang bernama Jatmika menginginkan Nini Wulandari sebagai istri nya. Jadi dia menyuruh kami untuk menculik Nini Wulandari.. "
Mendengar apa yang dikatakan oleh orang ini, Widarba anak Resi Wiramapati langsung mendengus geram.
"Dasar kurang ajar..!!
Sudah ditolak lamarannya, masih juga keras kepala menginginkan adik ku. Ini tidak boleh dibiarkan saja Ayahanda. Mereka sudah melakukan hal yang berada di luar garis tata krama bermasyarakat.. ", ucap Widarba penuh emosi.
Hemmmmmm...
" Tindakan mereka memang sudah diluar batas kewajaran, Widarba..
Aku akan menghadap pada Gusti Adipati Dyah Uttara untuk mengadukan masalah ini sekaligus meminta pertanggungjawaban dari Patih Mpu Ranu. Jika terus dibiarkan saja, mereka pasti akan kembali untuk melakukan hal yang sama", tegas Resi Wiramapati yang disambut anggukan kepala oleh seluruh anggota keluarga nya termasuk Nyai Rompas.
Malam penuh ketegangan itu pun berakhir dengan bahagia.
Pada keesokan pagi nya, rombongan Dyah Rangga bertolak meninggalkan Pertapaan Linggapura. Sebagaimana janji yang telah diucapkan oleh Resi Wiramapati, mereka diberi 4 ekor kuda dan satu kereta kuda lengkap dengan kuda penariknya. Si Kundu menjadi kusir kereta kuda sementara Wanapati, Gelarsena, Limbu Jati dan Jenar Karana menjadi penunggang kuda. Dengan kereta kuda ini perjalanan mereka pun menjadi lebih cepat.
Menyusuri jalan di selatan Sungai Serayu, begitu sampai di pertigaan dan bertanya pada seorang penduduk yang mereka temui, rombongan ini berbelok ke utara. Saat matahari hampir di atas kepala, rombongan Jenar Karana sampai di Pakunden, sebuah kota kecil yang memiliki dermaga penyeberangan.
"Apa kita tidak cari makan dulu, Gusti Pangeran? Sudah siang loh ini.. ", ucap Si Kundu sambil terus melecut kuda yang ia kendalikan.
"Dekat dermaga penyeberangan pasti banyak warung makan, Ndu.. Nanti kita makan disana", jawab Pangeran Dyah Rangga sambil tersenyum.
Dan benar saja, sesampainya di dekat dermaga penyeberangan beberapa warung makan berdiri berjajar di kanan kiri jalan. Jelas mereka mengais rejeki dari para penumpang perahu penyeberangan karena dermaga penyeberangan Pakunden adalah salah satu yang paling ramai di kawasan sekitarnya.
Di depan warung makan yang terletak paling ujung dekat dengan dermaga penyeberangan, rombongan Pangeran Dyah Rangga berhenti. Ini adalah warung makan yang cukup besar dengan halaman yang bisa digunakan untuk memarkirkan kereta kuda mereka dengan aman. Beberapa pekatik ( perawat kuda) yang merupakan pekerja warung makan ini langsung bergerak maju menyambut kedatangan mereka. Dengan cekatan mereka menuntun kuda pada tempat yang disediakan agar kuda kuda ini dapat makan dan minum secukupnya. Sepertinya ini memang pelayanan khusus yang diberikan oleh rumah makan ini kepada tamu yang datang dari jauh.
Segera setelah turun, rombongan Pangeran Dyah Rangga melangkah ke arah pintu masuk. Mereka langsung di sambut oleh seorang perempuan paruh baya dengan senyuman ramah dan hangat.
"Selamat datang di Warung Makan Rondo Kuning, Kisanak sekalian..
Ada yang bisa kami bantu? ", tanya perempuan paruh baya itu dengan ramah.
" Berikan kami makanan paling enak di warung makan ini, Nyai..
Perkara duit bukan masalah, berapapun harganya kami bayar ", ucap Wanapati sambil menepuk kantong kain berisi kepeng perak di pinggangnya. Bunyi gemerincing kepek perak beradu langsung membuat mata perempuan tua itu melebar.
" Wahh Rupa-rupanya ada saudagar kaya yang datang ya..
Silahkan silahkan duduk di meja sana, saya akan menyiapkan hidangan terbaik warung makan kami.. "
Mendengar ucapan si perempuan paruh baya, rombongan Pangeran Dyah Rangga segera menuju ke sebuah meja dengan beberapa kursi yang ada dekat dengan jendela warung makan. Kebetulan disana mereka bisa melihat langsung ke arah dermaga penyeberangan.
Tak butuh waktu lama, hidangan yang mereka pesan sudah diantar. Dua ekor ayam panggang utuh lengkap dengan nasi sebakul yang masih mengepulkan uap panas tersaji di meja. Selain urap urap dan satu kuali kecil berisi sayur berkuah sedap, legen dingin dari pohon aren dan sekendi air segar menjadi pelengkap menu makan siang. Langsung saja, Si Kundu yang kelaparan sejak tadi menyambar paha ayam dan memuntirnya. Mereka pun makan dengan lahap.
Di tengah-tengah menikmati makanan yang tersaji, tiba-tiba...
Thhrraaaannnggg thhrraaaannnggg!!
Dhhaaaaasss dhhaaaaasss...!!
Suara orang sedang bertarung terdengar dari dermaga penyeberangan Wanua Pakunden. Terlihat seseorang sedang dikeroyok oleh lima orang berbadan kekar dengan wajah sangar. Jenar Karana yang duduk paling dekat jendela, menajamkan penglihatan dan terkejut melihat sosok orang itu.
"Orang ini.... "