Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Medan Perang: Ruang Tamu Utama
Ruang Hijau, tempat favorit Nenek Hart, seharusnya dinamai "Ruang Museum Kematian".
Begitu pintu ganda dibuka oleh dua pelayan berwajah batu, hal pertama yang menyambutku bukanlah kehangatan, melainkan aroma.
Baunya sangat spesifik. Campuran antara kayu tua yang sudah mulai lapuk, debu yang terperangkap di karpet beludru selama satu abad, dan bau tajam obat herbal China yang sedang direbus. Baunya seperti masuk ke apotek yang juga berfungsi sebagai rumah hantu.
"Nona Vivienne de Valois," umumkan pelayan pintu dengan suara lantang.
Aku melangkah masuk dengan dagu terangkat, bulu merak di topiku bergoyang-goyang heboh.
Ruangan ini penuh sesak. Dindingnya dilapisi wallpaper hijau lumut gelap. Mungkin itu sebabnya disebut Ruang Hijau, atau karena baunya yang earthy. Di setiap sudut, ada lemari kaca berisi porselen-porselen retak yang harganya pasti lebih mahal dari nyawaku. Lukisan-lukisan leluhur Hart menatap dari dinding dengan mata melotot, seolah menghakimi pilihan warna bajuku.
Di ujung ruangan, duduk di kursi berlengan tinggi yang mirip singgasana, adalah Victoria von Hart.
Dia tidak melihatku. Dia sedang sibuk mengelus seekor kucing persia putih yang duduk di pangkuannya. Di tangan kanannya ada tongkat kayu eboni dengan kepala perak berbentuk ular.
"Kau terlambat tiga detik," kata Nenek Hart tanpa mendongak. Suaranya serak dan kering, seperti gesekan kertas pasir.
"Maaf, Nek. Tadi saya sempat kesasar di koridor. Lukisan kakek buyut di lantai dua sepertinya melirik saya, jadi saya sapa dulu," jawabku asal sambil melakukan curtsy yang sedikit terlalu berlebihan.
Nenek Hart akhirnya mengangkat wajahnya.
Matanya menyipit saat melihat gaun Fuschia-ku. Aku bisa melihat pupil matanya mengecil, seolah retina beliau tersengat oleh kecerahan warnanya.
"Warna yang... menarik," komentarnya dingin. "Sangat mencolok. Seperti burung beo yang lepas dari kandang sirkus."
Serangan pertama. Menyerang penampilan.
"Terima kasih, Nek. Saya dengar warna cerah bagus untuk merangsang saraf mata lansia agar tidak cepat rabun. Saya pakai ini demi kesehatan Nenek," balasku dengan senyum malaikat.
Sudut bibir Nenek berkedut. Dia menunjuk kursi kosong di seberangnya dengan tongkatnya. "Duduk."
Aku duduk. Kursinya keras dan tegak lurus. Jelas didesain agar tamu tidak betah berlama-lama.
Pelayan menuangkan teh. Uapnya mengepul, membawa aroma Earl Grey yang kuat.
"Aku mendengar laporan yang sangat mengganggu dari kepala kebun," Nenek memulai, langsung ke inti masalah. "Katanya ada seorang wanita gila berbaju kuning yang menyiram Duke dengan air kotor kemarin sore. Dan wanita itu berteriak-teriak soal hama."
Dia menatapku tajam. "Apakah kau tahu sesuatu tentang itu, Vivienne?"
Aku menyesap tehku dengan tenang. "Wah, mengerikan sekali. Duke tidak apa-apa? Saya harap beliau tidak masuk angin. Tapi soal wanita gila... saya tidak tahu, Nek. Saya kemarin sore sibuk di kamar, merenungi nasib."
"Jangan berbohong!" Nenek memukulkan tongkatnya ke lantai. Duk! Kucing di pangkuannya mengeong kaget. "Sebastian menemukan jejak lumpur di lorong yang menuju kamarmu! Dan pelayan melihatmu membawa ember!"
"Oh, ember itu," aku meletakkan cangkirku. "Itu hobi baru saya, Nek. Interior Cleaning Simulation. Saya sedang belajar menghargai kerja keras pelayan dengan mencoba mengepel sendiri. Ternyata... susah ya."
Nenek mendengus kasar. "Cukup omong kosongnya. Aku tahu itu kau. Kau pikir karena kau sepupu Bianca, kau bisa berbuat seenaknya di rumahku?"
Dia memajukan tubuhnya. Aura intimidasinya menguar kuat.
"Dengar, Nak. Aku tahu asal-usulmu. Keluarga Valois itu bangsawan pinggiran yang miskin. Tanahnya tandus, utangnya menumpuk. Ibumu mengirimmu ke sini bukan untuk liburan, tapi untuk mencari suami kaya agar bisa melunasi utang keluargamu, bukan?"
Serangan kedua. Menyerang status ekonomi dan harga diri.
Ini taktik klasik orang kaya lama. Mengingatkan orang miskin akan tempatnya.
Bianca mungkin akan menangis atau malu mendengar ini. Tapi aku? Aku Vivienne. Dan di duniaku yang asli, aku sudah terbiasa dihina dosen pembimbing yang lebih galak dari nenek ini.
Aku mengambil sepotong biskuit kering dari piring perak di meja.
"Nenek benar," kataku santai, mengunyah biskuit itu. "Keluarga saya memang miskin. Saking miskinnya, tikus di rumah saya aja pada migrasi karena nggak ada makanan."
Nenek terdiam, tidak menyangka aku akan mengaku semudah itu.
"Tapi," lanjutku sambil menunjuk piring porselen di depan Nenek. "Ngomong-ngomong, piring ini antik banget ya, Nek? Motif bunga peony biru ini... Ming Dynasty?"
Nenek mendengus bangga, teralihkan sejenak. "Matamu jeli juga untuk ukuran orang desa. Ya, ini porselen asli dari Timur. Hadiah dari Kaisar untuk mendiang suamiku. Harganya tak ternilai."
"Wah..." Aku mengambil piring kecilku sendiri, memutarnya di tangan seolah sedang memeriksa keasliannya. "Pantesan familiar."
"Familiar?"
"Iya. Motifnya persis banget sama piring makan kucing saya di kampung," kataku polos. "Si Belang, kucing saya, paling suka makan ikan asin di piring ginian. Ternyata di sini dipakai buat tamu ya? Wah, Si Belang pasti bangga seleranya sama kayak Duke Hart."
Hening.
Pelayan yang berdiri di pojok tersedak ludah sendiri.
Wajah Nenek Hart berubah warna. Dari pucat, jadi merah, lalu ungu. Dia menatap piring porselen mahalnya, lalu menatapku, lalu menatap piring itu lagi dengan pandangan jijik, seolah dia baru saja melihat ikan asin di atasnya.
"Kau..." suaranya bergetar menahan amarah. "Kau menyamakan porselen kekaisaran dengan tempat makan binatang?!"
"Lho, saya kan cuma memuji, Nek," elakku. "Maksudnya, piring ini versatile. Bisa buat Kaisar, bisa buat kucing. Bukti kualitas tinggi!"
Nenek menarik napas panjang, berusaha mengendalikan tekanan darahnya agar tidak stroke di tempat. Dia sadar kalau dia marah berlebihan, dia akan terlihat konyol karena tersinggung oleh ucapan 'orang desa'.
"Kau benar-benar tidak punya tata krama," desisnya. "Mulutmu tajam dan tidak berpendidikan. Bianca terlalu memanjakanmu."
"Mungkin," aku mengangkat bahu. "Atau mungkin Hartfield terlalu sepi, jadi butuh sedikit hiburan. Nenek nggak bosen tiap hari cuma ngobrol sama kucing dan lukisan orang mati?"
Pertanyaan itu membuat Nenek terdiam.
Dia melihat sekeliling ruangannya yang penuh barang antik. Ruangan yang mewah, tapi sunyi. Ruangan yang, jika dipikir-pikir, memang terasa seperti makam firaun.
"Aku tidak butuh hiburan dari gadis kecil sepertimu," katanya, tapi nadanya tidak setajam tadi. Ada sedikit nada lelah di sana. "Tugasmu di sini sederhana: Temani Bianca, dan jangan buat masalah. Terutama dengan Damian."
Nenek menatapku lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih serius, bukan meremehkan.
"Damian itu... rumit," katanya pelan. "Dia memikul beban nama Hart sendirian sejak kecil. Dia tidak butuh gangguan. Apalagi gangguan berupa gadis-gadis yang tidak tahu diri."
Aku tahu dia sedang membicarakan Freya, bukan aku.
Aku meletakkan cangkir tehku pelan-pelan.
"Nek," panggilku, menghilangkan nada bercandaku sejenak. "Beban itu berat kalau dipikul sendiri. Tapi kalau bebannya ditambah sama obsesi ngejar burung yang nggak mau ditangkep... itu namanya cari penyakit."
Nenek menatapku tajam. "Apa maksudmu?"
"Nenek tau apa yang terjadi di rumah kaca," kataku berani. "Nenek tau Damian nggak cuma sekadar 'basah'. Dia lagi main api. Dan kalau Nenek sayang sama dia, bukan sebagai Duke, tapi sebagai cucu, Nenek harusnya sadar kalau api itu bakal ngebakar dia sendiri."
Kami bertatapan. Duel mata antara wanita tua yang memegang tradisi dan wanita muda yang memegang logika modern.
Untuk sesaat, aku melihat keraguan di mata Nenek. Dia tahu Damian obsesif. Dia tahu sejarah ayahnya Damian. Ketakutan terbesar Nenek Hart bukanlah kemiskinan atau perang, melainkan skandal yang akan menghancurkan nama baik keluarga.
"Kau bicara terlalu banyak untuk ukuran tamu," kata Nenek akhirnya, memutus kontak mata.