Lunara Angelita selalu percaya bahwa pernikahannya dengan Halden Nathaniel—pelukis jenius yang menjadi kebanggaan kota kecil mereka—adalah rumah paling aman yang pernah dimilikinya. Lima tahun bersama, lima tahun bahagia… atau setidaknya begitu yang ia yakini.
Hingga pada malam hujan yang sunyi, saat listrik padam, Luna tanpa sengaja menemukan sebuah kanvas tersembunyi di gudang. Dan di balik kain putihnya terpampang wajah perempuan yang seharusnya telah lama hilang dari hidup mereka—Karina, mantan kekasih Halden. Dilukis dengan detail yang hanya diberikan oleh seorang pria pada seseorang yang masih memenuhi hatinya.
Lukisan itu baru. Sangat baru.
Saat Luna menuntut kebenaran, Halden tidak berbohong—tetapi jawabannya jauh lebih menyakitkan dari pengkhianatan.
Melukis, katanya, bukan tentang siapa yang menemani hari-harinya.
Melainkan tentang siapa yang tak pernah benar-benar pergi dari hatinya.
Seketika dunia Luna runtuh.
Apakah selama ini ia hanya menjadi istri di ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mga_haothe8, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Kebenaran yang Menghantam Tanpa Peringatan"
Nama Luna dipanggil dengan suara yang terdengar terlalu tenang untuk hari yang terasa seperti badai.
“Ibu Luna?”
Ia mendongak. Matanya terasa perih karena kurang tidur, punggungnya pegal, perutnya berat. Sejak Nathan dibawa masuk dan tak sadarkan diri, waktu berhenti menjadi satuan yang masuk akal. Menit-menit berubah menjadi beban. Jam terasa seperti hukuman.
“Silakan ikut saya ke ruang dokter,” kata perawat itu lembut.
Luna bangkit perlahan. Langkahnya sedikit goyah, tapi ia memaksa diri berjalan. Di lorong rumah sakit yang dingin, bau antiseptik terasa lebih tajam dari biasanya. Setiap langkah mendekatkannya pada sesuatu yang ia takutkan—namun juga ingin segera tahu.
Ruang dokter itu kecil dan rapi. Sebuah meja, dua kursi, layar komputer yang masih menyala. Dokter yang menunggu di dalam berdiri saat Luna masuk. Pria itu berkacamata, wajahnya serius namun tidak dingin.
“Silakan duduk, Bu Luna,” katanya.
Luna duduk. Tangannya otomatis menutup perutnya, seperti perlindungan naluriah.
“Saya dr. Arief,” lanjutnya. “Saya menangani kondisi suami Anda.”
Luna mengangguk, menelan ludah. “Bagaimana suami saya, Dok?”
Dokter itu menarik napas pelan—sebuah jeda yang terasa terlalu panjang.
“Pak Nathan saat ini masih tidak sadarkan diri, tetapi kondisinya sudah stabil,” katanya. “Kami memutuskan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh karena ada beberapa indikasi yang kami temukan.”
Luna mencondongkan tubuhnya sedikit. “Indikasi apa?”
Dokter membuka berkas di depannya. “Bu Luna, apakah sebelumnya suami Anda pernah menjalani pemeriksaan medis khusus atau mengonsumsi obat-obatan tertentu?”
Pertanyaan itu terasa seperti jarum.
Luna menggeleng. “Tidak… setahu saya tidak. Dia bilang cuma capek.”
Dokter mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah ia duga.
“Bu Luna,” katanya hati-hati, “kami menemukan catatan bahwa Pak Nathan sebelumnya telah menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan lain.”
Luna membeku.
“Dan berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan yang kami lakukan hari ini,” lanjut dokter itu, “kami perlu menyampaikan kondisi medis suami Anda secara terbuka.”
Ada dengungan di telinga Luna. Ia merasa seperti duduk di bawah lampu sorot, sendirian, tanpa penyangga.
“Penyakit apa, Dok?” tanyanya. Suaranya terdengar jauh—bahkan di telinganya sendiri.
Dokter itu menatapnya lurus. Tidak menghindar. Tidak bertele-tele.
“Suami Anda didiagnosis menderita **limfoma non-Hodgkin**.”
Kata-kata itu jatuh.
Bukan seperti suara pecahan kaca—bukan. Lebih seperti beton yang dijatuhkan dari ketinggian. Menghantam dada Luna tanpa peringatan, tanpa waktu untuk menyiapkan napas.
Limfoma.
Kanker.
Luna tidak langsung menangis. Tidak berteriak. Tidak bertanya.
Ia hanya duduk, menatap lurus ke depan, sementara dunia di sekitarnya terasa runtuh dengan cara yang sunyi.
“Kami memperkirakan penyakit ini berada di stadium dua,” lanjut dokter, suaranya terdengar seperti datang dari ruang lain. “Artinya, sel kanker telah melibatkan lebih dari satu area kelenjar getah bening, namun masih berada di sisi yang sama dari diafragma.”
Dokter itu terus berbicara—tentang peluang pengobatan, tentang rencana terapi, tentang respons tubuh. Namun kata-kata itu seperti melewati Luna tanpa benar-benar masuk.
Yang ia dengar hanyalah satu kalimat yang berulang di kepalanya:
*Dia sakit. Sudah lama. Dan dia tidak bilang.*
“Bu Luna?” suara dokter itu kembali menariknya. “Apakah Anda baik-baik saja?”
Luna berkedip. Ruangan itu kembali fokus—terlalu tajam.
“Dia… tahu?” tanyanya pelan.
Dokter mengangguk. “Berdasarkan catatan yang kami terima, Pak Nathan telah mengetahui diagnosis awalnya beberapa waktu lalu dan sempat menjalani pengobatan penunjang.”
Dunia Luna retak lebih dalam.
“Beberapa waktu lalu?” ulangnya. “Berapa lama?”
“Sekitar satu hingga dua bulan,” jawab dokter jujur.
Luna menutup mulutnya dengan tangan. Napasnya tersendat.
Satu hingga dua bulan.
Selama itu, Nathan pulang ke rumah setiap hari. Tersenyum. Menggendong Amara. Mengusap perutnya. Mengatakan semuanya baik-baik saja.
“Kenapa…,” Luna mulai, tapi suaranya patah. Ia menarik napas, mencoba lagi. “Kenapa dia pingsan hari ini?”
“Kondisi tubuhnya kemungkinan sudah cukup lemah,” jawab dokter. “Stres fisik dan emosional, ditambah efek penyakit dan obat-obatan, bisa memicu kehilangan kesadaran.”
Luna mengangguk perlahan, meski hatinya menolak menerima semuanya.
“Apakah…,” ia ragu sejenak, lalu memaksa diri bertanya, “apakah ini mengancam nyawanya?”
Dokter itu tidak menjawab dengan cepat.
“Limfoma adalah penyakit serius,” katanya akhirnya. “Namun dengan penanganan yang tepat dan dukungan keluarga, peluang untuk merespons pengobatan cukup baik. Kami perlu segera menyusun rencana terapi yang lebih terstruktur.”
Kata *keluarga* menusuk Luna dengan cara yang aneh.
Ia bangkit dengan gerakan pelan. “Bolehkah saya melihat suami saya sekarang?”
“Tentu,” jawab dokter. “Kami akan memberi Anda waktu.”
Luna keluar dari ruangan itu dengan langkah yang terasa berat. Lorong rumah sakit kini tampak lebih panjang, lebih sunyi. Setiap suara sepatu di lantai terasa terlalu keras.
Saat ia masuk ke ruang rawat, Nathan masih terbaring dengan posisi yang sama. Alat-alat medis mengelilinginya, seolah menjaga jarak antara hidup dan sesuatu yang lain.
Luna mendekat.
Ia duduk, menatap wajah Nathan lama sekali. Wajah yang ia kenal luar kepala—garis rahang, alis yang sedikit berkerut bahkan saat tidur, bekas kecil di pipinya.
“Kanker,” bisiknya, hampir tidak terdengar. “Kamu kena kanker.”
Air mata akhirnya jatuh—deras, tanpa izin.
“Kenapa kamu sembunyiin ini dariku?” suaranya bergetar. “Kenapa kamu nggak cerita? Aku istrimu, Nathan. Aku pasanganmu.”
Ia meraih tangan Nathan, menggenggamnya kuat-kuat.
“Aku hamil, iya,” lanjutnya, napasnya terputus-putus. “Tapi aku bukan rapuh seperti yang kamu pikir. Aku bukan kaca.”
Kepalanya menunduk, dahi menyentuh punggung tangan Nathan.
“Kamu pikir kamu melindungiku,” bisiknya. “Tapi yang kamu lakukan justru membuatku sendirian.”
Ingatan-ingatan menyerbu: malam-malam Nathan terjaga, obat-obatan yang ia sembunyikan, muntah yang ia tutupi, janji-janji yang menggantung. Semua itu kini tersusun rapi, menyakitkan, masuk akal.
“Kenapa kamu nggak percaya aku cukup kuat?” Luna berbisik. “Kenapa kamu harus memikul ini sendiri?”
Ia mengusap wajah Nathan pelan, seolah takut ia akan menghilang.
“Aku marah,” katanya jujur. “Aku sakit hati. Aku takut.”
Luna menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Bayi di perutnya bergerak, seolah merespons gejolak emosi itu.
“Tapi aku di sini,” lanjutnya, lebih tegas. “Dan aku nggak akan pergi.”
Ia mengangkat kepala, menatap Nathan dengan mata basah namun penuh tekad.
“Kamu dengar aku atau tidak, aku tetap akan bilang,” katanya pelan. “Kita hadapi ini bersama. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi ‘nanti’.”
Tangannya menggenggam tangan Nathan lebih erat.
“Kamu bukan sendirian. Dan aku juga tidak.”
Di balik jendela, cahaya sore mulai meredup. Hari itu telah mengubah segalanya—menghancurkan ilusi normal yang mereka jaga dengan susah payah.
Namun di tengah puing-puing itu, sesuatu yang lain juga lahir: kebenaran yang akhirnya terucap, dan keberanian Luna untuk berdiri di hadapannya.
Ia duduk di sana lama sekali, menjaga Nathan, menjaga dirinya sendiri, menjaga kehidupan kecil yang tumbuh di dalamnya.
Karena kini ia tahu—apa pun yang datang setelah ini, ia tidak akan lagi berjalan dalam gelap.
sekarang Nathan juga pergi menghadap Tuhan....kasian Luna
dan akhirnya pria baik, penuh cinta dan kasih sayang itu telah pergi untuk selama lamanya
Nathan, pria yg selalu memberi kekuatan utknya. kini tlh meninggalkannya selama-lamanya