Kisah ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Darman dan lebih di kenal dengan nama si rawing, dia adalah anak dari seorang jawara silat, tapi sayang bapaknya meninggal akibat serangan kelompok perampok yang datang ke desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panel Bola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelemahan Jurus Bagian ketiga dari Srikandi Yuda
Dua orang yang berlatih ilmu silat itu adalah perempuan, yang satu masih muda dan satu lagi sudah nenek sambil membawa tongkat hitam.
Si Rawing menatap ke arah wanita muda itu sambil berbicara dalam hatinya, "cantik sekali gadis itu, sebenarnya siapa mereka?"
Si nenek itu lalu berbicara kepada si gadis, "gerakan tubuh kamu sudah lumayan bagus Kartika, tapi tenaga dalam kamu masih kurang jadi harus terus berlatih, tapi nenek memakluminya, sebab Kartika baru pertama kali belajar ilmu silat."
Si Rawing yang mengintip di balik bilik tersenyum sambil ngomong sendiri, "hehe, jadi gadis itu bernama Kartika, namanya benar-benar seimbang dengan wajahnya, membuat orang tidak bosan untuk melihatnya."
Kartika menatap ke arah gurunya lalu berkata, "jadi bagaimana sekarang ne? Apa kita lanjutkan latihan kita?"
Nenek Iswari melirik ke arah kamar yang di tempatai oleh Si Rawing, "latihan hari ini cukup sampai disini saja Kartika, sepertinya, pemuda yang kita tolong sudah sadar. Dia lagi mengintip kita yang sedang berlatih, coba kamu lihat dia, siapa tahu dia sedang lapar."
Si Rawing mengerutkan keningnya, ternyata si nenek mengetahui kalau dia sedang mengintip mereka, dengan cepat Si Rawing kembali ke posisinya.
Saat melihat Kartika datang, Si Rawing pura-pura kesakitan, "aduh, kenapa kepala ku sakit sekali."
Kartika terkejut, keadaan Si Rawing yang seperti itu, dengan cepat dia memegan kepalanya Si Rawing, hal itu membuat si Rawing merem melek karena merasakan kelembutan jari tangannya Kartika.
"iya seperti itu Kartika yang cantik, kalau seperti ini akang jadi betah."
Mendengar perkataan Si Rawing, Kartika jadi mengerti, ternyata dia sedang di jahili oleh Si Rawing, dia langsung melepaskan tangannya dari kepala Si Rawing, "akang tahu nama aku?"
"pasti kenal kalau sama gadis cantik seperti kamu, kalau kamu ingin tahu nama akang, nama akang itu Si Rawing, karena telinga kiri akang ada yang Rawing, kalau si nenek itu siapa namanya?"
"itu guru aku kang, namanya nenek Iswari."
"nenek surabi, masa nama orang surabi?"
"Iswari kang."
"ohh, nenek Iswari, adeh tidak bosan kalau melihat gadis cantik seperti kamu, jadi suka, suer deh, akang jadi cinta."
Ucap Si Rawing langsung, sebagian sifatnya Ki Debleng menempel kedalam kepribadiannya.
Kartika terkejut, dia baru pertama kali menemukan pemuda seperti Si Rawing, baru saja bertemu dia langsung mengutarakan isi hatinya.
"tadi akang memperhatikan saat kalian latihan silat, saat menggunakan jurus ketiga, sebenarnya ada kelemahannya, ada bagian tertentu yang tidak terjaga, hal itu bisa membahayakan kalau tidak cepat-cepat di perbaiki."
Di luar kamar, nenek Iswari ikut berbicara, "kamu jangan asal berbicara Rawing, ilmu ciptaan si Iswari itu bukan ilmu sembarangan rawing."
"hehe, aku berbicara fakta nek, nenek mau percaya atau tidak itu urusan nenek, aku tidak akan rugi, yang membuatku untung itu karena ada Kartika disini, aku jadi betah melihat wajahnya."
Nenek Iswari masuk ke dalam kamar, menatap tajam kearah Si Rawing, "kalau memang benar jurus bagian ketiga ada kelemahannya, coba kamu buktikan, kamu jangan cuma bisa ngomong saja Rawing, perkataan kamu barusan telah menyinggung perasaan aku."
Kartika juga tidak setuju dengan ucapan Si Rawing, "jangan asal bicara kang Rawing, nanti guru aku bisa marah sama kang Rawing."
"hehe, akang bicara fakta cantik. Akang jadi ingin hidup selamanya bareng kamu Kartika. Memang seperti itu kenyataannya nek."
Mata Nenek Iswari melotot kearah Si Rawing, sedangkan Si Rawing tetap tenang.
"hehe, jangan melotot nek, aku bisa membuktikannya kepada kalian, jadi nenek jangan marah, nenek itu sudah tua jangan gampang marah."
Nenek Iswari jadi tambah marah.
Sedangkan Si Rawing sudah berdiri, dia melihat ke arah jendela kamar yang terbuka.
"kamu jangan sok pintar dan sok jago, coba buktikan, kalau kamu memang bisa ilmu silat atau hanya bisa ngomong saja."
Nenek Iswari menggunakan tongkat hitam di tangannya untuk menyerang kepalanya Di Rawing.
Sebelum tongkat itu mengenai kepalanya si Rawing, tubuh Si Rawing langsung menghilang, dia langsung keluar dari dalam kamar melalui jendela.
"kalau mau bertarung jangan di kamar nek, kalau sama Kartika aku mau, meskipun satu Minggu, ayo kesini nek, diluar saja agar leluasa."
Nenek Iswari benar-benar merasa penasaran, tubuhnya langsung keluar menyusul Si Rawing, Kartika juga ikut keluar, dia ingin melihat pertarungan mereka, hatinya penasaran, dia ingin melihat kemampuan pemuda yang namanya Si Rawing itu.
Nenek Iswari memasang kuda-kuda, lalu menatap tajam kearah Si Rawing, "jangan banyak bicara lagi Rawing, cepat kamu pasang kuda-kuda kamu Rawing."
"sebentar dulu nek, sebelumnya aku berterimakasih karena kamu telah menolong aku."
"jangan banyak bicara, lebih baik buktikan kekuatan kamu."
"hehe, jangan melotot seperti itu nek, itu masalah gampang nek, tapi aku tidak mau bertarung tanpa adanya taruhan, buat apa bertarung kalau tidak dapat apa-apa, aduh disini ternyata banyak pohon mangga, enak kali ya kalau ngerujak, kita ngerujak yu Kartika." ucap Si Rawing sambil melihat ke arah Kartika dengan imut.
"taruhan apa yang kamu mau Rawing?"
"kalau aku yang kalah, aku serahkan tubuh aku kepada nenek, aku mau banget kalau nanti di suruh untuk menemani Kartika. Kalau aku yang menang, terpaksa Kartika harus jadi istrinya aku, bagaimana nek?"
Si Rawing kembali menatap ke arah Kartika, wajah Kartika memerah, saat matanya dan mata Si Rawing bertatapan, dia langsung memalingkan mukanya.
Nenek Iswari tidak langsung menjawab, dia jadi tambah penasaran ingin mencoba ilmu silat yang di kuasai oleh Si Rawing.
"ahh, jangan macam-macam kamu Rawing, yang paling penting sekarang, kamu buktikan kekuatan kamu."
"ya kalau seperti itu, kita tidak usah bertarung nek, buat apa bertarung, mending aku pergi dari tempat ini, tapi kalau nenek mau menghalangi aku untuk pergi, lalu di suruh tinggal disini untuk menemani Kartika aku tidak akan menolaknya nek."
"heheheh, kalau mau kamu seperti itu tidak apa-apa Rawing, kalau kamu kalah, kepala kamu akan aku jadikan tumbal di tempat ini, percuma saja kamu hidup kalau kamu kalah dengan seorang nenek-nenek tua seperti aku." ucap nenek Iswari, dia mencoba untuk memancing amarahnya Si Rawing.
Mendengar perkataan nenek Iswari, Si Rawing bukannya marah, tapi dia setuju dengan perkataan nenek Iswari, "iya benar nek, lebih baik di jadikan tumbal saja kalau aku kalah dari nenek, siapa tahu kalau aku di jadikan tumbal nenek jadi tambah tua dan tambah bongkok, hehe."
"jangan banyak bicara lagi Rawing, ayo kita mulai pertarungan ini, aku sudah menyetujui taruhan yang kamu inginkan Rawing."
"kalau seperti ini, ayo kita mulai, kamu sabar dulu Kartika yang cantik, akang mau melawan nenek Iswari dulu, setelah itu kita menikah, hehehe."
Kartika menjadi kesal dan marah kepada Si Rawing, dia lalu menatap ke arah nenek Iswari, "nenek, kamu harus memberikan Si Rawing pelajaran, jangan biarkan dia berbicara seenaknya saja nek."