Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikejar Preman dan Setan
Pocong di depan mereka langsung menghilang saking terkejutnya mendengar teriakan kencang mereka yang volumenya mengalahkan toa masjid. Begitu sang pocong menghilang demi menghindari polusi suara, Nino dan Asep langsung tancap gas. Keduanya kembali menaiki tangga darurat.
Sementara di bawah, keempat pria yang sedang mencari keberadaan Nino dan Asep bisa mendengar teriakan kencang dua pemuda itu. Keempatnya langsung berlari menuju lantai atas.
“No.. eureun heula. Cape aing (No, berhenti dulu. Cape gue).”
Saat ini keduanya sudah berada di lantai tiga. Di sini hanya terdapat koridor yang dipenuhi pintu-pintu kamar.
“Jirr tuh setan kaga bisa lihat sikon nongolnya. Orang lagi genting gini, masih aja mereka nakutin,” gerutu Nino.
“No, asup ka dieu (No, masuk ke sini).”
Asep membuka salah satu pintu kamar. Keduanya segera masuk ke dalam kamar yang masih kosong melompong. Asep menempelkan telinganya ke daun pintu. Sayup-sayup dia bisa mendengar suara langkah kaki mendekat.
“Urang nyumput di kamar mandi we (Kita ngumpet di kamar mandi aja),” usul Asep.
Karena tak punya pilihan, Nino mengikuti saran Asep. Keduanya segera masuk ke kamar mandi. Pelan-pelan Nino menutup pintu kamar mandi. Mereka masuk ke dalam bath tub dalam posisi meringkuk.
Posisi keduanya meringkuk berhadapan. Nino menghadap ke arah wastafel, sementara Asep menghadap ke tembok. Mereka sampai menutup mulut dengan tangan agar tidak keluar suara yang membuat para pengejarnya curiga.
Jantung Asep berdetak tak karuan. Belum pernah dirinya berhadapan dengan situasi menegangkan seperti ini. Dalam hatinya dia berdoa semoga saja Miko bisa menemukan mereka tepat waktu.
Nino yang arah pandangnya menuju wastafel, tanpa sengaja melihat penampakan di cermin. Dari cermin terlihat ada sesosok wanita berambut panjang mengenakan pakaian putih panjang yang sudah lusuh. Wajah hantu wanita itu rata, hanya ada satu mata saja yang terletak di bagian atas wajahnya.
Hampir saja Nino berteriak kalau pemuda itu tidak ingat kalau mereka sedang dalam persembunyian. Wajahnya berubah pucat dan matanya tak bisa lepas memandang ke depan. Asep yang curiga dengan perubahan Nino, sedikit mengangkat tubuhnya kemudian melihat kemana Nino memandang.
Sama seperti Nino, pemuda itu juga dibuat terkejut sekaligus takut. Pemuda itu kembali menundukkan tubuhnya. Asep melepaskan bekapan di mulutnya.
“No, maneh ningali teu? (No, Lo lihat ngga?),” tanya Asep dengan suara berbisik.
“Iya gue lihat. Serem banget, sumpah.”
“Terus kumaha? Aing sieun (Terus gimana? Gue takut).”
“Gue juga takut, kocak. Tapi mau gimana lagi? Serba salah kita. Di dalem ada setan, di luar ada preman.”
“Suruh tuh setan nakutin preman aja, dari pada nakutin kita.”
“Si Eris mana sih? Giliran dibutuhin, dia ngga ada.”
“Hooh.”
Tanpa Nino dan Asep sadari, Eris saat ini tengah terjebak di dalam sebuah dimensi. Hantu wanita itu bisa melihat Nino dan Asep, tapi bisa melakukan apa-apa. Seolah ada dinding kaca tebal yang menghalanginya. Di saat Eris mencoba untuk keluar dari ruangan yang menyekapnya, tiba-tiba saja Eris merasa tubuhnya semakin ringan hingga akhirnya sosoknya menghilang.
Kembali pada Nino dan Asep, di saat keduanya berusaha menahan ketakutan dengan tetap bertahan di dalam bath tub. Hantu wanita itu di dalam cermin keluar kemudian melayang mendekati bath tub. Sekarang hantu itu sudah berada di atas Nino dan Asep.
“HUAAAAAAAA!!!!”
Keduanya tidak bisa menahan ketakutan lagi hingga teriakan maut mereka kembali terdengar. Dengan terburu-buru keduanya keluar dari bath tub kemudian berlari keluar kamar mandi. Dengan cepat Nino membuka pintu kamar karena hantu wanita itu sudah berada di belakang mereka.
Ketika keduanya keluar dari kamar, empat preman yang mengejarnya sudah sampai di lantai mereka berada.
“Hei!! Berhenti!!”
Mendengar teriakan salah satu preman, Asep dan Nino semakin mempercepat larinya. Keduanya kembali menaiki tangga darurat. Asep segera membuka pintu yang ada di lantai lima. Lagi-lagi hanya terpampang koridor dengan deretan pintu kamar di kanan, kirinya.
“Kumaha, No?”
“Ngga bisa gini terus, Sep. kita harus melawan.”
“Maneh pan bisa pencak silat lain?”
“Iya sih, tapi udah lama ngga dipake. Lo bukannya bisa taekwondo juga?”
“Tapi karek nepi ban koneng (Tapi baru sampai ban kuning).”
Di saat keduanya tengah berdiskusi, di depan mereka muncul seorang pria mengenakan pakaian lusuh dengan luka bocor di bagian kepala dan sebelah pergelangan kakinya dalam keadaan terbalik. Dengan langkah terseok, pria itu mendekati Nino dan Asep.
“WHUAAAAAAAA!!!”
Keduanya langsung berlari menjauh. Di saat bersamaan, empat preman yang mengejar mereka sudah sampai di lantai yang sama. Mereka langsung mengejar Nino dan Asep yang tengah berlari sambil terus berteriak.
Langkah mereka terhenti ketika berhadapan dengan jalan buntu. Di sebelah kiri terdapat lift yang belum bisa digunakan dan di sebelah kanan dan depan mereka hanya tembok saja. Keadaan keduanya semakin terpojok. Ketika berbalik, dari arah depan mereka nampak empat preman mendekat, sementara dari arah dekat lift muncul pria tadi bersama dengan pocong dan hantu wanita di kamar mandi.
“Buset kita dikepung orang sama setan!” pekik Nino.
***
Keadaan genting tapi masih aja bikin ngakak si kancing cetet🤣