Niat hati ingin menghilangkan semua masalah dengan masuk ke gemerlap dunia malam, Azka Elza Argantara justru terjebak di dalam masalah yang semakin bertambah rumit dan membingungkan.
Kehilangan kesadaran membuat dirinya harus terbangun di atas ranjang yang sama dengan dosen favoritnya, Aira Velisha Mahadewi
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Apakah hubungan mereka akan berubah akibat itu semua? Dan apakah mereka akan semakin bertambah dekat atau justru semakin jauh pada nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
“Aku harus apa sekarang? Azka udah tahu tentang kehamilanku ini … dan dia juga udah tahu kalau yang aku kandung ini … anak dia. Aku jadi bingung banget sekarang. Rasanya pengin banget pergi jauh dari dia untuk selama-lamanya … walaupun pada akhirnya aku bakalan hidup dengan darah daging dia … tapi … entah kenapa … rasanya tubuhku berkata lain … seolah mereka bilang kalau aku harus tetap stay dan deket sama Azka ….”
Aira menggigit bibir bawahnya cukup kencang saat ingatan tentang kejadian kemarin siang kembali masuk dan berputar-putar di dalam kepalanya—ingatan tentang terbongkarnya kehamilannya selama ini. Ia mengalihkan pandangan ke arah kanan, menatap ke arah taman belakang rumah sakit guna menghilangkan semua pikiran itu, meskipun hasilnya sia-sia saja.
Detik demi detik berlalu, Aira refleks memberikan elusan lembut pada perutnya yang masihlah ramping, seolah sedang menyapa atau pun berinteraksi dengan janin yang tengah berkembang di dalam sana.
Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama, lantaran atensi Aira seketika teralihkan ke arah depan saat tiba-tiba saja mendengar suara pintu masuk ruangan rawat inap tempatnya berada sekarang sedang dibuka oleh seseorang dari arah luar.
Dari tempatnya berada, Aira dapat melihat sosok Azka sedang berjalan masuk sambil membawa sebuah paper bag berwarna hitam.
Melihat hal itu, membuat Aira sesegera mungkin mengalihkan pandangan ke sembarang arah, lantas bergegas menutup mata rapat-rapat—berpura-pura tidur agar tidak terlibat interaksi dengan mahasiswanya itu.
Azka menghentikan langkah kaki tepat di sisi kanan ranjang. Ia menaruh peper bag di atas meja yang berada di sana, sebelum pada akhirnya mendudukkan tubuh di salah satu kursi.
Cowok itu memandangi wajah cantik Aira yang terlihat begitu sangat tenang—seakan-akan dirinya percaya kalau dosennya itu saat ini benar-benar sedang dalam keadaan tertidur pulas. Ia mengukir senyuman samar, lantas secara perlahan-lahan bergerak memberikan elusan lembut di perut ramping Aira yang tertutupi oleh pakaian pasien.
“Hai, Calon Anak Papa … kamu di dalam sini lagi ngapain? Kamu jangan nakal, ya … tolong jagain mama buat Papa dari dalam … dan … dan … dan maafin Papa … karena kesalahan Papa, kamu jadi harus nanggung ini semua ….” Azka menghentikan ucapannya sejenak, masih terus-menerus memberikan elusan lembut di perut Aira. Ia menghirup udara segar sebanyak yang dirinya bisa dan mengembuskannya secara perlahan-lahan, sebelum kembali membuka suara—kali ini lebih berat daripada sebelumnya. “Papa janji … apa pun yang terjadi … Papa akan selalu ada buat kamu dan mama … walaupun nanti mama bakalan marah sama Papa … tapi Papa nggak peduli sama sekali ….”
Aira yang sedari masihlah berpura-pura tertidur kini justru merasakan seluruh tubuhnya kaku seketika. Sentuhan lembut Azka di perutnya membuat detak jantungnya seolah melonjak naik, bukan karena merasa nyaman—melainkan karena campuran antara takut, marah, dan perasaan yang tidak berani untuk dirinya definisikan.
Kata-kata Azka barusan, terasa terlalu lembut, terlalu tulus, dan terlalu menyentuh bagian dari diri Aira yang selama ini dirinya kunci rapat-rapat.
Aira ingin tetap diam. Ingin tetap berpura-pura tertidur. Ingin tenggelam dalam perannya sebagai orang yang merasa benci dan ingin menjauh. Namun, kenyataannya setiap elusan Azka mampu membuat seluruh benteng yang dirinya bangun goyah sedikit demi sedikit.
Beberapa detik berlalu, Azka kembali membuka suara, kali ini suaranya terdengar lebih bergetar daripada sebelumnya.
“Aku tahu Ibu nggak mau lihat aku. Nggak mau dengar suaraku, tapi tolong biarin aku ngomong sekali ini aja ….” Azka menelan air liur dengan begitu sangat susah payah, pandangannya tetap terpaku pada perut Aira. “Aku takut. Benar-benar takut … Takut kehilangan kamu … takut kehilangan anak ini … takut kamu pergi tanpa pernah kembali lagi.”
Aira merasakan napasnya tercekat saat mendengar hal itu. Rasanya seperti ada sesuatu yang sedang menekan dadanya begitu sangat kuat. Ia ingin berbalik marah—ingin mengatakan bahwa semuanya tidak semudah itu, bahwa luka yang ia tanggung bukan luka kecil, tetapi tubuhnya tetap diam, dan matanya tetap tertutup.
Azka mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat getir.
“Kamu pasti mikir aku bodoh banget, ya?” gumam Azka dengan suara begitu sangat bergetar, “Tapi, aku serius. Mulai sekarang, aku bakalan urusin semuanya. Kehamilan kamu. Rumah sakit. Obat. Vitamin. Semua. Kamu tinggal bilang mau apa … atau malah nggak mau apa-apa sekalipun … aku tetap bakal ada.”
Aira merasakan air matanya mulai menekan di balik sudut matanya—seolah ingin keluar kapan saja. Ia menggigit bibir bawahnya cukup kencang, menahan agar tidak terlihat mencurigakan.
Azka kemudian mengembangkan napas panjang dan bersandar sedikit ke sandaran kursi, tetapi tangannya masih tetap berada di perut Aira—seolah tidak rela untuk melepaskan sedikit pun.
“Aku cuma minta satu hal, Bu …,” kata Azka, dengan nada suaranya berubah menjadi semakin lirih, seakan setiap kata yang keluar dari luka yang belum sembuh sama sekali, “Jangan pergi. Jangan jauhin aku. Jangan hilangkan anak ini dari aku. Aku nggak minta kamu maafin aku sekarang … atau nanti … aku cuma minta … izinin aku jadi bagian dari hidup kalian.”
Seketika suasana berubah menjadi sangat hening—hening yang begitu sangat menyesakkan bagi keduanya.
Aira tidak kuat lagi. Ia secara perlahan-lahan mulai membuka mata, napasnya bergetar hebat saat melihat Azka yang menatap perutnya dengan sorot mata redup dan begitu sangat takut—takut kehilangan, takut terlambat, dan takut tidak cukup baik.
“Mau sampai kapan kamu ngomongin saya … kayak saya ini sudah berbuat jahat ke kamu …,” ucap Aira dengan begitu sangat pelan, tetapi begitu sangat menusuk.
Azka sontak tersentak saat mendengar hal itu, lantas menegakkan tubuh dan menatap Aira dengan mata melebar—jelas tidak menyangka bahwa sang dosen ternyata sudah bangun sejak tadi.
Aira menatap Azka tanpa berkedip, air matanya sudah siap untuk turun.
“Kamu ngomong seolah kamu yang paling sakit,” ucap Aira dengan suara Aira bergetar hebat, “Padahal yang harus nanggung semuanya dari awal itu saya.”
Azka membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aira melanjutkan, lebih pelan, tetapi lebih jujur.
“Saya nggak tahu harus apa … Saya benci kamu … tapi tubuh saya … hati saya … saya sendiri … semuanya malah—”
Aira menghentikan kalimat itu, menahan agar tidak keluar terlalu jauh.
Azka mendekat satu langkah, suaranya terdengar patah. “Tolong … jangan bilang kamu mau pergi, Bu.”
Aira mengalihkan pandangan, menggenggam selimut dengan begitu sangat kuat. “Saya … nggak tahu, Azka. Saya beneran nggak tahu.”
Kata-kata itu tidak memberi kepastian. Namun, tidak juga menutup kemungkinan. Dan bagi Azka, itu sudah cukup untuk membuatnya bisa sedikit bernapas dengan lega.
Aira , terima dong biar belum cinta usaha jalani sama-sama . cinta akan datang seiring waktu