NovelToon NovelToon
Time Travel: Kali Ini Aku Akan Mengalah

Time Travel: Kali Ini Aku Akan Mengalah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Keluarga / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:38.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Di kehidupan sebelumnya, Emily begitu membenci Emy yang di adopsi untuk menggantikan dirinya yang hilang di usia 10 tahun, dia melakukan segala hal agar keluarganya kembali menyayanginya dan mengusir Emy.
Namun sayang sekali, tindakan jahatnya justru membuatnya makin di benci oleh keluarganya sampai akhirnya dia meninggal dalam kesakitan dan kesendiriannya..
"Jika saja aku di beri kesempatan untuk mengulang semuanya.. aku pasti akan mengalah.. aku janji.."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Begitu mendapatkan obat yang sering Emily konsumsi, Albert tidak menunggu lama, dia segera menanyakan pada dokter pribadinya.

"Obat ini biasanya digunakan untuk pasien kanker untuk mengurangi rasa sakit"

Penjelasan dokter terngiang-ngiang terus di kepala Albert, membuatnya terus merasa gelisah, dia ingin sekali membujuk Emily untuk berobat, namun disisi lain, dia juga ingin wanita itu jujur padanya terlebih dahulu.

Alhasil dia memilih untuk diam dan menunggu kapan Emily akan berkata jujur tentang penyakitnya.

Beberapa minggu terakhir, Emily merasakan kelelahan yang tak biasa. Kadang pusing, kadang sesak. Setiap kali rasa itu muncul, ia akan buru-buru menutup pintu kamarnya, menelan obat yang ia beli diam-diam, lalu berbaring sambil berharap Albert tidak menyadarinya.

Suatu malam, setelah rapat keluarga besar Hilton yang cukup melelahkan, Emily kembali ke kamarnya. Gaun malam yang ia kenakan seolah menekan dadanya. Nafasnya terasa berat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Aku harus.. minum obat,” gumamnya lirih, membuka laci meja kecil di samping ranjang. Tangannya gemetar saat meraih botol kecil berisi pil.

Namun sebelum sempat menelannya, pandangannya berkunang-kunang. Dunia di sekitarnya berputar, dan tubuhnya ambruk ke lantai dengan bunyi brukk pelan.

Ketika sadar, Emily sudah berada di atas ranjang. Selimut tebal menutupi tubuhnya, dan cahaya lampu kamar sedikit diredupkan. Yang membuatnya kaget, sosok Albert duduk di kursi samping ranjang, menatapnya dengan ekspresi serius.

“Kau akhirnya sadar,” ucap Albert datar, meski ada nada khawatir yang samar.

Emily berusaha bangkit, namun Albert menahan bahunya dengan lembut.

“Jangan bergerak dulu. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Emily menunduk, jantungnya berdegup kencang. “Aku.. hanya kelelahan.”

Albert menatapnya tajam. “Kelelahan sampai pingsan? Itu bukan jawaban yang jujur, Emily.”

Suasana kamar hening. Emily berusaha mengalihkan pandangan, namun tatapan Albert terlalu menusuk. Ia tahu, pria itu tidak akan puas dengan jawaban sederhana.

“Aku baik-baik saja, sungguh,” katanya akhirnya, memaksa senyum. “Mungkin karena terlalu banyak kegiatan akhir-akhir ini. Aku hanya butuh istirahat.”

Albert terdiam lama. Matanya melirik sekilas ke meja samping ranjang, tepat di mana botol obat tadi tergeletak.

“Mungkin.. aku harus lebih banyak tidur,” tambah Emily cepat, mencoba menutup pembicaraan.

Albert langsung menyadari bahwa Emily belum ingin menyampaikan fakta tentang dirinya sehingga Albert menjaga ekspresinya tetap tenang, tapi jelas ada kecurigaan yang tak terucap.

“Kalau begitu, aku akan memanggil dokter keluarga besok untuk memeriksamu.”

Emily membelalakkan mata. “Tidak perlu! Aku.. aku sungguh baik-baik saja. Jangan khawatirkan hal kecil seperti ini.”

Albert mengerutkan kening. “Hal kecil? Emily, kau pingsan di kamarmu sendiri. Itu bukan hal kecil.”

Emily menggigit bibir. Kata-kata Albert menusuk, tapi ia tidak bisa membiarkan rahasia penyakitnya terungkap begitu saja.

Ia hanya bisa menunduk dan berulang kali meyakinkan, “Tolong.. jangan panggil dokter. Aku janji akan lebih berhati-hati.”

Albert menatapnya lama, seolah mencoba membaca isi hatinya. Namun akhirnya ia menghela napas, berdiri, lalu berkata pelan, “Baiklah. Tapi kalau ini terulang lagi, aku tidak akan diam saja.”

Emily hanya mengangguk, pura-pura lega padahal sangat gugup.

Albert keluar kamar dengan langkah pelan, namun pikirannya penuh tanda tanya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan, ia menyadari bahwa Emily menyimpan sesuatu yang besar, sesuatu yang tidak ingin ia bagi pada siapa pun.

Hari-hari Emily setelah kejadian pingsan itu berjalan seolah normal. Albert tidak lagi menyinggung soal dokter, meskipun tatapannya setiap kali melihat Emily tampak lebih penuh kewaspadaan. Emily sadar, suaminya menyimpan rasa curiga. Namun ia memilih bertahan dengan rahasianya.

Malam-malam sepi di rumah besar Hilton menjadi pelarian bagi Emily. Saat Albert sibuk dengan urusan bisnis, ia menyalakan laptopnya, lalu membuka akun seni yang selama ini ia rahasiakan: DaisyArt.

Dengan nama samaran Daisy, Emily telah membangun sebuah ruang digital yang penuh warna. Ia mengunggah lukisan-lukisan hasil karyanya, terkadang berupa sketsa sederhana, terkadang lukisan penuh detail yang menggambarkan perasaan terpendamnya.

Yang mengejutkan, dalam beberapa minggu terakhir, jumlah pengikutnya melonjak drastis. Pesanan karya masuk tanpa henti, dan beberapa kolektor seni bahkan mulai membicarakan “si misterius Daisy” yang tak pernah menampilkan wajahnya.

***

Suatu sore, saat Emily tengah menambahkan sentuhan terakhir pada lukisan digitalnya, sebuah email masuk. Logo Hilton Group terpampang jelas di pojok kiri atas.

Emily menahan napas.

[Kami, dari Hilton Art Division, tertarik dengan karya Anda. Kami ingin mengundang Anda untuk bekerja sama dalam pameran seni internasional mendatang. Kehadiran Daisy akan menjadi daya tarik besar. Harap balas email ini untuk konfirmasi.]

Emily membeku di kursinya. Ia tahu divisi seni itu adalah salah satu perusahaan yang dipimpin langsung oleh Albert. Jika ia membalas, kemungkinan besar identitasnya akan terbongkar. Tapi jika ia menolak, kesempatan besar itu akan hilang.

Jantungnya berdetak cepat. “Kenapa harus Hilton?” bisiknya pada diri sendiri.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Albert tengah menatap layar laptop dengan wajah serius. Di hadapannya, salah satu manajer divisi seni menjelaskan tentang seorang seniman anonim bernama Daisy yang karyanya sedang viral.

“Pak, lihat sendiri. Antusiasme publik luar biasa. Jika kita berhasil menggaet Daisy, pameran internasional kita akan mendapat sorotan besar,” jelas sang manajer.

Albert menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menyipit menatap lukisan-lukisan yang ditampilkan di layar. Warna-warna itu.. sentuhannya.. entah kenapa terasa familiar.

"Daisy.." gumam Albert pelan. Ada sesuatu dalam gaya lukisan itu yang mengingatkannya pada seseorang.

Sang manajer menambahkan, “Kami sudah menghubunginya lewat email. Tinggal menunggu jawaban.”

Albert hanya mengangguk pelan, namun pikirannya berkelana. Ia teringat pada perbincangan singkat dengan Emily beberapa waktu lalu, saat ia memuji karya Daisy. Emily kala itu hanya menggeleng pelan, seolah tidak tahu. Namun semakin lama, semakin ia merasa ada yang janggal.

Malam itu, saat kembali ke kamar, Albert mendapati Emily duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Begitu ia masuk, Emily buru-buru menutup layar dan tersenyum canggung.

“Sedang apa?” tanya Albert, nadanya santai tapi penuh makna.

“Ah, tidak.. hanya membaca artikel kuliah,” jawab Emily cepat, mengalihkan pandangan.

Albert tidak menanggapi. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi seberang, memperhatikannya beberapa saat.

“Emily,” katanya akhirnya, “aku jadi semakin kagum dengan karya Daisy akhir-akhir ini. Lukisannya terasa hidup. Ada emosi yang kuat di sana.”

Emily menahan napas. “Oh ya?”

Albert mengangguk, matanya menatap lurus padanya. “Kau bilang tidak mengenalnya. Tapi aku jadi penasaran, apa kau benar-benar tidak tahu siapa dia?”

Emily tersenyum tipis, menunduk. “Tidak, Albert. Aku hanya pernah mendengar namanya. Itu saja.”

Hening menyelimuti ruangan. Albert tidak menekan lebih jauh, tapi tatapannya jelas menunjukkan rasa penasaran yang makin besar.

Malam itu, setelah Albert tertidur, Emily menyalakan kembali laptopnya. Jemarinya gemetar saat menulis balasan untuk email Hilton Group.

[Terima kasih atas undangan yang diberikan. Namun, saya mohon maaf karena untuk saat ini saya tidak bisa tampil di depan publik. Saya hanya bisa mengirimkan karya saya untuk pameran, tanpa kehadiran pribadi saya.]

Ia menekan tombol kirim, lalu menutup laptop dengan napas lega.

Namun di dalam hatinya, ia tahu satu hal, cepat atau lambat, Albert akan mengetahui identitasnya.

1
Rossy Annabelle
next🥳
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
lanjut lah thor 😚
Rossy Annabelle
next💪
lin sya
smga Emily kecil bsa ubah alur hdup nya mnjdi lbih baik dan ibunya ttp sehat smpai dia dewasa, mskipun ini kesempatan ketiga kali nya apakah bakal muncul Emy dan Albert lgi di kehidupan skrg?
Rossy Annabelle
Karena q GX ada vote tak kasih kopi ye,KLO bs Doble up nya donk😁
Lynn_
Itu yang ngasih permintaan update komen dong.. mau aku lanjutin ceritanya?
Rossy Annabelle: sama 2 author ku tersayeng😚
total 7 replies
Rossy Annabelle
tuh kaaan😭..benarkah sudah pergi🥺
vivi oh vivi
🥲🥲🥲😭😭 bawang nya banyak bet
Rossy Annabelle
ooh tidaaakk😭
Rossy Annabelle
🤧huhu ,siapa sih yg naroh bawang disini😭
mysa
bisa gk sih bikin karakter emily jangan lemah percuma dikasih kesempatan hidup tpi sifatnya masih lemah gitu yng tegas gitu biar gk mudah di manfaatin sama keluarganya gk belajar dri kehidupan sebelumnya 😏😒
lin sya
mna mngkin emily pergi, kan pemeran utama nya emily, emily lgi diuji penyakit, smgt buat Albert sm emily, knp pemeran utamanya menye menye thor gk tangguh, gak cerdik
Batara Kresno
albert terlalu lemah jadi laki laki knpa ga dihempaskan aj ap dihancurkan orang"yg bikin ngeselin ap lg keluarga emly knpa ga buat bangkrut aj tu usahnya biar mampus bapak ama kakaknya
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
cerita yang menyebalkan😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
bodoh kenapa tidak balsss😏😏😤😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya gak jelas kan sih Emily itu sudah mati satu kali se harus nya jangan bodoh donggg😤😤😤,sih emy juga gak tahu diri banget😤😤😤😏😏😏
vivi oh vivi
judulnya mmg selalu mengalah ajaaahhh ahhh, pasrah dgn keadaan,,, 🗿🗿
Rossy Annabelle
ooh tidak 🥺 cobaan apalagi thor yg kau berikan pada Emily selain penyakit dan keluarga,sekarang tambah orang ketiga 😭.
vivi oh vivi
tambah bingung sm author ini alur nya kmn cerita ini, itu kan Albert udah tau klo itu istrinya yg buat lukisan daisy, jadi selama 3 tahun itu gak ada perkembangan hubungan nya sm Albert ya tuhannn makin gak ngerti deh paling tidak jelaskan selama 3 tahun masa hub suami istri monoton gtu aja, apalagi selama 3 tahun menyembunyikan penyakit yg sebenarnya udah di tau Albert kan dia minum obat untuk org yg kena kanker tuh, sumpahh thorr aii bingung
Lynn_: Udah aku revisi ya kak.. Makasih masukkannya🙏☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!