Dilarang memplagiat karya!
"Pernikahan kontrak yang akan kita jalani mencakup batasan dan durasi. Nggak ada cinta, nggak ada tuntutan di luar kontrak yang nanti kita sepakati. Lo setuju, Aluna?"
"Ya. Aku setuju, Kak Ryu."
"Bersiaplah menjadi Nyonya Mahesa. Besok pagi, Lo siapin semua dokumen. Satu minggu lagi kita menikah."
Aluna merasa teramat hancur ketika mendapati pria yang dicinta berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Tak hanya meninggalkan luka, pengkhianatan itu juga menjatuhkan harga diri Aluna di mata keluarga besarnya.
Tepat di puncak keterpurukannya, tawaran gila datang dari sosok yang disegani di kampus, Ryuga Mahesa--Sang Presiden Mahasiswa.
Ryuga menawarkan pernikahan mendadak--perjanjian kontrak dengan tujuan yang tidak diketahui pasti oleh Aluna.
Aluna yang terdesak untuk menyelamatkan harga diri serta kehormatan keluarganya, terpaksa menerima tawaran itu dan bersedia memainkan sandiwara cinta bersama Ryuga dengan menyandang gelar Istri Presiden Mahasiswa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30 Mouth to Mouth
Happy reading
Lima tahun lalu ....
"Tolong!"
Suara itu memecah kaca lamun. Memaksa Ryuga yang tengah duduk di atas pasir pantai untuk beranjak, mencari asal suara.
"Tolong ...." Lagi, terdengar suara yang sama. Namun pelan. Hampir tak terdengar. Terkalahkan oleh suara debur ombak.
Pagi ini, tidak banyak wisatawan yang berkunjung di Pantai Indrayanti. Hanya Ryuga dan dua orang gadis yang tadi terlihat bersenda gurau sambil membasahi tubuhnya dengan air pantai.
Ryuga menajamkan pandangan mata ketika mendapati objek yang dicari. Seorang gadis yang tengah berjuang di tengah hantaman ombak sambil melambaikan tangan.
Tanpa berpikir panjang, Ryuga melepas jaket lalu membuangnya ke sembarang arah. Berlari--menerjang air. Berenang melawan arus sekuat tenaga, membelah ombak yang terus menghantam dada.
Satu tujuannya, menyelamatkan gadis itu.
"Luna --" gumamnya ketika melihat wajah gadis yang ingin ditolongnya dari jarak yang sangat dekat. Rupanya gadis itu adalah Aluna--adik Xavier, Wakil Jendral Geng Brawijaya.
Ryuga mengulurkan tangan. Gapai tubuh Aluna yang sudah terkulai lemas.
Lun, jangan pingsan. Please, bertahanlah !!! pinta yang hanya tercetus di dalam hati.
Dengan mengandalkan sisa tenaga--Ryuga berusaha menarik tubuh Aluna ke tepi pantai, lalu membawanya ke hamparan pasir yang kering.
Napasnya terengah-engah, tenaganya terkuras. Namun ada nyawa yang harus segera ditolong.
"Lun, bertahanlah!" Ryuga merapal kalimat itu sambil menempelkan dua jarinya di leher Aluna.
Denyutnya sangat lemah, hampir tak terasa.
Ryuga menunduk, mendekatkan telinganya ke hidung Aluna. Tidak ada hembusan udara yang keluar.
"Aluna! Bangun!" teriaknya parau, sembari menekan dada gadis itu dengan ritme yang teratur.
Ketakutan mulai merayap di hati, karena Aluna belum juga membuka mata.
Ryuga memaksa dirinya untuk tetap tenang agar bisa berpikir--mencari cara untuk menyelamatkan nyawa Aluna.
Mouth to Mouth Resuscitation. Memberikan napas dari mulut ke mulut. Itu yang terlintas di pikirannya.
Ryuga membuka saluran napas. Mengangkat dagu Aluna dengan hati-hati hingga posisi kepalanya mendongak.
"Maaf, cuma cara ini yang bisa aku lakuin --" ucapnya pelan.
Ryuga meraup udara dalam-dalam, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Aluna dan mulai meniupkan napas perlahan.
Matanya tertuju pada dada Aluna, berharap ada pergerakan.
Satu kali ... dua kali ...
Ryuga melakukan kompresi dada dengan ritme yang teratur dan penuh penekanan yang presisi. Lantas kembali memberikan napas buatan.
"Lun, buka matamu --" pintanya--hampir putus asa. Namun tekadnya untuk menyelamatkan nyawa Aluna tidak memudar sedikit pun.
Tepat setelah meniupkan napas ketiga, tubuh Aluna tersentak. Gadis itu terbatuk hebat, mengeluarkan air yang menyumbat saluran napasnya.
Ryuga segera memiringkan tubuh Aluna agar tidak tersedak.
Sepasang mata indah Aluna terbuka perlahan. Pandangannya kabur, napasnya tersengal-sengal.
Objek pertama yang ia lihat adalah wajah Ryuga yang basah, dengan tatapan mata yang menyiratkan rasa lega.
"Syukurlah, kamu udah sadar, Lun."
"Kak Ryu --"
"Maaf. Aku lancang --"
Aluna mengerutkan dahi. Bibirnya bungkam, tapi tatapan matanya menuntut penjelasan atas perkataan Ryuga yang menggantung.
"Mouth to Mouth Resuscitation. Aku terpaksa ngelakuinnya," ujar Ryuga--berterus terang.
Aluna menggeleng lemah dan mengulas senyum tipis.
"Kak Ryu nggak perlu minta maaf. Justru, aku yang seharusnya bilang begitu," balasnya--pelan. Wajah gadis itu tampak pucat. Tubuhnya terlihat lemas. Namun dipaksa-nya untuk bangkit dari posisi berbaring.
Refleks, Ryuga melingkarkan tangannya di punggung Aluna untuk menopang tubuh mungil yang hampir limbung.
"Makasih, Kak," ucap Aluna lirih. Lantas memeluk Ryuga--sahabat Xavier yang sudah dianggapnya sebagai kakak.
"Aku takut. Takut sekali. Dia mendorongku dan membuatku hampir tenggelam." Aluna tumpahkan tangis. Tubuhnya bergetar.
Ketakutan mendekap erat ketika gadis bermata indah itu teringat kejadian mengerikan yang baru saja dialami dan hampir membuatnya kehilangan nyawa.
"Siapa yang mendorong mu?" Ryuga balas memeluk dan mengusap lembut punggung Aluna. Memperlakukan adik bungsu Xavier selayaknya adik sendiri.
"Tifany. Dia mengajakku bercanda dan bermain air. Tapi, tiba-tiba dia mendorongku --"
"Aku bakal kasih dia hukuman, biar dia nggak ngelakuin hal bodoh yang bisa ngebahayain kamu lagi."
Aluna menggeleng pelan dan perlahan mengurai peluk. Seka wajahnya yang basah dengan jemari tangan.
"Jangan, Kak. Kasihan dia. Mungkin, dia memang cuma mau bercanda."
"Kalau emang cuma mau bercanda, kenapa dia ninggalin kamu di tengah pantai dan ngebiarin kamu hampir tenggelam?"
Aluna diam. Benaknya membenarkan ucapan Ryuga. Tapi kelembutan hati, memaksanya untuk memaafkan perbuatan Tifany--sahabatnya.
"Kalian ke pantai sama siapa?" Ryuga kembali bertanya.
"Kami cuma berdua."
"Ck, lain kali minta Xavier atau Karina buat nemenin. Jangan cuma berdua--sama temen nggak ada akhlak kaya' Tifany. Bahaya."
Aluna mengangguk--mengindahkan rangkaian kata yang dituturkan oleh Ryuga.
"Aku antar pulang. Tapi, kita beli baju dulu. Bajuku basah. Bajumu juga."
"Iya, Kak." Lagi, Aluna mengangguk dan menyematkan seutas senyum di bibir.
Perhatian yang ditunjukkan oleh Ryuga menuntun batinnya untuk melangitkan pinta pada Sang Maha Cinta. Semoga kelak, diberikan jodoh--seorang lelaki yang sama seperti Ryuga Mahesa. Lelaki berhati baik, penyayang, dan perhatian. Meski terkadang galak dan keras kepala.
Dulu, sewaktu SMA, Ryuga menggunakan kata aku--kamu, ketika berbincang. Tapi setelah mencecap bangku kuliah, ia terbiasa menggunakan kata gue--lo. Logat bicaranya sewaktu SMA bisa ditengok di kisah 'Istri Bar-Bar Kesayangan Pak Guru'.
.
.
Aluna menatap lekat wajah Ryuga yang terlihat lelap. Mengusapnya lembut dengan jemari tangan.
Wajahnya menyendu kala teringat ucapan dan perlakuan Ryuga semalam.
Tentu, Aluna teramat kecewa sekaligus marah pada suaminya itu karena meragukan kesucian yang dijaga dan malah mempercayai omongan sampah yang dicetuskan oleh dua makhluk minim akhlak--Baskara dan Tifany.
Namun kekecewaan dan amarahnya terkalahkan oleh rasa sayang yang tulus sekaligus kelapangan hati untuk memaafkan.
"Kak, kamu ... lelaki pertama yang menyentuh bibirku. Kamu juga lelaki pertama yang memelukku. Tentunya, selain papa dan Kak Vier --" monolognya.
"Aku masih mengingat kejadian lima tahun lalu--saat kamu menolongku, yang hampir tenggelam di Pantai Indrayanti. Kalau waktu itu Kak Ryu nggak ada di sana, mungkin aku sudah kehilangan nyawa --"
"Terima kasih, sudah menjadi malaikat penolong. Bukan hanya satu kali, tapi berkali-kali."
Aluna menerbitkan seutas senyum dan melabuhkan kecupan di kening Ryuga.
Sepasang mata yang semula terpejam--terbuka perlahan, diiringi lengkungan bibir yang membentuk sebaris senyum dan sukses membuat Aluna terkejut sekaligus malu.
"Ka-kak Ryu su-sudah bangun?" tanya Aluna--terbata.
"Udah, dari tadi."
"Ja-jadi Kak Ryu mendengar --"
"Iya, gue denger. Gue baru inget ... pernah nyium bibir lo, lima tahun lalu."
"Bu-bukan nyium. Tapi ngasih napas buatan."
"Beda ya?"
"Jelas beda."
"Sama aja sih. Kan nempelin bibir."
"Tetep beda. Niatnya juga beda --"
Ryuga kembali tersenyum, lalu melabuhkan kecupan singkat di bibir Aluna.
"Maafin gue, Love. Gue nggak bakal lagi ngulangin kebodohan semalam."
"Janji?"
"Janji. Trust me. Kalau gue sampai ingkar, bunuh aja gue. Bunuhnya pake pisau atau pake pedang, jangan pakai kata-kata pisah, karena gue nggak sanggup nahan sakitnya."
"Alright. Tapi, Kak Ryu juga harus percaya aku. I trust you, you must trust me too."
Ryuga mengejapkan mata. "I trust you, Love."
Usai mengucap kata itu, ia merengkuh tubuh Aluna. Dekap erat sambil pejamkan mata. Tekan secuil perasaan yang sisakan rasa ngilu. Berharap Aluna menjadi rumah ternyaman dan bisa hadirkan sentosa.
🍁🍁🍁
Bersambung
Yuk, yang mau komen dipersilahkan. Yang mau ngasih like atau 5 ⭐, apalagi.
Salam sayang dan love sekebon untuk Kakak-kakak pembaca yang masih setia mengawal kisah 'Ryuga dan Aluna'. Sandiwara Cinta Sang Presma 😘🙏🏻
Yang setitik itu terkadang yg sangat frontal
spil tipis² Bu..🤭
kalau saja ada pegawai desaku yg ikut baca..🤭🤭