Jovita Diana Juno dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Adam Pranadipa tepat tiga bulan sebelum pernikahan mereka. Sementara itu, Devan Manendra lekas dijodohkan dengan seorang anak dari kerabat ibunya, namun ia menolaknya. Ketika sedang melakukan pertemuan keluarga, Devan melihat Jovita lalu menariknya. Ia mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan, dan sudah membicarakan untuk ke jenjang yang lebih serius. Jovita yang ingin membalas semua penghinaan juga ketidakadilan, akhirnya setuju untuk berhubungan dengan Devan. Tanpa perasaan, dan tanpa rencana Jovita mengajak Devan untuk menikah.
update setiap hari (kalo gak ada halangan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisa Amara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Jovita mengerjapkan matanya perlahan. Pandangannya masih buram, cahaya pagi membuat kelopak matanya terasa berat. Saat kesadarannya mulai penuh, ia baru menyadari sesuatu.
Ia berada di kamarnya. Di kasurnya. Dengan selimut yang tersampir rapi di atas tubuhnya.
“Aku pindah?” gumamnya bingung.
Seingatnya, ia tertidur di ruang tamu sambil menonton TV. Jovita duduk, merapikan rambut yang sedikit awut-awutan, lalu bangkit pelan.
Begitu membuka pintu, aroma kopi langsung menyambutnya. Di dapur, ia melihat Devan sudah rapi dengan kemeja kerja, lengan kemejanya tergulung santai. Pria itu sedang menuang kopi ke dalam mug.
“Kamu gak tidur?” tanya Jovita sambil duduk di kursi bar.
“Tidur,” jawab Devan singkat sebelum menyeruput kopi panasnya.
Jovita mengedarkan pandangan ke sekitar, lalu kembali menatapnya. Sejujurnya, ia sudah mulai terbiasa melihat Devan di pagi hari, terbiasa dengan keberadaannya di ruangan yang sama. Tapi setiap malam ia masih mengunci pintunya rapat-rapat. Entah karena takut… atau karena belum siap.
“Ah, kamu yang mindahin aku semalam?” tanyanya akhirnya. Nada suaranya penuh rasa ingin tahu.
Devan menghentikan gerakannya. Matanya menatap Jovita beberapa detik sebelum ia menjawab,
“Enggak. Kamu jalan sendiri.”
Jovita mengerutkan alis. “Masa? Aku gak inget jalan ke kamar.”
“Kamu jalan sambil tidur. Gak sadar.”
Jovita terdiam. Logikanya menolak, tapi ia juga tidak bisa membantah tanpa bukti. Tetap saja… ia yakin tidak mungkin. Tapi ia memilih diam.
Devan meneguk kopi terakhirnya. Ia tidak ingin Jovita menjauh. Wanita itu bahkan tidur dengan pintu terkunci, jelas ia masih menjaga jarak. Baginya, mengakui bahwa ia menggendongnya akan membuat dinding itu makin tebal.
Ia melirik jam di ponselnya. Sudah hampir jam tujuh. Devan berdiri, menarik napas malas, lalu meraih tas kerjanya.
“Kamu masuk siang lagi?” tanyanya sebelum pergi.
Jovita mengangguk pelan.
“Kita makan di luar aja malam ini."
saat ia hendak melangkah pergi, suara Jovita menghentikannya.
“Gak perlu jemput aku.”
Devan menoleh pelan.
“Aku mau ke rumah Karen pulang kerja nanti,” lanjutnya.
Ada jeda kecil. Sekilas, tatapan Devan meredup. Bukan karena marah, lebih seperti… kecewa yang disembunyikan rapat-rapat.
“Oke,” jawabnya akhirnya, datar tapi pelan. Lalu ia benar-benar pergi.
***
Berbeda dengan suasana di apartemen Devan dan Jovita, rumah Mawar justru dipenuhi hawa dingin.
Mawar baru saja pulang dari perjalanan dinas ke Prancis. Bukan dalam keadaan segar, justru wajahnya terlihat letih. Ia duduk di meja makan, menusuk salad yang rasanya bahkan tidak ia pedulikan.
Langkah berat Heri terdengar memasuki ruang makan. Wajahnya masam, rahangnya menegang. Ia tidak menyembunyikan kekesalannya.
Mawar seharusnya kembali dua minggu lalu. Tapi ia memperpanjang perjalanannya tanpa penjelasan. Heri sudah menerka sesuatu, dan itu membuat kemarahannya mendidih sejak tadi malam.
“Kenapa baru pulang?” tanya Heri dingin, tatapannya menusuk. “Apa yang kamu lakukan di sana?”
Mawar berhenti mengunyah. Pagi-pagi sudah diserang seperti ini. Ia menelan salad hambar itu dengan susah payah.
“Bekerja,” jawabnya singkat.
Heri menyeringai tipis. “Kamu yakin bekerja? Atau kamu pergi mencari wanita itu?”
Mawar membeku. Matanya perlahan mengangkat, menatap Heri dengan sorot dingin.
“udah Papa bilang,” lanjut Heri, suaranya merendah, makin tajam. “Jangan pernah mencari dia. Apalagi sampai bertemu.”
Beberapa detik Mawar hanya diam. Datar. Namun tangannya mengepal di bawah meja.
Akhirnya ia berbicara, suaranya lebih dingin daripada tatapannya.
“Kenapa aku gak boleh ketemu ibuku sendiri? Apa hakmu melarangku?”
Heri tersentak seolah tak percaya Mawar berani membalas.
“Apa?” suaranya lirih, tapi dipenuhi kemarahan yang ditahan. “Dia tidak pantas disebut ibu. Dia sudah,”
“Kalau begitu,” kata Mawar memotong, menatap Heri dengan penuh kecewa, “dari awal jangan pernah bawa aku ke hidup kalian.” Mawar berdiri tanpa menunggu jawaban.
Begitu di kamarnya, Mawar langsung membuka laci meja rias. Deretan botol obat dan vitamin berantakan di dalamnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil beberapa multivitamin dan menelannya sekaligus, berusaha menenangkan napas yang terus tersengal.
Ia bersandar di pinggir meja, memejamkan mata.
Sejak masih kecil, Mawar hidup terpisah dari ibunya. Sang ibu adalah seorang model fashion di Prancis. Sejak kecil ia mengaguminya, tapi hampir setiap bulan ibunya terbang kembali ke luar negeri, meninggalkannya bersama ayahnya untuk waktu yang terasa sangat lama.
Heri, ayahnya, lama-lama muak. Menurutnya, istrinya lebih memilih catwalk daripada anaknya sendiri. Sampai akhirnya ia menggugat cerai, dan hak asuh Mawar jatuh pada dirinya.
Mawar sudah siap dengan pakaian kantornya. Entah karena bakat atau terbawa gen, gaya busananya selalu rapi, anggun, dan menarik perhatian, seperti ibunya dulu.
Sesampainya di kantor, Mawar langsung duduk di meja kerjanya. Pandangannya jatuh pada papan nama kecil bertuliskan jabatannya. Alih-alih merasa bangga, dadanya justru terasa sesak.
Pintu diketuk pelan. Asistennya masuk dengan langkah hati-hati.
“Apa kabarmu selama di Prancis?” tanyanya. Nada suaranya terdengar akrab, tapi tetap menjaga jarak profesional.
Mawar tersenyum tipis. “Baik.” Tatapannya segera turun ke amplop di tangan asistennya.
“Ini… laporan tentang wanita itu.” Asistennya meletakkannya di meja dengan ragu. “Tapi dia sudah menikah dengan…”
“Aku tahu.” Mawar memotong cepat. Ia memang sudah menerima undangan pernikahan Devan dan Jovita dari Rosmala, meski saat itu ia masih berada di Prancis.
Asistennya terdiam sesaat, kaget. Ia tak menyangka Mawar tetap menelusuri Jovita.
“Dia… gak berencana rebut laki-laki itu, kan?” gumamnya dalam hati.
“Dia sempat mau menikah?” tanya Mawar tiba-tiba.
Asistennya tersentak. “Iya. Dia berhubungan dengan laki-laki selama delapan tahun. Harusnya menikah, tapi mereka putus.”
Mawar tak bereaksi. Ia hanya menatap foto Jovita dalam laporan itu, wajahnya datar namun matanya menyipit.
“Tunangannya selingkuh sama rekan kerjanya,” lanjut asistennya pelan. “Dan mereka berdua melakukan plagiarisme sama penggelapan dana. Baru kemarin sidangnya. Jaksa penuntutnya Pak Devan.”
Dahi Mawar sedikit berkerut. “Jadi mantan tunangannya selingkuh, dan tetap membiarkan dia disalahkan? Bahkan setelah tahu kebenarannya?”
Asistennya mengangguk kecil.
“Lalu Jovita meminta Devan menangani kasus itu…” Mawar menggumam, seperti sedang menghitung sesuatu. “Apa mungkin dia menikah dengan Devan untuk…”
Ia tertawa pendek. Tidak percaya. Sama seperti Arum, Mawar juga mengira Jovita menikah demi memanfaatkan seseorang. Wajar saja, karena Mawar pun meminta Devan menerima perjodohan demi kepentingannya sendiri.
Mawar terdiam. Jemarinya mengetuk meja pelan, ritmis, menandakan pikirannya sedang bekerja.
“Haruskah aku kirim hadiah pernikahan untuk mereka?” tanyanya tanpa mengangkat kepala. Suaranya tenang, tapi ada ketegangan tipis di dalamnya.
Asistennya langsung menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saja, ia mulai khawatir dengan obsesi diam-diam Mawar.
“Gak perlu deh,” kata Mawar akhirnya.
Asistennya menghela napas lega.
Namun Mawar menambahkan, “Aku akan mengirimkannya sendiri.”
Bahunya kembali kaku. Di kepalanya, satu pertanyaan muncul lagi, Apa Mawar benar-benar mau merebutnya?
***
Jovita baru kembali dari rumah Karen. Tapi kali ini ia tidak pulang sendirian. seekor anjing berwarna cokelat keemasan berjalan di samping kakinya, ekornya bergoyang penuh semangat. Jovita sudah membuat keputusan bulat, Brownie akan tinggal bersamanya. Tidak ada lagi orang yang alergi bulu, tidak ada lagi drama mencari rumah baru untuknya.
Begitu pintu apartemen terbuka, Brownie langsung melesat masuk, lalu mengendus seisi ruangan seperti sedang mengklaim rumah barunya.
Devan baru saja keluar dari kamar ketika melihatnya. Ia hampir menjatuhkan handuk yang dibawanya.
“Kamu bawa dia balik?” tanyanya, jelas terkejut.
Jovita menaruh mangkuk makan Brownie di dekat pintu balkon, lalu melepas tasnya ke sofa tanpa tenaga. Ia menjatuhkan diri di sana, merebah dan menutup mata.
“Hm. Karen nggak bisa rawat lagi,” jawabnya pelan. Suaranya berat, terdengar lelah dan jenuh.
Devan hanya mengangguk kecil, pasrah, lalu berjalan ke dapur. Suara gelas dan air mengalir terdengar sebentar sebelum ia kembali ke ruang tamu. Ia duduk di samping Jovita, menaruh segelas air di meja.
“Kamu hari Sabtu libur?” tanyanya.
“Hari Sabtu?” Jovita mengerjap, mencoba mengingat jadwalnya. Lalu ia menggumam, “Hm. Kenapa?”
“Temani aku,” ujar Devan singkat. “Temanku baru buka galeria.”
Jovita membuka mata sedikit, mengintipnya. Sebenarnya ia ingin menolak. Sabtu satu-satunya hari ia bisa bernapas bebas. Tapi ia juga tidak ingin terdengar terlalu ketus.
“Lihat nanti,” jawabnya akhirnya, setengah malas, setengah kompromi.
Devan menghela napas pelan. Tidak kecewa, tapi jelas berharap jawaban yang lebih pasti.
Jovita benar-benar kelelahan. Kepalanya terasa berat, pikirannya sudah berbayang-bayang bantal. Ia melirik Devan yang duduk di sebelahnya dan sebelum sempat berpikir panjang, tubuhnya bergerak sendiri. Perlahan ia menjatuhkan kepala di pangkuan Devan.
Devan langsung menegang seketika. Napasnya tertahan. “Kenapa?” bisiknya pelan, takut suaranya malah mengusir momen itu.
“Bentar aja. Aku capek,” keluh Jovita lirih tanpa membuka mata.
Devan mematung. Tangannya menggantung di udara, tidak tahu harus diletakkan di mana. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, ia akhirnya memberanikan diri. Dengan gerakan pelan, hampir ragu, ia mengusap rambut Jovita.
Gerakannya lembut. Hati-hati. Seperti menyentuh sesuatu yang tidak boleh dia sentuh.
Jovita tersentak kecil, matanya terbuka lebar. Baru saat itu ia sadar betapa dekat posisi mereka. Betapa spontan tindakannya barusan. Namun… anehnya, tubuhnya tidak bergerak menjauh. Seolah ingin, tapi tidak benar-benar ingin.
Keheningan jatuh di antara mereka. Canggung. Hangat. Devan mengusap rambut Jovita, tidak berani bicara, takut momen itu hilang.
Setelah beberapa, Jovita bangun mendadak. Duduk tegap. Pipi dan telinganya memanas.
“Aku… mau mandi,” ucapnya cepat, hampir terbata, sebelum bangkit dan melangkah ke kamarnya dengan langkah terburu-buru.
Devan hanya menatap punggungnya yang menjauh. Perlahan, senyum geli muncul di wajahnya, campuran lega dan tidak percaya. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa.
***
Hari Sabtu, Jovita akhirnya setuju untuk ikut Devan ke pameran. Kini Devan sedang menunggunya bersiap sembari memberi makan Brownie.
Sesaat kemudian, bel apartemen mereka bunyi. Devan menoleh ke arah pintu. Saat bel kedua bunyi, ia melangkah dan membuka pintu.
Matanya terbelalak, sedikit terkejut dengan kehadiran tamu yang tak terduga sore itu.
To be continued