Sri tidak menyangka jika rumah tangganya akan berakhir karena orang yang paling dia cintai dan hormati, entah bagaimana dia mendeskripsikan hati yang tidak akan pernah sembuh karena perselingkuhan suami dengan perempuan yang tak lain ibunya sendiri.
Dia berusaha untuk tabah dan melanjutkan hidup tapi bayangan penghianatan dan masalalu membuatnya seakan semakin tercekik.
mampu ka dia kembali bangkit setelah pengkhianatan itu diatas dia juga memiliki kewajiban berbakti pada orangtua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Keduanya langsung berangkat ke kedai yang menjajakan makanan Padang yang khas, wajah Sri semakin berbinar melihat pesanan ibunya itu.
Keduanya makan dengan lahap dan dia bisa melihat ibunya hanya tersenyum begitu memakannya.
"Apakah makanan ini enak Bu? ". Tanyanya dengan semangat.
"Iya, lumayan enak dan mengenyangkan, boleh juga". Jawabnya pelan sambil kembali memakan makanannya.
"Syukurlah ibu suka, selama ini ibu begitu membenci makanan Padang selama ini, jadi aku berusaha tidak pernah memakannya jika akan bertemu dengan ibu, takutnya ibu tidak suka dengan aromanya".
Siti menatap anaknya itu dengan senyum tipis, dia adalah ibu yang sangat beruntung karena anaknya begitu menyayangi dirinya selama ini.
"Kamu sudah melakukan banyak hal untuk ibu, apakah ibu harus membalasnya??". Tanyanya dengan sendu.
Sri menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak ingin balasan apapun dari ibunya, dia hanya ingin kasih sayang dan cinta dari ibunya, dia tidak ingin hal lainnya.
"Aku tidak meminta hal yang aneh Bu, aku hanya ingin ibu menerimaku sebagai anak dan menyayangi serta mencintai aku, aku hanya ingin itu". Jawabnya pelan tapi penuh dengan penekanan.
Siti menatap anaknya dengan sendu, dia sangat tersentuh dengan ketulusan yang diberikan anaknya ini kepadanya setelah semua luka dan rasa sakit yang dia berikan kepada anaknya dia masih mau menyayangi dirinya seperti ini.
Makanannya telah habis dan dia sudah selesai makan, kini perhatiannya berpusat kepada sang anak.
"Ibu akan berusaha, walau terlihat kaku, mau bantu ibu melakukannya?". Ucapnya dengan penuh perhatian.
Mata Sri berkaca-kaca, akhirnya setelah semua ini dia bisa menjadi anak ibunya yang utuh tanpa harus berdrama dan dia begitu senang merasakannya.
"Terima kasih Bu, terima kasih". Ucapnya langsung memeluk sang ibu melupakan tangannya yang masih berlumuran makanan karena dia makan menggunakan tangan sedangkan ibunya menggunakan sendok.
"Tidak apa, kamu bersihkan tanganmu dulu dan habiskan makananmu baru memeluk ibu, nanti ibu bau makanan karena tanganmu itu masih belum dibersihkan". Ucapnya berusaha bercanda walau dengan kaku.
Sri langsung cengengesan mendapatkan teguran dari sang ibu, perbedaan yang mencolok dari dirinya dan sang ibu adalah tentang kepribadian, dia memang seperti ayahnya dalam hal kepribadian tapi wajahnya sangat mirip dengan ibunya begitu juga dengan tubuhnya.
Ibunya terkenal sangat perfeksionis dalam melakukan segala hal termasuk dalam hal kebersihan seperti ini sedangkan dirinya sangat apa adanya seperti ayahnya walau sikap dingin dan cara dia menangani sesuatu juga mirip dengan ibunya.
"Aku akan membersihkannya dulu baru peluk ibu sepuasnya boleh??". Tanyanya penuh dengan binar bahagia.
Siti hanya mengangguk mengiyakan perkataan sang anak.
Dia berjanji dalam hati untuk memperbaiki hubungannya dengan sang anak kedepannya walau mereka terpisah jarak nantinya.
"Asyik". Ucapnya dengan girang.
Dia segera berlari mencuci tangannya agar bisa memeluk sang ibu nantinya.
Siti menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang seperti anak kecil itu tanpa melihat kondisi sekitar yang melihat mereka karena pekikan anaknya yang cukup keras tadi, dia merasa aneh dalam dadanya ketika melihat kebahagiaan sang anak.
Setelah mencuci tangannya dan memastikan dia sudah bersih, Sri segera menghampiri sang ibu kemudian memeluknya dengan sayang.
"Iya-iya sabar sayang, kamu lihat itu semua orang memperhatikan kita". Ucap Siti pelan tapi ingin tertawa.
Dia terkejut mendapatkan pelukan dari belakang oleh sang anak.
Dia ingin tertawa pelan menyadari jika anaknya ini adalah anak yang humble dan penuh dengan kejutan. Dia jarang melihat sisi lain dari sang anak karena dia tidak peduli padanya.
Sri langsung melihat wajah ibunya begitu mendengar kata sayang keluar dari bibir ibunya. Kalimat yang tidak pernah dia dengar dari ibunya selama ini.
"Coba ulangi lagi Bu". Ucapnya menahan tangis.
Airmatanya sudah mengenang di pelupuk matanya, jika dia berkedip maka itu pasti langsung menetes.
"Maafin ibu yah anak kesayangan ibu, bantu ibu untuk bisa menjadi ibu yang baik untukmu kedepannya, jangan sedih". Ucap Siti menghapus airmata sang anak.
Naluri yang selama ini hilang akhirnya muncul dengan sendirinya, mungkin karena dia sedang mengandung itu sebabnya dia bisa merasakan hal seperti ini.
"Sri akhirnya menumpahkan airmata nya dia semakin memeluk ibunya dengan penuh rasa haru yang teramat besar dan membuncah di dadanya.
"Ibu disini saja bersama ku yah, sebulan saja, aku masih ingin merasakan menjadi anak satu-satunya ibu". Ucapnya dengan manja sambil memeluk ibunya dengan sayang.
"Cukup 2 minggu yah, ibu harus melakukan sesuatu di sana, tapi kalau kamu mau ikut boleh temani ibu walau beberapa hari, ibu akan memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah kamu tahu selama ini". Ucapnya pelan kepada sang anak.
Sri menatap ibunya dengan bingung, melakukan hal penting apa sampai ibunya harus pergi dan ada disana tapi melihat wajah serius ibunya, dia tidak mau bertanya lagi takut ibunya tersinggung.
"Boleh deh, aku ikut ibu saja nanti kesana, aku akan ambil cuti nanti walau 2 hari bagaimana?". Tanya meminta pendapat.
"Tentu, kamu saja yang mengatur, ibu akan temani kamu selama 2 Minggu disini". Ucapnya dengan senyum tipis.
"Ayo kita pulang, kalau sudah tidak ada tempat yang ingin kamu datangi".
Wajah Sri langsung berubah cemberut karena ibunya mengatakan hal itu, dia masih ingin berkeliling dengan ibunya menikmati waktunya karena besok dia akan kembali bekerja.
"Jangan cemberut, memang kamu mau kemana lagi??". Tanya sang ibu yang mulai tahu kelakuan anaknya ini.
"Aku ingin jalan kepantai Bu, pasti seru banget kalau bisa jalan sama ibu kepantai". Ucapnya dengan cemberut.
"Sebaiknya kita pulang dulu, ini siang hari, kamu mau kita gosong??". Tanyanya dengan pelan.
Sri langsung merajuk dengan manja, dia tidak pernah memperlihatkan sisi manja dirinya pada orang lain kecuali ibu dan ayahnya dan kini ibu kandungnya bisa melihatnya.
"Iya Bu, aku lupa kalau ibu lagi hamil muda tidak boleh kecapean, belum lagi matahari sangat terik seperti ini".
"Ya sudah kita pulang dulu, nanti kalau sudah agak sorean baru kita pergi, jangan lupa kita tadi beli bahan makanan mentah yang belum dibersihkan sama sekali". Ucapnya memperingatkan sang anak.
Anaknya ini terlalu bersemangat sampai melupakan banyak hal termasuk bahan makanan mereka yang tersimpan di kulkas mereka.
"Iya Bu, aku lupa". Jawabnya cengengesan.
Dia menatap anaknya sendu, anaknya ini terlalu banyak menyimpan luka dimasa kecil sehingga dia berprilaku seperti ini ketika keinginan kecilnya dituruti.
"Sudah tidak apa, kita akan pulang dan bersihkan itu terlebih dahulu baru kita istirahat, nanti sorean baru kita pergi ke pantai supaya seru, lagian biasanya kalau sore hari banyak jajanan yang menggugah selera disana". Ucapnya sambil mengelus kepala sang anak