NovelToon NovelToon
GADIS POLOS MILIK MAFIA KEJAM

GADIS POLOS MILIK MAFIA KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elizabeth antika

Seorang gadis polos/biasa (kemungkinan Tika) secara tidak sengaja terlibat dengan seorang bos mafia atau pria berkuasa yang kejam/dingin (kemungkinan Robert).
Keterlibatan ini bisa karena hutang, perjodohan paksa, atau insiden tertentu.
Awalnya, Robert bersikap kasar, kejam, atau dingin, namun seiring berjalannya waktu, sifat polos Tika meluluhkan hati Robert, dan ia mulai memanjakan Tika habis-habisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elizabeth antika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30 kerja sama dengan mafia

Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis apartemen, menyinari sisa-sisa kekacauan semalam. Bau antiseptik masih menggantung kuat di udara.

Tika terbangun dengan leher kaku karena tidur dalam posisi duduk di kursi ruang makan, menjaga "pasien" berbahaya yang terbaring di sofanya. Saat matanya terbuka sepenuhnya, ia tersentak.

Sofa itu kosong.

"Mencari aku?"

Suara bariton itu datang dari arah dapur. Tika menoleh cepat. Robert sedang berdiri di sana, hanya mengenakan celana bahan hitamnya. Bagian atas tubuhnya telanjang, memperlihatkan perban putih yang melilit perutnya yang bidang, serta deretan tato rumit di punggung dan lengannya—tato yang melambangkan kekuasaan di dunia bawah tanah.

Di tangannya, ada secangkir kopi milik Tika.

"Kau... kau seharusnya tidak bergerak," Tika berdiri, insting dokternya menyala. "Jahitanmu bisa robek."

"Jahitannya rapi. Kau berbakat," Robert menyesap kopinya dengan tenang, seolah dia adalah pemilik apartemen itu. Ia meletakkan sepucuk pistol di atas meja makan, tepat di sebelah toples kue kering. Kontras yang mengerikan.

"Sekarang kau sudah sadar," kata Tika, berusaha terdengar tegas meski lututnya lemas. "Silakan pergi. Aku tidak akan melapor polisi, aku janji. Asal kau pergi."guh

Robert berjalan mendekat, langkahnya pelan namun mengintimidasi. Ia menarik kursi di hadapan Tika dan duduk.

"Aku tidak bisa pergi. Belum," kata Robert datar. "Faksi Red Dragon sedang menyisir seluruh rumah sakit dan klinik di jinga mencari pria dengan luka tembak. Jika aku keluar sekarang, aku mati. Dan jika mereka tahu kau yang mengobatiku, kau juga mati."

Wajah Tika memucat. "Jadi aku sandera?"

"Bukan," Robert menatap mata Tika tajam. "Aku ingin menawarkan kerja sama."

Robert mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari saku celananya dan meleparnya ke meja.

"Apa ini?" tanya Tika.

"Buka."

Tika membuka amplop itu dengan ragu. Isinya bukan uang, melainkan foto-foto. Foto seorang pemuda—laki-laki yang di cintai Tika, Dimas—yang sedang duduk di meja cafe dengan wajah melamun, dikelilingi preman.

"Laki laki mu, Dimas. Ahli waris  akhir. Dia berhutang 500 juta pada lintah darat di wilayah Jinga. Tempo pembayarannya jatuh besok. Jika tidak bayar, mereka akan mengambil ginjalnya. Secara harfiah."

Tika menutup mulutnya dengan tangan, air mata menggenang. Ia tahu kekasih nya bermasalah, tapi tidak menyangka sejauh ini. "Bagaimana... bagaimana kau tahu?"

"Informasi adalah kekuatanku, tika," jawab Robert santai. "Sekarang, dengarkan tawaranku."

Robert menyandarkan punggungnya. Aura dominasinya memenuhi ruangan sempit itu.

"Aku butuh tempat sembunyi selama dua minggu sampai kondisiku pulih dan aku bisa membersihkan pengkhianat di organisasiku. Aku butuh perawatan medis pribadi 24 jam tanpa tercatat di rumah sakit."

Robert menunjuk foto Dimas.

"Sebagai gantinya... Aku akan melunasi hutang kekasih mu hari ini juga. Aku juga menjamin tidak akan ada satu pun preman yang berani menyentuh nya lagi. Selamanya."

Tika terdiam. Pikirannya berpacu. Melindungi seorang mafia adalah tindakan kriminal. Tapi membiarkan kekasih nya mati juga bukan pilihan. Gajinya sebagai residen tidak akan cukup untuk membayar hutang sebanyak itu.

"Hanya medis?" tanya Tika pelan. "Kau tidak akan memintaku membunuh orang?"

Robert tertawa kecil, suara yang kering dan serak. "Tanganku sudah cukup kotor untuk kita berdua, Tika. Aku hanya butuh tanganmu tetap bersih untuk menjahit lukaku."

Robert mengulurkan tangannya yang besar dan kasar ke arah Tika di atas meja makan.

"Jadi, bagaimana? Kita sepakat?"

Tika menatap pistol di meja, lalu menatap foto kekasih nya, dan terakhir menatap mata Robert yang gelap namun menawarkan jaminan keamanan.

Perlahan, Tika mengulurkan tangannya. Menjabat tangan dingin pembunuh itu.

"Sepakat," bisik Tika. "Tapi ada satu syarat tambahan."

Robert mengangkat alis. "Katakan."olah

"Kau harus membereskan piring kotor setelah makan. Aku benci mencuci piring."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Robert terangkat tulus. Senyuman yang membuat wajah kerasnya terlihat sedikit manusiawi.

"Deal."

Mereka berdua pun sepakat ini di luar dugaan Tika,, dia kalau tau begini mungkin tidak akan mau kerja sama tapi ini semua demi Dimas ..

Semenjak ke jadian se malam Tika pulang ke rumah komplek nya bersama Robert ...

Sebenar nya dia sangat ingin kabur dari cengkraman Robert tapi apa daya dia tidak bisa berbuat apa apa pasti banyak orang yang terluka jika dia berani ingkar janji...

Robert ini bukan manusia biasa dia adalah seorang mafia kelas atas ....

" Masuk sini cepet sementara kamu tingal di sini dulu sambil menunggu anak buah mu datang" ucap ku ..

Kebetulan Dewi dia sudah Risen karena ini terlalu beresiko jadi dia memilih hidup normal

Sedang kan aku terjebak dengan si mafia ini

" Kami tidur di kamar atas di samping kamar ku jika perlu apa apa tingal telpon saja " ucap ku lalu menuntun nya ke lantai atas ..

"Ya sudah kamu istirahat dulu saya juga cape mau istirahat" ucap ku lalu meninggal kan nya pergi masuk kamar di dalam kamar aku termenung memikir kan nasib Dimas

" Semoga saja Robert bisa nepatin janji dan Dimas bisa selamat" ucap ku lalu memejamkan kan mata karena memang hari ini sangat capek sekali ...

Esok pagi pukul jam 06:00 tiba tiba si mafia itu sudah ada di depan pintu ku ....

"Mau apa kamu sudah di kamar saya " ucap ku penuh curiga ...

" Bangun ini sudah pagi gua udah siapin sarapan buat lu di bawah ayok kita makan bersama" ucap nya lalu pergi ke bawah

Dan aku pun menyusul kebawah ,, dan iya benar di bawah sudah ada sarapan

" Ini kamu yang masak " ucap ku bertanya

" Kalau bukan gue siapa lagi " ucap nya

" Yaudh ayok makan ini tidak beracun kok nih gua makan duluan " ucap nya lalu menyantap makanan itu ... Aku pun ikut menyantap nya tidak di sangka masakan nya enak juga

" Gimana enak engga" ucap nya bertanya

" Lumayan " ucap ku singkat

"Oh iya lu mau berangkat ke klinik lagi?" Tanya nya ...

"Engga kan saya harus merawat anda 24 jam" ucap ku sambil menghabis kan makanan itu

" Oke bagus kalau lu udah ngrti jadi jangan maen maen sama gua" ucap nya

Setelah selesai sarapan aku pun naik lagi ke atas ,,, Robert pun mengikuti ku

" Ngapain kamu ngikutin saya sana ke kamar kamu" ucap ku

Muka Robert sedikit tengil ..

"Anak buah gua di jalan jadi sambil nungguin mereka gua mau santai santai dulu sama lu kita duduk di balkon teras kamar lu boleh kan" ucap nya sambil nyelonong gitu aja ..

" Iih dasar belom gua setuju maen nyelonong nyelonong aja dasar tidak punya sopan santun" lirih ku lalu mengikuti Robert

Dia pun duduk di teras sambil memandangi sekitar..

1
Ning Dhiroh
Hebat banget, thor ini pintar bikin pembaca penasaran!
Rini Antika: Thank You 😊😊akan ada part selanjutnya
total 1 replies
Rubí 33-12
Oke bangett
Rini Antika: terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!