Cerita ini adalah lanjutan dari The Secret Miranda
Aku hanya perempuan yang dipenuhi oleh 1001 kekurangan. Perempuan yang diselimuti dengan banyak kegagalan.
Hidupku tidak seberuntung wanita lain,yang selalu beruntung dalam hal apapun. Betapa menyedihkannya aku, sampai aku merasa tidak ada seorang pun yang peduli apalagi menyayangi ku . Jika ada rasanya mustahil. .
Sepuluh tahun aku menjadi pasien rumah sakit jiwa, aku merasa terpuruk dan berada di titik paling bawah.
Hingga aku bertemu seseorang yang mengulurkan tangannya, mendekat. Memberiku secercah harapan jika perempuan gila seperti ku masih bisa dicintai. Masih bisa merasakan cinta .
Meski hanya rasa kasihan, aku ucapkan terimakasih karena telah mencintai ku. Miranda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanie Famuzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Tuk… tuk… tuk…
Suara ketukan jemari Damar di atas meja kayu ritmis tapi gelisah, seirama dengan detak jantung yang berusaha ia redam. Uap kopi di depannya masih mengepul, perlahan menari di udara sebelum menghilang seperti pikirannya yang tak menentu.
Pandangan Damar kosong menembus jendela kafe, menatap orang-orang yang berlalu-lalang, semuanya terlihat sibuk, normal, dan tenang. Berbeda dengan dirinya yang duduk di sudut, menyimpan sesuatu yang tak seharusnya ada di benak manusia waras.
Hingga sebuah suara memecah lamunannya.
“Selamat siang, Pak Damar. Maaf membuat Anda menunggu.”
Damar menoleh. Seorang pria berpakaian rapi, berjas abu-abu dan membawa tas kerja kulit hitam, berdiri di hadapannya. Tatapan matanya tajam namun berhati-hati, pria itu adalah Pak Zein, kuasa hukum yang sejak lama menjadi tempat Damar “berkonsultasi” untuk urusan-urusan yang tak pernah jelas.
“Oh, tak apa, Pak Zein,” sahut Damar, menegakkan tubuhnya dan menyunggingkan senyum tipis. “Saya memang sudah menunggu Anda.”
Pak Zein duduk perlahan, membuka tasnya, mengeluarkan berkas-berkas.
“Jadi, hal penting yang ingin Anda bicarakan… masih berkaitan dengan ‘dia’, bukan?”
Damar terdiam sesaat, lalu jemarinya berhenti mengetuk meja. Senyumnya melebar, tapi matanya kehilangan cahaya normalnya.
“Ya. Wanita itu…” gumamnya pelan, “Miranda.”
Uap kopi kembali menari di antara mereka, menjadi saksi dari awal sesuatu yang berbahaya.
Pak Zein menatap Damar dengan dahi sedikit berkerut.
“Pak Damar, Anda bilang wanita itu masih dirawat di rumah sakit jiwa? Saya ingin tahu dulu… seberapa serius Anda dengan rencana ini.”
Damar mencondongkan tubuh ke depan. Tatapannya tajam, seolah setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah keputusan yang sudah tak bisa diubah.
“Serius sekali, Pak Zein. Saya tidak main-main. Miranda… dia tidak seharusnya di sana. Mereka memenjarakannya, membuatnya percaya bahwa dia gila.”
“Bukankah itu memang diagnosisnya?” tanya Pak Zein hati-hati.
Damar menggeleng perlahan, lalu tersenyum samar.
“Tidak. Mereka hanya membuatnya seperti itu.”
Pak Zein terdiam, menatap pria di depannya yang mulai tenggelam dalam keyakinannya sendiri.
“Dan Anda ingin… membawanya keluar?”
“Bukan sekadar itu,” bisik Damar.
“Saya ingin membebaskannya. Saya ingin menunjukkan bahwa dunia di luar tembok itu masih indah. Dia akan tersenyum. Dia hanya butuh seseorang yang benar-benar mencintainya… bukan dokter, bukan perawat, bukan obat-obatan.”
Kopi di cangkirnya kini sudah dingin. Uapnya menghilang, berganti hawa tegang yang menggantung di antara mereka.
Pak Zein menautkan jari-jarinya di atas meja.
“Kalau begitu, saya perlu tahu satu hal lagi. Anda ingin saya bantu menyiapkan apa, Pak Damar?”
Damar menatapnya lurus, senyum kecil itu kembali muncul, tapi kini di baliknya tersimpan obsesi yang nyaris gila.
“Semuanya. Dokumen, surat rujukan, apa pun yang membuat saya bisa keluar-masuk rumah sakit tanpa dicurigai. Saya akan lakukan sisanya sendiri.”
“Pak Damar…” suara Pak Zein terdengar pelan namun tegas, “Anda sadar apa yang Anda minta ini berisiko besar? Bisa dianggap penculikan.”
“Bukan penculikan,” potong Damar cepat. “Ini penyelamatan.”
Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. Lalu Damar bersandar, menatap paperbag berisi gaun di kursi sebelahnya.
“Dia akan mengenakan gaun itu saat aku membawanya pergi. Aku ingin… saat dia melihat dunia luar lagi, dia terlihat seperti wanita cantik diluaran sana, bukan pasien rumah sakit jiwa.”
Pak Zein menyandarkan tubuhnya, menatap Damar dengan nada hati-hati.
“Mmm… tapi Pak Damar, sebaiknya Anda coba dulu menemui dokter yang bertanggung jawab merawat Miranda. Itu akan jauh lebih baik, dan tidak menimbulkan kecurigaan.”
Damar terdiam beberapa saat. Ia menatap cangkir kopinya yang kini mulai dingin, uapnya sudah tak ada. Matanya menerawang kosong, tapi rahangnya mengeras.
“Menemui dokter, ya?” gumamnya lirih.
“Iya,” lanjut Pak Zein dengan nada meyakinkan. “Kalau Anda datang sebagai pihak yang peduli, bukan sebagai orang luar yang tiba-tiba ingin membawa pasien keluar, rumah sakit pasti akan lebih terbuka. Anda bisa tahu kondisi sebenarnya Miranda. Dan kalau memang ada kejanggalan seperti yang Anda curigai… saya bisa bantu tindak lanjuti secara hukum.”
Perlahan Damar mengangguk.
Ada jeda panjang sebelum ia akhirnya berkata, “Baiklah, saya akan lakukan itu. Saya akan menemui dokternya.”
Senyum tipis muncul di bibir Pak Zein, lega mendengarnya.
“Itu keputusan yang bijak, Pak. Saya akan bantu siapkan data dan buatkan surat pengantar jika diperlukan.”
Namun saat Pak Zein sibuk mencatat sesuatu di ponselnya, tatapan Damar kembali redup. Ia berbisik pelan, nyaris tak terdengar,
“Dokter itu harus tahu, saya datang bukan sekadar ingin tahu kondisi Miranda… tapi ingin memastikan siapa yang membuatnya seperti sekarang.”
......................
Langkah kaki Damar bergema pelan di lorong rumah sakit. Aroma antiseptik menusuk hidungnya, sementara tatapannya menyapu ruangan demi ruangan dengan gelisah.
Di tangannya, ia menggenggam map berisi data dan surat pengantar yang baru saja diberikan oleh pengacaranya, Pak Zein.
Setibanya di meja perawat, seorang suster tengah menulis laporan. Damar berdehem pelan.
“Permisi,” suaranya dalam tapi teredam, “saya ingin bertemu dengan dokter yang menangani pasien atas nama Miranda.”
Suster itu menoleh. Wajahnya tetap lembut, tapi sorot matanya menyiratkan sedikit kewaspadaan.
“Pasien atas nama Miranda?” tanyanya hati-hati. Namun kemudian, raut wajahnya berubah, seolah ada sesuatu yang baru saja ia ingat.
Tatapannya menajam, menelusuri wajah Damar dari atas ke bawah.
“Sebentar…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Bukankah Anda… orang yang beberapa kali datang diam-diam menjenguk Miranda?”
Sekilas keraguan dan rasa ingin tahu bercampur di matanya. Ia menahan diri untuk tidak langsung menuduh, tapi pikirannya berputar cepat.
Iya, benar. Wajahnya sama. Pria ini… orang yang selalu datang , melihat dan memperhatikan Miranda, lalu menghilang tanpa izin.
“Saya… orang yang pernah menolong Miranda waktu dia keluar dari sini,” jawab Damar hati-hati. “Ada beberapa hal yang ingin saya pastikan mengenai kondisinya sekarang.”
Suster Risa mengangguk pelan,
“Baik, saya Suster Risa. Kebetulan dokter yang menangani Miranda adalah dr. Jodi, beliau kebetulan sedang tidak ada ditempat. Tapi…”
Ia menatap Damar sejenak, seolah menimbang sesuatu. “Untuk menemui pasien atau sekadar membicarakan kondisinya, biasanya perlu izin dokter penanggung jawab, atau keluarga. Anda… keluarganya?”
Pertanyaan itu membuat Damar terdiam sepersekian detik.
“Saya… seseorang yang peduli padanya,” jawabnya datar namun tegas. “Dan saya punya izin tertulis dari pengacara saya untuk menanyakan kondisi pasien secara resmi.”
Suster Risa menegakkan tubuhnya.
“Boleh saya lihat surat izin yang Anda maksud, Pak Damar?” tanyanya kini dengan nada lebih formal, namun jelas terasa ketegangan halus di balik suaranya..
Damar mengangguk pelan, senyum tipis terbit di wajahnya. Ia mengeluarkan selembar map cokelat dari tas kulit yang dibawanya, lalu menyerahkannya dengan tenang.
“Silakan, ini salinannya. Surat kuasa dari pengacara saya.”
Suster Risa menerima map itu, membukanya dengan hati-hati. Matanya bergerak cepat membaca isi surat yang berisi kop kantor hukum dan tanda tangan resmi. Semuanya tampak sah. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuatnya tetap waspada.
“Tujuan Anda hanya untuk menanyakan kondisi pasien, bukan?” tanyanya, menatap Damar dari balik kacamata tipisnya.
Damar mengangguk. “Tentu. Saya hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja. Saya tidak akan mengganggu siapapun.”
Nada suaranya lembut, namun di balik tatapan tenangnya ada semacam kegelisahan yang sulit disembunyikan.
Suster Risa terdiam sejenak, lalu menatap berkas itu lagi sebelum menutup mapnya.
“Baiklah, Pak Damar. Tapi karena dokter Jodi sedang tidak di tempat, saya hanya bisa menunjukkan data terakhir pemeriksaan Miranda. Anda tidak bisa menemuinya langsung tanpa persetujuan dokter.”
“Tidak apa-apa,” jawab Damar cepat, senyumnya masih sama, senyum yang sekilas tampak sopan, tapi menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
“Saya hanya ingin tahu sedikit tentang keadaannya.”
Suster Risa menatapnya, lalu menarik napas perlahan. “Pasien Miranda… sudah jauh lebih tenang dibanding sebelumnya pak Damar. Kondisi nya sudah mulai stabil.”
Damar hanya mengangguk pelan, senyum tipis mengulas bibirnya, tenang, tapi menyimpan sesuatu yang tak bisa ditebak.
“Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu, Suster,” ucapnya lembut, nada suaranya terdengar terlalu tenang untuk seseorang yang baru mendengar kabar tentang pasien psikiatri.
Ia menunduk sopan, lalu berbalik. Langkah kakinya terdengar mantap menyusuri lorong rumah sakit yang lengang. Tapi di balik senyum dan sikap tenangnya, matanya menyala dengan kilatan aneh.
Sejenak, Suster Risa terpaku di tempatnya. Entah kenapa, ada sesuatu dari cara Damar tersenyum yang membuat bulu kuduknya berdiri, senyum itu bukan milik orang biasa.
Begitu pria itu berbalik dan langkahnya mulai menjauh di ujung lorong, Suster Risa menelan ludah. Napasnya terasa berat, jantungnya berdetak tak beraturan.
“Ya Tuhan…” bisiknya hampir tak terdengar.
Ia menatap punggung Damar yang semakin jauh, “Aku harus segera memberi tahu dr. Jodi,”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...