Menikahi Pria terpopuler dan Pewaris DW Entertainment adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di hidupnya. Hanya karena sebuah pertolongan yang memang hampir merenggut nyawanya yang tak berharga ini.
Namun kesalahpahaman terus terjadi di antara mereka, sehingga seminggu setelah pernikahannya, Annalia Selvana di ceraikan oleh Suaminya yang ia sangat cintai, Lucian Elscant Dewata. Bukan hanya di benci Lucian, ia bahkan di tuduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap kekasih masa lalunya oleh keluarga Dewata yang membenci dirinya.
Ia pikir penderitaannya sudah cukup sampai disitu, namun takdir berkata lain. Saat dirinya berada diambang keputusasaan, sebuah janin hadir di dalam perutnya.
Cedric Luciano, Putranya dari lelaki yang ia cintai sekaligus lelaki yang menorehkan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenni Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Di Tolong Raven
JANGAN LUPA ~ LIKE ~~ YA GUYS.
BIAR AKU SEMANGAT UPDATENYA 😭🤧
...****************...
"Ugh ...." Anna melenguh. Matanya berkedip-kedip pelan, mencoba menerima rangsangan cahaya yang masuk ke matanya.
'Dimana ini ...,' batin Anna, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama bagian kaki.
Anna teringat bahwa dirinya terjatuh, karena tak fokus membawa motor. "Hah! Cedric!" pekik Anna, seketika teringat. Ia bangkit secara tiba-tiba dari tidurnya, dan celingak-celinguk menatap sekitarnya.
"Akhhh .... " Anna merasakan sakit pada pinggangnya. Yang mungkin terbentur saat ia terjatuh tadi.
"Anna! Kau sudah sadar? Syukurlah ... Aku sangat khawatir," ujar seseorang, dengan nada khawatir. Anna menoleh, dan terkejut mendapati Raven tengah berdiri di ambang pintu sembari menatapnya.
"Ra-Raven? Ba-bagaimana bisa aku ada disini? Bu-bukankah aku tadi terjatuh?" tanya Anna bingung. Apa Raven yang menyelamatkannya? Kenapa harus Raven? Dari sekian banyaknya manusia. Kenapa lagi-lagi takdir seolah sedang mempermainkannya.
"Iya. Kau terjatuh di jalan. Aku sempat lewat dan heran, kenapa rame-rame. Eh, ternyata kau yang jatuh, mangkanya aku minta warga buat bantu aku angkat kamu ke mobil dan bawa kamu kesini," jelas Raven sembari tersenyum. Rasanya ia telah lama tak menatap Anna selama ini.
Ia berjalan mendekati Anna. Ia tahu Anna sedang menghindarinya. Secara garis besar, Raven tahu bahwa Anna menyembunyikan Cedric, yang merupakan anak Lucian. Jika tidak, Anna tak akan bereaksi seperti itu saat bertemu dengannya. Karena mereka tak pernah memiliki hubungan buruk sejak dulu.
'Jadi ... dia alasanmu menghindariku, Na. Aku sangat merindukanmu, tapi lagi-lagi gara-gara Lucian, aku bahkan tak bisa mengobrol nyaman denganmu,' batin Raven sendu. Ia menyalahkan Lucian atas semua yang terjadi padanya dan Anna.
"Ak-Aku harus pulang sekarang. An-anakku pasti khawatir menungguku!" pekik Anna, saat matanya tanpa sengaja melirik jam dinding. Sudah menunjukkan pukul 12 siang, itu tandanya ia telah telat menjemput Cedric.
"Anna ... Kau baru saja sadar. Tubuhmu masih sakit. Tak bisa di paksakan. Aku akan mengantarmu menggunakan mobil dan motormu akan diantar nanti oleh pengawalku," jelas Raven dengan hati-hati, takut Anna akan menolaknya lagi. Jujur, ia sangat khawatir.
'Dan lagi, aku tak ingin kau tiba-tiba bertemu dengan Lucian ...,' batin Raven, menatap Anna.
Anna terdiam, ia tampak memikirkan perkataan Raven. Karena memang tubuhnya terasa sakit. Bahkan untuk duduk pun terasa menyakitkan. Lalu, bagaimana caranya ia membawa motor?
Dengan terpaksa Anna mengangguk. "Maaf, aku merepotkanmu ...."
Raven menggeleng sembari tersenyum senang. "Apapun untukmu, Anna ...."
Anna terdiam. 'Ternyata dia tidak berubah ... masih saja sama seperti dulu. Selalu menggodaku,' batin Anna, merasa senang. Rasanya jarak diantara mereka terkikis, karena candaan Raven. Namun, hanya Anna yang tak menganggap serius ucapan Raven.
Jika ia yang dulu pasti akan bereaksi malu terhadap candaan Raven terhadapnya, namun ia yang sekarang sudah terlalu tua untuk reaksi itu.
Sepanjang perjalanan, Anna hanya menatap keluar jendela dengan khawatir. Bagaimana ia harus memulai percakapan dengan Raven. Ia bingung, namun ia harus membicarakan semuanya jika ia ingin Raven menyembunyikan Cedric dari Lucian.
'Aku harus membicarakan ini. Sebelum kami berpisah, jika tidak aku takut ... Dia akan memberitahu Lucian,' batin Anna gelisah.
Anna membalikkan tubuhnya kesamping. Menghadap Raven. Membuat lelaki itu mengernyit heran. Anna menatap Raven, dengan mulut yang terus ragu berucap.
"Haha, Anna ... Anna ... Kau tetap tidak berubah ya, setelah hampir 7 tahun kita tidak bertemu ... katakan saja, aku akan mendengarkannya. Seperti dulu, mendengarkan, memberi solusi tanpa menghakimi," ujar Raven, sembari tertawa. Anna menunduk malu.
"Ak-aku ... ap-apa kau tau, jika Lucian ada disini?" tanya Anna, dengan kepala tertunduk. Ia takut membahas Lucian, namun keadaan memaksanya untuk bertanya.
Raven mencekam stir dengan erat. Lalu, menoleh sekilas melihat ekspresi Anna. "Ya, aku tahu. Aku baru saja mengetahuinya kemarin," jelas Raven, sembari tersenyum kecut. 'Bahkan Aku bertemu langsung dengannya di sekitar rumahmu. Apa reaksimu jika mengetahui ini, Anna ....'
Anna menengadah dengan mata berkaca-kaca. 'Sekarang aku harus apa? Haruskah aku pergi membawa Cedric? Tapi, kemana lagi?' batin Anna, dengan takut.
Raven melirik. 'Aku tahu apa yang sangat kau takuti Anna ... Aku tahu betul itu,' batin Raven. Terlintas sebuah ide cemerlang di benaknya.
"Bagaimana jika kau kembali ke Ibukota saja? Bersamaku, Anna ... Lucian pasti akan berada disini lama, karena syutingnya baru akan dimulai hari ini," jelas Raven, penuh harap. Ini adalah kesempatan emas untuknya. Tak hanya menjauhkan Anna dari Lucian, ia juga bisa mendekati Anna secara tenang di kota tanpa gangguan Lucian ataupun lelaki yang kemarin dianggap Anna sebagai Suami.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, bukan?
Anna terbelalak. Tak menyangka Raven akan menyarankan hal itu padanya. Jelas ini bukan keinginannya untuk kembali. Karena ia masih merasa takut untuk kembali ke Ibukota.
Namun, ia memang berencana akan kembali suatu saat nanti. Apakah ini memang sudah waktunya? Namun, pada akhirnya Lucian pasti akan menemukannya dan Cedric dengan lebih mudah jika mereka kembali ke Ibukota.
Tapi tak menutup kemungkinan jika mereka tak bertemu disini. Apalagi jarak Desa Kembang dan Kotanya sangatlah dekat, bahkan mereka berlalu lalang melewati rumahnya.
'Setidaknya ... Aku hanya perlu mengulur waktu. Aku benar-benar belum siap jika sekarang ....'
"Ba-baiklah. Tapi, aku perlu membicarakan ini dengan Putraku terlebih dahulu. Aku tahu, kau pasti sudah menebaknya secara kasar, apa yang aku sembunyikan. Aku mohon, Raven. Aku akan menceritakan semuanya nanti. Tapi, tolong rahasiakan ini semua dari siapapun," jelas Anna, memohon. Ia menatap Raven dengan sendu, penuh harap. Berharap lelaki itu dapat mengerti kegelisahannya dan membantunya menyembunyikan ini semua.
Raven menatap Anna lama. "Ya, aku tahu! Kau tenang saja. Persiapkan semuanya, dan aku akan menjagamu dan Putramu ketika kita tiba di Ibukota," jelas Raven, tersenyum ramah.
'Yes, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini ....'
SD Kasih Ibu.
Anna bergegas setelah keluar dari mobil, matanya menangkap sosok Putranya yang berdiri di depan sekolah di dampingi seorang Guru.
"Ceddy!" teriak Anna.
Deg!
Cedric menoleh menatap Bundanya, yang sedari tadi ia tunggu namun tak kunjung muncul juga. Bahkan guru-guru sudah berusaha membujuknya untuk menunggu di dalam atau mereka antarkan kembali. Namun, anak itu menolak, ia kekeh ingin menunggu Sang Bunda di depan sekolah.
"Bunda!" teriak Cedric. Air matanya hampir luruh. Ia berlari dengan kencang, memeluk Anna.
Greb!
"Akh," ringis Anna, saat Cedric menabrak tubuhnya.
Anna memeluk erat Cedric. Walau ia merasakan sakit. Ia dapat merasakan betapa khawatir Putranya itu padanya. "Maafin, Bunda ...."
"Bunda kenapa? Bunda jatuh?" tanya Cedric, memeriksa tubuh Anna. Ia menatap kaki Bundanya yang di perban dan tangannya yang penuh goresan.
"Aku kan sudah bilang ... Bunda hati-hati bawa motornya!" Cedric lelaki kecil itu nampak berkaca-kaca, menatap tubuh Anna yang penuh luka.
Anna merasa bersalah. Padahal ia telah berjanji, malah tanpa sengaja membuat dirinya melanggar janji. "Maaf, sayang ... Maafin, Bunda. Bunda salah. Jangan nangis ya ...."
ya ...🤔 ...ga kuat perasaanya ya krn merasa bersalah amat sangat /Whimper/
kok lalap dikit dikit meleyot, apakah selama hidup dengan Cedric ga bisa bikin si anna ini lebih kuat lebih tegas dan lebih realistis, ini kesan nya kayak protagonis pick me dan naif banget