NovelToon NovelToon
The Absurd Girl And The Cold Flat Boy

The Absurd Girl And The Cold Flat Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Irma pratama

Gimana jadinya gadis bebas masuk ke pesantren?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian Arabella

...BAB 30...

...KEPERGIAN ARABELLA...

Udara hari ini menusuk kulit, menggigilkan jemari kaki santri yang setia melangkah menuju masjid pesantren. Cahaya lampu jalanan masih redup, menyoroti langkah-langkah santri yang mengantuk, sebagian masih menguap, sebagian masih sibuk merapihkan mukena dan sarung yang setengah melorot.

Diantara kerumunan itu, langkah Arabella terasa paling pelan. Biasanya santri yang satu itu sudah berlari-lari sambil teriak, “Siapa yang telat, dosa ditanggung bareng!”, atau tiba-tiba menjahili santri lain dengan petasan plastik sisa kemarin.

Tapi pagi ini... Arabella hanya diam. Langkahnya lemah. Sorot matanya sayu senyumnya tipis—bukan senyum tengil seperti biasanya, melainkan senyum yang penuh lelah. Dan seperti biasa... trio jail itu datang, Devan, Balwa dan Balwi dengan senyum penuh misi kejailan.

“Woyyy santri barbar! Lo kemana aja? Kita udah nungguin nih bahan buat kita bully dari semalem!” seru Devan nyengir lebar.

“Jangan-jangan dia lagi puasa absurd hari ini?” sindir Balwa sambil memainkan slayernya seperti cambuk.

Balwi pun menambahkan, “Atau... jangan-jangan doi abis digendam Ustadzah Halimah, trus jadi jin jin jinak gitu? Wah mantep sih ini, cocok tuh!”

Tapi Arabella hanya menoleh sebentar. Dan tersenyum kecil. Satu senyum yang nggak biasa. Tanpa komentar, tanpa balasan sarkas, tanpa reaksi berlebihan.

Trio jail itu langsung saling pandang dan suasana pun jadi canggung.

“Eh... kenapa dia?” bisik Devan.

“Gue jadi nggak mood ngeledek deh...” bisik Balwa balik.

“Serem sumpah... lebih serem dari pas dia ngamuk waktu kita nyolong permen jahe nya...” Balwi mengelus tengkuk merinding.

Sampai akhirnya mereka terdiam sendiri ketika melihat Arabella berjalan pelan menuju masjid. Di dalam masjid, para Ustad pun mulai bertanya-tanya. Ustad Izzan, yang dari tadi memperhatikan diam-diam, tak henti melirik ke arah Arabella yang bersila tenang tanpa ekspresi khasnya. Tak ada gerakan absurd. Tak ada lirikan jail. Bahkan mukenanya tidak dilipat model ninja seperti biasa. Ustad Hamzah pun mendekat kearah Ustad Izzan.

“Zzan, kamu tau kenapa Bella seperi itu? Tadi malam dia masih ceria loh sebelum dipanggil kiyai...”

Izzan menggeleng pelan. “Saya juga nggak tau, Ustad. Dan Abi pun nggak cerita apa-apa sama saya.”

Tapi sebelum percakapan berlanjut, seseorang datang dari belakang dan menepuk lembut pundak Arabella. Dan itu adalah Kiyai Hasyim. Wajahnya yang teduh seperti biasanya, penuh kasih seperti seorang ayah yang sedang menenangkan anak gadisnya.

“Nak... jangan khawatir. Siang ini... kamu akan bertemu Mommymu,” ucap Kiyai dengan lembut, seolah hanya mereka berdua yang ada di sana.

Arabella menoleh. Sekilas saja. Senyumnya masih tipis, tapi kali ini berbeda. Ada cahaya kecil di sana. Ada harapan yang kembali muncul meski tertutup awan duka.

“Terima kasih, Kiyai...” bisiknya lirih.

Dan di sepertiga malam itu... semua orang sadar. Ada yang berbeda dari Arabella. Bukan karena dia kehilangan absurditasnya, tapi karena dia sedang berusaha menguatkan hatinya.

*****

Pagi itu, pesantren ilik Kiyai Hasyim terlihat seperti biasa hidup dengan rutinitas. Suara Ustad yang membacakan tafsir terdengar dari kelas-kelas, gemericik air wudhu masih terdengar dari sisi barat masjid, dan para santri khusyuk menyimak kajian pagi. Tak ada yang berbeda… kecuali satu hal Arabella tidak terlihat di antara kerumunan itu.

Di dalam kamar asrama, koper pink besar sudah siap di dekat pintu. Arabella berdiri di depan cermin, menatap dirinya dengan mata sembab yang sudah berusaha ditutupi bedak tipis.

Di belakangnya, Dina, Elis dan Sari hanya menatap dalam diam. Mereka sudah tau kemana sahabat mereka itu akan pergi. Mereka tau alas an sebenarnya, dan mereka juga tau kalua pagi ini bukan sekedar kepergian biasa.

“koper kamu masih pink aja sih,” celetuk Elis yang mencoba memecah hening.

“Biar matching aja sama wajah gue yang manis tapi penuh penderitaan ini,” jawab Arabella dengan gaya lebay khasnya, meski senyumnya masih belum seutuh biasanya.

Dina langsung memeluk Arabella dari belakang. “Jangan banyak mikir ya, Bell… Mommy kamu butuh kamu. Dan kita akan doain terus dari sini.”

“Iya. Nanti kalo balik… bawain cerita absurd kayak biasanya ya!” ujar Sari, menahan tangis yang berusaha disembunyikan dengan senyum.

Arabella mengangguk. “Kalian tenang aja, gue bakal bikin kalian ketawa sampe guling-guling pas balik nanti.”

Setelah berpamitan, Arabella menyeret koper pink besarnya keluar dari asrama. Jalannya pelan tapi pasti, matanya terus menatap ke depan, menghindari dari tatapan-tatapan penasaran dari santri lain yang belum tau.

Sebagian santri putra dan putri memang hanya tau Arabella akan ijin ke kampusnya. Mereka tidak curiga. Apalagi saat Arabella melewati halaman Tengah yang sepi karena semua santri masih dalam kelas kajian. Di kantor pengurus, Kiyai Hasyim sedang menyerahkan tanggung jawab penuh masalah pesantren pada Izzan.

“Kamu paham, Zzan?” ujar Kiyai Hasyim sambil menepuk Pundak anaknya, “Abi sama Uma ada keperluan penting. Untuk sementara… kamu yang jaga rumah kita ini.”

Izzan mengangguk mantap. “InsyaAllah, Abi.”

Sesudah menemui Kiyai Hasyim Ustad Izzan Kembali ke kelasnya dan terdiam sejenak, dalam hatinya dia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang hilang. Tapi dia belum tau… bahwa ‘sesuatu’ itu sedang melangkah menjauh, dengan koper Pink dan senyum tertahan.

Ustad Izzan tak tau bahwa beberapa meter dari tempatnya berdiri, seseorang yang diam-diam memenuhi pikirannya kini sedang perlahan meninggalkan pesantren. Tak sempat menyapa, tak sempat berpamitan.

Dan disisi lain kota… Kaisar sedang sibuk dibalik layer. Memindahkan basis perusahaannya dari Yaman ke Jakarta. Jadwalnya padat, pertemuannya banyak. Namun dalam sela pikirannya yang penuh angka dan strategi, Namanya selalu hadir ‘Arabella’. Tapi pagi ini, tak ada satu pun dari mereka yang bertemu.

Arabella pergi… dalam diam.

*****

Beberapa jam telah berlalu sejak pesawat yang ditumpangi Arabella, Kiyai Hasyim dan Uma Salma lepas landas dari tanah air. Kini, mereka telah sampai di negara Jerman. Udara Jerman menyambut dengan hawa dingin yang tak sanggup menandingi dinginnya perasaan Arabella. Yang terombang ambing dalam cemas dan rindu. Matanya sembab, meski dia berusaha sekuat mungkin untuk tetap tegar.

Sepanjang perjalanan dari bandara menuju rumah sakit, Arabella hanya diam di jok belakang mobil. Tangannya menggenggam tas kecil erat-erat. Tatapannya kosong menatap ke luar jendela. Kadang dia terlihat memejamkan mata, tapi bukan untuk tidur, melainkan untuk menahan air mata yang mengendap di balik kelopak matanya.

Uma Salma beberapa kali mengusap punggung Arabella, membisikkan kalimat-kalimat doa dan penguatan. Kiyai Hasyim hanya melirik putri sahabatnya itu dari kaca spion Tengah, diam dalam dzikir dan doa.

Dan akhirnya mereka sampai. Rumah sakit itu tampak megah dan bersih, dengan kesibukan khas rumah sakit internasional. Begitu memasuki lobi utama, Arabella melihat sosok yang tak asing… lelaki paruh baya yang gagah dan rapih dalam jas kebesarannya sedang berbicara dengan seorang dokter.

Ardana Wijaya Dominic. Daddy Arabella.

Seketika dadanya yang sudah sejak tadi sesak, meledak dalam satu tarikan napas Panjang. Bibirnya gemetar, dan air matanya Kembali mengalir begitu saja.

“Daddy…!” suara Arabella parau, penuh isak dan rindu.

Ardana sontak menoleh. Tatapannya langsung menghangat, dan dalam hitungan detik, Arabella sudah berlari ke pelukannya, seperti anak kecil yang menemukan Kembali tempat paling aman di dunia.

“Kenapa.. Dad?” Kenapa Daddy rahasiain semua ini dari aku…?” isak Arabella di dadanya.

“Apa Daddy pikir aku masih kecil? Nggak cukup kuat? Aku tuh anak Daddy, Dad… aku bisa ngerti…! Aku bisa dampingin Mommy.. tapi kenapa aku baru dikasih tau sekarang?!”

Ardana tak bisa menjawab. Dia hanya memeluk putri semata wayangnya erat-erat. Pelukan yang biasanya menjadi kekuatan Arabella… kini justru menjadi pelampiasan kesedihan mereka berdua. Air mata Ardana menetes. Tangannya membelai rambut putrinya yang gemetar di pelukannya.

“Maafin Daddy, sayang… Daddy Cuma mau kamu tetep fokus, tetep ceria, tetep jadi Arabella yang penuh tawa… Daddy takut kamu rapuh…”

“Tapi aku lebih rapuh kalo nggak tau apa-apa Dad…” bisik Arabella lirih, masih dalam pelukannya.

Uma Salma menunduk, ikut menahan air matanya. Kiyai Hasyim menarik napas Panjang, menepuk bahu Ardana dan mengangguk pelan. Tak perlu banyak kata—yang terjadi pagi ini sudah cukup menjelaskan semua rasa yang terpendam.

Mereka bukan lagi hanya Ayah dan anak yang saling melepas rindu. Mereka Adalah dua jiwa yang saling menggenggam di Tengah ujian hidup. Tangis masih tersisa di mata Arabella saat dia, Ardana, Kiyai Hasyim dan uma Salma berjalan menyusuri Lorong rumah sakit. Suasana tampak hening dan tenang, hanya suara Langkah kaki mereka yang sesekali terdengar menyatu dengan bunyi alat medis dari beberapa ruangan.

Hati Arabella seperti diikat kuat-kuat. Setiap Langkah mendekati ruang rawat mommynya membuat napasnya semakin berat. Tangannya menggenggam lengan Uma Salma dengan erat. Saat mereka sampai di depan sebuah pintu bertuliskan VVIP Isolation Room – Ny. Nilam Cahyaningrum Wijaya, Ardana berhenti sejenak. Dia menarik napas dalam, lalu membuka pintu perlahan.

Di dalam, sosok itu…

Mommy.

Nilam terbaring lemah di ranjang putih, wajahnya pucat namun tetap terlihat cantik dan tenang. Selang infus menempel di tangan kirinya, tabung oksigen kecil terpasang di hidung. Namun, begitu pintu terbuka dan matanya menangkap sosok Arabella, kilauan di matanya langsung berubah, seperti Bintang yang Kembali bersinar di langit yang sempat gelap.

“Bella…” suara Nilam serak, tapi penuh cinta.

Arabella tak bisa lagi menahan dirinya. Dia berlari kecil lalu berlutut di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan Mommynya yang lemah namun hangat.

“Mommy.. kenapa nggak bilang… kenapa harus sendiri nahan semua rasa sakit ini… kenapa nggak ngijinin aku dampingin dari awal…?”

Nilam tersenyum lemah, mengusap rambut Arabella dengan tangan yang bergetar.

“Karena Mommy gak mau Bella kehilangan tawa dan semangat kamu sayang. Mommy Cuma mau kamu terus jadi anak ceria yang bisa bahagiain semua orang… termasuk Mommy…”

Air mata Arabella jatuh tanpa bisa dihentikan. Dia mencium tangan Mommynya dengan lembut. “Tapi aku juga manusia Mom… aku juga sedih, bisa hancur, dan sekarang aku Cuma pengen satu… nemenin Mommy sampai Mommy sembuh. Gak peduli seberapa beratnya, aku disini…”

Uma Salma menahan tangis di balik Ardana. Kiyai Hasyim memalingkan wajahnya sebentar untuk menghapus air mata. Arabella pun mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah kotak kecil berisi gelang kesayangan Mommynya yang dulu sempat diberikan padanya saat kecil. Dia memakaikannya Kembali ke pergelangan tangan Nilam.

“Nih Mommy inget, kalau aku nggak pernah pergi jauh. Aku disini, dihati Mommy.”

Nilam memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh. “Maafin Mommy ya, sayang…”

“Nggak ada yang harus dimaafin, Mom.” Bisik Arabella. “Kita lawan bareng-bareng penyakit ini. Mommy gak sendiri.”

Dan dalam ruangan itu, kesedihan, kekuatan, cinta dan doa menyatu jadi satu. Hari itu, Arabella bukan sekedar santri absurd penuh canda dan kejailan. Hari itu, dia menjadi putri Tangguh yang Bersiap menguatkan Mommynya, dengan cinta, tawa dan air mata.

Sudah empat hari berlalu sejak Arabella meninggalkan pondok pesantren. Di rumah sakit, dia terus mendampingi sang Mommy tercinta, merawat, memijat lembut tangan Mommynya, membacakan Al-Qu’ran, dan sesekali menyuapi Nilam yang kini lebih banyak terbaring diam. Wajah Arabella masih menyimpan kesedihan, tapi senyum lembutnya tetap hadir saat menatap Mommynya, menguatkan, meski hatinya sendiri rapuh.

Sementara itu, di pesantren…

Suasana mulai ramai dengan berbagai asumsi. Para santri, terutama yang sekamar dengan Arabella, mulai merasa kehilangan aura penuh kehebohan, tawa dan keabsurdan yang biasanya Arabella bawa ke mana pun dia pergi.

Di sudut halaman asrama putra, trio jail Devan, Balwa dan Balwi duduk melingkar sambil ngemil keripik dari koper rahasia milik Devan.

“Gue sih yakin Bella keluar dari pondok…” ujar Balwi sok yakin.

“Eah, jangan-jangan dia udah dijodohin terus diboyong ke luar negeri!” Balwa menimpali dengan penuh teori absurd.

“Gak! Dia tuh sebenarnya agen rahasia yang ketauan, jadi harus ditarik ke markas buat evaluasi misi,” kata Devan sambil mengangguk penuh percaya diri.

Ketiganya terdiam beberapa detik, lalu mengangguk bareng, merasa teori masing-masing sama masuk akalnya, atau sama gilanya.

Sementara itu, para santri senior, terutama yang pernah merasa tertandingi dengan karisma dan pengaruh Arabella di pesantren, mulai berbisik-bisik dengan wajah penuh kepuasan.

“Alhamdulillah, akhirnya si absurd itu minggat juga…” heboh Ani.

“Yah, semoga gak balik, biar pesantren bisa tenang.” Timpal Maya.

Namun dibalik cibiran dan gossip-gosip yang kian menyebar itu, para Ustyad dan Ustadzah justru mulai bertanya-tanya.

Di ruang guru, Ustadzah Rina meletakkan buku nilai dan bertanya, “Bella tuh sebenarnya kemana ya? Kok gak ada info sama sekali?”

Ustadzah Indri menjawab, “Katanya sih ke kampus, tapi… kok lama amat ya?”

Ustad Azzam yang sedang duduk sambil menyeduh kopi menatap kosong kearah jendela.

“Suara ribut khas dia aja udah nggak kedengeran… sepi ya.”

Sedangkan Ustad Izzan, seperti biasa hanya diam. Tapi setiap kali mendengar nama Arabella disebut, ada tatapan kosong dan dalam dimatanya. Sebuah rasa rindu yang tak diucapkan, tapi begitu jelas terasa.

Dan pagi itu, Kaisar baru Kembali dari perjalanan Panjang mengurus pemindahan Perusahaan dari Yaman ke Jakarta. Setelah menghela napas Panjang di kamar pondoknya, dia bergegas mencari Uma Salma, Kiyai Hasyim dan… Arabella.

Namun yang dia temui justru Izzan yang sedang duduk membaca kitab di serambi pesantren.

“loh Zzan… Abi sama Uma kemana?” tanya Kaisar dengan alis mengernyit.

Izzan menutup kitabnya pelan, menatap sepupunya itu. “Pergi ada urusan penting.”

“Loh? Kenapa gak ada yang bilang ke saya? Dan kenapa juga semua santri heboh nanyain Raiya?”

Izzan menjawab singkat, “Karena Bella memang pusat kehebohan.”

Kaisar menatap Izzan dalam-dalam, ingin bertanya lebih jauh, namun kalimat itu seolah cukup untuk menggambarkan kekosongan yang dirasakan pesantren beberapa hari ini.

Di sisi lain, Dina, Sari dan Elis tetap menjaga rahasia. Setiap ada yang bertanya, mereka hanya menjawab singkat.

“Gak tau.”

“Dia pergi kok..”

“Penting banget lah…”

Namun setiap kali menjawab, ketiganya selalu beristigfar, menunduk dan saling menatap khawattir karena mereka telah berbohong. Mereka sadar, Arabella butuh ruang. Arabella butuh ketenangan Bersama keluarganya. Dan tugas mereka sekarang Adalah menjaga, bukan menyebar.

1
Retno ataramel
uhuy azlan😍
Retno ataramel
favoritku penganti azzam ,,srmoga jodoh sama ara bella
Retno ataramel
pak apa jodoh ara bela si pria dingin bad boy
Retno ataramel
khusus bwt author aku kasih vote😍
lucifer: makacih kakak... makin semangat nih ngehalunya 🤣
total 1 replies
Retno ataramel
siapa kah orang itu eng ing eng🤣
Retno ataramel
🤣🤣🤣
Retno ataramel
kecewa sama azzam,,,,
Retno ataramel
apakah itu ustad jihhad thor
lucifer: ustad Jiyad maksudnya say... maafkan typo 🙏
total 1 replies
lucifer
kayaknya itu salah ketik, penasaran Ustad
Retno ataramel
penisirin ustas siapa itu
Retno ataramel
ikut sedih thor
Retno ataramel
lanjut thor nunggu besok lama😍
Retno ataramel
banyakin up thor ak suka 🙏
Tara
jodohmu kaga jauh ...smoga cepat bucin ya...🤭🫣🥰😱🤗👏👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!