Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peresmian
*
*
Sofia masih berendam di bathub, merilekskan tubuhnya yang terasa sakit dan pegal, terutama di bagian kaki. Betisnya terasa nyeri. Berjalan jauh tak cocok untuk dirinya yang terbiasa duduk di depan komputer setiap hari. Fix, ini terakhir kali dirinya berjalan-jalan jauh seperti tadi siang.
"Kamu yakin tidak mau ikut?" Satria yang malam itu akan menghadiri peresmian resort baru miliknya.
Sofia mengangguk. "Kaki Fia sakit, pih." jawabnya, memijit kedua kakinya yang berada didalam air hangat beraromatherapi.
"Baiklah. Tapi kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa telfon pak Amir untuk menjemput kamu. oke?"
"Oke." Sofia mengangguk.
Satria mengusap puncak kepalanya, kemudian keluar dari villa menuju tempat peresmian resort di area pantai tak jauh dari villa.
*
*
Lagi, rasa bosan menghinggapi hati Sofia. Suasana villa yang sunyi terutama karena jauh dari keramaian. Sofia duduk di kursi santai di teras belakang. Memandang kelap-kelip lampu di kejauhan. Pantai dibawah tampak ramai. Sepertinya pengunjung mulai berdatangan.
Sofia masuk kedalam villa, membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk nan nyaman itu, bermaksud untuk beristirahat.
Perempuan itu mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi gagal. Matanya tak mau terpejam sedikitpun, padahal rasanya begitu lelah.
Sofia bangkit, berpikir sebentar, kemudian turun dari tempat tidur. Berjalan memasuki ruang ganti untuk mencari pakaian yang pas. Dia memutuskan untuk pergi ke peresmian resort di pantai bagian bawah.
Pandangannya jatuh pada gaun satin berwarna putih gading, dengan panjang selutut. Model offshouder yang mengekspos pundak dan punggung bagian atasnya sedemikian rupa. Juga dengan tali kecil yang dililitkan di leher jenjangnya. Sederhana namun seksi.
Pria itu telah mempersiapkan segalanya bahkan sebelum kedatangan mereka berdua ditempat itu. Dan seleranya cukup tinggi untuk ukuran laki-laki. Dia selalu memperhatikan hal-hal kecil yang akan dipakai Sofia. Perempuan itu bahkan tak banyak membawa pakaian dari rumah, malah koper kecil yang dibawanya pun belum sempat dia buka sejak mereka tiba di pulau cantik itu. Karena segalanya telah tersedia didalam ruang ganti. Dari pakaian santai hingga untuk acara formal. Segala peralatan make up yang biasa Sofia pakai pun telah tertata rapi dimeja rias. Begitupun dengan aksesoris penunjang penampilannya jika dibutuhkan.
"Oke Cinderella, kamu sudah siap ke pesta? Awas lupa sepatu kacamu! Semoga waktu tidak akan berakhir dan mengubahmu kembali menjadi Upik abu." Sofia bermonolog di depan cermin besar diruang ganti.
Setelah menepukkan bedak tipis, sedikit perona pipi dan lipstik berwarna bibir alami, perempuan itu segera menghubungi sopir pribadi Satria untuk segera menjemputnya. Dan tanpa menunggu lama, pak Amir pun datang. Segera membawa Sofia ke area pantai tempat dimana Satria tengah menjadi tuan rumah dalam peresmian resort miliknya.
******
Tak membutuhkan waktu lama, sepuluh menit mereka berjalan telah sampai di depan resort baru yang telah disesaki tamu undangan.
Tampaknya, kak Niko nya ini bukan orang sembarangan. Dilihat dari tamu-tamu yang datang. Sofia mengenali beberapa wajah yang sering dia lihat di televisi maupun majalah. Entah artis, model, maupun pengusaha terkenal.
Tampak juga beberapa media yang tengah bersiap meliput acara.
Sepeninggalnya pak Amir, Sofia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam resort, namun seketika langkahnya terhenti oleh petugas yang menanyakan perihal kartu undangan.
"Maaf, Bu. Bisa perlihatkan kartu undangannya?" petugas tersebut berusaha sopan.
"Saya, ...bersama bapak Satria." ucapnya, berharap petugas tersebut mengenali pemilik resort tersebut.
"Bapak Satria?" melihat tulisan dibuku tamu. "Di daftar undangan tidak ada nama itu. Mungkin ibu mendatangi tempat yang salah." ucapnya lagi.
"Bukan, bapak Satria itu bukan tamu. Tapi pemilik tempat ini." sergah Sofia, berusaha meyakinkan.
Petugas tersebut hanya mengernyitkan dahi, tak percaya dengan yang diucapkan Sofia.
Cih, ngaku-ngaku. Batinnya, mengejek.
"Saya bisa masuk sekarang?" Sofia bertanya lagi.
"Maaf Bu, tanpa undangan tamu siapapun tidak bisa masuk ke area ini. Ini tempat khusus." jawab petugas itu, yang kemudian melengos.
Sofia kecewa, merutuki dirinya sendiri mengapa dia tak ikut bersama Satria saja petang tadi.
Perempuan itu membalikkan tubuhnya bermaksud kembali ke tempat asalnya, sebelum satu sosok mengejutkannya.
"Fia?" suara berat yang terdengar riang.
Sofia mendongak. Tampak pria tinggi dengan penampilan rapi dan juga cukup tampan.
Deg!!
Ada orang yang mengenalinya?
"Benar ini kamu?" tanya pria itu lagi, berjalan menghampiri.
Sofia terdiam.
"Aku Raldo, masih ingat?" ucap pria tersebut. Senyuman lebar tersungging di bibirnya.
"Ah, iya. Hai. Kebetulan ya?" Sofia dengan perasaan canggung.
"Kamu disini juga? Dengan siapa?" tanya Raldo lagi.
"Ada ... seorang teman." satu pikiran melintas di kepala perempuan itu. "Raldo, kamu bawa kartu undangan?" kemudian bertanya.
"Iya. ada." memperlihatkan kartu undangan yang dimaksud.
"Boleh aku ikut kamu kedalam? Temanku sudah lebih dulu masuk, dan aku nggak bisa menghubungi dia. Aku nggak bawa ponsel." pinta Sofia.
Seringaian aneh muncul disudut bibir pria itu. "Boleh. Kebetulan aku sendiri." jawabnya.
"Oh, ...terimakasih Raldo, kamu penyelamaku!!" Sofia dengan riang. Kemudian mereka masuk kedalam area resort dengan mudah.
******
Suasana pesta peresmian tampak meriah. Diawali dengan pidato singkat dari sang pemilik resort, siapa lagi kalau bukan Satria Nikolai Mahardika yang tampil dengan elegan. Mengenakan stelan jas abu-abu dengan dasi hitam rapi membalut tubuh tinggi tegapnya yang sempurna.
Dikelilingi orang-orang terkenal di dunia bisnis dan entertainmen membuat pria itu terlihat begitu bersinar.
Ah, Cinderella, kamu sekarang sedang berada di negri dongeng. Dan pangeranmu sedang berdiri disana, bersama orang-orang dari dunia nya. Batin Sofia bermonolog lagi.
Ternyata benar, Satria bukan orang sembarangan. Kak Niko nya itu sepertinya orang yang cukup berpengaruh. Dilihat dari tamu yang hadir saja sudah bisa ditebak kalau pria itu benar-benar memiliki kuasa. Selain artis dan pengusaha, tampak pula seperti walikota dan pejabat pemerintahan yang hadir. Hal itu semakin menegaskan posisi Satria seperti apa.
Seketika nyali Sofia menciut. Dia semakin merasa kerdil dihadapan Satria. Dirinya bahkan tak ada seujung kuku pria itu. Kak Niko nya benar-benar jauh dari jangkauan nya.
"Ini," satu gelas minuman disodorkan Raldo, ketika Sofia tengah duduk di kursi tamu.
Sofia mendongak.
"Sudah menemukan temanmu?" tanya pria itu.
Sofia seperti tersadarkan. Dirinya menggeleng lemah.
Raldo tersenyum. "Its oke. Aku akan menemani kamu sampai acara ini selesai." katanya.
Sofia mengernyit, "Memangnya kamu juga sendirian?" perempuan itu bertanya.
Raldo menggeleng. "Aku dengan ayahku, dia koleganya pemilik resort ini. Sementara dia sibuk membangun relasi, aku bisa bersantai ria disini." Raldo menjatuhkan bokongnya di kursi didepan Sofia. Menatap wajah perempuan yang berbulan-bulan yang lalu ditemuinya disebuah klub malam, dan berakhir disebuah hotel. Pria itu tersenyum.
"Kamu ...terima BO malam ini?" Raldo dengan senyuman aneh menatap Sofia.
"Euh? ..." perempuan itu menoleh, menatap wajah mengesalkan Raldo. Kemudian menggeleng.
Raldo tergelak. "Serius? wah, ...padahal tadinya aku ..."
"Maaf sepertinya aku harus pergi. Temanku nggak ada disini." Sofia bangkit dari duduknya, bersiap pergi.
"Kamu mau kemana?" Raldo ikut bangkit.
"Mungkin pulang ke villa." jawab Sofia, tanpa sadar muncul seringaian disudut bibir Raldo.
"Aku antar." ucapnya, mengikuti Sofia yang mulai melangkah.
"Nggak perlu. Aku bisa sendiri." tolak Sofia
"Aku memaksa, lagipula disini membosankan." Raldo tetap mengikuti langkah Sofia keluar dari area itu. Tanpa sadar sepasang mata elang tengah memperhatikan dari kejauhan.
*******
"Kamu berapa lama disini?" Raldo memulai percakapan, kini mereka berjalan santai menyusuri sisi pantai yang sepi.
"Rencananya satu Minggu, tapi nggak tahu deh." Sofia menggendikkan bahu.
"Boleh aku minta nomor ponsel kamu?" Raldo meraih tangan Sofia yang berayun mengikuti langkah pelannya. Mereka berhenti berjalan.
"Ah, .. aku nggak bawa ponsel, lupa juga nomor nya." Sofia menepuk keningnya pelan.
Raldo terkekeh, "Kamu sepertinya orang yang menyenangkan," katanya lagi, "Aku ingin mengobrol dengan kamu."
"Sekarang kita lagi ngobrol, kan?" Sofia berusaha melepaskan genggaman tangan Raldo
"Iya, maksudnya ngobrol lebih lama gitu." Raldo tak membiarkan perempuan itu lepas begitu saja.
"Haha, ... buat apa?"
Raldo mencebik, kemudian memiringkan kepalanya kesamping.
"Sepertinya kita bisa berteman." ucapnya, dengan senyum lebar.
Sofia terkekeh, merasa canggung sebenarnya. Kali ini berhasil melepaskan tangannya dari genggaman pemuda tampan itu. Kemudian berjalan lagi ke arah villa tempatnya menginap.
"Kita sudah sampai, ..." Sofia ketika mereka tiba di bawah tangga temaram menuju villa.
"Kamu menginap disini?" Raldo sedikit terkejut. Penampakkan villa cantik dan mewah yang tak dia duga didiami perempuan dihadapannya. Dan hanya orang tertentu yang mampu menyewa villa dengan harga puluhan juta permalam itu.
Sofia mengangguk.
"Teman kamu siapa tadi, aku lupa? Mungkin aku kenal." Raldo penasaran. Tidak mungkin perempuan itu datang ke pulau terpencil ini sendirian.
"Eee ... kamu nggak kenal." Sofia gugup.
"Serius. Aku kenal banyak pengusaha kenalan ayahku, mungkin salah satunya teman kamu." Raldo curiga.
Sofia menggigit bibir bawahnya, tidak mungkin dia membeberkan fakta bahwa Satria lah teman yang dimaksud. Bisa rusak reputasi pria itu jika orang lain mengetahui keberadaannya.
"Kamu nggak kenal. Percaya deh. Udah ya, aku masuk dulu. Makasih udah nganter aku sampai sini. Bye." Sofia berjalan tergesa tanpa menunggu ucapan selamat tinggal dari pemuda itu, yang belum beranjak dari tempat dia berdiri, menatapnya hingga menghilang ditelan kegelapan malam.
Sofia berjalan setengah tertatih, kembali merasakan kakinya yang sakit sisa petualangan tadi siang. Menaiki tangga-tangga kecil menuju teras villa yang temaram.
Langkahnya terhenti ketika ada sosok menjulang tinggi tengah berdiri diteras. Satria.
Sofia tertegun.
"Papi?"
Satria menatap tajam, dengan iris kelamnya yang berkilat diterpa cahaya lampu yang menempel di tihang bangunan.
"Sudah aku bilang jangan pergi kemana pun tanpa aku!" geramnya.
"Tadi Fia kesana, tapi papinya sibuk." jawab Sofia, belum menyadari kemarahan yang hampir menyembur dari pria 40 tahun itu, yang mengetahui Fianya berjalan dengan seorang pria asing, bahkan sampai berpegangan tangan.
"Harusnya kamu menunggu hingga aku selesai dengan urusanku, bukan malah berkeliaran dengan pria asing." tukasnya, berjalan menghampiri Sofia yang terkejut mendengar ucapannya.
"Papi tahu?" kedua matanya membulat.
"Tidak ada satu hal pun yang luput dari pengawasanku, Fia." Satria berdiri tepat dihadapan perempuan itu yang sedang mendongak.
Sofia menelan ludahnya kasar. Menangkap kilat kemarahan dimata kelam sang papi. Sepertinya pria ini akan salah faham.
"Aku tidak rela berbagi milikku dengan orang lain, kamu tahu?" katanya lagi.
Sofia menggeleng, "Nggak gitu, dia cuma teman, ..."
"Sial, Sofia!! aku sudah memperingatkan kamu untuk tak berhubungan dengan pria manapun selain aku!!" Satria setengah berteriak.
Sofia kembali menggeleng. "Papi salah faham! Fia baru ketemu dia tadi di resort. Karena nggak bawa undangan, petugas di pintu depan nggak membiarkan Fia masuk. Dia datang, Fia ikut dia makannya bisa masuk kesana." perempuan itu menjelaskan.
Satria mengusap wajahnya kasar.
"Haihh ... anehnya!! Apa-apa langsung marah!! kayak ABG!!" Sofia menggerutu, meninggalkan Satria di teras yang masih memendam kesal.
Perempuan itu yakin jika dia meladeni kemarahan Satria, sebentar lagi mungkin pria itu akan segera meledak seperti beberapa waktu yang lalu.
*
*
Bersambung ...
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭