NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembuktian Di Atas Bara Api

Jiro menatap Senjani dengan sepasang mata yang menyipit tajam. Sunyi merayap di antara mereka, menyisakan suara deru pendingin ruangan yang terasa semakin membekukan atmosfer. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada. Sebuah tawa hambar, hampir tak terdengar, lolos dari celah bibir tipisnya.

"Ditukar?" tanya Jiro dengan nada suara yang begitu rendah, namun sarat akan intimidasi yang menuntut penjelasan. "Kamu tahu apa yang baru saja kamu ucapkan, Senjani? Kamu sedang menuduh seseorang di rumah ini mencoba meracuniku. Di rumah keluargaku sendiri!"

"Saya tidak sedang mengada-ada, Tuan Jiro," Senjani berusaha menahan getaran di suaranya, melangkah satu pijakan lebih dekat ke sisi ranjang. Dia menunjukkan dua butir tablet kecil berwarna agak kekuningan itu di atas telapak tangannya yang terbuka. "Sebagai fisioterapis yang bertahun-tahun bekerja di rumah sakit, saya hafal luar kepala bentuk, warna, bahkan bau dari obat pelemas otot merek Baclofen yang biasa Anda konsumsi. Obat itu seharusnya berwarna putih bersih, bertekstur agak kapur, dan memiliki garis belahan di tengahnya untuk memudahkan pemotongan dosis. Tapi lihat ini..."

Senjani menyodorkan telapak tangannya ke depan wajah Jiro. "Tablet ini permukaannya terlalu halus, warnanya cenderung krem kekuningan, dan baunya... baunya agak menyengat seperti zat kimia industri, bukan aroma obat medis steril."

Jiro melirik sekilas ke arah telapak tangan Senjani, lalu kembali menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sangat dingin dan tidak percaya. "Hanya karena warna dan bau yang sedikit berbeda, kamu menuduh ada konspirasi pembunuhan di rumah ini? Jangan konyol. Bisa saja pihak rumah sakit atau apotek keluarga kami mengganti produsen obat generiknya. Itu hal yang lumrah dalam dunia farmasi, kan?"

Pria itu mengulurkan tangan, berniat merebut tablet itu dari tangan Senjani untuk langsung meminumnya bersama segelas air hangat yang ada di nampan. Bagi Jiro, tindakan Senjani saat ini tak lebih dari sekadar drama fiktif untuk mencari perhatian atau menjatuhkan nama baik orang-orang di rumah ini agar dia terlihat seperti pahlawan pelindung.

"Jangan, Tuan! Tolong jangan diminum!" Senjani refleks menarik tangannya ke belakang, menjauhkan obat itu dari jangkauan Jiro.

"Cepat kembalikan obat itu, Senjani!" bentak Jiro, suaranya meninggi, memecah keheningan malam. "Kamu tidak punya hak untuk mengatur apa yang masuk ke dalam tubuh saya! Siapa kamu? Kamu hanya wanita asing yang disewa Kakek untuk mengurus kakiku, bukan untuk mengaudit urusan domestik rumah ini! Jangan melunjak karena tadi pagi aku membiarkanmu menggenggam tanganku!"

Senjani merasakan dadanya sesak mendapat bentakan sekasar itu. Rasa bersalah, cemas, dan tanggung jawab profesionalnya bergolak menjadi satu di dalam batinnya. Dia tahu betapa keras kepalanya Jiro. Pria itu tidak akan pernah memercayai kata-kata seorang wanita asing yang baru dinikahinya selama tiga hari, dibanding dengan sistem keamanan rumahnya sendiri.

Senjani menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dia menatap obat di tangannya, lalu menatap segelas susu hangat di atas nampan. Sebuah ide nekat, gila, namun menjadi satu-satunya jalan pembuktian yang instan mendadak terlintas di kepalanya.

"Jika Anda tidak memercayai analisis medis saya..." Senjani menatap langsung ke dalam manik mata Jiro dengan binar mata yang penuh determinasi yang menakutkan. "...maka biarkan saya membuktikannya dengan cara lain."

Sebelum Jiro sempat mencerna apa maksud dari kalimat tersebut, Senjani dengan cepat memasukkan dua butir tablet kekuningan itu ke dalam mulutnya sendiri, lalu meneguk setengah gelas air hangat di atas nampan untuk menelannya dalam sekali gerakan.

"Senjani! Apa yang coba kamu lakukan?!" Jiro terkesiap, matanya membelalak sempurna melihat kenekatan istrinya. Dia refleks memajukan tubuhnya ke depan, tangannya terulur ingin mencegah, namun semuanya sudah terlambat. Senjani sudah menelan habis obat itu.

Senjani meletakkan kembali gelasnya ke atas nampan dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia berdiri tegak di samping ranjang, menatap Jiro dengan senyuman tipis yang getir. "Jika obat ini memang hanya sekadar obat pelemas otot generik dengan produsen yang berbeda, maka tubuh saya yang sehat ini paling hanya akan merasakan sedikit kantuk atau lemas ringan dalam waktu lima belas menit ke depan. Tapi, jika dalam lima belas menit terjadi sesuatu yang aneh pada saya... Anda harus berjanji untuk membuang seluruh isi botol obat ini dan memanggil Dokter pribadi Kakek."

Jiro membeku di tempatnya. Untuk pertama kalinya, dia melihat seorang wanita yang rela mempertaruhkan keselamatannya sendiri hanya untuk membuktikan sebuah kebenaran medis di hadapannya. "Kamu... kamu benar-benar gila ya?" bisik Jiro parau, gurat kecemasan yang samar mulai muncul di wajah tampannya yang kini menegang.

Waktu perlahan berputar. Lima menit pertama berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Jiro terus mengawasi gerak-gerik Senjani yang kini duduk diam di sofa ujung ruangan.

Pada menit kesepuluh, Senjani mulai merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat, menciptakan sensasi berdebar yang menyakitkan di dalam rongga dadanya. Keringat dingin mulai keluar membanjiri leher dan pelipisnya. Pandangan matanya yang semula jernih, perlahan-lahan mulai mengabur dan berbayang.

Zat ini... ini bukan obat pelemas otot, batin Senjani panik saat merasakan perutnya mendadak melilit hebat, memicu rasa mual yang teramat sangat yang menusuk hingga ke tenggorokan.

"Senjani? Kamu kenapa?" Jiro yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari Senjani mulai menangkap perubahan drastis pada wajah istrinya yang mendadak berubah menjadi sekuning kertas.

Senjani mencoba berdiri untuk menjawab, namun begitu kakinya menumpu di atas lantai, seluruh sendi di tubuhnya mendadak kehilangan kekuatan. Kepalanya terasa berputar hebat seperti dihantam benda tumpul.

"T-Tuan Jiro..." rintih Senjani parau. Suaranya nyaris habis di tenggorokan.

Tubuh tegar wanita itu limbung, ambruk ke arah depan dan jatuh terjerembab di atas lantai karpet berbulu tebal di dekat ranjang Jiro. Kesadarannya mulai hilang dan menipis di ambang batas.

Melihat istrinya tumbang di depan mata kepalanya sendiri, jantung Jiro seolah berhenti berdetak. Rasa panik dan ketakutan yang luar biasa yang tidak pernah dia rasakan selama enam bulan terakhir mendadak menyergap seluruh jiwanya.

"Senjani! Senjani, bangun!" teriak Jiro histeris. Pria itu dengan panik mencoba menggerakkan kedua kakinya secara refleks untuk turun dari ranjang, namun kaki-kaki mati itu tetap diam tak bergerak, mengkhianati perintah otaknya yang sedang darurat.

"Sialan! Bergeraklah, dasar kaki tidak berguna!" Jiro mengamuk, memukul paha atasnya sendiri dengan kepalan tinju yang keras karena frustrasi tidak bisa menggapai tubuh Senjani yang terkapar tak berdaya hanya berjarak satu meter dari ranjangnya.

Dengan sisa-sisa kekuatan di kedua lengannya, Jiro menarik tubuhnya sendiri dengan paksa hingga meluncur turun dari atas ranjang.

Bruk!

Tubuh besar Jiro menghantam lantai kamar dengan keras. Siku dan lututnya bergesekan dengan lantai, menciptakan rasa perih, namun dia mengabaikan semua rasa sakit itu. Dengan gerakan merangkak yang memilukan, pria angkuh itu menyeret tubuh bagian bawahnya di atas lantai, mendekati Senjani yang sudah memejamkan mata dengan napas yang memburu pendek-pendek.

Jiro meraih kepala Senjani, mengangkatnya ke atas pangkuannya. Tangan pria itu gemetar hebat saat menyentuh pipi Senjani yang terasa sangat dingin dan bersimbah keringat.

"Senjani, buka matamu! Jangan mati di sini, sialan! Buka matamu!" bentak Jiro, namun kali ini suaranya bergetar hebat menahan air mata ketakutan yang mendadak mendesak keluar dari pelupuk matanya. Keangkuhannya runtuh total malam ini, digantikan oleh rasa bersalah yang teramat sangat karena telah meragukan ketulusan wanita yang kini sedang sekarat demi melindunginya.

Di ambang kesadarannya yang kian menggelap, Senjani samar-samar bisa mendengar suara bentakan panik Jiro dan merasakan kehangatan dari dekapan tangan suaminya yang mendekapnya erat. Air mata Jiro jatuh menetes tepat di atas pipi Senjani, menjadi saksi bisu bahwa retakan pertama di dalam hati es sang Tuan Muda... akhirnya telah terbuka lebar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!