NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: kontrak di ambang maut

Malam turun tanpa rembulan.

Kabut tipis merayap pelan di antara batang-batang jati tua, menyelimuti tanah yang dipenuhi akar menjulur bak jemari kurus yang siap mencengkeram.

Empat prajurit yang menyeret tubuh Raden Jayengrana mulai merasa gelisah.

"Hutan ini..." gumam salah seorang dari mereka dengan napas tercekat. "Aku tidak suka atmosfernya."

"Diam. Jalankan saja perintah!" bisik perwiranya tajam.

Mereka terus melangkah jauh ke dalam kegelapan hingga tiba di sebuah tanah lapang yang dipenuhi batu-batu nisan tua. Sebagian batu itu telah miring, sementara yang lain habis tertelan belitan akar beringin.

"Di sini saja."

Tanpa rasa hormat, tubuh Jayengrana dilemparkan begitu saja.

Bruk!

Kepalanya menghantam batu keras. Tak ada reaksi. Napasnya begitu tipis hingga nyaris tak terdengar, mengisyaratkan maut yang tinggal menghitung detik.

"Ayo pergi!"

Tanpa berpaling lagi, keempat prajurit itu bergegas melangkah pergi. Semakin jauh mereka melangkah, semakin mencekam pula kesunyian yang menelan hutan tersebut.

Jayengrana membuka matanya perlahan.

Yang tertangkap oleh pandangannya hanyalah kepekatan langit malam. Dadanya terasa bak dihimpit sebongkah batu raksasa; setiap tarikan napas mendatangkan penderitaan yang luar biasa.

Ia berusaha menggerakkan jemarinya, namun tak sanggup. Kakinya pun tak lagi mau menurut.

"Jadi... begini akhirnya..." bisiknya liris, suara itu nyaris tak keluar dari tenggorokannya yang kering.

Bayangan wajah sang istri mendadak melintas di ingatan, disusul tawa renyah anak lelakinya yang masih belia. Lalu... wajah Wiradipa muncul menyela.

Pengkhianatan itu menghantam dadanya lebih menyakitkan daripada tusukan keris mana pun. Air mata bercampur darah meleleh di sudut matanya. Bukan karena ia takut pada kematian, melainkan karena ia harus gugur sebelum sempat menunaikan sumpah setianya untuk menjaga Mataram.

Kini, tubuhnya bahkan hanya akan berakhir menjadi santapan binatang buas.

Tepat saat kesadarannya kian meredup dan ambang maut makin dekat... terdengar sebuah derap langkah.

Tak... Tok... Tak... Tok...

Suara ketukan tapak kuda. Pelan, teratur, namun anehnya... setiap langkah terdengar seperti kayuan tebal yang sedang terbakar.

Tak... Tok... Krek...

Dikuti riuh bunyi bara api yang meletup-letup di udara.

Jayengrana memaksa matanya tetap terbuka. Di balik gulungan kabut tebal, membayang seberkas cahaya jingga yang kian lama kian terang benderang.

Kabut pun terbelah.

Seekor kuda hitam raksasa melangkah keluar dari kegelapan. Tubuhnya sebesar kerbau jantan dengan surai yang menjelma kobaran api membara. Keempat tapaknya menyala merah menyala, anehnya rumput yang dipijaknya sama sekali tidak hangus. Matanya bak dua bola api yang menatap lurus tanpa emosi.

Di atas punggungnya, duduk seorang penunggang berzirah hitam legam. Jubah compang-campingnya berkibar-kibar tajam meski tak ada embusan angin. Di balik helm pelindung yang retak, tak ada rupa manusia—hanya sebuah tengkorak yang dilalap kobaran api biru.

Makhluk misterius itu menghentikan kudanya tepat di hadapan tubuh Jayengrana yang terbaring pasrah.

Hutan mendadak senyap. Tak ada suara apa pun selain beradunya bara api yang berderak pelan.

Lalu, sebuah suara serak membelah keheningan udara.

"Bau... darah."

"Bau... pengkhianatan."

Jayengrana mengernyitkan dahi. Nalurinya menyuruh untuk memegang senjata, namun fisiknya tak lagi berdaya.

"Siapa... kau...?" panggil Jayengrana terbata.

Tengkorak berapi itu sedikit menundukkan kepalanya.

"Aku... adalah penagih sumpah. Aku... adalah penjaga kontrak. Dan malam ini... aku datang khusus untukmu."

Api di rongga mata sang penunggang menyala semakin berkobar.

"Kau sedang di ambang maut, wahai manusia. Aku bisa mendengarnya... detak jantungmu tinggal beberapa hitungan lagi."

Jayengrana menyunggingkan senyum pahit. "Kalau kau ingin mencabut nyawaku... lakukan saja."

Makhluk itu justru tertawa. Suara tawanya begitu berat dan bergema, bak ribuan gesekan tulang di dalam gua terdalam.

"Aku bukan pencabut nyawa. Aku... adalah pemberi kesempatan."

Ia mengangkat tangan kanannya. Di tengah telapak tangannya, kobaran api biru membentuk sebuah simbol kuno aneh yang terus berubah bentuk.

"Ikatlah kontrak denganku. Hidupmu akan kembali. Luka-lukamu akan pulih. Musuh-musuhmu akan gemetar ketakutan saat namamu digaungkan!"

Suara makhluk itu mendadak bergema lebih dalam dan berat, "Namun... ingatlah. Setiap kekuatan besar... selalu menuntut harganya."

Jayengrana menatap makhluk gaib itu dalam keheningan.

Di hadapannya kini hanya tersisa dua pilihan: menerima uluran tangan sosok misterius yang tak diketahuinya, atau mengembuskan napas terakhir dengan tragis di tengah hutan yang sunyi.

Sementara itu, jauh di balik rindangnya pepohonan tua, sepasang mata merah menyala perlahan terbuka—diam-diam mengawasi pertemuan antara manusia yang sekarat dan penunggang kuda berapi tersebut.

Malam itu, bukan hanya Jayengrana yang menjadi saksi. Sesuatu yang terlelap di alam gaib telah terbangun, menyadari bahwa sebuah kontrak kuno nan berbahaya akan segera terjalin.

Jayengrana menatap telapak tangan makhluk di hadapannya.

​Api biru yang berkobar di atasnya sama sekali tak memancarkan panas. Sebaliknya... udara di sekitarnya justru kian membeku. Cold yang merayap perlahan, merasuk hingga ke sumsum tulang.

​"Kau ingin aku membuat perjanjian..." suara Jayengrana terdengar amat serak, seakan parau oleh dahaga dan maut. "...dengan makhluk sepertimu?"

​"Aku tidak memaksa," sahut sang Penunggang seraya menarik kembali tangannya. "Kematian pun sebuah pilihan."

​Hening kembali menyelimuti.

​Jayengrana memejamkan mata. Dadanya kian sesak dan napasnya makin dangkal. Ia paham betul, tubuh fana ini tak akan sanggup bertahan lebih lama lagi.

​Sebagai seorang prajurit Mataram, ia telah berulang kali menatap kematian dari dekat. Namun kali ini terasa berbeda. Ia gugur bukan karena kalah sakti dari musuh di medan tanding—ia mati karena ditikam dari belakang oleh orang yang ia percaya.

​Rasa khianat itu jauh lebih menyengat daripada robekan luka di sekujur tubuhnya.

​"Apa yang kau minta sebagai balasan?" tanyanya lirih.

​Tengkorak itu menjawab tanpa ragu.

​"Jiwamu."

​Jayengrana menyunggingkan senyum pahit. "Jikalau aku tewas malam ini... bukankah jiwaku tetap akan melayang ke alam sana?"

​"Tidak," suara sang Penunggang terdengar tenang namun berbobot. "Jiwamu yang mati secara alami akan menuju tempat yang telah ditentukan. Namun, bila kau menerima kontrak ini... jiwamu terikat padaku."

​Jayengrana terdiam sejenak. "Apakah aku akan menjadi budakmu?"

​"Tidak. Kau tetap bebas. Kau tetap memiliki kehendak penuh. Kau boleh mencintai, kau boleh membenci, bahkan kau boleh membunuh..." Penunggang itu jeda sejenak. "...kau bahkan boleh mengkhianati kontrak ini."

​"Lalu?"

​"Kontrak itu sendiri yang kelak akan menagih harganya."

​Jayengrana menyipitkan mata. "Harga seperti apa?"

​Penunggang Api itu perlahan turun dari atas kudanya. Langkah kaki zirahnya menapak tanah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia berdiri tepat di samping tubuh ringkih Jayengrana.

​Dari jarak sedekat ini, Jayengrana dapat melihat retakan-retakan halus yang memenuhi permukaan tengkorak itu. Di sela-sela retakan tersebut, bara api biru berdenyut pelan—persis seperti detak jantung makhluk yang masih bernapas.

​"Bila suatu hari dendammu telah padam... atau bila kau telah kehilangan alasan untuk bertahan hidup... api kontrak ini akan mulai menggerogotimu. Sedikit demi sedikit, hingga tak ada lagi yang tersisa selain tulang belulang."

​Jayengrana mengembuskan napas panjang. "Dan pada akhirnya... aku akan menjadi sepertimu?"

​Makhluk itu membisu. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban yang benderang.

​Jayengrana mengalihkan pandangannya ke langit malam. Kelam tanpa bintang, pekat tanpa rembulan. Memori lamanya mendadak melintas—teringat akan petuah sang guru puluhan tahun silam:

​"Pendekar sejati bukanlah ia yang selalu menang dalam setiap pertempuran, melainkan ia yang tahu kapan harus menerima takdirnya."

​Jayengrana terkekeh getir dalam batin. "Maafkan muridmu ini, Guru... Hari ini, aku memilih untuk melawan takdir."

​Ia kembali menatap lurus pada sang Penunggang Api.

​"Jika aku menerima tawaranmu... apakah aku cukup kuat untuk membalas mereka yang mengkhianatiku?"

​"Bisa."

​"Apakah aku mampu melindungi keluargaku?"

​"Bisa."

​"Apakah aku bisa menyelamatkan Mataram?"

​Untuk pertama kalinya, sang Penunggang Api tidak langsung menjawab. Setelah hening sejenak, ia bersuara datar, "Hal itu... sepenuhnya bergantung pada dirimu sendiri."

​Jayengrana mengangguk pelan. Jawaban itu terasa jujur. Makhluk ini tidak menjajakan janji manis atau keajaiban palsu; ia hanya menawarkan sebuah kesempatan.

​"Cukup." Jayengrana menarik napas dalam. "Aku terima kontrakmu."

​Kobaran api di rongga mata tengkorak itu mendadak menyala terang benderang.

​"Kalau begitu... sebutkan namamu."

​"Raden Jayengrana."

​"Mulai malam ini... namamu di dunia manusia tetap Raden Jayengrana. Namun jiwamu kini memiliki nama baru yang terpatri di alam kelam."

​Penunggang itu mengangkat telapak tangannya. Lidah api biru merayap turun perlahan, lalu menyentuh tepat di atas dada Jayengrana.

​Tak ada ledakan masif. Tak ada lolongan menyilaukan.

​Hanya sensasi dingin luar biasa... yang menusuk menembus kulit, daging, tulang, hingga meresap ke dasar jiwanya.

​Duk!

​Jantung Jayengrana yang semula telah berhenti mendadak melompat.

​Satu kali.

​Duk! Duk!

​Darah hangat kembali dipompa, mengalir deras menerobos pembuluh darahnya. Luka-luka menganga di tubuhnya rapat perlahan—tidak pulih sepenuhnya seperti sedia kala, tetapi cukup untuk merekatkan raga yang hampir terpisah ini.

​Jayengrana tersentak dan membuka matanya lebar-lebar. Helaan napas pertamanya terasa begitu menyiksa, seolah-olah paru-parunya mendadak dijejali segumpal bara panas.

​Saat ia hendak bersuara, sang Penunggang Api rupanya telah kembali bertengger di atas punggung kuda raksasanya.

​"Ingat satu hal, Jayengrana. Kontrak ini tidak membuatmu kebal, tidak membuatmu suci, dan sama sekali tidak menjadikanmu pahlawan. Kau hanyalah... orang mati yang diberi waktu sedikit lebih lama untuk berjalan di bumi."

​Sang Penunggang memutar haluan kudanya. Derap langkahnya terdengar kembali memecah senyap.

​Tak... tok... tak... tok...

​Gulungan kabut tebal perlahan menelan bayangan sosok tersebut hingga hilang tak berbekas.

​Kini, yang tersisa di tengah sunyinya pekuburan tua Hutan Kematian hanyalah Jayengrana seorang diri. Dengan dada yang kembali berdenyut... dan sebuah kehidupan baru yang sejatinya telah lama terenggut.

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!