NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:415
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedikit Demi Sedikit

Bahu Silvia dicengkeram erat oleh Nelia. Silvia sedikit mengernyitkan kening, “Selamat pagi.”

Kelvin menatap gadis yang masih bersembunyi di balik adiknya. Tatapannya sedikit meredup. Ia tetap berusaha mempertahankan sikap tenangnya, lalu tersenyum tipis, “Turunlah untuk sarapan dulu. Para orang tua sudah menunggu di bawah.”

Nelia mengangguk kecil, lalu membiarkan Kelvin berjalan lebih dulu.

Seperti biasanya, Silvia memastikan kunci yang dibawanya tersimpan aman sebelum memasukkannya ke dalam saku.

Di meja makan, kedua keluarga memasang senyum sopan. Percakapan mereka tak jauh-jauh dari rencana pernikahan kedua keluarga. Seolah-olah pernikahan itu sudah diputuskan sejak awal. Tak seorang pun bertanya apa yang sebenarnya diinginkan kedua orang yang akan menikah.

Nelia tersenyum kepada keluarga Pollis, lalu dengan patuh melepaskan lengannya dari Silvia dan bergegas menuju kursi kosong di samping kedua orang tuanya.

Kelvin dan Silvia kemudian duduk berhadapan dengan keluarga Sillus. Di bawah meja, Nelia diam-diam menendang kaki Silvia beberapa kali sambil memberinya beberapa senyum cerah. Seolah ingin menarik Silvia yang selama ini selalu berada di posisi canggung di keluarga Pollis kembali ke dunia kecil yang penuh cahaya dan kebahagiaan.

Setelah sesi sarapan selesai, para orang tua pindah ke ruang keluarga dan berbincang santai.

“Nelia, hari ini ada rencana apa saja?”

Meliana membuka percakapan terlebih dahulu. Tangannya diletakkan di atas paha Kelvin, lalu dicubitnya pelan.

Nelia yang baru saja memasukkan sebutir anggur bulat ke dalam mulutnya langsung duduk tegak ketika dipanggil. Ia menatap Silvia dengan wajah serba salah. Kedua alisnya bahkan hampir membentuk garis miring ke bawah.

Silvia akhirnya mengambil alih percakapan, “Hari ini Nelia sudah ada janji denganku.”

Meliana jelas tidak menyangka akan mendengar jawaban itu. Wajahnya seketika berubah tidak senang, “Kalian mau pergi ke mana?”

Silvia meletakkan cangkir teh di atas meja, “Melihat pameran universitas luar negeri.”

Suara cangkir yang menyentuh meja terdengar begitu jelas. Beberapa orang dewasa saling bertukar pandang cepat.

Tak seorang pun menyangka Silvia Pollis yang selama ini selalu pendiam dan patuh, justru akan mengambil inisiatif untuk meninggalkan keluarga Pollis.

“Kamu mau lanjut kuliah di luar negeri?”

Kelvin menjadi orang pertama yang bereaksi. Ia menatap adiknya dengan ekspresi terkejut.

“Iya, tapi masih dalam tahap perencanaan.”

Melihat suasana mulai berubah, Nelia segera menyela, “Benar, Tante. Aku dan Silvia memang sudah membuat janji dari beberapa hari sebelumnya. Pagi ini kami mau melihat pamerannya lalu malam nanti kami akan kembali ke Manor untuk berdiskusi dengan Tuan Adrian tentang universitas luar negeri mana yang paling cocok untuk rencana masa depan Silvia.”

Keduangnya berbicara begitu cepat hingga hampir tidak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk menolak.

Meliana mengalah untuk sementara. Ia menyelipkan rambut yang jatuh di sisi wajahnya ke belakang telinga, lalu berkata dengan nada yang berusaha tetap tenang, “Silvia, keputusan seperti ini tidak boleh diambil sembarangan. Bagaimana mungkin kami bisa tenang membiarkan seorang gadis pergi ke luar negeri sendirian?”

Silvia menjawabnya dengan singkat, “Aku punya uang yang cukup. Tenang saja, aku bisa mengurusnya sendiri.”

Wajah Gordan seketika menjadi muram. Ia menatap putrinya yang tiba-tiba berubah begitu banyak. Ada sedikit keterkejutan di matanya, tetapi hanya sebatas itu.

Sejak awal, Gordan memang tidak pernah benar-benar menganggap putrinya yang memiliki kekurangan dalam mengekspresikan emosi sebagai anak yang dekat dengannya. Meskipun Silvia telah membawa pulang begitu banyak penghargaan sejak kecil, di rumah ini ia tetap menjadi sosok yang paling tidak diperhatikan.

Nelia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu berpura-pura terkejut, “Wah! Sudah jam setengah sebelas!”

Ia bangkit dan berjalan ke seberang menuju Silvia, kemudian menarik lengan Silvia dengan lembut, “Silvia, hari ini adalah salah satu hari penting dalam hidupmu. Kita tidak boleh terlambat!”

Tanpa menunggu Silvia menjawab, Nelia langsung menghampiri kedua orang tuanya, “Ayah, Ibu, kami pergi dulu, ya. Jalanan nanti pasti macet.”

Lalu ia menoleh kepada keluarga Pollis, “Om, Tante, kami pamit dulu.”

Silvia mengangguk sopan kepada seluruh orang yang lebih tua sebelum akhirnya mengikuti tarikan Nelia meninggalkan rumah.

Begitu sampai di luar, Nelia langsung terengah-engah. Ia menoleh ke belakang dan baru berani mengembuskan napas setelah memastikan tidak ada seorang pun yang mengejar mereka, “Syukurlah, tidak ada yang menyusul di belakang.”

Silvia menatapnya dengan bingung, “Kamu ada urusan hari ini?”

Nelia menepuk perutnya yang sedikit membuncit, “Enggak sih. Ayok pergi. Kita sembunyi sebentar di Manor, biar bisa tenang sekejap.”

Silvia berhenti, kepalanya sedikit miring, “Kamu benar-benar berhasil mengira aku Cuma sedang mencari alasan untuk kabur?”

“Maksudmu apa Sil?” Nelia langsung mencengkeram pergelangan tangan Silvia dan menatapnya.

Silvia menghela napas, “Nel, aku benar-benar mau pergi melihat pameran universitas luar negeri.”

Nelia membelalakkan mata, “Sil, kamu seriusan?”

Silvia mengangguk.

Keduanya kemudian berteduh di bawah bayang-bayang pepohonan, menikmati ketenangan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Silvia diam-diam menatap balkon kamarnya dari kejauhan. Tatapannya beralih pada kamar yang berada tepat di seberangnya. Sedikit kesedihan yang melintas di matanya.

“Bip-bip—”

Sebuah mobil berhenti di depan mereka.

Adrian menurunkan kaca jendela mobil. Wajahnya terlihat di balik kacamata hitam. Ia mengangkat tangan, “Nona Silvia, Nona Nelia, naiklah!”

Nelia bersandar di kursinya dan memejamkan mata sepanjang perjalanan. Adrian diam-diam melirik ke belakang. Silvia masih menatap pemandangan di luar jendela.

“Nona Silvia, kamu benar-benar sudah memutuskan?”

“Iya.” Silvia menjawab singkat.

“Anggap saja aku pergi untuk menenangkan pikiran.”

Silvia mengalihkan pandangannya dari jendela, memperhatikan pemandangan kota yang terus bergerak mundur.

Ia teridam cukup lama. Kemudian, tiba-tiba ia membuka suara, “Adrian.”

“Hmmm?”

“Soal semua hal yang kamu dan Chris sembunyikan dariku...”

Tatapan Silvia perlahan mengeras, “Aku akan mencari tahu semuanya, sedikit demi sedikit.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!