Tidak semua cinta pertama berakhir dengan kebahagiaan. Bagi aruna, gadis yatim piatu yang hidup dari beasiswa dan kerja keras, jatuh cinta pada siswa paling populer di sekolah adalahawal dari mimpi buruk yang selama ini tak ingin dia miliki..dia bahagia, namun kebahagaan itu ternyata di bangun diatas sebuah taruhan konyol para anak orang kaya itu. Saat kebenaran terungkap, aruna kehilangan lebih dari sekedar cinta..penghianatan, perundungan, dan kehilangan yang tak tergantikan menghancurkan hidupnya hingga dia memilih menghilang dari masa lalu. Bertahun-tahun kemudia, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, pria yang dulu menghancurkan dunianya telah menjadi seorang pria yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesempatan kedua. Sayangnya, tidak semua luka dapat di sembuhkan dengan kata maaf… Penasaran?…yuk kepoin ceritanya….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Liam langsung berbalik tanpa mengatakan apa-apa lagi..Aruna menghela napas pelan sebelum mengikuti langkah pria itu dari belakang..Sementara dari lantai dua..Sepasang mata penuh kebencian kembali mengawasi mereka.
“Awas saja lo..”olla mengertakkan giginya penuh amarah.
_________________________
Suasana kantin Cortner International School yang semula ramai mendadak berubah hening..Semua kepala menoleh ke arah pintu masuk..Liam berjalan masuk dengan wajah datarnya seperti biasa..Namun yang membuat seluruh isi kantin membeku bukanlah kehadiran sang kapten basket, melainkan gadis yang berjalan beberapa langkah di belakangnya sambil menunduk dalam..dia Aruna.
“...”
Suasana hening hanya berlangsung beberapa detik..Lalu kantin kembali dipenuhi bisik-bisik.
“Itu... si cupu Aruna?..”
“Dia masuk kantin sama Liam?.”
“Sejak kapan mereka kenal?..”
“Astaga...gue enggak salah lihat, kan?..”
“Kalian gatau kejadian tadi?..”
“Kejadian apa?..”
“Liam membela si cupu di depan olla..”
“Gila sih..olla pasti ga akan ngebiarin si cupu itu hidup tenang setelah ini..” bisik para murid itu terdengar jelas di telinga aruna..membuat aruna merasa tidak nyaman.
Beberapa siswi bahkan langsung mengeluarkan ponsel mereka untuk memotret dari kejauhan..tak jauh di belakang liam dan aruna, wajah Olla yang baru memasuki kantin bersama teman-temannya langsung berubah masam..Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Liam...”
“kenapa harus sama dia?..”marah olla..tapi dia tak bisa melakukan apa-apa saat ini.
.
.
Aruna menghentikan langkahnya.
“Liam..”panggil aruna..liam menghentikan langkahnya.
“Aku rasa aku enggak jadi makan..Semua orang melihat kearah kita.."ucap aruna..Liam melirik sekilas ke arah para siswa yang sibuk berbisik.
“Lalu?..”tanya liam acuh.
“Mereka pasti salah paham..”ucap aruna merasa tak enak saat mendapatkan pelototan dari fans berat liam.
“Bukan urusan gue..”Jawaban Liam tetap singkat..lalu Ia berjalan menuju meja kasir.
“Apa yang lo suka?..”tanya liam..Aruna menggeleng pelan.
“Apa aja..”jawab gadis itu..Liam terdiam beberapa detik..Kemudian ia menoleh kepada penjaga kantin.
“Satu nasi ayam..Satu sup..Satu susu..”ucap liam pada penjaga kantin.
“Ada tambahan?..”tanya liam pada aruna..Aruna langsung mengangkat wajah.
“Tunggu..itu untuk ku?..”tanya aruna..liam mengangguk.
“Itu terlalu banyak..”ucap aruna cepat.
Liam tidak menanggapi..Ia sudah lebih dulu membayar semuanya..Aruna menggigit bibir bawahnya.
“Aku benar-benar enggak bisa mengganti uangmu..”seru aruna pelan..memesan sebanyak itu bisa lenyap semua uangnya.
“Tidak perlu..”balas liam.
“Tapi...”
“Anggap saja...”Liam sempat berhenti berbicara..Seolah sedang mencari alasan yang masuk akal.
“sedekah..”tambahnya..Aruna berkedip.
Kalimat itu terdengar sangat canggung..Bahkan penjaga kantin sampai menahan senyum..Liam sendiri tampak menyadari ucapannya terdengar aneh..Namun wajahnya tetap datar..Tak sedikit pun berubah.
.
.
Mereka memilih duduk di meja paling pojok..Selama beberapa menit tak ada satu pun yang berbicara..Yang terdengar hanya suara sendok Aruna yang perlahan menyentuh piring.
Liam sesekali melirik gadis di depannya..Aruna makan dengan sangat pelan, Seolah takut makanan itu cepat habis..Sesekali ia menyisihkan potongan ayam yang lebih besar..Liam memperhatikannya.
“Kenapa nga dimakan?..”liam membuka suaranya..Aruna sedikit tersentak.
“Sayang..Lumayan, bisa buat nanti malam..”ucap aruna..Liam menatap kotak makan kosong yang tadi dibawa Aruna.
“Lo mau bawa pulang?..”tanya liam..Aruna mengangguk kecil.
“Iya..Kalau malam enggak sempat masak...masih ada ini..”ucap aruna..gadis itu kembali fokus pada makanan di depannya.
“Lagipula sayang kalau makanan mahal ini di makan sekali makan..”batin aruna.
Untuk pertama kalinya...Liam tidak tahu harus menjawab apa..Ia baru menyadari bahwa gadis di depannya hidup jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan..dan untuk pertama kalinya dia merasa simpati.
Beberapa detik kemudian, Liam mendorong piringnya menjauh.
“Gue udah kenyang..”ucap liam masih dengan wajah datarnya..Padahal..Ia bahkan belum menyentuh makanannya.
“Padahal itu masih banyak..”gumam aruna menatap iba pada makanan yang belum sama sekali di sentuh liam..orang kaya memang suka membuang makanan, padahal dirinya harus mati-matian untuk mencari seseuap nasi.
“Makan..”ucap liam yang malah mendorong piringnya kearah aruna.
“Aku?..Tapi itu punyamu..”ucap aruna cepat menolak sodoran liam.
“Gue gak lapar..”ucap liam santai.
“Kenapa di pesan kalau gak lapar..”tentunya aruna hanya berani bertanya dalam hati pertanyaan tak penting itu.
Aruna memandang wajah Liam beberapa saat..Entah kenapa, Tatapan pria itu memang dingin..Nada bicaranya juga datar..Namun hari ini ia merasa. Di balik sikap kaku itu, Liam benar-benar sedang berusaha berbuat baik..Meski caranya sangat aneh.
“Terima kasih..”ucap aruna.
Untuk pertama kalinya sejak mereka berbicara, Sudut bibir Aruna membentuk senyum kecil..Senyum yang sederhana, Namun cukup membuat Liam terdiam beberapa saat..liam buru-buru mengalihkan pandangan.
“Besok..makan siang lagi..”Aruna hampir tersedak mendengar perkataan pria itu.
“Hah..Kenapa?..”tanya aruna.
Liam terdiam..Sebenarnya ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa..Ia hanya teringat tujuan awalnya..Mendekati Aruna..Namun ia tidak pernah benar-benar belajar cara mendekati seorang perempuan..Akhirnya, setelah beberapa detik berpikir, ia berkata dengan wajah tetap datar,
“Supaya pahala gue banyak..”ucap liam akhirnya..Aruna menatapnya beberapa saat..Lalu terkekeh pelan..Tawa kecil yang nyaris tak terdengar itu membuat Liam sedikit mengernyit.
“Ada yang lucu?..”tanya liam manatap lekat aruna..Aruna buru-buru menggeleng.
“Maaf...”ucap aruna..entah sejak kapan dia jadi sesantai ini pada liam.
“Cuma..Kamu cara ngomongnya lucu..”ucap aruna..Liam memiringkan kepala.
“Lucu?..”tanya liam memastikan.
“Iya..”jawab aruna.
“Kamu seperti...orang yang enggak biasa peduli sama orang lain..”tambah gadis itu
Liam terdiam..Ucapan itu memang benar..Selama ini, ia tak pernah repot mengurusi hidup orang lain..Kalau bukan karena taruhan itu, Mungkin ia bahkan tidak akan pernah duduk semeja dengan Aruna.
Sementara dari kejauhan..Olla memandangi meja mereka dengan sorot mata penuh amarah..Tangannya mencengkeram gelas plastik hingga penyok.
“Kenapa...kenapa harus dia?..”
“Si udik sialan..”umpat olla.
“Tenanglah..kita bisa membalasnya saat liam nga ada..”ucap sindy.
“Betul..lagi pula gue ga percaya liam tertarik pada gadis udik itu..pasti dia hanya kasihan sesaat..”tambah vina..olla mengangguk kecil.
“Setelah ga ada liam kita hancurkan gadis cupu itu..”ucap olla dengan mata penuh dendam.
Tak jauh dari sana, Nathan, Kai, Ethan, dan Aiden juga memperhatikan Liam.
Kai menyeringai puas.
“Kelihatannya misi kita dimulai dengan lancar…”seru kai..Nathan terkekeh.
“Siapa sangka Liam yang sedingin es bisa duduk di kantin sama seorang cewek..”ucap nathan yang terlihat paling bersemangat..Aiden mengangguk.
“Walaupun caranya mendekati cewek masih sedikit kaku..”ucap aiden.
“Trus lo maunya gimana..deketin cewek langsung diajakin one night stand gitu kaya lo..”sinis kai.
“Gue ga gitu ya njeng..”kesal aiden.
“Jangan sok lupa ingatan deh lo..”sahut nathan.
“Ga ga bisa membantah sih kalau itu..”ucap ethan.
“Nah, ethan aja setuju..”ucap kai.
“Sialan kalian..”kesal aiden..tiga pria itu hanya tertawa melihat kekesalan sang sahabat.
.
.
Kembali ke sisi aruna..gaadis itu menyodorkan segenggam uang recehan pada liam..liam mengeryit melihat sodoran tangan aruna.
“Untuk?..”tanya liam.
“Kita patungan saja bayarnya..”ucap aruna merasa tak enak..liam menatap recehan yang tak pernah dipegangnya seumur hidup itu lekat.
“Ga perlu..udah gue bilang anggap aja sedekah..”ucap liam datar..setelah itu pria itu pergi dari sana meninggalkan aruna.
Aruna menatap punggung liam..gadis itu menghela nafas pelan..dia manatap sekelilingnya, semua orang masih melihat dan berbisik tentangnya.
“Apalagi setelah ini..”gumam aruna..akhirnya gadis itu pergi dari sana..di sela langkahnya keluar kantin, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan mata penuh kebencian milik olla..lagi-lagi aruna menghela nafas.
Dia tidak merasa senang dilirik oleh pria populer di sekolahnya, dia malah merasa waspada dan cemas, karna keterlibatan liam dalam hidupnya malah mendatangkan malapetaka yang lebih besar dari yang biasa dia dapatkan.
.
.
.
TO BE CONTINUE………