Zevanya terpilih menjadi lulusan terbaik di kota ini, masa depan yang cemerlang serta paras cantik membuatnya menjadi wanita yang nyaris sempurna, namun secara mengejutkan ia mengalami kecelakaan fatal yang mengubahnya menjadi seorang wanita buta, hingga harus dikirim keluar negeri untuk menjalani perawatan.
Tapi saat kepulangannya, ia tiba-tiba diculik dan dipaksa menikah dengan Aezar, pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Keluarganya telah bangkrut secara tragis, ayahnya dipenjara, dan dikabarkan orang yang menghancurkan keluarganya adalah suaminya sendiri, begitu banyak hal yang terjadi membuatnya bingung.
Siapa sebenarnya pria ini? apa motif sebenarnya menikahi Zevanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Jangan tanya apakah Zevanya bisa tidur nyenyak atau tidak, seranjang dengan pria itu berarti dia harus rela di perlakukan layaknya guling hidup.
Untungnya karena terlalu lelah Aezar tidak lagi menggodanya dan hanya langsung tidur pulas, namun tangannya masih tidak melepaskan pinggang ramping istrinya.
Alhasil Zevanya merasa tubuhnya seperti dililit ular semalaman, ia terbangun pukul enam pagi dan hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang tinggi.
Dia sudah tinggal disini berbulan-bulan, namun baru kali ini ia bisa melihat betapa nyaman kamar ini, sepertinya Aezar benar-benar mendesainnya sesuai selera Zevanya. Apakah ini kebetulan juga kalau Aezar bisa tahu seleranya? entahlah.
"Kau sudah bangun?" Aezar bertanya dengan suara serak.
Tangannya memeluk gadis itu lebih erat.
"Aezar, aku sesak nafas" protes Zevanya, ia berusaha menyingkirkan lintah ini dari tubuhnya namun sia-sia.
"Tidur sebentar lagi, setelah itu ayo kita menemui ayahmu" gumam pria itu dengan nada setengah mengantuk, yang entah kenapa malah terlihat menggemaskan.
Zevanya akhirnya melirik pria disampingnya, ia tersenyum sejenak sebelum memutuskan untuk bangkit dari ranjang.
"Vanyaaa" Aezar kecewa saat tubuh itu lepas dari pelukannya,
"Aku akan membuat sarapan" ujar gadis itu seraya berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka.
Kali ini suaminya tidak menjawab, mungkin jatuh tidur lagi.
Zevanya langsung menuju dapur, ia menemukan bibi sudah sibuk dengan berbagai bahan makanan, gadis itu menghampirinya dengan antusias dan semangat yang menggebu-gebu.
Sementara Aezar baru bangun beberapa jam kemudian, ia benar-benar lelah dan tidak bisa ingat apa yang Zevanya katakan tadi pagi, apakah dia bilang akan memasak? sepertinya begitu.
Pria itu keluar kamar berniat ke ruang gym untuk berolahraga pagi, namun pemandangan dari arah dapur membuatnya mengurungkan niatnya berolahraga,
Gadis itu mengenakan celemek dengan rambut panjang yang dikuncir berantakan, ada senyuman yang belum pernah gadis itu tunjukan selama ia tinggal disini, sesekali bercerita dan tertawa dengan bibi yang juga sibuk disampingnya. Di ujung hidungnya ada sisa tepung yang menempel.
Kaki Aezar reflek berbelok, tanpa sadar mulai menghampirinya dan duduk di meja bar.
Ada berbagai macam hidangan yang telah selesai, ini jelas terlalu banyak untuk dimakan mereka berdua, apakah dia berencana membuat pesta? Aezar masih asyik memandangi makanan lezat dimeja saat Zevanya melirik ke arahnya.
"Kau sudah bangun" ia menyapa Aezar dengan riang, sepertinya suasana hati gadis itu sedang baik.
Aezar mengangguk, "Kau pintar masak" pujinya kemudian, sambil mengambil sepotong chicken roll dari piring.
Gadis itu hanya membalasnya dengan senyum singkat.
Aku bahkan membawakan makanan untukmu setiap sore dulu namun kau tidak pernah meliriknya sama sekali, cibirnya.
Zevanya berdeham sebelum duduk di depannya.
"Ehmm.. Apa kau tidak ingat Darren?" tanyanya penasaran, dulu mereka pernah satu tim sepakbola untuk perwakilan provinsi kan?
"Dia temanmu" Aezar menjawab dengan singkat, ia tidak suka jika Zevanya mulai membicarakan pria payah itu didepannya.
"Maksudku, kau tidak ingat pernah bertemu dengannya di suatu tempat?" gadis itu belum ingin menyerah,
Jika Aezar ingat tentang Darren saat itu kemungkinan dia juga akan ingat pada gadis yang selalu menemani Darren latihan, gadis itu tidak lain adalah Zevanya sendiri.
Betapa hebat! ini seperti romansa di film-film jika mereka ternyata saling suka dari dulu.
Membayangkan itu Zevanya tidak bisa menahan senyum.
Hatinya sedikit serakah, entah kenapa ia ingin Aezar mengingat tentang dirinya dimasa lalu, Zevanya yakin kalau pria ini adalah pria yang sama, namun sepertinya Aezar tidak begitu ingat tentang kenangannya semasa SMA.
"Tidak, aku diluar negeri cukup lama" ujar Aezar cuek.
Ada sedikit kekecewaan di hati Zevanya.
Dulu ia bahkan pernah mengirimi Aezar sekotak cookies buatannya sendiri, tapi karena terlalu malu memberikannya secara terang-terangan ia menyuruh anak kecil untuk memberikannya pada Aezar, pada akhirnya cookies itu bahkan dibuang tanpa dilirik lebih dulu. Jika ingat hal itu Zevanya merasa ingin memukul kepala pria yang asik makan di depannya.
"Setelah kita bertemu ayahku, bisakah kita menemui temanku juga?" Zevanya berkata dengan sedikit memohon.
"Kau merindukan Darren?" Aezar bertanya dengan datar, meski begitu ada api yang besar yang langsung mengamuk di hatinya.
Gadis itu mengangguk polos, "Aku merindukan Darren dan Devi" ucapnya kemudian.
"Tidak mau"
Zevanya cemberut, dia sudah sembuh dan benar-benar ingin bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi. Ayahnya serta teman-temannya.
"Ezaar" ia kembali merengek dengan wajah sayu, membuat pria didepannya sontak kaget.
Apakah istrinya sedang bertingkah imut dan manja?
Aezar menjaga raut wajahnya tetap datar meski tangannya gatal ingin mencubit pipi gadis ini.
Berdeham sejenak, ia hanya bisa mengangguk pasrah.
Zevanya tersenyum lebar, "Kau terbaik"
"Aku suamimu"
Ia terdiam sejenak sebelum mengangguk berulang kali, " Ya, maksudku kau suamiku yang terbaik"
Apakah ini mimpi? setiap kali ia memikirkan kalau pria ini adalah suaminya sekarang, Zevanya hanya ingin tersenyum setiap waktu.
Aezar menyeringai sebelum memberi perintah "Gadis bodoh. Berikan aku makanan kalau begitu"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka berdua pergi ke tempat Wijaya pada siang hari, Zevanya sudah bisa menggunakan ponselnya kembali dan langsung memberitahu Devi untuk berkumpul bersama.
Devi menjawab secepat kilat, mengatakan ia pasti akan datang apapun yang terjadi.
Zevanya memandang ke arah jendela mobil sepanjang perjalanan ke pinggiran kota menuju penjara ayahnya.
Ia membawa sekotak makanan kesukaan pria tua itu, berharap keadaannya baik-baik saja, Aezar bilang penjara ayahnya adalah penjara untuk tersangka korupsi dan suap jadi lingkungannya juga tidak begitu buruk, setidaknya tidak ada preman atau orang-orang yang menakutkan.
Maybach hitam itu berhenti tepat di gerbang penjara, mereka menyelesaikan pemeriksaan dan masuk dengan penjagaan yang ketat.
Zevanya yang baru pertama kali kesini reflek membuntuti Aezar, bagaimanapun juga ini adalah tempat segala macam tersangka kejahatan, mau tidak mau ia sedikit bergidik takut.
Aezar menyadari tingkah gadis ini, lalu meraih tangannya yang sedikit berkeringat,
"Jangan takut, ada aku" bisiknya
Zevanya melirik ke arahnya sambil berkata dengan ragu, "Aku tidak takut"
Mereka akhirnya tiba di ruang jenguk, dengan sekat kaca, menghitung denting jam itu mungkin sudah sepuluh menit sebelum akhirnya pintu diujung sana terbuka,dan sesosok pria tua masuk.
"Ayah"
Suara Zevanya bergetar melihat sosok itu mencoba tersenyum ke arahnya, setengah wajahnya bengkak dengan goresan merah kebiruan, jelas baru saja dipukuli dengan sadis.
"Vanya," Wijaya tidak bisa tidak tersedak saat mengucapkan nama itu.
Putrinya yang cantik sekarang sudah dapat melihatnya kembali, namun sayangnya ia harus terlihat mengerikan seperti ini.
Zevanya menyerbu kaca itu dengan histeris, tangisnya pecah seketika saat melihat orang yang ia sebut ayah itu mengalami penyiksaan seperti itu.
Bukankah Aezar menjamin Ayahnya baik-baik saja meski di penjara? tapi kenapa ia dipukuli seperti ini.
Bukan hanya Zevanya yang kaget, karena disisi lain Aezar juga tidak mengerti apa yang terjadi disini. Ia sudah memastikan pria itu hidup dengan baik di penjara, tidak mungkin ada yang berani memukulinya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
.
.
.
.
Minta vote nya dong.. maaciww