Ini benar-benar kado ulang tahun terburuk. Di saat Vira tidak mempunyai fikiran untuk menikah di usia muda, tepat di ulang tahunnya yang ke-20 orang tuanya memberikan hadiah calon suami untuknya. Jangankan bisa menolak, bahkan dia tidak punya kesempatan untuk sekedar bernegosiasi.
Begitu juga dengan Vino. Di saat dia sedang memperjuangkan kekasihnya, orang tuanya malah sudah memutuskan siapa yang akan menjadi istrinya tanpa berdiskusi dulu sebelumnya.
Tidak perduli bahkan jika Vino harus kehilangan segalanya, dia akan tetap pada pilihannya. Menikahi kekasihnya. Beberapa tawaran kerap di ajukan. Intinya jika Vino mau menikahi Vira terlebih dahulu, dia bisa menceraikannya nanti kalau memang Vino merasa tidak cocok. Tentu saja itu hanya sebuah kalimat bujukan saja. Nyatanya orang tuanya tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mudah.
Gadis kampung, pasti kuno. Aku harap dia benar-benar buruk rupa sehingga aku bisa segera menceraikannya. Bukan keterlaluan, hanya saja alasan itulah yang pertama kali muncul di otak Vino.
Sayangnya, Vira adalah seekor angsa cantik yang sedang menyamar menjadi seekor itik buruk rupa.
" Hubungan kita hanya sebatas partner kerja sama. Bukan sebagai suami istri!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Wife or My Daughter
Walau di hari sebelumnya sempat mengeluhkan perihal pekerjaan rumah tangga bahkan sampai protes terhadap suaminya, kenapa dia harus repot-repot belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik? Istri yang baik? Sedangkan pernikahan mereka hanya untuk satu tahun ke depan saja. Nyatanya Vira me reka ulang semua yang dia lakukan kemarin di pagi berikutnya, bahkan tanpa harus diminta Vino.
Karena adik iparnya mempunyai jadwal kelas pagi dan Vino menyibukkan dirinya di ruang kerja, setelah selesai membereskan pekerjaan rumah Vira hanya merebahkan tubuhnya di sofa sambil menikmati satu buah apel sebagai menu sarapan nyapagi ini.
Apalagi yang harus dilakukan nyonya muda Anggara setelah selesai membersihkan rumah selain rebahan di sofa. Seorang pengangguran yang tidak perlu mengkhawatirkan soal uang dan makan karena dia sudah menjadi istri dari seorang konglomerat.
" Tumben Neneng enggak ada kabar tiga hari terakhir ini. Mentang-mentang sudah masuk kuliah lagi, lupain teman seenaknya!!"
Seperti ada kontak batin antara Vira dan Neneng. Baru saja Vira ngedumel soal sahabatnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada panggilan Video call dari sahabat karibnya itu.
Tidak perlu menunggu ponsel berdering untuk kedua kalinya, Vira langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
" Selamat pagi nyonya Anggara."
" Oh kamu Neng, baru saja aku ingin lapor soal orang hilang ke kantor polisi dan menyiapkan bendera kuning untuk dipajang di teras rumah kamu!!" Menjawab dengan nada kesal.
" Ya ampun Ra, sadis banget kamu. Pantesan tadi tiba-tiba bulu romaku mendadak merinding, ternyata ada yang lagi ngedumel di seberang sana hahaha."
" Jahat kamu Neng, kemana aja kamu? "
" Maaf Ra. Biasa lah mahasiswa teladan, sibuk ngerjain PR haha."
" Rese kamu!!"
" Hehe sorry sorry, oh ia gimana kabarnya suami kamu? Pengantin baru gimana kabarnya, baik-baik aja kan? "
" Baik apanya? Kata orang nikah muda itu enak. Lah aku enak apanya, baru sehari pindah ke apartemen bareng Vino badan ku rasanya udah mau rontok semua." Ngedumel lagi kan.
" Astaga Ra, badan ampe mau rontok semua emangnya kamu habis ngapain Savira? Tunggu-tunggu, jangan bilang kamu sama Vino kalian sudah... waaaaah Ra secepat itu kah kamu nyerah? Semudah itu kah dinding pertahanan mu dirobohkan?? " Mulai nyerocos.
" Kamu ngomong apaan sih Neng, orang abis pindahan ke sini aku malah di suruh jadi tukang bersih-bersih di Apartemen ini, makannya tulang di badanku serasa mau rontok semua."
" Oh cuma gara-gara itu, aku pikir kalian udah nganu 👉😗👈. "
" Nganu apaan? "
" Nganu loh Nganu itu 👉😗👈 ."
" Nganu nganu pala mu Neng! " Baru terhubung otaknya dengan otak Neneng.
" Udah aman Neng, aku udah lakuin ide ekstrim kamu dan hasilnya dia enggak terpengaruh. Setidaknya aku sudah tidak perlu terlalu mengkhawatirkan soal itu lagi."
" Benarkah? Haih sayang sekali, padahal suami kamu ganteng, tapi tak mampu melakukan itu."
Tidak bisa berlama-lama menghabiskan waktu bercerita dengan sahabatnya karena Neneng menghubungi Vira disaat dia tengah bersiap-siap berangkat ke kampus.
Rasa bosan pun kembali menghampiri Vira.
" Vira... " Panggil Vino
" Apa? "
" Aku sudah memesan makanan, kamu turun ke lobi dan ambil makanannya. Abangnya sudah menunggu di lobi."
" Aku?? 👈 "
" Ia kamu."
Mengganti setelan piyamanya terlebih dahulu sebelum turun ke lobi untuk mengambil makanan. 15 menit kemudian Vira sudah kembali ke Apartemennya.
" Vin makanan mnya udah ada nih." Teriaknya dari balik pintu ruang kerja suaminya.
" Makanlah, sisakan satu porsi untukku." Sahutnya dari dalam ruang kerja.
Masih belum tau makanan apa yang dipesan suaminya itu sebagai menu sarapannya kali ini. Dan setelah dibuka ternyata, jeng.. Jeng.. Jeng.. Vino memesan makanan yang tidak di sukai Vira yaitu " Bubur ". Langsung menutup rapat kembali wadah berisi bubur ayam yang masih terlihat berasap itu, kemudian kembali menghampiri ruangan kerja suaminya. Mengetuk-ketuk pintu.
Tok.. Tok.. Tok..
" Vin...Vin...."
" Apa? " Sahutnya dari dalam.
" Aku enggak suka bubur. "
Tidak ada jawaban dari dalam
Tok.. Tok.. Tok..
" Vin... Vin, aku bilang aku enggak suka bubur loh."
" Terus kamu mau apa? " Kini menyahut sambil membuka pintu ruang kerjanya yang semula tertutup rapat.
" Ya sesuatu selain bubur." Berbicara sambil memanyunkan bibir mungilnya. Vino baru sadar kalau Vira benar-benar mirip " Bocah SD." Tidak hanya bentukan tubuhnya saja, namun sikapnya juga mirip dengan anak yang berusia 11 tahun. Tapi Vino melihat itu sedikit menggemaskan. Sedikit ya..
" Kamu kan bisa pesan sendiri kalau enggak suka makanan yang aku pesan."
" Kelamaan."
" Terus kamu maunya apa? "
" Omelet yang kemarin enak loh Vin." Tersenyum menampilkan barisan giginya.
" Lantas? " mengerutkan kening.
" Buatkan satu untuk ku, please." Berkedip- kedip.
" Kamu ini merepotkan sekali. Bukannya kita sudah punya perjanjian untuk tidak saling mengganggu satu sama lain, tidak saling merepotkan?" Melipat kedua tangannya di dada.
" Aku ini istri kamu loh Vin, kamu harus kasih aku makan." Mengomel sambil berkacak pinggang.
" Udah aku kasih makanan masih ngeyel." Berlalu menuju dapur dengan di buntuti Vira.
Kini Vira benar-benar bisa melihat kelihaian suaminya dalam urusan memasak. Sementara Vino sibuk membuat satu porsi omlete untuk Vira, Vira sibuk menonton dengan bola matanya yang terus bergerak ke kanan ke kiri mengikuti pergerakan tubuh suaminya selama memasak.
" Makanlah..." Meletakan piring yang sudah terisi omlete yang disambut antusias oleh Vira.
" Terimakasih." Ucapnya sebelum meloloskan potongan omlete pertamanya.
Vino kembali melanjutkan pekerjaannya setelah menyiapkan sarapan untuk istrinya yang justru lebih mirip seperti layaknya anaknya bukan istrinya.
Sebenarnya tidak ada kebencian yang mendasar atau mendalam diantara mereka. Walau karena ide perjodohan dari orang tua mereka yang membuat Vira harus mau tidak mau menikah muda dan membuat Vino yang harus mengurungkan dulu niatnya untuk menikahi sang kekasih.
Ketika Vino terkadang bersikap cuek, ketus atau acuh terhadap Vira, itu memang pure sikapnya. Bukan berarti dia benar-benar membenci Vira.
Vira pun demikian, walau terkadang dia suka marah-marah dan banyak protes bukan berarti dia membenci atau punya dendam terhadap suaminya. Itu karena sikapnya Vino yang terkadang kelewat menyebalkan.
***bersambung..
Don't forget to like and vote 💜💜***
suka bgt sm karakter vira
dia tu ttep gemes sampek akhir
mana ceplas ceplos tanpa basa basi ga menye² meskipun karakter vino kurang greget tp ya makesense si masa iya semua karakter utama bagus² doang
hu aku maraton ampek subuh sumpah emosinya dapet bgt gabosen dan gaskip samsek de bab awal
knp baru baca skrg ya
aku datang 2023 coy