NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kuharap tidak seperti dugaanku

Malam itu aku sulit tidur.

Aku memeluk bantal di sisi tempat ia biasa berbaring.

Aku adalah istri sahnya.

Tapi mengapa rasanya seperti aku masih berdiri di luar pintu hatinya?

Kami menikah tanpa pernyataan cinta.

Kami bulan madu tanpa sentuhan.

Kami berpisah tanpa benar-benar pernah menyatu.

Dan untuk pertama kalinya sejak akad itu diucapkan, aku mulai bertanya pada diriku sendiri—

Apakah aku benar-benar mengenal lelaki yang kini kupanggil suami?

Atau aku hanya menikah dengan bayangan yang belum pernah sepenuhnya terbuka?

Di luar, angin malam berhembus pelan.

Aku menutup mata, berharap ketika ia pulang nanti, semuanya akan berubah.

Namun jauh di dalam hati, ada firasat kecil yang berbisik—

Bahwa jarak dua minggu ini bukanlah awal kebersamaan kami.

Melainkan awal dari sesuatu yang belum pernah kubayangkan.

Dan aku belum siap untuk mengetahuinya.

Rumah terasa lebih besar ketika hanya dihuni satu orang.

Sudah empat hari Ashar di Kalimantan.

Empat hari juga aku mulai menghitung waktu dengan cara yang tidak biasa.

menghitung jeda balasan pesan, menghitung durasi panggilan, menghitung seberapa sering namaku ia sebut.

Terlalu berlebihan, mungkin.

Tapi begitulah perempuan yang sedang menunggu.

Aku mencoba menyibukkan diri. Membersihkan rumah, menata ulang lemari, bahkan menyetrika ulang beberapa kemeja Ashar yang sebenarnya sudah rapi.

Entah kenapa, menyentuh pakaiannya membuatku merasa lebih dekat dengannya.

Sore itu, hujan turun tiba-tiba. Angin mendorong jendela kamar hingga terbuka sedikit. Aku bergegas masuk untuk menutupnya.

Saat itulah aku melihat sesuatu di atas meja kerjanya.

Laptop Ashar.

Sebenarnya tidak ada yang aneh.

Tapi layar belum sepenuhnya tertutup, hanya dalam mode tidur. Biasanya ia selalu mematikannya.

Aku berdiri cukup lama di depan meja itu.

Aku bukan tipe istri yang suka mengintip privasi suami.

Tapi rasa penasaran seringkali lebih kuat dari prinsip.

“Aku hanya ingin tahu pekerjaannya,” gumamku pelan, seolah membenarkan diri sendiri.

Kujentikkan jari di touchpad.

Layar menyala.

Dan detik berikutnya, napasku terasa tercekat.

Bukan karena ada foto wanita.

Bukan karena pesan romantis.

Yang kulihat justru sebuah folder terbuka berjudul:

"Private – Jangan Dibuka"

Jantungku berdetak lebih cepat.

Siapa pun pasti ingin membuka sesuatu yang diberi larangan seperti itu.

Aku ragu.

Tanganku bahkan sedikit gemetar.

Namun sebelum aku sempat mengkliknya, sebuah notifikasi muncul di pojok layar.

Pesan masuk.

Nama pengirimnya hanya satu kata.

Raka.

Isinya singkat.

“Lo aman kan? Jangan terlalu dipaksa kalau belum siap.”

Aku membeku.

Belum siap?

Dipaksa?

Dipaksa apa?

Tanganku terasa dingin.

Mungkin ini soal pekerjaan, pikirku cepat.

Bisa saja proyek. Bisa saja negosiasi.

Tapi mengapa nada pesannya terasa seolah… personal?

Aku menutup laptop itu dengan cepat, seolah-olah benda itu bisa menuduhku telah melanggar sesuatu.

Aku berdiri mematung di tengah kamar.

Jangan berpikir macam-macam, Mala.

Namun semakin aku mencoba menenangkan diri, semakin pikiranku berjalan liar.

Malam itu, Ashar menelepon.

“Aku baru selesai makan,” katanya.

“Dengan siapa?” tanyaku tanpa sadar.

“Ada beberapa klien.”

“Termasuk Raka?”

Ada jeda yang cukup panjang.

“Kamu buka komputerku?”

Nada suaranya tidak marah. Tapi berubah.

Aku menelan ludah, meski terasa sangat sulit untuk berucap namun aku paksakan menjawab. “Tidak sengaja. Ada notifikasi masuk.”

Ia menghela napas pelan.

“Raka teman lama.”

“Teman… dekat?”

“Ya.”

Jawabannya terlalu singkat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!