NovelToon NovelToon
Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:178.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Ammi Pooja

Cinta Anarya kepada Daneesa menciptakan masalah berkepanjangan hingga berujung pada menderitanya buah hati mereka. Kehamilan Daneesa menjadi boomerang bagi keluarga besar Bramantyo. Pasalnya, mereka tak setuju dengan hubungan Anarya dengan Daneesa.

Kematian Daneesa menjadi awal penderitaan batin yang harus ditanggung oleh Anarya dari masa ke masa. Setumpuk penyesalan tak mampu mengubah apapun dan tak mampu mengembalikan apa yang telah sirna.

Nesa Putri Anarya, itulah nama buah hati mereka yang juga harus merasakan getirnya perlakuan keluarga Bramantyo yang merasa telah tercoreng dengan kehadiran Nesa kecil.

Pernikahan Anarya dengan Lasmi justru menjadikan kehidupan gadis kecil itu semakin dalam kehinaan. Seorang anak yang tak pernah tahu apa kesalahannya, namun dianggap pantas untuk menerima buah dosa dari kedua orang tuanya.

Kisah yang penuh liku-liku kehidupan sehingga memiliki ending cerita yang tak tertebak seperti rahasia kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 30 Tak Rela

Tiga bulan telah berlalu semenjak Daneela menerima pinangan dari Anarya. Keadaan berubah, ketegangan berangsur sirna, dan hubungan kedua keluarga semakin hangat.

Binar bahagia dan lengkungan bibir manis bidadari kecil terlihat jelas. Ya, Nesa akhirnya menemukan kebahagiaan bersama kedua orang tuanya. Daneela telah mengambil keputusan untuk tetap menjadi mama bagi Nesa.

Air mata yang mewarnai perjalanan kisah Nesa mendapatkan cinta kasih yang utuh telah berbuah manis. Semakin lengkap pula kala menyaksikan ayahnya menikahi wanita yang teramat ia sayangi.

Ya, hari ini adalah pernikahan Anarya dan Daneela. Seminggu setelah surat perceraian Anarya dengan Lasmi keluar, akad nikah dengan Daneela pun digelar.

Bu Bram yang merasa pernah melakukan kesalahan kini menebusnya dengan menggelar pesta besar-besaran. Ia ingin semua orang tahu bahwa Daneela adalah menantunya.

Kebencian yang dulu menggumpal di dalam batin telah mencair luruh berganti dengan rasa kasih yang teramat sangat. Penyesalan demi penyesalan membuat Bu Bram ingin menebus setiap kesalahan di masa lalu, meski semua yang ia lakukan tak akan pernah membangunkan kembali Daneesa yang telah meninggal.

Acara pesta digelar di rumah keluarga Bramantyo. Depan rumah mewah itu disulap menjadi pelaminan yang begitu mewah lengkap dengan seluruh perlengkapan penyambutan tamu.

Di dalam rumah, Bu Bram sibuk mempersiapkan diri bersolek secantik mungkin. Wanita elegan itu selalu punya cara untuk merias wajah dan penampilannya. Meski ada perias, namun ia tetap lebih mantap dengan tata riasnya sendiri.

Sementara itu, di sebuah ruangan yang lain tampak Bu Rani dengan Daneela sedang bercakap. Daneela yang selesai dirias masih mematut diri di depan cermin, aura bahagia begitu nyata meliputi hatinya.

"Nak, apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Bu Rani sembari menyentuh kedua bahu Daneela dari belakang.

"Sudah pasti, Bu. Demi Nesa aku akan menggantikan Daneesa menjadi ibu yang baik untuk Nesa kecil."

Senyum Bu Rani mengembang, bulir bening yang selama ini jatuh membasah pipi tak tampak lagi. Hanya senyum penuh suka cita menghias wajah senjanya.

"Daneesa pasti ikut bahagia melihat kamu membesarkan Nesa bersama Anarya. Meski ia gagal merengkuh cinta bersama Anarya, namun Ibu yakin ia saat ini sedang tersenyum melihat kamu bersanding dengan pria pujaannya."

Daneela meraih tangan ibunya, menggenggam erat, kemudian menciumnya. "Daneela mohon doa dan restunya, ya, Bu. Doakan Daneela agar mampu menjalani kehidupan bersama Anarya, dan juga mampu membesarkan Nesa."

"Sudah pasti, Nak. Doa ibu selalu menyertaimu." Bu Rani merengkuh tubuh Daneela dan memeluknya erat.

"Ma, sudah siap belum?" Suara Nesa yang tiba-tiba masuk tanpa permisi.

"Nesa, dibiasakan donk, Nak. Kalau mau masuk ruangan harus ketok pintu dulu."

"Hehehe ... iya, Ma. Lupa! Habisnya Nesa nggak sabar lihat Mama dengan Ayah duduk di sana!" Tangan Nesa menunjuk keluar.

"Iya, lima belas menit lagi acara dimulai. Yuk, Bu, kita keluar." ajak Daneela sembari menggamit lengan Bu Rani dan Nesa.

Tiga bidadari beda generasi itu akhirnya melenggang keluar. Menemui pembawa acara dan siap untuk memulai ritual resepsi pernikahan.

Selesai acara, para tamu undangan menikmati hidangan. Beberapa rekan dan sanak saudara yang hadir tak melewatkan berkesempatan berfoto ria mengabadikan momen terpenting itu.

Senyum dua sejoli itu tak pernah lepas, sirat bahagia menghias wajah yang penuh cinta. Namun, bola manik Daneela seketika membulat. Ada rasa tidak suka atas kehadiran seorang wanita yang menggandeng anaknya.

"Anarya, kamu lihat siapa yang datang?" Jemari Daneela menarik lengan baju Anarya, memberi kode agar melihat kehadiran tamu tak diundang itu.

"Siapa?"

"Itu yang baru masuk, di belakang tamu bergaun merah." Daneela menunjuk dengan ekor mata, kebetulan beberapa tamu datang bersamaan.

"Resti?" Anarya yang beberapa bulan ini menahan rindu dengan Resti langsung kegirangan melihatnya, namun seketika lenyap semua rasa karena melihat wanita yang menggandeng bocah lucu menggemaskan itu.

"Iya, sudah pasti dengan Lasmi." Daneela mencebik.

"Ssttt ... bersikaplah biasa. Kita sedang banyak tamu."

Daneela tak ada pilihan selain tetap tersenyum kepada para tamu. Ia tak ingin merusak hari bahagianya hanya demi wanita tak punya hati itu.

Debaran tak menentu membuat gelisah Daneela. Entah firasat apa yang ia rasa. Ia seolah menangkap ada sesuatu yang akan terjadi.

Kegelisahan itu semakin terlihat saat Lasmi menaiki panggung dan menyalami Anarya. "Selamat, ya, Mas. Semoga bahagia hidup dalam bayangan Daneesa." Ucapan Lasmi membuat Daneela terhenyak.

"Aku menikahi Daneela, bukan bayangan Daneesa," jawab Anarya dengan senyum yang begitu tenang, ucapannya menepis seluruh prasangka Lasmi selama ini.

"Baguslah kalau begitu. Oh, ya ... aku ke sini selain mengucapkan selamat juga mau mengantar Resti."

Dahi Anarya melipat, alisnya bertautan karena tak mengerti dengan ucapan Lasmi. "Maksudmu?"

"Aku serahkan Resti ke kamu sebagai ayahnya."

"Lasmi, sebaiknya kita bicarakan itu nanti. Sekarang lagi banyak tamu."

"Kenapa? Takut semua orang tahu kalau kamu mencampakkan aku karena wanita ini?" Suara Lasmi mulai meninggi, membuat beberapa tamu undangan seketika memusatkan perhatiannya ke atas pelaminan.

"Apa maksud kamu? Kamu sengaja datang ke sini untuk merusak acara?" Daneela tak bisa tinggal diam lagi, tangannya mendorong kasar tubuh Lasmi.

Lasmi yang hampir kehilangan keseimbangan segera menguasai tubuhnya yang nyaris jatuh. Dengan sigap ia ke arah pembawa acara, menyambar mikropon yang tergeletak di atas meja.

"Semua tamu undangan! Kalian tahu siapa wanita itu? Dia pelakor! Dia tega merebut suamiku saat aku hamil!" Lasmi menunjukkan perutnya yang mulai tampak buncit.

"Kalian lihat! Betapa jahatnya wanita itu, mencipta bahagia di atas luka wanita lain!" Emosi Lasmi meledak-ledak.

"Aku datang ke sini hanya ingin meminta hak anakku, namun mereka menolak! Sungguh wanita itu telah mempengaruhi suamiku hingga melupakan anak dan istri!"

Wajah Daneela berubah pias, ia merasa ditelanjangi di depan umum. Fitnah keji itu tak akan pernah bisa ia terima. Dengan mengangkat gaun, ia turun dari pelaminan menuju arah Lasmi yang sedang berkoar-koar menebar fitnah.

Tak hanya Daneela, Anarya beserta semua yang ada di panggung pelaminan turun mendatangi Lasmi yang tengah kesetanan.

"Cukup, Lasmi! Aku tak pernah mengambil Anarya darimu! Harusnya kamu malu datang kemari!" hardik Daneela.

"Sebelum kamu datang di kehidupanku, rumah tanggaku baik-baik saja."

"Hah? Baik-baik saja? Kamu pikir selama ini Anarya mencintai kamu?" Senyum sinis Daneela terukir di sudut bibir.

"Sudah cukup, Lasmi! Sebaiknya kamu pergi! Masalah Resti akan kita urus nanti. Tolong, jangan gunakan Resti untuk kepentinganmu!" Kini Anarya mengangkat suara.

"Lasmi, pergilah dengan baik-baik. Dulu kamu menantuku, sekarang meski bukan menantuku lagi tapi kuharap kamu bisa bersikap sopan denganku. Jangan buat malu keluarga Bramantyo." Bu Bramantyo mencoba menengahi.

"Mama tidak tahu bagaimana sakitnya dicampakkan. Aku selama ini sudah bersabar, Ma. Hidup bersama pria yang menjadi budak cinta dari orang yang sudah menjadi mayat." Isak tangis Lasmi tak dapat ia tahan lagi.

"Aku menderita, Ma, karena hidup dengan Anarya tanpa bisa memiliki hatinya. Lebih sakit lagi saat ia mencampakkan aku begitu saja dan memilih wanita ini!" Telunjuk Lasmi mengarah pada Daneela, tatapan penuh kebencian menyertai kilat nyalang netra itu.

"Lasmi, mari kita sadari kesalahan kita di masa lampau. Kita terlalu memaksakan diri, hingga melupakan moral yang seharusnya kita jaga. Berubahlah, Lasmi." Bu Bram mencoba menenangkan wanita yang tengah dibakar emosi itu.

"Tidak, Ma. Sulit rasanya aku menerima. Berbulan-bulan lamanya aku mencoba untuk ikhlas melepas Anarya, tapi nyatanya aku tak bisa. Aku mencintai Anarya melebihi apapun, Ma ...." Akhirnya Lasmi menghambur ke pelukan Bu Bram.

Tangis pilu itu menyayat hati. Lasmi, wanita penuh obsesi. Cinta telah membutakan nalurinya, ia selama ini menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan Anarya termasuk menyingkirkan Daneesa.

"Terimalah kenyataan, Lasmi. Ini sudah menjadi takdir Tuhan, kita tak mampu melawan kehendak-Nya."

"Ma ...."

"Pulanglah. Ajak Resti. Usai acara ini, kita akan bahas masalah Resti. Aku tak akan menolak mengasuhnya."

"Lalu, bagaimana dengan bayi ini, Ma? Apa dia juga tak akan pernah mendapatkan kasih sayang dari Anarya?"

"Kita akan bahas itu semua nanti. Tolong, jangan buat malu keluarga Bramantyo. Ingatlah, Daneela tidak pernah merebut Anarya."

"Tapi wanita itu yang telah membuat Anarya pergi dariku, Ma."

"Bukan, Anarya pergi darimu karena kesalahan kamu yang tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi Nesa. Apa kamu ingat semua perlakuanmu terhadap gadis kecil itu?"

Lasmi tertunduk. Ia tak mampu berucap sepatah kata pun. Memang tak dapat dipungkiri bahwa sikapnya selama ini terhadap Nesa sudah keterlaluan, bahkan sering membuat anak itu tidur dalam perut kosong.

Dengan langkah gontai, Lasmi mengayun kaki keluar dari area gelaran resepsi. Ia gandeng tangan kecil Resti menjauh dari kediaman keluarga mantan suami yang hingga kini masih berkubang di dasar hati.

Dalam setiap tapak kaki, ia merutuki takdir yang begitu menyiksa. Hati yang ia harapkan akan luluh justru kini telah berpaling dan tak mungkin kembali.

1
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
Lasmi klo km masih belum jujur soal siapa ayh biologis Rasti berarti km blm sepenuhnya bertobat, tobatmu masih setengah2 itu😟😟
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
memang benar dan seharusnya Lasmi sadar klo cinta yg dipaksakan itu akn sngt menyakitkan.. lebih baik melepaskannya daripada terus bertahan yg berakibat menderita dihati jg jiwanya😔😔😔
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
cerita yg luar biasa singkat padat dan jelas.. is the best👍💯👍💯
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
Bu Bram seperti kacang yang lupa kulitnya...
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
iya jelas Nesa merasa pernah bertemu Danella soalnya kan Danessa sering muncul di mimpinya Nesa secara Danella kan kembarannya Danessa jadi mngkn wajahnya mirip...
Ayu Dwi S
laki2 lemot emang gk tegas gk ad pendirian patas emg d kibuliin sampe kebenaran istri meninggal pun gk tau,,, tae
Kuswati Kuswati
nangis aq Thor ceritamu bagus banget...
Siti Juleha
emmmm
Siti Juleha
ehem
Delfana
lg nyari bawang
Mikaila Dira Khodijahatika
sex gak butuh cnta
Mikaila Dira Khodijahatika
semangat nessa
Mikaila Dira Khodijahatika
kalau sudah tiada baru terasa
Mikaila Dira Khodijahatika
sedihnya... untung nesa msh unya tante daniela
Mikaila Dira Khodijahatika
smoga nessa bahagia
Mikaila Dira Khodijahatika
lebih baik dgn danela drpd mak tiri kejam
Mikaila Dira Khodijahatika
wanita iblis
Mikaila Dira Khodijahatika
ibu tiri kejam
Mikaila Dira Khodijahatika
kasian nessa
Aran_MouHanAra
bawangnya berapa ton sib ini 😭😭😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!