Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Katanya Aku Terlalu Pemilih
"Dua kali dalam seminggu?"
dr. Yudha menurunkan kacamatanya, seolah perlu memastikan pria yang duduk di depannya benar-benar Narendra Adiwangsa.
Pukul sepuluh pagi, ruang wakil direktur RS Medika Jakarta dipenuhi cahaya matahari dan aroma kopi hitam. Narendra duduk tegak di sofa, masih dengan kemeja kerja dan ekspresi yang biasa membuat direksi menahan napas.
Namun ujung telinganya merah.
"Kamu tidak perlu mengulangnya," kata Narendra.
"Aku perlu. Hampir dua puluh tahun kenal kamu, baru hari ini aku dengar kamu mengaku mimpi basah." Yudha menyandarkan tubuh, menahan senyum. "Dan dengan perempuan yang sama."
Narendra menatapnya datar.
"Berkebaya," tambah Yudha.
"Aku bisa pergi sekarang."
"Duduk, Ndra. Aku dokter, ingat?"
"Dokter kandungan."
Senyum Yudha langsung lenyap setengah. "Aku tahu. Makanya semalam aku sudah bicara secara pribadi dengan teman Sp.U dan psikiater yang dulu membaca hasil pemeriksaanmu. Tanpa nama, tanpa membuka identitasmu."
Narendra tidak jadi berdiri.
Yudha mendorong secarik catatan ke meja. Hasil hormon, pemeriksaan pembuluh darah, dan evaluasi fisik bertahun-tahun lalu tetap menunjukkan tidak ada gangguan organik. Respons terhadap perempuan tertentu, mimpi berulang, dan ereksi spontan justru menandakan fungsi tubuhnya bekerja.
"Jadi?" tanya Narendra.
"Jadi ini bukan konsultasi resmi. Kalau mau diagnosis baru, kamu tetap harus diperiksa langsung oleh Sp.U dan psikiater. Tapi dari riwayatmu, kemungkinan besar hambatannya psikologis."
Narendra teringat seprai basah, air dingin, dan darah di punggung tangannya.
"Selama ini tidak pernah ada respons."
"Terhadap siapa pun?"
"Tidak."
"Termasuk Vania?"
Tatapan Narendra berubah dingin. "Kamu sudah tahu jawabannya."
Yudha mengangkat kedua tangan. "Baik. Dua tahun menikah, tidak pernah menyentuhnya. Setelah cerai juga tidak tertarik pada siapa pun. Lalu sekarang ada satu perempuan yang bahkan belum kamu kenal, tapi tubuhmu langsung bereaksi."
Narendra membuang pandang ke jendela.
"Kamu bukan nggak bisa, Ndra." Nada Yudha melunak, meski sudut bibirnya masih bergerak geli. "Kamu cuma terlalu pemilih."
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.
Terlalu pemilih.
Selama enam tahun, orang-orang menyebutnya lemah syahwat, mandul, atau terlalu menjaga harga diri untuk mengakui kekurangan. Tak satu pun dari sebutan itu pernah mengusiknya seperti kalimat sederhana Yudha.
Karena jika Yudha benar, berarti tubuhnya tidak rusak.
Tubuhnya hanya menunggu seseorang.
"Jangan langsung senang," lanjut Yudha. "Satu mimpi bukan dasar untuk mengambil kesimpulan besar."
"Dua."
Yudha tertawa keras. "Nah, sekarang kamu sendiri yang mengingatkan jumlahnya."
Narendra meraih cangkir kopi, tetapi tidak meminumnya. "Aku akan melihatnya lagi."
"Kamu tahu dia siapa?"
"Belum."
"Namanya?"
"Belum."
"Statusnya?"
Narendra menatap Yudha. "Belum."
"Luar biasa. CEO Grup Adiwangsa jatuh cinta pada data kosong."
"Aku tidak bilang jatuh cinta."
"Kamu memindahkan rapat hanya untuk datang ke pameran kebaya."
Narendra diam.
Yudha membuka laci, mengambil kartu nama seorang spesialis urologi, lalu meletakkannya di meja. "Simpan. Kalau reaksi itu muncul lagi saat kamu sadar dan berada dekat dengannya, buat janji. Bukan karena aku menganggapmu sakit, tapi supaya kamu tidak membangun kesimpulan hanya dari rasa lega. Kita tetap harus membedakan ketertarikan, kecemasan performa, dan kebiasaan tubuh."
Narendra mengambil kartu itu. "Kamu pikir aku cemas?"
"Kamu datang tanpa rombongan perusahaan, memilih lift samping, dan meminta sekretarisku mengosongkan jadwal satu jam. Untuk ukuranmu, itu sudah mendekati panik."
Narendra menyelipkan kartu tersebut ke dompet. Setidaknya Yudha tidak menawarkan obat, tidak memandangnya dengan iba, dan tidak menyuruhnya menikah lagi seperti dokter pilihan keluarganya dulu.
Itu cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih lapang.
Yudha bersiul pelan. "Setidaknya cari tahu dulu dia sudah menikah atau belum. Jangan sampai tubuhmu akhirnya bangun, lalu kamu malah dipukul suaminya."
Ponsel Narendra bergetar. Fikri mengirimkan jadwal Pameran Wastra Nusantara, denah pintu masuk, dan daftar tenant yang berjumlah puluhan.
Narendra membalas singkat.
Cari daftar sanggar kebaya yang hadir. Jangan hubungi panitia atas namaku.
Balasan datang kurang dari satu menit.
Siap, Pak.
Saat Narendra berdiri, Yudha masih menggeleng-geleng.
"Kalau ketemu, jangan langsung tanya kenapa dia bisa bikin kamu mimpi basah."
Narendra mengambil jasnya. "Aku menyesal datang ke sini."
"Tapi kamu lebih lega."
Langkah Narendra berhenti sepersekian detik di depan pintu.
Ia tidak membantah.
***
Pada petang yang sama, Sekar pulang ke Bekasi dengan bahu pegal dan ujung jari yang masih menyisakan bekas tusukan jarum.
Perjalanan dari Jakarta terasa lebih panjang dari biasanya. Begitu membuka pintu rumah, ia mencium gorengan dan teh melati dari ruang tamu.
"Sekar, sini dulu. Mbak bikinin teh."
Sekar menghentikan langkah.
Yuni duduk di sofa sambil mengusap perutnya yang mulai membesar. Di meja ada secangkir teh hangat dan pisang goreng. Kakak iparnya itu bahkan menarik bantal agar Sekar bisa duduk lebih nyaman.
Terlalu ramah.
"Tumben," kata Sekar.
"Tumben apanya? Kita kan keluarga." Yuni mendorong piring ke arahnya. "Makan dulu. Kamu pasti capek jahit baju seharian."
Sekar duduk tanpa menyentuh teh. "Ada apa, Mbak?"
"Kok curiga banget? Mbak cuma perhatian." Yuni tersenyum, lalu matanya menyapu wajah Sekar. "Kamu itu cantik, tanganmu juga terampil. Sayang kalau sampai umur segini belum ada yang serius."
Sekar hampir tertawa. Ia baru dua puluh lima tahun, tetapi di mulut Yuni terdengar seperti sudah terlambat satu dekade.
"Aku masih kerja."
"Jahit kebaya bisa setelah nikah. Malah kalau suamimu mapan, kamu nggak perlu capek jadi tukang jahit terus."
Jari Sekar yang memegang tali tas mengencang.
Sanggar Kebaya Laksmi bukan kios permak. Sebuah kebaya bisa membutuhkan puluhan jam untuk pola, jahitan tangan, bordir, dan pemasangan payet. Namun menjelaskan itu kepada Yuni sama melelahkannya dengan menyulam di atas kain yang sudah robek.
"Mbak punya saudara jauh," lanjut Yuni. "Namanya Pak Herman. Umurnya tiga puluhan, punya dealer motor, rumah sendiri. Mapan."
"Lalu?"
"Besok sore ketemu saja. Kopi-kopi sebentar."
"Aku tidak minta dikenalkan."
Yuni menghela napas seolah Sekar anak kecil yang sulit diatur. "Makanya jangan terlalu pemilih. Orang seperti Pak Herman saja belum tentu mau kalau kamu banyak syarat."
Kalimat itu membuat Sekar teringat pada semua lamaran kerja, pesanan mendadak, serta malam-malam ketika ia menjahit sampai jari kebas demi membantu cicilan rumah ini.
Ternyata di mata keluarganya, ia tetap perempuan yang seharusnya bersyukur jika ada laki-laki mau mengambilnya.
"Mamah tahu?" tanyanya.
"Tahu. Malah Mamah senang. Pak Herman keluarga baik-baik." Yuni mencondongkan tubuh. "Besok ketemu, ya. Sekali saja, buat Mbak."
Sekar menatap senyum manis di wajah kakak iparnya.
Ia tidak percaya satu kata pun.
Yuni tidak pernah membuatkan teh tanpa meminta sesuatu. Jika hari ini sampai menyediakan pisang goreng dan bantal, pasti ada harga yang ingin ditagih.
Sekar akhirnya mengangkat cangkir, tetapi tidak meminumnya.
Kali ini apa lagi maunya?
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰