Zuri Keilana Wesley adalah putri sulung dari keluarga Wesley.
Gadis naif yang selalu berharap ada yang mencintainya dan menerimanya.
Tepat beberapa hari setelah kekasihnya yang telah ia taksir selama 20 tahun melamarnya, pria itu justru melakukan perbuatan tercela yang tak bisa Zuri maafkan meski ia berlutut memohon ampun.
Ethan Aviel Leon, tunangan Zuri kedapatan telah berselingkuh dengan adik kandung Zuri yaitu Leona Agatha Wesley.
Marah dan sakit hati membawa Zuri pada situasi yang pelik serta rumit.
Dan disaat itulah ia memikirkan balas dendam pada kedua pengkhianat itu dengan membuat perjanjian nikah bersama pria yang paling ia benci yaitu Davian Maverick Junior yang juga sedang diincar oleh Leona adiknya.
Davian dan Zuri sama-sama memiliki kepentingan dalam pernikahan ini.
Akankah pernikahan kontrak itu berubah jadi pernikahan manis atau sebaliknya?
yuk simak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berita Davian
Denting tombol password di unit mereka berbunyi.
Menampilkan wajah lelah Davian dari ambang pintu.
Ini sudah pukul setengah delapan pagi dan pria itu baru pulang.
Zuri menatap sekilas dan kembali berjalan kearah pantry.
Hanya bu Sri yang menyapa Davian sebelum wanita paruh baya itu pamit hendak berbelanja.
Davian meneguk habis air putihnya dan duduk di depan Zuri.
"Maaf, tadi malam aku tidak pulang" ujarnya menatap Zuri.
"Hmmm...."
Davian mengangkat sebelah alisnya.
"Kau tidak tanya aku kemana dan bersama siapa?"
"Buat apa? Kita kan bukan suami-istri sungguhan... Hidupmu masih milikmu begitupun aku..."
Sreet....
Zuri mendorong kasar kursi yang ia duduki lalu berlalu dari hadapan Davian.
Ia benci aroma tubuh Davian.
Aroma yang bercampur antar parfum milik Davian dan mungkin parfum perempuan itu.
Davian menggusar kasar rambutnya.
Ia kemudian bergegas kekamarnya dan bersiap-siap untuk kekantor.
Ia sudah cukup terlambat hari ini dan beruntung tidak ada pertemuan dengan klien.
Setengah jam kemudian, Davian keluar dari kamar sudah dengan penampilan yang jauh lebih segar.
Sejenak matanya memandangi keseluruh ruangan mencari keberadaan Zuri namun tak mendapati keberadaannya dimanapun.
"Mungkin dia ke mini market " gumamnya.
Davian bergegas pergi dan melajukan mobilnya meninggalkan ares basement.
Zuri yang baru saja kembali dari minimarket sempat berpapasan dengan mobil Davian.
Sebelah tangannya menggenggam erat tas kresek yang ia pegang.
Saat kakinya melangkah masuk ke lobi, sebuah suara menghentikannya.
"Zuri..." panggilan ditujukan untuknya.
Zuri berbalik dan betapa malasnya ia harus bertemu perempuan ini.
Nia melepas kacamatanya dan memindai penampilan Zuri yang hanya mengenakan kaos longgar dipadu dengan training. Pun rambut yang dicepol asal, sungguh berbeda dengan penampilannya tadi malam yang anggun serta elegan khas perempuan kaya raya.
"Kau tidak ubahnya seperti asisten rumah tangga jika berpenampilan begini" ujar Nia bermaksud menghina.
"Lebih baik penampilan ku seperti pembantu daripada perempuan penggoda suami orang" jawab Zuri menohok.
Nia sedikit terpancing tapi berusaha mempertahankan keanggunannya.
"Kau tahu siapa aku?"
"Hmmm.... sejak awal aku sudah memiliki firasat jika ini adalah kau..."
Nia tertawa. "Jika sudah tahu kenapa masih bersama Davian? Harusnya kau sadar diri Zuri... Kau hanya bisa menikahinya tapi hati dan cintanya tetap milikku...."
"Aa... aku punya sesuatu untuk mu... Tapi jangan jantungan ya ketika kau melihatnya" Nia merogoh tasnya guna mengambil ponselnya.
Zuri benar-benar malas meladeni perempuan ini.
"Kau pasti bertanya-tanya dimana Davian tadi malam kan? Lihatlah... " Nia membuka layar ponselnya dan menunjukkan beberapa foto yang ia ambil dalam bermacam gaya termasuk ketika Nia mencium bibir Davian.
Tanpa sadar, Zuri semakin menggenggam erat tas kreseknya hingga telapak tangannya memerah.
"Udah lihatkan betapa mesranya kami... Hanya segini dulu karena aku tidak ingin kau pingsan jika aku menunjukkan video panas kami... " ujar Nia menatap setiap perubahan ekspresi wajah Zuri.
Zuri dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. Ia melipat tangannya didepan dada dan menunjukkan menunjukkan sikap masa bodo nya.
"Lalu? Apa untungnya kau menunjukkan foto zina kalian? Kau pikir aku akan terpengaruh? Kau salah Nia...! Aku tidak perduli sama sekali akan hal itu! Bagiku, Davian hanya sebagai alat untukku agar terbebas dari keluargaku.... Kau tahu persis jika sejak dulu hubungan ku dan Davian tidak pernah akur..."
Zuri berlalu dari hadapan Nia yang kesal karena upayanya membuat Zuri cemburu tidak berhasil.
"Kau munafik Zuri...!" ujar Nia sedikit berteriak.
Zuri yang hampir sampai di pintu masuk lobi kemudian berbalik.
"Bukan aku yang harus kau khawatirkan Nia tapi dirimu sendiri... Aku istri sah Davian Maverick Junior dan menantu keluarga Junior sementara kau..." Zuri memandang Nia dari ujung kaki hingga kepala lalu tersenyum kecil meremehkan "Kau hanya perempuan penggoda suami orang terlebih kau juga telah memiliki pasangan... Namamu akan tetap hina dimata masyarakat... " sambung Zuri.
Nia menekan kuat ponselnya.
Wajahnya merah menahan amarah.
Niat hati ingin membuat Zuri kesal kini justru berbalik padanya.
Zuri yang ia kenal dulu sangat berbeda dengan Zuri yang sekarang.
Zuri masih bersandar di balik pintu toilet.
Setelah memberi pelajaran kepada Nia, dia belum lantas kembali ke penthouses.
Ia perlu menenangkan diri sejenak.
Bohong jika hatinya baik-baik saja setelah melihat foto yang ditunjukkan oleh Nia barusan tapi ia harus tetap mempertahankan harga dirinya agar tidak diinjak orang lain terutama Nia.
Siapapun tidak boleh melihat betapa rapuh dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan Edgar..." Kepala Rodeo menunduk memberi hormat kepada Edgar yang masih asik dengan ikan-ikan koi peliharaannya.
Pria tua itu dalam masa pemulihan dan melakukan hal-hal yang biasa ia lakukan dirumah seperti sebelumnya.
"Ada apa Rodeo? Kenapa wajahmu nampak tegang?" tanya Edgar menelisik.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan karena telah melewatkan informasi penting"
Alis Edgar naik sebelah.
"Bicara yang jelas!" ujarnya.
"Ini mengenai nona Nia..."
"Lanjutkan!"
"Orang-orang kita baru saja memberitahu jika nona Nia telah kembali tapi dengan wajah yang berbeda..."
"Maksudmu, wajah berbeda?" tanya Edgar kurang faham.
Rodeo menjelaskan semua yang diberitahu oleh orang-orangnya mengenai Nia.
"Lalu bagaimana dengan Zuri atau Davian?apa mereka sudah mengetahui hal ini?"
"Tuan Davian baru mengetahuinya tadi malam di pesta nona Leona... Dan saya yakin, nona Zuri juga sudah tahu" jelas Rodeo.
Edgar menarik nafas dalam.
Ini akan menjadi perkara besar jika dirinya bertindak saat ini karena Davian akan marah besar.
"Kita awasi saja perempuan itu beserta orang-orang yang terlibat bersamanya dan pastikan cucu menantuku tetap aman" perintah Edgar yang diangguki oleh Rodeo.
Mata tua Edgar menatap jauh kedepan. Ada kekhawatiran dalam dirinya jika perempuan yang bernama Nia akan merusak rumah tangga Davian dan Zuri.
Davian bukan lagi anak kecil yang bisa ia setir seperti dulu.
Dia pria dewasa yang memiliki perusahaan sendiri jadi bisa dipastikan Davian tidak akan mudah diancam seperti dulu. Terlebih cucunya begitu mencintai Nia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zuri terus menatap layar laptop miliknya.
Matanya begitu khusuk melihat beberapa daerah yang cocok untuk ia tinggali nantinya setelah perceraian.
Dengan tergesa, ia meraih ponselnya dan membuka internet banking miliknya.
"Sepertinya saldoku belum cukup untuk membeli lahan pertanian ini sekaligus membangun rumah disana... belum lagi bayar beberapa pekerja... masih kurang banyak..." Zuri terus bermonolog dengan dirinya sendiri sambil mengetuk-ngetuk pelan pena yang ia pegang ke sisi kepalanya.
Tiba-tiba perutnya terasa diaduk-aduk dan rasanya benar-benar tidak nyaman.
Zuri segera berlari kekamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
Ia bersandar ke dinding kamar mandi karena lemas. Keringat bercucuran dikeningnya.
"Apa asam lambungku kambuh ya? Tapi kayaknya aku nggak makan yang aneh-aneh deh...." pikir Zuri mengingat-ingat apa yang ia makan sebelumnya.
"Non Zuri? Anda kenapa?" tanya bu Sri cemas.
Zuri menggeleng lemah. "Aku nggak pa-pa bu... Cuma masuk angin" sahutnya.
"Ya sudah... mari ibu bantu. Wajah non pucat... Apa mau bu Sri buatkan bubur biar non bisa makan?"
Zuri meringis mendengar usulan bu Sri. "Aku nggak suka bubur bu... Rasanya aneh"
Bu Sri nampak berfikir sejenak. "Atau mau ibu buatkan sop ayam..?" ujarnya lagi yang langsung diangguki Zuri.
Sambil menunggu sop ayam buatan bu Sri, Zuri kembali meraih ponselnya. Barangkali ada dia bisa memesan makanan favoritnya via online atau hanya sekedar melihat-lihat isi postingan orang-orang.
Mata Zuri terpaku menatap banyaknya foto yang begitu ia kenal muncul di akun gosip.
SEORANG PENGUSAHA MUDA TERCIDUK SEDANG BERPELUKAN DENGAN SEORANG PEREMPUAN YANG BUKAN ISTRINYA DI PESTA KELUARGA WESLEY
DAVIAN MAVERICK JUNIOR, PEMILIK DARI PASIFIC BANK NATIONAL KEDAPATAN MEMELUK SEORANG PEREMPUAN YANG BUKAN ISTRINYA
Dan masih banyak lagi judul berita yang dibuat sedramatis sekali.
Zuri menekan kuat ponselnya yang sedang ia pegang.
Tetap ada kegetiran dihatinya ketika Davian melihat gambar-gambar itu walaupun ia sudah mengetahuinya sendiri.
bersambung....