NovelToon NovelToon
Dendam Dan Cinta

Dendam Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nafsienaff

Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.

Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.

Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.

Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.

Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perisai yang Retak

Sentuhan lembut telapak tangan Senja di pipinya terasa seperti bara api yang membakar topeng keangkuhan Bara Mahendra.

Selama beberapa detik yang menegangkan, sang predator kehilangan taringnya. Namun, ketakutan akan runtuhnya dendam yang telah ia rawat selama lima belas tahun memaksa ego Bara bangkit kembali.

Dengan sentakan kasar, Bara mundur dua langkah. Ia melepaskan tangan Senja dari wajahnya, bernapas memburu seolah baru saja lolos dari jerat yang mematikan.

"Keluar," desis Bara, suaranya bergetar hebat karena kombinasi antara amarah dan kepanikan yang beralih rupa menjadi kedunguan.

"Keluar dari ruanganku sekarang, Senja! Jangan pernah berani menyentuhku lagi dengan tangan kotormu!"

Senja tidak terkejut, tidak juga menangis. Ia hanya menatap Bara dengan sorot mata teduh yang sarat akan pemahaman, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang kerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu, Bara hanya sedang berlari dari kenyataan yang menakutkan bagi pria itu sendiri.

______________________________________________

Hari-hari berikutnya, penthouse itu kembali menyaksikan sandiwara yang melelahkan.

Bara sengaja memutar balik kemudinya, menjadi jauh lebih dingin dan ketus kepada Senja. Untuk membuktikan pada dirinya sendiri dan pada Senja bahwa ia tidak terkalahkan oleh perasaan lemah, Bara sengaja meningkatkan intensitas kemesraannya dengan Olivia Wijaya.

Sore itu, Bara duduk di sofa ruang tengah dengan Olivia yang bergelayut manja di lengannya. Olivia, yang merasa posisinya di atas angin setelah kejadian di rumah sakit, tak henti-hentinya memamerkan senyuman kemenangan.

"Bara, besok temani aku ke butik pameran perhiasan, ya? Aku mau beli kalung berlian baru yang cocok dengan gaun malamku," manja Olivia, sengaja mengeraskan suaranya saat melihat Senja melangkah mendekat untuk mengantarkan nampan berisi camilan sore.

Bara melirik Senja sekilas lewat sudut matanya. Ia sengaja mengulas senyuman tipis dan mengusap pundak Olivia lembut.

"Tentu, Olivia. Apa pun yang kau mau, ambil saja. Kau jauh lebih pantas memakai perhiasan mahal daripada orang-orang yang tidak tahu diri di rumah ini."

Sindiran tajam itu mendarat di rungu Senja. Jika beberapa minggu lalu kalimat seperti itu akan membuat dadanya sesak dan air matanya tumpah, kini semuanya berbeda. Senja meletakkan nampan di atas meja dengan gerakan yang teramat tenang dan anggun. Rahasianya tentang kotak musik yang diperbaiki Bara telah menjadi perisai tak terlihat yang melindungi hatinya dari segala jenis racun kata-kata suaminya.

Senja menegakkan tubuhnya, lalu menatap Olivia dengan senyuman tipis yang terkesan santai.

"Silakan dinikmati camilannya, Nona Olivia," ucap Senja lembut, namun tatapan matanya mengunci mata wanita itu.

"Tapi saya sarankan, besok jangan memilih kalung yang terlalu berat. Takutnya leher Nona tidak kuat menahan beban, sama seperti Nona yang tidak kuat menahan diri untuk tidak mencampuri urusan rumah tangga orang lain."

Deg.

Suasana di ruang tengah seketika membeku. Olivia terbelalak, mulutnya setengah terbuka karena syok mendengar balasan yang teramat berani dan sarkatis dari mulut seorang wanita yang selama ini ia anggap sebagai pelayan penurut.

"Kau... kau berani bicara seperti itu padaku?!" teriak Olivia histeris, wajah cantiknya memerah padam menahan amarah. Ia langsung mengguncang lengan Bara.

"Bara! Lihat pelayanmu ini! Dia sudah tidak punya sopan santun! Dia berani menghinaku di depanmu!"

Bara sendiri terpaku di tempatnya duduk. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena marah pada kelancangan Senja, melainkan karena rasa takjub sekaligus salah tingkah yang luar biasa. Sorot mata Senja saat membalas ucapan Olivia tadi tidak memancarkan emosi negatif, melainkan sebuah ketenangan mutlak dari seorang istri sah yang tahu betul di mana posisi suaminya yang sesungguhnya berada.

Bara berdehem berat, mencoba menutupi kegugupannya yang kian kentara. Ia menatap Senja dengan alis bertaut, mencoba memasang wajah menyeramkan yang sia-sia.

"Senja! Masuk ke belakang sekarang! Siapa yang mengizinkanmu lancang pada tamuku?!"

Senja mengangguk kecil dengan raut wajah yang tetap santai, bahkan terkesan menikmati kepanikan samar di mata Bara.

"Baik, Tuan Bara Mahendra. Saya permisi ke belakang. Semoga pameran perhiasannya besok menyenangkan, Nona Olivia. Jangan sampai lupa membawa kaca, agar Nona tahu mana berlian asli... dan mana yang hanya sekadar replika palsu."

Setelah melayangkan pukulan telak kedua lewat kata-katanya, Senja membalikkan badan dengan anggun dan melangkah santai menuju dapur. Di balik dinding pembatas, Senja mengembuskan napas lega dengan seulas senyuman kepuasan. Ia menyadari, cara terbaik untuk menghadapi monster yang sedang menyamar seperti Bara bukanlah dengan menangis, melainkan dengan membiarkan pria itu tersiksa oleh kepalsuan yang ia ciptakan sendiri.

Sementara itu di sofa, Olivia masih terus mengomandani amarahnya yang meledak-ledak, namun Bara sudah tidak lagi mendengarkan. Pandangan mata pria itu tertuju kosong pada lorong dapur tempat Senja menghilang. Ada rasa frustrasi yang teramat sangat di dalam dadanya, menyadari bahwa jerat balas dendamnya kini telah berbalik arah, mengunci dirinya sendiri dalam labirin cemburu dan gengsi yang kian menyiksa jiwa.

Bersambung

1
sri susanti
semoga olivia dpt balasan yg setimpal,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!