Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murka Sang Penguasa Api
Lembah Tua yang semula terasing kini berubah menjadi kawah neraka yang membara. Hentakan kaki raksasa Sang Naga Merah membuat tebing-tebing batu di sekelilingnya retak dan runtuh, menimbulkan gemuruh dahsyat yang meluluhlantakkan kesunyian. Gelombang hawa panas yang menguar dari sisik-sisik merah delimanya melahap habis kelembapan udara, membuat rumput liar dan pepohonan meranggas dalam sekejap menjadi abu yang beterbangan.
Ming Tonk terduduk kaku di atas tanah yang mulai membara. Tubuhnya gemetar hebat hingga persendiannya terasa lolos, sementara pakaian silumannya telah hangus terbakar oleh embusan napas sang makhluk agung. Rasa gairah dan kepuasan yang beberapa detik lalu menguasai kepalanya mendadak lenyap tanpa bekas, digantikan oleh ketakutan yang begitu pekat sampai suaranya tercekat di tenggorokan. Siluman tingkat rendah itu hanya mampu merangkak mundur, menatap sepasang mata merah menyala yang besarnya melebihi tubuhnya sendiri.
"A-apa ini... Bagaimana mungkin...?" gagap Ming Tonk dengan bibir pecah-pecah akibat panas yang menyengat.
Naga Merah itu merendahkan kepalanya yang besar, mendekatkan rahangnya yang dipenuhi taring-taring tajam hingga hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Ming Tonk. Suara dengusan napasnya terdengar seperti gemuruh gunung berapi yang siap meledak, membawa aroma belerang dan api murni yang menekan jiwa siluman itu hingga bertekuk lutut. Meskipun sang naga tidak lagi bersemayam di dalam tubuh Kai, ikatan batin dan janji perlindungan yang terikat dengan darah sang Tuan Muda membuat jeritan keputusasaan Hana menjadi panggilan mutlak yang tak bisa diabaikan.
Hana, yang terbaring telanjang di atas batu rata, gemetar bukan hanya karena sisa kepanikan, melainkan juga karena gelombang energi panas yang begitu dahsyat di sekitarnya. Namun, di tengah ketakutannya, ia merasakan sesuatu yang asing, hawa panas ini tidak membakarnya. Sebaliknya, lidah-lidah api kecil yang meliuk di udara seolah membentuk perisai hangat di sekeliling tubuh mulusnya, melindunginya dari tatapan kotor dan ancaman bahaya.
Dengan sisa kekuatan spiritualnya yang sangat tipis, Hana menutupi dadanya, menatap wajah raksasa naga itu dengan mata berbingkai air mata. "Kau... kau datang..." bisiknya lirih, suaranya parau menembus deru api.
Naga Merah itu melirik pelan ke arah Hana, memancarkan pendar kehangatan yang kontras dengan aura membunuh di sekelilingnya. Rahang raksasa itu bergerak, dan sebuah suara bergema langsung di dalam benak Hana maupun Ming Tonk dengan suara yang berat, dalam, dan sarat akan wibawa Kuno.
"Makhluk hina sepertimu berani menyentuh apa yang dijaga oleh darahku?" gema suara naga itu memecah dinding-dinding Lembah Tua.
Ming Tonk menangis histeris, menyatukan kedua tangannya untuk memohon ampun hingga dahinya membentur tanah basah yang kini mengering. "Ampun! Ampunkan hamba, Yang Agung! Hamba hanya menjalankan perintah... Hamba khilaf! Ampuni nyawa hamba!"
"Perintah atau nafsumu sendiri tidak ada bedanya di hadapanku," sahut gema naga itu dingin.
Sebelum Ming Tonk sempat melompat untuk melarikan diri, Naga Merah itu tidak membuang waktu dengan semburan api raksasa. Cukuplah dengan satu kibasan cakar depannya yang dilapisi lidah api murni. Hentakan cepat itu menghantam tanah tempat Ming Tonk berlutut.
BOOOM!
Ledakan api kecil tercipta seketika. Ming Tonk bahkan tidak sempat menjerit kedua kalinya; tubuh silumannya langsung terurai menjadi abu hitam yang mengepul perlahan, lenyap ditiup angin panas lembah tanpa menyisakan jejak sedikit pun.
Setelah musuh dilumpuhkan total, Naga Merah itu mengalihkan seluruh perhatiannya pada Hana. Tubuh raksasa sang makhluk agung perlahan meliuk, memosisikan sayap dan sisik tebalnya melingkari batu tempat Hana berada, menciptakan sebuah benteng api membara yang menyembunyikan sang gadis suci dari dunia luar. Di balik lingkar perlindungan itu, hawa panas mendadak melunak, menjadi kehangatan lembut yang membalut tubuh Hana yang masih tanpa busana.
Hana memeluk dirinya sendiri, terisak pelan di atas batu, meluapkan seluruh ketakutan dan kelelahan yang memuncak sejak semalam. Naga Merah menurunkan moncong besarnya tepat di samping Hana, mengembuskan udara hangat yang mengeringkan air matanya secara perlahan, menunggu kesadaran sang gadis suci pulih sepenuhnya sebelum membawa takdir ini kembali ke tangan Kai.
Dua cakar depan Naga Merah bergemuruh pelan saat menjejak tanah Lembah Tua yang mulai mendingin. Di dalam lingkaran perlindungan sisik-sisik tebalnya, hawa panas membara secara ajaib melunak menjadi kehangatan yang mendekap lembut tubuh Hana. Isakan lirih sang gadis suci perlahan reda, digantikan oleh napas teratur yang masih tersedat-sedat di tengah rasa lelah luar biasa yang merayap ke seluruh persendiannya.
Gumpalan asap hitam bekas abu Ming Tonk kini telah benar-benar sirnah diterpa angin lembah. Namun, bahaya belum sepenuhnya usai. Dari balik tebing batu yang runtuh di sisi utara, sesosok bayangan berkedip cepat. Yuki berdiri di atas bongkahan batu besar, topeng kitsune putihnya telah retak di bagian pipi, menyingkapkan sebelah matanya yang berkilat keemasan penuh kepanikan sekaligus rasa tak percaya.
Langkah kaki siluman rubah itu terhenti kaku. Lidahnya terasa kelu menyaksikan entitas raksasa yang seharusnya telah membubung bebas ke angkasa kini berdiri gagah di hadapannya, melindungi Hana bagaikan pusaka paling berharga di muka bumi.
"Tidak mungkin..." bisik Yuki dengan suara bergetar pelan, hampir tak terdengar di antara deru angin panas. "Naga itu... bagaimana bisa panggilan seorang manusia biasa menyeretnya kembali ke tanah?"
Naga Merah tidak perlu menoleh sepenuhnya untuk menyadari keberadaan Yuki. Sepasang mata merah menyalanya yang berkilat tajam menyipit, memancarkan pendar permusuhan yang begitu pekat hingga membuat atmosfer di sekeliling tebing mendadak terasa amat berat menekan dada Yuki. Sebuah dengusan napas hangat keluar dari rahang raksasa sang naga, menyapu debu di kaki tebing hingga menjadi pijar-pijar api kecil.
"Kau yang membiarkan ular picik itu menyentuh batas garis darahku, Siluman Rubah," gema suara agung sang naga kembali bergema langsung di dalam benak Yuki, menggetarkan dinding kesadarannya hingga wanita itu terhuyung mundur satu langkah.
Yuki mengepalkan tangannya, mencoba bertahan di balik sisa-sisa keangkuhannya sebagai pemimpin kaum siluman. "Aku tidak menyuruhnya melakukan tindakan bodoh itu! Dialah yang mengkhianatiku dan melarikan gadis itu!"
"Dosamu bukan hanya pada pengkhianatan pelayanmu," sahut suara naga itu semakin dingin, memotong ucapan Yuki tanpa belas kasihan. "Niat kelicikanmu untuk menumpahkan darah di benteng timur adalah api yang memanggil kematianmu sendiri."
Hana yang mendengar percakapan spiritual itu perlahan menggerakkan jemarinya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menarik bagian jubah naga raksasa yang melingkarinya, menutupi tubuh mulusnya dari pandangan luar. Ia mendongak, menatap mata naga yang kini melindunginya dengan penuh rasa syukur.
"Tolong..." bisik Hana lirih, suaranya parau namun sarat akan ketegasan yang kembali hadir di dalam jiwanya. "Bawa aku kembali padanya... Bawa aku kembali pada Kai."
Naga Merah merendahkan bagian tubuhnya, membiarkan ekor dan sisik-sisik punggungnya membentuk pijakan yang aman bagi Hana. "Kehendakmu adalah takdir yang terikat pada darah Tuan Mudaku, Gadis Suci."
Yuki yang menyadari bahwa kesempatan dan rencananya telah hancur lebur sepenuhnya, menyipitkan mata penuh dendam. Ia tahu, jika naga itu membawa Hana kembali ke benteng timur dan menceritakan seluruh kebenaran tentang penculikan ini, Kai tidak akan pernah melepaskannya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Yuki membalikkan badan, melompat menembus kerapatan kabut hutan terlarang untuk menyelamatkan nyawanya dari murka yang pasti akan menyusul.
Naga Merah tidak mengejar siluman rubah yang melarikan diri itu. Dengan satu kepakan sayap raksasanya yang menciptakan angin kencang meruntuhkan pepohonan kering di Lembah Tua, sang naga melingkarkan hembusan api pelindung di sekeliling Hana, lalu membubung tinggi menembus gulungan awan merah, membawa sang gadis suci terbang melintasi langit menuju benteng timur, tempat di mana seorang pemuda sedang menunggu dengan rasa cemas yang mulai membakar dadanya.