Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 - Gadis dengan Gelang Melati
**Dor!**
Pria bertopeng itu terhuyung ke belakang sambil memegangi bahunya.
Pistol berperedam yang dipegangnya terjatuh ke lantai.
"Ayo!" teriak Adrian.
Tanpa membuang waktu, Raka menarik tangan Alea, sementara Melati masuk lebih dulu ke lorong rahasia.
Pintu besi segera ditutup dari dalam.
Suara benturan keras langsung terdengar.
**Brak! Brak!**
Mereka tahu para penyerang sedang berusaha mendobrak pintu itu.
"Berapa lama pintu ini bisa bertahan?" tanya Alea sambil terengah.
Melati menggeleng.
"Dulu kuat."
"Tapi sudah lebih dari dua puluh tahun."
"Entah sekarang."
---
Lorong bawah tanah itu sempit dan lembap.
Hanya cukup dilewati dua orang berdampingan.
Lampu-lampu kecil yang dulu dipasang di dinding sudah lama mati.
Mereka hanya mengandalkan senter dari ponsel Adrian.
Di sepanjang lorong terlihat pipa-pipa tua dan akar pohon yang menembus langit-langit.
Sesekali terdengar suara tanah berguguran.
"Pelan-pelan," ujar Raka.
"Lorong ini mungkin sudah rapuh."
Melati memimpin jalan.
Meski bertahun-tahun tak pernah kembali ke vila itu, ia masih mengingat jalurnya.
"Tidak jauh lagi."
---
Di belakang mereka...
**Duar!**
Suara ledakan mengguncang lorong.
Debu langsung berjatuhan.
"Mereka meledakkan pintunya!" seru Adrian.
Raka mempercepat langkah.
"Kita tidak punya banyak waktu."
---
Beberapa menit kemudian...
Lorong berakhir pada sebuah pintu kayu kecil yang tersembunyi di balik semak-semak.
Begitu pintu dibuka, udara segar langsung menyambut mereka.
Mereka berada di tengah hutan pinus.
Vila Melati kini hanya terlihat samar di balik pepohonan.
Namun belum sempat mereka bernapas lega...
Suara mesin helikopter terdengar dari kejauhan.
Semua mendongak.
Sebuah helikopter hitam berputar di atas kawasan vila.
"Mereka serius sekali," gumam Adrian.
"Mereka tidak mau kita lolos."
---
Tiba-tiba sebuah peluit terdengar dari balik pepohonan.
**Cuit... Cuit...**
Raka langsung siaga.
Seorang perempuan keluar dari balik batang pinus.
Masih mengenakan pakaian hitam.
Masih memakai topi.
Namun kali ini masker yang menutupi wajahnya sudah dilepas.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Tatapannya tajam, tetapi menyimpan kesedihan yang sulit dijelaskan.
Di pergelangan tangan kirinya masih melingkar gelang berbentuk bunga melati.
Perempuan itu menatap Melati.
"Ibu..."
Suara itu membuat Alea dan Adrian saling berpandangan.
Melati langsung memeluk perempuan itu erat.
"Kirana..."
Air mata keduanya jatuh bersamaan.
Raka membeku.
"Ibu..."
"Siapa dia?"
Melati menoleh perlahan.
Tatapannya dipenuhi rasa bersalah.
"Raka..."
"...dia adikmu."
---
Dunia Raka seakan berhenti.
"Apa?"
"Kamu mempunyai adik perempuan."
"Kami terpisah saat malam kebakaran."
Raka memandang perempuan itu tanpa berkedip.
Potongan-potongan ingatan mulai muncul.
Seorang anak kecil mengejarnya di halaman rumah.
Suara tawa.
Seorang gadis memanggilnya, "Kak Raka!"
Ia memegang kepalanya.
Bayangan-bayangan itu semakin jelas.
"Kirana..."
Perempuan itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak akhirnya ingat?"
Raka melangkah pelan.
Masih sulit mempercayai kenyataan di depannya.
"Aku..."
"Maaf."
"Aku bahkan tidak ingat kalau aku punya adik."
Kirana menggeleng.
"Bukan salah Kakak."
"Mereka sengaja membuat kita saling melupakan."
---
Adrian memecah suasana.
"Maaf mengganggu."
"Tapi kita tidak aman di sini."
Kirana langsung kembali waspada.
"Benar."
"Mereka sudah menemukan jalan keluar lorong."
"Kita harus pindah."
"Ke mana?"
"Ada rumah persembunyian."
"Satu-satunya tempat yang belum mereka ketahui."
Melati mengangguk setuju.
Namun saat semua hendak berjalan...
Ponsel satelit yang dibawa Kirana bergetar.
Ia melihat layar sebentar.
Wajahnya langsung pucat.
"Ada apa?" tanya Raka.
Kirana mengangkat wajahnya perlahan.
"Mereka bukan mengejar kita lagi."
"Terus?"
"Mereka bergerak ke rumah Ayah Alea."
Jantung Alea langsung berdegup keras.
"Ayah?"
Kirana mengangguk.
"Orang-orang itu sudah tahu dokumen yang mereka cari tidak ada di vila."
"Sekarang target berikutnya adalah..."
"...Pram Prameswari."
Alea langsung berlari menuju mobil.
"Kalau begitu kita harus pulang!"
Namun Kirana menahan lengannya.
"Terlambat."
Ia menyerahkan ponsel satelit itu kepada Alea.
Di layar terlihat rekaman CCTV rumah keluarga Prameswari.
Gerbang depan terbuka paksa.
Beberapa pria bersenjata memasuki halaman.
Dan di beranda rumah...
Ayah Alea berdiri seorang diri, seolah sudah mengetahui bahwa mereka akan datang.
Di tangannya hanya ada sebuah map merah.
Map yang selama ini tidak pernah diketahui keberadaannya.
**Bersambung...**