Menjadi kaki tangan mafia, tidak menyurutkan peran ganda Mark Robert kali ini.
Duda memiliki anak satu, cantik dan cerdas itu. Tiba-tiba mengejar cinta seorang sekretarisnya. Setelah kegagalan perasaan cintanya atau hanya sekedar tanggung jawab dulu. Apakah Mark akan benar-benar jatuh cinta dan di cintai? Mengingat latar belakang hitam dirinya bukan menyurutkan wanita tidak menyukainya, malah mereka berharap dapat di sentuh pria beranak satu itu.
Selamat membaca kisah tuan Mark Robert sahabatnya Rendi Anggara ya Kak.
Salam hangat dari Herti Bilkis😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herti Bilkis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suaranya Aneh
Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen yang banyak kak, favoritkan dan vote, Tip juga kak, Selamat membaca kak. Oh iya gabung group chat aku Kak ya, Emot senyum.
Alea yang hendak tertidur meraih kembali ponsel yang sempat ia lempar ke sembarang tempat dan kini ia ambil kembali setelah terdengar dering kembali di handphonenya.
"Iya, ada apa ya Tuan?" suaranya yang sedikit serak Alea mengangkat telepon dari Mark.
Mark terdiam dan mengerutkan dahinya ketika ia mendengar suara yang sama dari Alea.
"Tuan, Anda masih di sana?" suara Alea masih terdengar sama, namun terdengar jelas ia bertanya kepada tuannya.
Mark masih terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Alea yang sedari tadi berbicara kepadanya. Namun saat tidak ada jawaban dari Mark, Alea menutup panggilan teleponya.
Mark tampak kesal ketika melihat panggilan teleponnya kini dimatikan oleh Alea.
"Apa-apaan, dia berani sekali menutup panggilan teleponku!" decak Mark.
Mark lalu menekan kembali layar ponselnya dan melakukan panggilan kembali kepada Alea. Setelah tersambung Mark terdiam kembali.
"Ada apa Tuan? Kenapa anda menelphon? Apakah ada yang perlu saya lakukan?" tanya Alea yang masih dengan suara serak nya.
"Kenapa kamu matikan teleponku? Kenapa kamu bersuara seperti itu? Lakukan panggilan video!" Mark berbicara dengan sangat tegas.
****
Alea yang tengah menutup kedua matanya, ia terkejut ketika mendengar perintah Mark. Ia mengalihkan panggilannya ke mode panggilan video.
Namun ia melihat layar ponselnya, ia terkejut dan berteriak ketika melihat tubuh Mark yang tanpa pakaian dan hanya terlilit handuk di pinggangnya. Teriakannya membuat Mark terkejut.
"Kenapa berteriak seperti itu?" tegas Mark.
Mark melihat Alea yang masih tertidur di atas tempat tidurnya. Alea terdiam ia memikirkan hal yang aneh ketika dirinya dalam posisi terlentang di atas tempat tidurnya dan Mark yang tanpa busana dengan dada bidangnya yang terbuka full.
"Pikiranku ternodai, tapi seperyinya aku menyukai moment ini," batin Alea terkekeh.
"Kenapa anda tidak memakai pakaian Anda Tuan?" tanya Alea memalingkan wajahnya.
Mark tertegun ia menyadari bahwa dirinya belum mengenakan pakaian. Namun Mark tersenyum tipis membenarkan ponselnya hingga terlihat semua bagian tubuh atasnya yang tanpa penutup sama sekali.
"Aku baru selesai mandi," Mark mengalihkan pandangannya namun ia melihat kembali ke arah Alea.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kamu masih dengan pakaian kerjamu? Kenapa begitu berantakan kamarmu? Apa kamu baru bangun?" begitu banyak Mark bertanya kepada Alea.
*"Dia sudah jawab semua pertanyaannya kan?" batin Alea merasa malas.*
"Iya Tuan. Saya baru bangun, tadi pas pulang saya ketiduran," balas Alea lalu bangun dari tidurnya dan duduk menghadap handphone-nya.
Alea tampak salah Tingkah ketika melihat Mark yang tanpa mengenakan pakaiannya.
"Bisakah anda mengenakan pakaian anda dulu Tuan?" Alea bertanya kepada Mark sembari mengalihkan pandangannya, tanpa melihat tubuh Mark yang memperlihatkan dada bidangnya yang masih sedikit basah karena sehabis mandi.
"Hmm, bukankah kau menikmati pemandangannya?" goda Mark.
Alea tertegun ketika mendengar penuturan Mark yang di luar dugaannya.
"Apa-apaan dia ini? Pemandangan? Tentu saja aku berharap menikmatinya, tapi akulebih menjaga kesucian penglihatanku!" gerutu batin Alea.
"Anda bicara apa Tuan?" tanya Alea ragu-ragu.
"Tidak ada!" balas Mark.
Alea tertegun mendengar ucapan Mark dan mencoba untuk mengalihkan pandangannya pada Mark. Namun masih dengan posisi yang sama Mark memperlihatkan tuh sixpacknya di layar handphonenya. Alea membuang pandangannya kembalu tanpa mencoba untuk melihat Mark yang kini mengernyitkan dahinya.
"Kenapa dia masih memalingkan wajahnya? Bukankah dia menyukainya?" batin Mark.
"Kenapa?" tanya Mark.
"Astaga ... Dia masih bertanya aku kenapa?Tidak tahukah dia kalo aku menikmati pemandangan dada sixpacknya itu?" gerutu batin Akea tersenyum.
"Hmmm," Mark menatap Alea dan melihat twmpat tidurnya berantakan.
Mark menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk melihat setiap barang yang berserakan di srkeliling Alea begitupun dengan Alea sendiri yang tampak berantakan menurutnya.
"Apa kau terlahir dengan tampak yang berantakan?" ucap Mark.
Alea tertegun, mendengar penuturan Mark yang sangat membuatnya selalu kesal, setiap kali mengatakan bahwa Alea berantakan.
"Tidak! Sebaiknya anda kenakan dulu pakaian anda Tuan, daripada melihat saya yang berantakan!" cetus Alea.
"Apa maksudmu!" tegas Mark mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada!" balas Alea acuh.
"Hmmm,"
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Mark melihat Alea yang terdiam saat keduanya tengah melakukan panggilan telphone bersama.
"Saya berpikir bagaimana jika anda kenakan pakaian Anda dulu baru bicara!" cetus Alea.