Tyo Fuller, seorang detektif pembasmi kejahatan, tengah mencari siapa pembunuh orang tuanya. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Raise Lee, vampir wanita yang tengah menghisap darah seorang manusia.
Tak disangka, setelah tak sengaja menyentuh tatto di pundak Tyo, justru membuat Raise Lee kehilangan sebagian kemampuannya untuk menghisap darah manusia.
Mengetahui kelemahan sang Vampir, akhirnya Tyo Fuller mengajukan perjanjian kerja sama memanfaatkan kemampuan indra penciuman dan penglihatan sang vampir untuk membantunya menangkap para penjahat, sedangkan Tyo akan menyiapkan darah sebagai makanan bagi Raise Lee.
"Penciumanmu berguna juga! bantu aku menangkapnya!"
"Itu mudah bagiku! pastikan kudapanku tersedia setelah ini selesai, minimal satu liter darah!" tegas Raise Lee memperjelas syaratnya.
Mampukah kerjasama dua makhluk berbeda itu akan berjalan semestinya?
Bisakah Tyo Fuller menemukan pembunuh orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"30
Sementara itu di tempat lain, petugas Dakka bersama rekannya, petugas Torre, tengah melakukan pengintaian pada dua pria yang sebelumnya mengejar Merry, wanita yang mengakhiri hidupnya di toilet RnB fashion.
“Sudah semalaman kita di sini, tak ada pergerakan apapun … aku sangat lapar!” keluh petugas Torre.
“Sama!” timpal petugas Dakka. “Bagaimana dua pria bisa tinggal dalam rumah yang sama?”
“Kita polisi, tugas kita cukup mencari tahu dimana mereka tinggal agar bisa menangkapnya, buat apa harus memikirkan bagaimana atau dengan siapa mereka tinggal?”
“Sst! Seseorang membuka gerbang!”
Pengintaian melelahkan sejak siang hingga menjelang pagi lagi itu pun akhirnya membuahkan hasil, dua pria yang mereka maksud terlihat keluar dari sebuah rumah sederhana. Keduanya tampak berjalan kaki sangat santai. Tak membuang waktu, kedua petugas polisi itu segera menjalankan tugasnya.
Hampir tak ada perlawanan yang berarti, kedua pria asing itu dengan mudah digiring ke kantor polisi.
Penyelidikan berlanjut, petugas Dakka memimpin interogasi. “Kalian mengenal wanita dalam foto ini?” tunjuknya.
Kedua pria yang mereka tangkap itu tampak saling pandang beberapa detik. “Iya, dia adalah Nyonya kami!” jawab jujur pria pertama.
“Nyonya?”
“Iya, Nyonya Merry adalah istri dari tuan kami, tuan Algo. Kami salah apa, kenapa kalian menangkap kami?”
“Kemarin, Merry mengakhiri hidupnya di sebuah toilet di RnB fashion, setelah melakukan penyelidikan kami melihat dari rekaman CCTV, kalianlah yang mengejarnya,” terang petugas Torre.
“Tapi kami tidak bermaksud mencelakainya, kami hanya diperintah tuan kami untuk membawa Nyonya pulang, hingga kami mengetahui keributan di toko itu kemarin.”
“Lalu, kenapa tak kau laporkan pada tuanmu?”
“Kami takut akan dituduh oleh tuan Algo, jadi kami menunggu polisi pasti akan mengabarkannya pada tuan Algo, tapi entah kenapa tadi pagi tuan malah masih menanyakan kabar pekerjaan kami, itu artinya polisi belum mengabarkan padanya.”
“Tidak ada data yang menunjukkan bahwa wanita itu dalam ikatan pernikahan.”
Di saat yang tepat, petugas Tyo masuk ke ruang interogasi itu. “Mereka telah bercerai lama, tapi sepertinya mantan suaminya tak terima, atau entah kenapa mereka ternyata masih tinggal di rumah yang sama.”
Kedua petugas dan dua terdakwa itu sontak menoleh menatap petugas Tyo.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya petugas Dakka.
“Hah? Hmm … aku juga petugas sepertimu, tentu saja aku bisa tahu!” jawabnya terbata, “Ah, sialan, aku lupa tak menyiapkan jawaban untuk hal ini!” batinnya tergagap.
“Tapi … apa benar Nyonya bunuh diri?” tanya salah satu pria itu lagi.
“Benar, dia memotong nadi pergelangan tangannya sendiri, memangnya kenapa?” tanya balik petugas Dakka.
Dua pria itu kompak menghela napas, saling pandang sejenak, “Sebenarnya kami kasihan dengannya, tapi kami juga tidak bisa melakukan apa-apa, kami juga takut dengan kebengisan tuan Algo.”
“Katakan dengan jelas!” desak petugas Tyo.
“Kami bekerja di rumah itu baru beberapa bulan terakhir, jadi tidak begitu tahu yang terjadi sebelumnya, entah kenapa kami selalu melihat Nyonya Merry murung seperti seseorang yang selalu tertekan, padahal Tuan Algo memperlakukannya dengan baik.”
“Jika tuanmu sangat baik, kenapa kalian merasa takut tertuduh?”
“Itu … ah …entahlah, kami hanya merasa takut saja, itulah sebabnya kami tadi berniat untuk melaporkannya, tapi kalian terlanjur menangkap kami,” terang pria satunya.
“Biarkan aku ke tempat itu, aku petugas sekaligus saksi pertama yang menemukan korban.” Petugas Tyo mengambil inisiatif.
“Wah, kamu keren juga, bahkan sudah menemukan tempat tinggal pria itu!” seru petugas Dakka, menatap curiga pada rekannya itu.
“Tidak ada yang istimewa!” sahutnya merasa tak enak, entah kenapa nada bicara rekannya ini sedikit berbeda dari biasanya. “Memang benar, aku tahu tempat tinggalnya dari makhluk yang mengaku seorang vampir, tapi bagaimana aku akan menjelaskannya, aku rasa kalian juga tak akan percaya, bahkan mungkin hanya akan menganggapku gila,” keluhnya dalam hati.
Jarak tempuh yang tak jauh, petugas Tyo kali ini mengemudi sendiri, “Aku langsung menuju ke alamat itu, tak usah menjemputku!” Begitulah jawab petugas Atho saat petugas Tyo menghubunginya untuk tugas.
“Bagaimana aku harus bertanggungjawab dengan beberapa orang yang terbunuh karenaku, aku bahkan tak bisa menjelaskan apa-apa padamu, bisakah kamu mempercayai lagi bahwa aku benar-benar bertemu bahkan berinteraksi dengan seorang vampir?” monolognya dalam perjalanan. “Atho, bantu aku menemukan solusi seperti biasanya, hanya kamu yang bisa aku ajak bicara,” imbuhnya.
Sesampai di depan sebuah rumah besar di kompleks perumahan elit, dengan pagar tinggi mengelilingi bangunan, petugas Tyo menghentikan mobilnya. Tepat di depan pintu gerbang yang tertutup rapat itu, petugas Atho telah menunggunya.
“Apa yang terjadi? Bagaimana orang gila sepertinya bisa menekuk wajah seperti itu? Maaf aku agak disibukkan dengan Anne akhir-akhir ini.”
“Jangan banyak bicara, dua orang gila ini harus segera bekerja!”
“Ah, baiklah!” sahut petugas Atho pasrah.
Bel mereka tekan, dan tak lama seorang pelayan membukakan pintu.
Dengan cepat petugas Tyo memperlihatkan identitas mereka, “Kami polisi, bisakah bertemu dengan Tuan Algo?”
“Iya, tuan sudah melihat kehadiran anda dari CCTV, beliau juga yang memerintahkan untuk membuka pintu,” terang si pelayan terkesan sedikit angkuh.
“Ah, sialan! Aku harus ke toilet sebentar, maaf dimana letaknya?” ucap petugas Tyo yang baru saja menginjakkan kaki di halaman luas yang penuh dengan dengan rumput indah itu.
Petugas Atho menuju ke ruang utama, bertemu dengan pria paruh baya bernama Algo.
“Kami dari kepolisian, memberitahukan ….”
Belum selesai ucapan petugas Atho, pria itu menyambarnya begitu saja. “Tak lihatkah aku yang begitu kehilangan? Aku sedang berduka, untuk apa kalian datang?!” sergahnya.
“Kami menyampaikan bela sungkawa, tapi kami bahkan menemukan sebuah jam tangan yang merupakan bagian dari bukti untuk kasus kami yang lainnya, mendiang istri anda memilikinya, akankah ….”
Lagi-lagi kebiasaan buruk Algo adalah memotong ucapan lawan bicaranya, sembari berdiri berkacak pinggang, Algo menunjuk wajah petugas Atho. “Pantaskah kalian menginterogasi seorang suami yang masih berduka?! Dimana letak sopan santun kalian?!”
“Benarkah kami tidak sopan? Lalu bagaimana bisa ada dua bungkus narkotika bubuk di ruang dekat toilet itu, aku rasa masing-masing satu kilogram ini! Bahkan ada kardus-kardus berisi kantong darah segar, bisakah anda menjelaskan itu pada kami?” di saat yang tepat, petugas Tyo selalu datang bak detektif handal.
Bahkan tatapan heran serta terkejut begitu jelas di wajah petugas Atho, yang segera tersadar kemudian, dan mengeluarkan borgol, lalu menangkap Algo dengan sekali gerakan.
“Lepaskan! Itu bu-bukan milikku? Aku bisa menjelaskannya!” ronta Algo.
“Nanti saja di kantor!” sanggah petugas Atho.
Seakan sudah bisa memprediksi hal yang akan terjadi, tepat saat itu, beberapa mobil polisi telah tiba karena dipanggil petugas Tyo saat ia sampai di depan rumah megah itu.
Algo dibawa secara khusus oleh mobil polisi lain dengan penjagaan ketat, sementara petugas Tyo dan petugas Atho masih tinggal untuk melakukan penggeledahan dan mencari bukti kejahatan lain.
“Bagaimana kamu tahu dia menyimpan benda terkutuk itu disana?” selidik petugas Atho seraya memicingkan mata, masih tak percaya dengan ketepatan rekannya itu.
“Hah? Itu … anu ….”
...****************...
To be continue....
"Ada tulisan baru, "Tuhan Kita Tak Merestui",
boleh sih diintip, dikoreksi typonya, di annuin annunya, tapi nggk boleh kepo berlebih ya🥴✌️
akhirnya tamat juga.
selamat ya Thor.
maaf baru bisa ngikutin.
beberapa hari pull terus.
tetap semangat, sukses juga di karya-karya berikutnya