NovelToon NovelToon
BOS MAFIA MUDA

BOS MAFIA MUDA

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Gibela26 Siyoon93

Felisberta Divya Deolinda gadis pemalas dan putri kesayangan keluarganya, Naumi sebagai seorang sahabat selalu membantu dia dalam pelajaran. Sampai suatu hari terjadi kecelakan dan membuat Feli koma, saat terbangun dia terkejut mendapatkan dirinya ada di dalam novel yang selalu dibacanya berjudul ‘Bos Mafia Muda’. Pemeran utama wanita di novel itu bernama Shanaya, dalam cerita Shanaya berakhir menyedihkan. Feli menjadi Shanaya dan menjadi istri dari Bos Mafia Muda itu yang bernama Shankara Pramudya Anggara. Di usia yang masih muda Shankara bisa menaklukkan semua Mafia yang ada di Negaranya, sosok laki-laki itu ditakuti semua orang tidak ada siapa pun yang berani menentang maupun melawannya karena itu Shankara Pramudya Anggara dikenal sebagai Bos dari semua Mafia yang ada di Negaranya atau di sebut Bos Mafia Muda. Alur ceritanya berubah seiring waktu setelah Feli menjalankan kehidupannya bersama Shankara.

@KaryaSB026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibela26 Siyoon93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Feli yang sudah sampai di pulau barak menyamar menjadi pria begitupun Maya.

“Jumlah mereka lebih banyak dari dugaan.”

“Hera meminta bantuan Shankara dan mengirim orang lebih banyak.”

“Benar kan dia tidak bisa diandalkan,” ucap Maya.

Kakek memukul tangannya “Jika dia tidak mengirimkan orangnya pasti hera curiga.”

Feli mencari celah masuk ke pulau “Terlalu banyak orang yang menjaga.”

“Feli disini ada terowongan.”

“Terowongan ?”

“Sepertinya saluran air pembuangan.”

“Pulau sebesar ini punya saluran air yang kecil.”

“Kalian semua berjaga disini !” beberapa orang berjaga di depan saluran air.

“Baik guru.”

“Ini bukan saluran air biasa,” Feli menyentuh setiap bagian terowongan.

Semakin dalam Feli masuk dia melihat seberkas cahaya “Siapa disana ?” siap melawan.

“Mereka orang-orangnya Khara,” Feli mengeluarkan pistol.

“Eehh kami datang untuk membantu,” Maya maju di depan Feli memegang pedang.

“Membantu ? siapa kalian dan dari mana kalian berasal ?”

“Khara …” suara lembut Feli dikenali Khara.

“Annya,” Khara yang terbaring lemah langsung bangun.

“Hentikan simpan senjata kalian.”

“Benarkah itu kamu Annya ?” berjalan sempoyongan mendekati Feli.

“Shanayamu sudah lama mati, namaku sekarang Feli.”

“Tidak peduli Shanaya atau Feli aku senang itu kamu ohok ohok …” batuk darah.

“Lukamu sangat parah, duduklah jangan banyak bergerak.”

“Boleh aku menyentuh pipimu ?”

“Tentu setelah kamu membaik.”

“Kalian tidak punya teh disini ?” tanya Kakek Guru duduk santai.

“Orang ini tidak waras pimpinan kami sedang sekarat dia malah ingin menikmati teh.”

“Muridku adalah seorang ahli masalah kecil seperti itu dia bisa menyembuhkannya dalam sekejap mata.”

“Benarkah itu ?”

“Adikku terlalu luar biasa menolongnya.”

“Ah maaf sebelumnya kami berbicara sembarangan, jika kalian bisa menyelamatkan pimpinan kami, kami semua akan membalasnya dengan nyawa kami sendiri.”

“Jangan berlebihan,” sela Feli.

“Sekarang tolong ambilkan air panas untukku.”

“Ah baik baik …”

“Dia menyerang kalian ?”

“Benar Tuan, sebelumnya Nona Hera mengajak Tuan Khara bekerja sama melawan Bos Mafia tapi beliau menolak sampai akhirnya Nona Hera mengirim orangnya menghancurkan pulau ini.”

“Ambisi dan ego yang tinggi,” memainkan janggut putihnya.

“Lalu kemana kalian mengirim para warga ?”

“Sebagian warga terselamatkan sedangkan sebagiannya lagi …”

“Tidak apa kalian sudah berusaha yang terbaik.”

“Tuan Khara pingsan ? bagaimana ini ?”

“Jangan khawatir dia hanya kelelahan, air panas ini akan membantu mengeluarkan racun yang ada di tubuhnya.”

“Racun ?”

“Setiap luka yang didapatkannya terdapat racun mematikan meski tidak langsung menyerang namun perlahan akan membuat pembuluh darah pecah dan yang lebih parahnya jika terlambat bisa menyerang jantung.”

“Terima kasih Tuan,” semua orang Khara memberi hormat.

“Dia wanita,” komen Maya.

“Tapi pakaiannya ?”

“Penyamaran cara terbaik bersembunyi dari musuh,” melepaskan kumis.

“Anda adalah Nona Shanaya ?”

“Tuan Mugo masih mengenalku ?”

“Bagaimana saya bisa lupa, senang rasanya bisa melihat Nona lagi.”

“Tangan mu terluka ?”

“Ini tidak seberapa.”

“Kemari !”

“Tidak apa-apa Nona.”

Feli menarik tangannya “Hera sangat licik setelah menyerang dia tidak mau melepaskan satu orang pun yang selamat. Setiap senjata yang digunakannya mengandung racun.”

“APA ?”

“Kalian hanya berlima ?” tanya Feli.

“Hanya kami yang berhasil kabur.”

“Kak Maya ?”

“Serahkan padaku,” Maya membantu mereka berempat mengeluarkan racun dan mengobati lukanya.

“Nona obati saja mereka aku tidak perlu.”

“Apa kamu waras ? setahuku kamu adalah kaki tangannya Khara bukan ? jika kamu terluka siapa yang akan menjaga Tuanmu. Sebelum melindungi Tuanmu jaga dirimu,” mengikat cukup keras kain ditangan Mugo.

Perkataan Maya menyentuh hatinya “Terima kasih Nona, yang kamu katakan benar.”

“Tentu saja.”

“Tunggu sampai Khara pulih nanti kita susun rencana tapi sebelum itu kita harus pergi dari sini sebelum mereka yang menemukan lokasi kita.”

“Tempat ini tidak aman.”

“Guru bagaimana kalau mereka kita bawa ke apartment ?”

“Apartment terlalu mencolok.”

“Vila tempat kita sebelumnya menginap jauh dari kota dan tidak banyak orang yang tau.”

“Kakek rasa tempat itu cocok.”

“Kalau begitu kita harus segera berangkat.”

“Kak Maya bawa mereka bersamamu.”

“Lalu kamu ?”

“Ada hal yang harus aku urus sebelum pergi dari sini.”

“Biarkan saja dia,” menarik Maya.

“Tapi ??” terus melihat kebelakang.

Feli diam-diam masuk ke markas Khara yang sudah hancur “Tidak ada yang tersisa.”

“Dia ingin menguasai pulau barak dengan cara seperti ini lalu apa yang akan ia gunakan nanti?” melihat pulau barak sudah berantakan.

“Mirip pembuangan mayat,” mayat berserakan di setiap jalan.

“Siapa kou ?” menodongkan senjata.

Feli mengangkat tangan “Manusia yang hanya lewat.”

“Berani sekali,” bersiap memukul namun Feli menghajarnya lebih dulu.

“Hanya segelintir orang mau melawanku gak level,” sombongnya Feli berhasil menghajar setiap orang yang menghalanginya.

Tidak sengaja Feli menginjak sesuatu “Apa ini ?” membukanya.

“Berlian merah yang sangat cantik, tunggu apa ini …” didalam berlian itu terukir namanya.

“Hey siapa disana !!”

“Hah mengganggu saja,” berlari menjauh.

Feli bersembunyi di pohon rindang dekat restoran “Makanan di restoran itu sangat enak menyayangkan sekarang sudah tidak ada lagi.”

“Semoga mereka berhasil pergi,” baru saja Feli berbicara dia mendengar pertarungan di pelabuhan masuk pulau barak.

Feli segera kesana mengecek situasi “Serahkan dia pada kami jika kalian ingin selamat.”

“Ah usiaku sudah tua tidak bisa melawan mereka sebanyak itu.”

“Kakek …”

“Feli bantu aku urus mereka.”

“Kalian cepat pergi urusan mereka serahkan padaku.”

“Kamu berhati-hatilah !”

Khara sempat sadar melihat Feli bertarung “Annya …” suaranya semakin lemah.

“Huh jumlah mereka terlalu banyak,” tombak digunakan menopang tubuhnya yang sudah lelah.

“Bisa istirahat dulu sebentar,” pinta Feli namun mereka malah menyerangnya.

“BERHENTI !!!”

“Tuan Ray,” anak buahnya memberi hormat.

“Apa kalian buta hah !!”

“Ampun Tuan.”

“Bos sudah memberitahu kalian untuk tidak menyerang Feli !!!”

“Dia hanya seorang pria muda Tuan.”

“Buka mata kalian lebar-lebar siapa dia !!”

“Nyonya Muda,” langsung memberi hormat.

“Eh jangan sembarangan panggil.”

“Maaf aku terlambat.”

“Bagaimana kamu tau aku disini ?”

“Bos masih bersama Nona Hera jadi dia memintaku datang membantu Nona Feli.”

“Oh begitu ternyata.”

“Aku kira dia lupa.”

“Mana mungkin Bos melupakan janjinya.”

“Perkataanmu itu seakan tau hubunganku dengannya.”

“Annya ?”

“Eeeh kamu ???”

“Kali ini aku akan menjagamu !” berlutut.

“Kalian sudah gila yah ? sudahlah aku masih ada urusan lain. Oh iya suruh mereka mundur, tenagaku sudah terkuras menghajar mereka.”

“Dan satu lagi jangan panggil Annya namaku Feli !” tegas Feli.

“Benarkah dia Feli bukan Annya ?” Raymond bengong.

Selesai melakukan tugas Raymond kembali ke mansion.

“Ray ?” Nina memanggil namanya.

“Dia tidak mendengarnya.”

“Ray ?” memanggil kembali.

“Ada apa dengan dia ?”

“Mustahil dia Feli pasti Annya banyak sekali persamaannya,” melamun sambil berjalan.

Menabrak Hera “Perhatikan jalanmu !”

“Hah ?”

“Jangan khawatir Shan aku pasti menyelesaikannya secepat mungkin,” ucap Hera naik ke mobilnya.

“Dari tadi gue manggil nama loe.”

“Sorry gue gak fokus,” mengacuhkan Nina.

“Dia kesambet kali yah,” Nina mendekatinya.

Mobil Hera sudah tidak terlihat lagi, Shankara bertanya “Bagaimana situasi disana ?”

“Bos menurutmu dia Annya atau Feli ?”

“Kenapa bertanya tentang dia ?”

“Ada yang aneh, sorot matanya mengatakan dia Annya tapi mulutnya berkata dia Feli.”

“Jangan terlalu dipikirkan saat ini kita ada tugas yang harus diselesaikan. Kalian ikut keruang kerjaku !”

“Baik Bos.”

“Mereka semua adalah para pemberontak,” memperlihatkan data yang di buat Hera tadi.

“Mereka semua orang kita Bos tapi bagaimana bisa ? selain itu Dikro, Ciptro dan Clone orang yang paling tunduk dengan Bos ?”

“Ada orang yang menghasut mereka.”

“Siapa orang itu ?” Raymond mengepal tangannya.

“Kekuatannya mungkin sebanding denganku atau mungkin melebihi ku.”

“Hanya satu orang yang saat ini kekuatan dan kekuasan nya sebanding dengan Bos.”

“Siapa ?” Raymond dan Nina menunggu jawaban Dika.

“Hera.”

“Mana mungkin dia kan cinta mati sama Bos sampai Annya disingkirkannya.”

“Dia bukan hanya menginginkanku tapi kekuasan ku juga.”

“Cara yang dia lakukan bisa saja menyakiti Bos.”

“Definisi cinta yang tidak boleh dimiliki orang lain yaitu membunuhnya.”

“Menurutku tidak seperti itu …”

“Lalu ?”

“Tujuan yang sesungguhnya adalah menguasai dunia ini.”

“Salut sama tuh cewek tapi caranya bikin senam jantung.”

“Bos juga melakukan hal yang sama namun bedanya Bos hanya akan memberi pelajar untuk orang yang pantas sedangkan Hera membantai orang tidak bersalah dan berdosa.”

“Penasaran dari mana dia mendapat kekuatan sebesar itu ? apa mungkin dia menggunakan ilmu hitam ?”

“Bisa jadi.”

“Dunia ini logis mana ada ilmu hitam,” sela Raymond.

“Jika orang sudah terbuai keindahan dunia tidak ada yang tidak mungkin, mereka bisa melakukan apapun demi mewujudkan keinginannya. Semua orang bisa dia korbankan tidak peduli walau itu nyawa orang yang tidak bersalah.”

“Yang dikatakan Bos benar, seseorang bisa serakah dan tidak puas dengan apa yang didapatkannya karena itu ambisinya semakin kuat.”

“Hal apa yang menjadikan Hera seperti sekarang ?”

“Hanya ada dua jawaban, pertama karena luka dan kedua karena dia terlahir dengan sifat itu.”

“Jadi pertama atau kedua ?”

“Kita akan tau setelah Feli berhasil.”

“Maksud Bos ?”

“Dia sekarang sedang mencari penyebab Hera menyerang pulau barak.”

“Bos sejak kapan berkomunikasi dengannya ?”

“Sejak Hera ingin mengambil daerah kekuasan ku.”

“Oh …”

“Untungnya mereka tidak paham soal aku dan Feli,” Shankara hampir saja membeberkan kalau dirinya sekarang sudah bersama Feli.

“Ray kamu sudah mendapatkan informasinya ?”

“Tentang Feli, tidak ada informasi keluarga ataupun dari mana asalnya.”

“Dia jauh lebih pintar sekarang,” diam-diam Shankara tersenyum bangga.

“Bos mereka mungkin berniat menyerang ?”

“Bisa jadi, karena itu Dika dan Raymond awasi pergerakan mereka.”

“Dan Nina awasi setiap gerakan Hera.”

“Baik Bos.”

“Bos mau kemana ?”

“Ada sesuatu yang harus diurus. Pastikan setiap penjaga di mansion tidak lengah !”

“Iya Bos.”

“Menurut kalian kemana Bos pergi.”

“Bukan urusan kita,” untungnya Raymond mencegah kekepoan Nina.

Shankara menyusul Feli ke pulau barak “Dimana dia sekarang ? penjaga di pulau barak sangat ketat.”

“Nongkrong disini kurang nyaman.”

Shankara replek mengarahkan pisau belati ke leher Feli “Dalam kegelapan memang aku tidak terlihat,” memegang tangan Shankara perlahan menurunkan pisau itu.

“Huh hampir saja niat mengejutkan bisa berakhir nyawa melayang,” batin Feli segera mengambil belati itu.

“Sejak kapan kamu disini ?”

“Baru mau pulang tidak sengaja melihatmu disini aku kira siapa ternyata suamiku.”

Tersenyum mendengar Feli menyebutnya dengan kata Suami “Tadi kamu panggil aku apa ?”

“Shankara,” Feli malu.

“Tidak bukan itu.”

“Lalu apa ?”

Shankara mengejar Feli “Katakan sekali lagi aku mohon,” membujuk dengan rayuan maut.

“Tidak.”

“Babe ?” menggoyang-goyang tangan Feli.

“Cepat kita harus pergi sebelum ada yang tau kita disini.”

“Babe …”

“Naik motor atau mobil ?”

Mengedipkan matanya berharap Feli luluh mengulangi perkataannya “Sudahlah…” Feli tidak kuat melihat tingkah imut Shankara.

“Suamiku kita pulang mau naik mobilmu atau motorku ?”

Wajah Shankara memerah karena tersipu “Naik motor,” mengambil kunci dari tangan Feli.

“Nanti aku suruh Dika mengambil mobilku,” memasang helm Feli.

“Mana ada Mafia sepertimu terlalu manis,” puji Feli tersenyum.

Sebelum Feli naik Shankara mengecup lembut bibirnya “Terima kasih,” sekarang gantian Feli yang tersipu.

“Kemana kita pergi ?”

“Vila tempatku menginap,” naik motor.

Shankara menarik tangan Feli untuk memegang erat dirinya, di spion Shankara melihat jelas Feli tersenyum.

Di Vila semua orang menunggu Feli kembali “Sudah lama kenapa belum kembali ?” Maya cemas.

Suara motor berhenti di depan vila, Maya berlari untuk melihatnya “Dengan siapa Feli datang?”

“Siapa yang datang ?”

“Feli tapi dia datang bersama seseorang.”

“Siapa ?”

“Entahlah guru aku tidak bisa melihat jelas.”

“Akhirnya kamu kembali juga.”

“Bagaimana keadaan Khara ?”

“Jauh lebih baik namun masih belum bangun.”

“Tidak apa setelah besok pagi dia pasti baik-baik saja.”

“Nona Feli, ini …” memberikan kantong berwarna hijau.

“Apa ini ?” membuka nya.

“Babe dimana aku harus menyimpan nya ….”

“Shankara ?”

“Bos Mafia ?” Mugo mengeluarkan pistol.

“Turunkan senjata kalian dia di pihak kita.”

“Orang-orang yang menyerang pulau kami adalah anak buahnya, dia pasti bersekongkol dengan wanita licik itu.”

“Itu sebagian dari rencanaku, apa kou meragukan ku ?”

Mugo menunduk “Aku tidak berani.”

“Kharismanya,” Shankara mendapat kejutan besar melihat sikap dingin dan tegas Feli berbeda dari sebelumnya.

“Kak Maya ?” nada dingin Feli menegur Maya yang terus menatap Shankara penuh amarah.

Feli langsung memalingkan wajah ketika berjalan di dekat Shankara “Awas saja kalau Feli terluka lagi aku gak takut meski kamu seorang Bos Mafia yang terkenal kejam, Feli satu-satunya adik kesayanganku.”

“Itu tidak akan terulang kembali.”

“Baguslah pegang janjimu !” ancamnya.

Memeriksa Khara “Racunnya sudah sepenuhnya hilang, denyut nadinya sudah kembali normal.”

Feli hendak berdiri tapi Khara menahannya “Annya …”

“Panggil aku Feli.”

“Terima kasih sudah datang menyelamatkanku.”

“Istirahatlah jangan banyak bergerak,” melepas pelan tangan Khara.

“Alasan …” Shankara cemburu.

Maya yang menyadari Shankara cemburu tidak kuasa menahan tawa “Seorang mafia besar cemburunya lucu yah hahahaha …”

1
Yaniee.25
/Slight/
Chimer02609
wokey 👌
Azαzel
mampir juga thor😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!