Bara, pelaut rasional, terdampar tanpa koordinat setelah badai brutal. Menjadi Musafir yang Terdampar, ia diuji oleh Syeikh Tua yang misterius: "Kau simpan laut di dadamu."
Bara menulis Janji Terpahit di Buku Doa Musafir, memprioritaskan penyembuhan Luka Sunyi keluarganya. Ribuan kilometer jauhnya, Rina merasakan Divine Echo, termasuk Mukjizat Kata "Ayah" dari putranya.
Bara pulang trauma. Tubuh ditemukan, jiwa terdampar. Dapatkah Buku Doa, yang mengungkap kecocokan kronologi doa dengan keajaiban di rumah, menyembuhkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 TUBUH YANG DITEMUKAN: AKHIR DARI KEHENINGAN PULAU
Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan panjang yang meluncur di atas permukaan laut yang tenang namun bergerak cepat. Bara masih mendekap puing lambung kapal KM Harapan Jaya itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Kayu yang sudah ditumbuhi teritip tajam itu kini menjadi satu-satunya tumpuan hidupnya setelah ia meninggalkan Tongkat Musafir tertancap di pulau karang sebagai monumen tawakalnya. Ia merasakan Arus Takdir masih menariknya dengan konsisten ke arah Timur Laut, mengantarkannya tepat ke jalur perlintasan besi-besi raksasa samudera.
Bara merogoh saku bajunya, memastikan Peta Navigasi Laut yang ia temukan di dasar tas punggungnya masih ada di sana. Dengan gerakan perlahan, ia memindahkan peta itu ke saku yang lebih kering di bagian dalam dadanya, tepat di atas Buku Doa Musafir yang telah ia tulis dengan darah jemarinya sebagai bukti ikhlas tertinggi. Ia kemudian mengambil Tas Punggung yang basah itu, lalu mengikatkan talinya kuat-kuat pada sebuah besi menonjol di puing lambung kapal.
"Jika aku tidak sampai, setidaknya tas ini harus sampai," bisik Bara dengan bibir yang terus bergetar.
Ia menatap sisa-sisa cat yang terkelupas pada lambung kapal itu. Identitas kapal tempatnya bekerja terpampang nyata, menjadi saksi bisu atas badai besar yang dulu memisahkan dirinya dari dunia luar. Puing ini bukan sekadar kayu mati; baginya, ini adalah jembatan logis yang dikembalikan oleh laut untuk mengakhiri masa sunyi spiritualnya.
"Kau melihatnya juga, Ayah?" seolah-olah suara Arka yang masih samar dalam ingatannya memanggil dari kejauhan.
"Iya, Nak. Laut sudah menyerahkannya kembali," jawab Bara seraya memejamkan mata, membiarkan wajahnya yang tirus diterpa angin laut yang membawa aroma solar dari kejauhan.
Bara menyadari bahwa perjalanan sunyinya telah berubah fase. Ia tidak lagi berada di "Titik Nol" yang statis di pulau karang. Ia kini sedang meluncur menuju kebisingan yang ia takuti sekaligus ia rindukan. Kapal-kapal kargo mulai terlihat melintas di ufuk, cerobong asapnya meninggalkan garis-garis hitam di langit senja. Sesuai dengan koordinat pada peta navigasi, ia kini berada di jalur pelayaran utama.
Gema yang Memudar di Ruang Tengah
Di waktu yang bersamaan, ribuan kilometer dari posisi Bara, Rina baru saja meletakkan mukenanya setelah menunaikan salat Maghrib. Ia duduk terdiam di atas sajadah, menunggu datangnya Gema Tenang yang biasanya menyelimuti hatinya setiap kali ia selesai berdoa. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ruang tengah rumahnya terasa hampa. Kehangatan yang biasanya muncul—aroma parfum Bara yang samar atau rasa dingin yang menenangkan—tiba-tiba menghilang.
"Kenapa sepi sekali?" gumam Rina sambil menoleh ke arah sudut ruangan.
Ia biasanya merasakan kehadiran spiritual yang kuat di rumah itu, sebuah "keheningan yang bicara" yang selama ini melindunginya dari keputusasaan. Namun sekarang, keheningan itu terasa hampa dan mati. Bukan sunyi yang damai, melainkan sunyi yang tegang, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang menahan napas sebelum menerjang masuk.
"Mala, Arka, kalian di mana?" panggil Rina dengan suara yang sedikit bergetar.
Nirmala muncul dari arah dapur dengan wajah yang tampak cemas. Ia tidak membawa buku gambarnya seperti biasa. Tangan kecilnya memegang erat pinggiran kemejanya.
"Bu, kenapa hatiku rasanya berisik?" tanya Mala pelan.
"Berisik bagaimana, Sayang? Tidak ada suara apa-apa di sini," jawab Rina, meski ia sendiri merasakan dadanya sesak oleh ketidakpastian.
"Bukan suara telinga, Bu. Tapi di sini," Mala menunjuk dadanya sendiri. "Rasanya seperti ada orang yang mau teriak, tapi tidak jadi."
Rina memeluk putrinya erat-erat. Ia menyadari bahwa kedamaian spiritual yang selama ini mereka rebut melalui tawakal sedang diuji oleh realitas yang akan segera datang. Mala yang biasanya sudah mencapai titik tenang, kini kembali gelisah.
"Sst, tenang ya. Mungkin Ayah sedang berjuang di sana," bisik Rina, meski hatinya sendiri mulai diserbu oleh rasa takut yang logis.
Indikator yang Bergetar
Arka, yang berada di dekat meja telepon, tiba-tiba mulai berputar-putar di tempatnya. Gerakannya tidak seirama seperti biasanya saat ia merespons energi positif. Kali ini, ia tampak bingung dan tertekan. Matanya menatap lurus ke arah Kompas Biru Tua peninggalan Bara yang tergeletak di atas meja.
Jarum kompas itu, yang selama berbulan-bulan hanya menunjuk ke satu arah statis, kini bergetar hebat. Jarumnya berputar liar sebelum akhirnya bergetar samar ke arah Timur Laut. Arka mendekati meja itu, lalu menunjuk ke arah ponsel Rina yang terletak di samping kompas.
"Ay... Ay..." Arka mencoba mengeluarkan suara, namun berakhir dengan tangisan bingung.
"Arka? Ada apa, Nak?" Rina mendekati putranya.
Tepat saat Rina hendak menggendong Arka, layar ponselnya menyala. Sebuah getaran pendek muncul, menandakan sebuah notifikasi pesan masuk. Arka mundur selangkah, menutupi telinganya seolah-olah getaran ponsel itu adalah suara ledakan yang sangat keras. Bagi Arka, notifikasi itu adalah kebisingan pertama yang menghancurkan perlindungan spiritual rumah mereka.
"Siapa yang mengirim pesan jam segini?" tanya Rina pada dirinya sendiri.
Tangannya gemetar saat meraih ponsel itu. Ia melihat sebuah notifikasi berita singkat dari aplikasi berita maritim yang ia ikuti sejak kepergian Bara. Judul berita itu tercetak tebal, seolah-olah sedang berteriak di depan matanya.
Headline: "Puing Lambung Kapal Kargo KM Harapan Jaya Ditemukan di Jalur Pelayaran Timur Laut: Kasus Pencarian Dibuka Kembali."
Rina merasakan seluruh persendiannya melemas. Ia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh. Janji terpahit dunia yang selama ini ia tolak—kenyataan tentang kecelakaan kapal itu—kini kembali mengetuk pintunya. Namun kali ini, ada sesuatu yang lebih dari sekadar bangkai kapal. Ada sebuah harapan yang berbalut kecemasan luar biasa.
"Bu, itu berita tentang Ayah?" tanya Mala yang sudah berdiri di sampingnya.
"Iya, Mala. Mereka menemukan kapal Ayah," jawab Rina dengan suara yang nyaris hilang.
Di tengah laut yang mulai berubah warna menjadi abu-abu logam, sebuah kapal pengawas maritim bernama Cakra Jaladri sedang melakukan patroli rutin. Di anjungan, Kapten Hadi mengamati radar dengan dahi berkerut. Jalur Timur Laut biasanya tenang, namun laporan mengenai adanya benda terapung berukuran besar membuatnya harus mengubah haluan. Melalui teropong binokularnya, ia melihat sesuatu yang tak lazim—sebuah bongkahan kayu dan logam yang ditarik oleh arus dengan kecepatan yang melampaui logika hidrodinamika.
"Itu bukan sekadar sampah laut," gumam Kapten Hadi kepada mualim di sampingnya. "Lihat bagaimana benda itu membelah ombak. Seolah ada mesin yang menariknya."
"Mungkin sisa kontainer, Kapten?" tanya mualim itu ragu.
"Dekati objek itu. Siapkan tim sekoci," perintah Kapten Hadi tegas.
Saat jarak semakin menyempit, lampu sorot kapal pengawas itu membelah keremangan senja. Sinar putihnya menghantam permukaan lambung kapal yang terombang-ambing. Kapten Hadi tersentak saat membaca potongan huruf yang tersisa. Ia segera merogoh catatan lama di sakunya.
"KM Harapan Jaya," bisiknya tak percaya. "Kapal yang dinyatakan hilang ditelan badai berbulan-bulan lalu. Bagaimana mungkin puing ini muncul sekarang?"
Namun, kejutan sesungguhnya bukan pada puing itu. Di atas potongan lambung yang miring, mereka melihat seorang manusia. Tubuhnya sangat kurus, hampir menyerupai kerangka yang dibungkus kulit gelap terbakar matahari. Pria itu tidak melambai. Ia tidak berteriak. Ia hanya duduk bersila, mendekap sebuah tas punggung hitam dengan tangan yang gemetar.
Evakuasi dan Jeritan Terakhir
Bara merasakan silau yang menusuk matanya. Ia mendengar suara mesin besar yang menderu, memecah kesunyian yang selama ini menjadi sahabatnya. Dunia luar telah menemukannya. Ia melihat sekoci mendekat, dan beberapa pria berseragam mulai melompat ke arah puing tempat ia berada.
"Tenang, Pak! Kami di sini untuk menolong!" teriak salah satu petugas sambil mencoba meraih lengan Bara.
"Jangan... jangan sentuh dulu," suara Bara terdengar sangat serak, seperti gesekan amplas di atas kayu kering.
"Bapak sangat lemah. Mari, biarkan kami membawa Bapak ke kapal," petugas itu mencoba memaksa.
Saat mereka mulai mengangkat tubuh Bara yang ringan, tas punggung yang ia ikat kuat-kuat pada besi lambung kapal nyaris tertinggal. Bara mendadak memberontak dengan kekuatan yang tidak terduga. Ia mencengkeram besi itu, matanya melotot tajam ke arah tas yang basah dan kusam tersebut.
"Tas itu! Ambil tas itu!" teriak Bara dengan suara parau yang menyakitkan telinga.
"Pak, nyawa Bapak lebih penting sekarang!" seru petugas lainnya.
"Di dalam sana... ada doanya! Jangan buang bukunya!" jerit Bara, air matanya tumpah membasahi pipinya yang cekung. "Ambil tas itu atau aku tidak akan ikut!"
Petugas yang tertegun melihat kegigihan pria itu akhirnya memotong tali pengikat dan menyampirkan tas tersebut di pundaknya. Begitu tas itu berada dalam jangkauan tangannya, Bara langsung mendekapnya erat-erat, seolah-olah seluruh sisa nyawanya tersimpan di balik kain tas yang sudah mulai robek itu. Ia pun jatuh pingsan di atas sekoci, tepat saat tubuhnya diangkat menjauh dari puing yang selama ini membawanya pulang.
Kebisingan yang Menyerbu Rumah
Di rumah, suasana tenang yang selama ini dibangun Rina hancur dalam sekejap. Setelah notifikasi berita pertama itu muncul, ponselnya seolah tidak berhenti bergetar. Getaran itu terasa seperti serangan fisik bagi Arka yang mulai menangis histeris di pojok ruangan. Mala hanya berdiri diam, menatap ponsel ibunya yang terus menyala-nyala di atas meja kayu.
"Kenapa mereka terus menelepon, Bu?" suara Mala bergetar hebat.
"Ibu tidak tahu, Sayang. Mungkin teman-teman Ayah," jawab Rina sambil mencoba menenangkan Arka, meski tangannya sendiri tidak berhenti gemetar.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar keras. Itu bukan ketukan pelan yang biasa dilakukan tetangga. Itu adalah ketukan yang menuntut jawaban segera. Rina melangkah menuju pintu, membukanya sedikit, dan menemukan Bunda Ida berdiri di sana dengan wajah yang pucat pasi, menggenggam tablet digital di tangannya.
"Rina! Kau sudah lihat beritanya?" tanya Bunda Ida tanpa salam.
"Sudah, Bu. Mereka menemukan puing kapal," jawab Rina datar, mencoba mempertahankan sisa tawakalnya.
"Bukan cuma puingnya, Rina! Lihat ini!" Bunda Ida menyodorkan layar tabletnya.
Di sana, sebuah foto amatir yang diambil dari kapal pengawas memperlihatkan siluet seorang pria kurus yang sedang diangkat ke atas sekoci. Meski wajahnya tidak terlihat jelas, Rina mengenali bentuk bahu itu. Ia mengenali cara pria itu mendekap tas punggungnya—sebuah tas yang ia sendiri yang membelikannya sebelum Bara berangkat.
"Bara..." Rina menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ada rumor di pelabuhan kalau penyintas itu dalam kondisi kritis. Kau harus segera menghubungi Harjo. Kita perlu tahu status asuransinya jika—"
"Berhenti, Bu!" potong Rina dengan nada tinggi yang jarang ia gunakan. "Ayah hidup. Itu saja yang penting sekarang. Jangan bicara soal asuransi atau kematian lagi!"
Bunda Ida terdiam, namun matanya tetap memancarkan keraguan yang menyakitkan. Di saat yang sama, telepon rumah berdering nyaring, suaranya melengking menembus setiap sudut rumah, mengakhiri keheningan spiritual yang selama ini menjadi pelindung mereka. Kebisingan dunia telah benar-benar masuk, membawa serta harapan yang bercampur dengan ketakutan akan luka yang lebih dalam.
Rina menatap pesawat telepon itu dengan perasaan berkecamuk. Ia tahu, saat ia mengangkat gagang telepon itu nanti, masa sunyinya akan berakhir, dan ia harus menghadapi kenyataan logis yang mungkin jauh lebih berat daripada masa-masa penantiannya.