Aku masih perawan, itu yang di katakan Maudy ketika akhirnya Ia tau kalau suaminya selama ini mencoba menghindarinya karena kepercayaan turun temurun dari keluarga suaminya itu.
Pada saat resepsi pernikahan mereka entah karena apa, ada beberapa kembang mayang yang tiba-tiba mengering, dan itu membuatnya mendapat hinaan karena di percaya sudah tidak segel lagi.
Maudy yang mengira kalau suaminya menghindarinya karena memang tidak ada cinta, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Hingga akhirnya Ia tau alasan suaminya itu diam padanya selama berbulan-bulan. Yuk mampir di karya author remangan, jangan lupa bagi like komennya ya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Mulai berpikir hal yang aneh
...----------------...
Susan berlari di koridor rumah sakit, Ia langsung pergi ketika mendapat kabar dari orang yang menolong Ibunya kalau sang Ibu mengalami kecelakaan dan di larikan ke rumah sakit.
Setelah bertanya dimana ruangan Ibunya dirawat, Susan kembali menyelusuri lorong mencari kamar yang di maksud. Ia berdiri di depan pintu sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan itu.
Susan berderap ke sisi ranjang pasien dimana Ibunya sedang terbaring disana, Susan langsung bertanya pada perawat yang sedang memeriksa Sisilia mengenai kondisi Ibunya, Ia bersyukur karena luka yang di alami Ibunya tidak terlalu parah.
Sisilia membuka mata perlahan dan yang pertama kali Ia lihat adalah ruangan serbah putih dan juga aroma obat-obatan yang menyeruak do rongga indra penciuman nya. Ia juga melihat Putrinya sedang tertidur sambil menggenggam tangannya. Ia mengelus kepala Putrinya itu, satu-satunya harta yang paling berharga yang Ia miliki selama ini.
" I-ibu. "
Susan merasa ada yang menyentuh kepalanya dan Ia pun mendongak, benar saja. Itu adalah Ibunya.
" Ibu sudah sadar, syukurlah. Ibu mau apa, Susan ambilkan minum ya. "
Sisilia hanya mengangguk sembari ekor matanya mengikuti kemana langkah Putrinya itu.
Di tempat lain
Di antar Bunda Ayu, Maudy mendatangi yayasan tempat Ia mengajar yang baru. Yayasan yang juga masih milik keluarga Wijaya dan jaraknya pun tidak jauh dari kediaman keluarga besar mereka, hanya membutuhkan waktu lima belas menit kalau berkendara.
Sementara Susan, Ia berniat menemui Gibran namun di larang oleh sahabatnya yang kebetulan datang menjenguk Ibunya di rumah sakit.
" Aku harus menemui Gibran sekarang Wina, aku harus mengatakan bagaimana kondisi ku sekarang. " Ucap Susan.
Wina menatap Sisilia lalu kemudian mengajak Susan keluar dari ruangan tempat Ibunya itu di rawat, Ia tidak mau Ibu dari sahabatnya itu mendengar perbincangan mereka.
Susan awalnya menolak namun Wina memberi kode mengenai keberadaan Ibunya. Akhirnya mereka pamit keluar sebentar, sampai di luar mereka duduk di luar tunggu yang kebetulan sepi.
" Susan, aku pikir sekarang bukan waktu yang tepat bagi kamu untuk mengatakan kondisi mu padanya. "
Susan menatap wajah salah satu sahabatnya yang lumayan dekat, Ia punya banyak teman tapi Wina lah yang paling dekat dengan nya.
" Tapi kenapa Wina, bukankah kami sudah pernah melakukan itu. Aku pikir tidak ada yang salah kalau saat ini aku mengatakan hal itu padanya. "
" Susan, ingat. Kalian melakukan itu baru dua minggu yang lalu sedangkan......... kamu pikir saja sendiri. Apa yang akan dia dan keluarganya pikirkan mengenai kamu, saran ku sih tunggulah paling tidak satu bulan atau mungkin lebih itu menurut ku lebih baik. "
Sampai di rumahnya, Susan masih kepikiran dengan apa yang di katakan Wina padanya.
" Kamu juga harus bisa mengendalikan emosi mu, jangan sampai mempengaruhi kesehatan mu. Ini juga demi kamu, untuk mendapatkan semua yang kamu inginkan kamu harus tenang. "
Susan menghirup udara sebanyak-banyaknya dari hidungnya dan menghembuskannya melalui mulutnya dan itu Ia lakukan berulang-ulang.
***
Sisilia akhirnya di ijinkan pulang setelah dua hari di rawat, Susan menjemput Ibunya di rumah sakit. Ia tidak sendiri melainkan bersama seorang wanita yang sebelumnya sudah berbaik hati mengantarkan Sisilia ke rumah sakit.
" Nak, tidakkah kamu pertimbangkan keputusan mu itu. Pulang dan tinggallah bersama Ibu, Ibu juga kesepian di rumah. "
" Ibu, aku rasa ini tidak perlu kita bahas lagi. Lagipula bukankah di rumah ada Bi Surti, Bi Narti ada Om Doni dan Om Daru, ada juga Mang Karjo dan juga sama Mbak Wulan. "
Susan menatap wanita yang duduk di kursi paling belakang.
" Ibu tidak benar-benar sendiri, soal aku- aku janji akan baik- baik saja setelah ini. Aku tidak akan membuat Ibu susah apalagi khawatir. "
Sisilia hanya menghela nafas, Ia tau bagaimana watak anaknya itu, memang sedikit keras kepala sama seperti dirinya dulu.
Susan mengantarkan Ibunya sampai ke kediaman mereka namun tidak tinggal lama, Ia langsung berpamitan kembali pada Sisilia dan juga tak lupa menitipkan Ibunya pada asisten rumah tangga, satpam dan juga dua orang Pria yang sudah begitu di percaya oleh keluarga itu.
Kembali ke kediaman Wijaya.
Sudah dua bulan berlalu, Bunda Ayu selalu merasa sedih setiap kali melihat Maudy. Ia selalu terlihat baik- baik saja. Tidak akan ada yang mengira kalau pernikahan mereka bermasalah, termasuk Bunda Ayu. Andai beliau tidak melihat secara langsung surat perjanjian yang di buat Putranya, Ia pasti sudah tertipu dengan sikap romantis keduanya ketika berada di depannya atau di depan keluarga besarnya atau juga orang-orang luar yang melihatnya.
Bunda Ayu masih memikirkan cara yang ampuh agar surat perjanjian itu di batalkan.
" Gibran, minggu ini ada acara di rumah Tante Sarah. Tante Sarah mengundang kita semua untuk hadir disana, Bunda hanya minta kamu buat kosongkan agenda mu satu atau dua hari. Tidak nyaman juga kalau kita tidak datang, adik mu juga sudah Bunda kabari dan dia juga akan usahakan untuk pulang. Bayu juga, dia bahkan sudah mengosongkan waktunya jauh- jauh hari. "
Gibran mengangguk pelan dan mulai menikmati sarapan yang ada di depannya, tiba-tiba Ia mendengar sebuah notif di ponselnya. Gibran segera membaca pesan yang masuk di aplikasi hijaunya itu yang Ia sudah tau siapa pengirimnya.
" Sayang, bisakah kita bertemu siang ini. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu dan ini sangat penting. "
" Ada apa Nak. " Tanya Bunda Ayu yang tiba-tiba sudah berada tepat di belakangnya.
" Ah..... bukan apa-apa Bunda. Ini pesan dari Arga, katanya ada pertemuan penting pagi ini. Oh ya Bunda seperti nya Gibran harus berangkat sekarang, Gibran berangkat dulu ya Bunda. "
Gibran sedikit salah tingkah ketika Ia hampir saja kepergok oleh Bundanya, selera makannya langsung hilang. Ia pun langsung berpamitan.
Maudy buru-buru menyudahi sarapannya, Ia pun ikut berdiri untuk mengantarkan keberangkatan suaminya itu.
" Maudy ke depan dulu ya Bunda. "
Bunda Ayu hanya mengangguk lalu menyudahi sarapannya, Ia meraih gelasnya dan meneguk air di dalamnya.
" Mas hati- hati di jalan ya. " Pesan Maudy sembari mencium punggung tangan suaminya.
Gibran berdiri mematung melihat apa yang Maudy lakukan padanya, Ia baru tersadar setelah Maudy menegurnya.
" Mas, hallo. Mas...... hei, bukankah mas harus segera berangkat sekarang, kok bengong. "
Lagi-lagi Gibran tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Parkiran rumahnya, Ia menghela nafas berat. Bisa- bisanya Ia berpikir hal yang aneh ketika melihat istrinya, meskipun itu tidak salah. Ia punya hak untuk melakukan nya namun bukan untuk saat ini.
......................