Inilah adalah jilid kedua untuk novel SULTAN UDIN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L-viie Ann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPA SEBENARNYA?
Udin datang kekediaman Miela untuk menemui Latuluna. Ia tidak tahu jika sebenarnya Latuluna sudah kembali ke pulau khatulistiwa.
Dengan memakai pakaian yang lebih formal, Udin akan melamar dan menikahi Prilly .
Kehadiran nya disambut oleh pembantu di rumah tersebut. Perempuan paruh baya itu mengatakan jika Miela tidak ada di rumah, karena pergi mengantar Latuluna ke Bandara.
Udin terhenyak kaget,
" Jadi Tante Luna sudah kembali, Lalu Prilly ? " Udin merasa takut sekali jika kekasihnya juga pergi tanpa pamit.
" Nona Prilly ada, dia tidak ikut"
Huffff
Udin mengurut dadanya, ia lega mengetahui hal tersebut.
" Boleh saya menemui nya Bik" Pinta Udin sopan.
" Silahkan masuk "
Udin pun masuk lalu duduk di ruang tamu, sementara pembantu itu memanggil Prilly di kamar nya.
Nyai Roro Demit yang berada di dalam tubuh Prilly merasa ini adalah kesempatan bagus. Ia menyuruh pembantu nya untuk memanggil Udin ke kamar.
" Baik Non "
Meskipun ragu, pembantu itu tetap melaksanakan perintah majikan. Ia memanggil Udin untuk mendatangi Prilly ke kamar nya.
Udin mengangguk setuju, ia jadi malu kepada pembantu itu.
Udin masuk karena pintu kamar sedikit terbuka, dan begitu terkejutnya Udin melihat pemandangan di dalamnya.
Prilly berdiri memunggungi dengan memakai baju dinas yang sangat ****. Air liur seketika itu langsung mencair.
Prilly menoleh sambil tersenyum manja.
" Apakah kamu akan terus berdiri di situ ? "
Udin jadi gelagapan, ia menutup pintu di belakang punggung nya. Lalu mendekati Prilly , keduanya berdiri merapatkan badan.
" Kenapa? " Udin memegang dua pinggul yang sedikit terbuka itu, sedangkan Prilly mengalungkan tangannya di leher Udin.
" Darahku mendidih saat mendengar mu datang, aku gerah " Jawab Prilly disertai ******* menggoda.
Udin menghirup wangi tubuh Prilly yang menantang, secara naluriah Udin mendekat kan wajahnya ingin menikmati wangi itu lebih banyak.
Prilly pun bergerak maju secara perlahan.
Tiba-tiba Udin melonjak kaget karena kakinya digigit oleh Selasih . Otomatis ia refleks menendang Selasih hingga menghantam dinding.
Pinky tidak tinggal diam, ia menyalak kuat. Udin merasa ini aneh, tidak biasanya dua hewan itu bersikap liar kepadanya.
" DIAM! " Prilly membentak Pinky, anjing mungil itu langsung diam, ia mundur mendekati Selasih yang mengalami luka dalam.
Udin sedikit kaget dengan bentakan Prilly , ini tidak seperti biasanya. Prilly tidak pernah meninggikan suaranya, ia gadis yang memiliki attitude baik.
" Kamu tidak apa-apa sayang?"
Sekali lagi Udin merasa aneh, Prilly tidak pernah memanggil nya dengan kalimat tersebut.
Apa yang terjadi? Udin diam, ia konsentrasi. Berusaha melihat apa yang terjadi dibalik itu, tapi Udin tidak menemukan apapun.
" Kamu kenapa? "
Udin menjawab dengan gelengan kepala.
" Aku pulang dulu yah " Pinta Udin, Prilly mengernyit heran.
" Kok pulang? Kamu nggak kangen sama aku? " Suara Prilly dibuat mendayu-dayu.
" Kangen, cuma aku merasa kan sesuatu yang tidak biasa" Jawab Udin.
" Apa itu? Hemmm ?" Prilly bergelayut manja di leher Udin, tapi Udin melepaskan diri.
" Maafkan aku " Udin tersenyum tipis, ia lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Nyai Roro Demit jadi geram, ia mengalihkan perhatiannya kepada Selasih dan Pinky dengan nyalang.
" Kau! "
Nyai Roro Demit lupa jika Prilly adalah gadis buta, ia berjalan tanpa tongkat mendekati Selasih dan Pinky.
Dua hewan itu terlihat ketakutan, mereka mundur hingga tersudut.
Prilly ingin mence kik Selasih , kedua tangannya mencengkram leher hewan tersebut.
" Pri "
Tiba-tiba sebuah suara menahan keinginan Prilly, rupanya Miela datang tepat waktu.
" Pri, Lo kenapa pakai baju begitu an?"
Miela mendekat, pemandangan di depan matanya begitu sangat menjijikkan. Mungkinkah sebab itu Udin pulang terburu-buru.
Prilly tidak tahu harus menjawab apa? Tapi dalam dirinya tersirat keinginan untuk membinasakan Miela.
Sepupu Prilly itu merasa ini sangat aneh, Prilly bukan tipe cewek murahan seperti itu. Apalagi ia menemukan kedua hewan kesayangan Prilly nampak ketakutan.
Kejanggalan lain, untuk pertama kalinya Miela melihat Prilly jauh dari tongkat nya. Padahal, ke kamar mandi pun Prilly membawa tongkat nya.
Miela segera mengambil tindakan, ia menggendong Pinky lalu menarik Selasih dan dibawa nya keluar dari kamar.
Entah kenapa? Miela merasa hal yang paling penting adalah menyelamatkan dua hewan itu dulu.
Prilly geram, tapi ia merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Karena keadaannya tidak memungkinkan.
Udin yang sebenarnya tidak pulang, mengamati keadaan di dalam kamar Prilly dari balik atap tetangga.
Ia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Prilly .
Setelah Miela keluar dari kamar Prilly , Udin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Prilly berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
Udin yakin, itu jelas bukan Prilly . Lalu siapa dia? Kenapa Udin tidak bisa menguak wujud dibalik tubuh Prilly .
Di tempat lain ,Naya menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Ia tidak mengijinkan Layla untuk menemani nya. Naya ingin sendiri meluapkan rasa sakit hatinya.
Ia mencaci maki sepuasnya, menjerit, menangis tanpa ada yang tahu.
Layla terpaksa menunggu di halaman samping rumah. Ia menyibukkan diri dengan membaca novel kesukaan nya.
Tiba-tiba Udin datang tidak tahu dari mana munculnya.
" Lay "
" Astaghfirullah " Layla kaget bukan main. Ia mengusap dadanya yang berdebar kencang.
" Kamu ngagetin deh Din, tiba-tiba nongol macam kuntilanak" Gerutu Layla kesal.
" Aku butuh bantuan mu, tolong ikut aku sekarang " Udin menarik tangan Layla , ia membawanya ke rumah Miela dengan menaiki sepeda motor.
Layla agak grogi, ini baru pertama kalinya Udin membonceng nya. Rasanya sangat menegangkan, secara diam-diam Layla menyukai pria itu.
Miela heran melihat Udin datang kembali, dan sekarang dia tidak sendiri.
Miela yang tengah memberi makan Pinky dan Poni di halaman, bangkit secara perlahan.
" Kok Lo balik lagi ? "
" Prilly mana ? " Udin tidak perduli dengan pertanyaan Miela.
" Ada, di dalam"
" Aku tunggu di ruang tamu, tolong panggil kan dia " Udin tidak mau masuk ke kamar Prilly lagi, ia takut akan terjebak disana.
Miela mengiyakan, ia segera masuk ke dalam untuk memanggil Prilly .
" Kamu ingin aku apa ? " Tanya Layla masih bingung.
" Berkenalan dengan calon istri ku " Jawab Udin simpel.
Oohhh
Layla manggut-manggut, meskipun sebenarnya mereka sudah pernah bertemu tapi memang Layla belum sempat berkenalan secara resmi.
Tak lama kemudian, Miela datang bersama Prilly . Gadis itu terlihat normal dengan berjalan menggunakan tongkat.
Wajahnya tersenyum manis, Miela membantu Prilly untuk duduk berhadapan dengan Udin dan Layla .
" Pri, kenalin ini Layla temanku" Udin langsung ke intinya. Ia ingin Layla dan Prilly berjabat tangan.
" Oh ya " Prilly mengulurkan tangannya, Layla pun menyambut uluran tangan Prilly .
Tiba-tiba sebuah penerawangan ia dapatkan, Layla bagai terkena aliran listrik. Ia terpental hingga tubuhnya jatuh ke atas kursi.
" Lay , kamu nggak apa-apa? " Udin panik melihat keadaan Layla . Gadis itu seperti terkena pukulan keras, wajahnya memucat, tubuhnya gemetar.