NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 23

Pagi itu, taman kota tampak begitu hidup di bawah langit yang sedikit mendung. Amerta sengaja keluar dari flatnya lebih awal untuk mencari udara segar. Paranoia yang menyiksanya semalaman akibat suara-suara dari kamar sebelah setidaknya bisa sedikit terurai oleh aroma tanah basah dan pemandangan pepohonan hijau. Ia berjalan santai di sepanjang jalan setapak, menikmati embusan angin yang menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Amerta merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.

Dari kejauhan, di dekat air mancur tengah taman, Amerta menangkap sebuah siluet yang sangat familiar. Jantungnya mendadak mencelos. Sosok tinggi tegap dengan setelan kasual yang mahal itu sedang berdiri sambil melihat ke arah sekeliling. Mahesa. Bagaimana bisa pria itu ada di sini? Apakah dia benar-benar mengikutinya sampai ke taman kota yang jauh dari kawasan Dirgantara Group?

Panik melanda Amerta seketika. Beruntung, hari itu ia mengenakan topi bucket berwarna hitam. Dengan gerakan cepat dan sedikit gemetar, Amerta menarik pinggiran topinya serendah mungkin, berusaha menutupi sebagian besar wajahnya. Ia segera memutar tubuh, mencari tempat untuk bersembunyi di balik deretan tanaman hias yang rimbun dan tinggi. Amerta merapatkan tubuhnya ke balik dedaunan, menahan napasnya dalam-dalam, berharap sang predator tidak menangkap keberadaannya.

Ia menunggu selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam. Suasana di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara kicau burung dan sayup-sayup obrolan pengunjung taman di kejauhan. Amerta mengembuskan napas perlahan, merasa bahwa ia telah berhasil lolos dari pandangan Mahesa.

"Tidak usah sekaget itu juga, kamu pikir aku hantu?"

Sebuah suara bariton yang berat dan sangat dikenalinya tiba-tiba berbisik tepat di belakang telinganya.

Amerta tersentak hebat hingga melompat kecil. Ia berbalik dengan cepat, memegangi dadanya yang berdegup begitu kencang dan hebat hingga rasanya mau copot. Wajahnya merengut masam, dipenuhi perpaduan antara rasa terkejut dan kesal yang luar biasa. Di hadapannya, Mahesa sedang berdiri dengan santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan sebuah kekehan rendah lolos dari bibirnya yang mengulum senyum geli.

"Iya, memang!" sembur Amerta dengan nada sebal, matanya mendelik tajam ke arah pria itu. Wajahnya memerah karena dongkol. Muncul entah dari mana, pria ini benar-benar merusak ketenangannya pagi ini.

Tanpa memedulikan senyuman Mahesa yang semakin lebar, Amerta bergegas membalikkan badan dan melangkah lebar-lebar untuk pergi dari sana. Ia tidak sudi berlama-lama berada di dekat pria yang selalu membuat kewarasannya terancam. Namun, baru dua langkah ia berjalan, sebuah cengkeraman yang kuat namun tidak menyakitkan menahan pergelangan tangannya.

"Tunggu," ujar Mahesa, menahan langkah Amerta dengan mudah. "Ayo, aku traktir es krim sepuasnya."

Langkah kaki Amerta terhenti. Di dalam hatinya, Amerta menjerit. Es krim adalah kelemahannya, makanan manis favoritnya yang selalu bisa memperbaiki suasana hatinya yang buruk. Dalam hati, ia sebenarnya merasa sangat senang dan tergoda dengan tawaran itu. Jauh di lubuk hatinya, ia membayangkan betapa menyenangkannya memesan tiga atau empat sekop es krim rasa mint choco dan stroberi. Namun, sebuah realitas pahit segera menampar kesadarannya. Ingat, sekali lagi, yang menawarkan ini adalah Mahesa! Orang paling menyebalkan sedunia raya. Menerima tawaran dari Mahesa sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam perangkapnya.

"Enggak mau!" tolak Amerta ketus, mencoba menyentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Mahesa.

Mahesa tidak melepaskannya. Tatapan mata birunya mengunci manik mata Amerta dengan keangkuhan yang mutlak. "Enggak ada penolakan, Amerta."

Suara Mahesa yang penuh penekanan itu membuat Amerta tahu bahwa berdebat di tempat umum hanya akan membuat pria itu bertindak lebih nekat. Dengan berat hati dan bibir yang mengerucut sebal, Amerta akhirnya terpaksa mengikuti langkah kaki Mahesa yang membimbingnya menuju sebuah kedai es krim premium yang terletak tidak jauh dari pinggir taman.

Setelah beberapa saat berjalan dalam keheningan yang canggung, mereka sampai di tempat es krim tersebut. Kedai itu tampak mewah dengan interior minimalis yang nyaman. Mahesa langsung memesankan beberapa varian es krim terbaik tanpa memedulikan tatapan cemberut Amerta yang duduk di hadapannya. Begitu pesanan datang, Amerta tidak bisa berbohong bahwa matanya sedikit berbinar melihat gundukan es krim manis di depannya. Ia mulai menyendok es krim itu dengan malas-malasan, meski rasanya tetap saja luar biasa lezat di lidahnya.

Baru saja Amerta menikmati suapan ketiganya, ponsel di dalam saku kemeja Mahesa bergetar keras. Pria itu merogoh ponselnya, melihat nama yang tertera di layar, dan kernyitan dalam langsung muncul di dahinya. Mahesa menggeser layar, menempelkan ponsel ke telinga, dan mendengarkan suara di seberang sana selama beberapa detik. Ekspresi santainya langsung berubah menjadi serius dan dingin.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau berpamitan kepada Amerta, Mahesa tiba-tiba berdiri dari kursinya. Ia melangkah terburu-buru keluar dari kedai es krim, meninggalkan Amerta yang masih memegang sendok kecilnya dengan canggung. Amerta menatap punggung Mahesa yang menjauh dan menghilang di balik pintu kaca kedai.

Setelah menyadari bahwa Mahesa benar-benar telah pergi, Amerta mengembuskan napas panjang. Rasa lega yang luar biasa langsung membuncah di dalam dadanya. Akhirnya, monster itu pergi juga. Amerta langsung menghabiskan es krimnya dengan perasaan yang jauh lebih rileks, sebelum akhirnya memutuskan untuk segera pulang ke flatnya.

Keesokan harinya, suasana di kampus Amerta terasa sedikit berbeda dari biasanya. Begitu menapakkan kaki di koridor gedung fakultas, Amerta melihat banyak mahasiswa lain sedang berkumpul di koridor, berbisik-bisik dengan ekspresi wajah yang tampak tegang sekaligus penasaran. Amerta yang penasaran mencoba memperlambat langkahnya untuk menguping pembicaraan sekelompok mahasiswi di dekat mading.

"Eh, kalian sudah dengar belum? Katanya hari ini ada dosen baru yang bakal mengajar di kelas kita," ujar salah seorang mahasiswi dengan nada khawatir.

"Iya, aku dengar dia pindahan dari universitas luar negeri, atau entah praktisi sukses begitu. Tapi katanya dia killer banget! Aturannya ketat sekali. Terlambat sedikit saja, pintu kelas langsung dikunci dari dalam dan enggak bakal dibukain sampai kelas selesai," sahut temannya yang lain, bergidik ngeri.

Mendengar gosip itu, Amerta melirik jam digital di pergelangan tangannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, batin Amerta dengan sedikit rasa cemas bercampur excited. Jadwal matkul yang dimaksud ternyata adalah mata kuliah yang harus ia hadiri pagi ini juga! Dan parahnya, jam masuk kelas tersebut tinggal menyisakan waktu kurang dari dua menit lagi.

"Mati aku!" gumam Amerta panik.

Tanpa membuang waktu, Amerta langsung mengambil langkah seribu. Ia berlari sekencang mungkin menyusuri koridor kampus yang panjang, mengabaikan beberapa tatapan heran dari mahasiswa lain yang berpapasan dengannya. Napasnya terengah-engah, dan tas ranselnya berdentum-dentum memukul punggungnya seiring dengan langkah kakinya yang terburu-buru.

Begitu sampai di depan pintu ruang kelasnya, jantung Amerta serasa berhenti berdetak. Pintu kayu berpelitur cokelat itu sudah tertutup rapat.

Amerta mencoba menenangkan badai di dadanya, lalu mengangkat tangan dan mengetuk pintu tersebut dengan pelan. "Permisi..." ucapnya dengan suara agak terengah.

Tidak ada sahutan dari dalam. Suasana di dalam kelas terdengar begitu hening, seolah-olah seluruh mahasiswa di dalam sedang menahan napas mereka.

Amerta menggigit bibir bawahnya. Ia memberanikan diri untuk memegang knop pintu logam tersebut, mencoba memutarnya ke bawah. Nihil. Knop pintu itu keras dan sama sekali tidak bergerak. Pintunya benar-benar sudah dikunci dari dalam.

Dalam hati, Amerta merasa kesal dan dongkol setengah mati. Sialan, dosen baru ini benar-benar tidak punya perasaan! Ini baru terlambat satu menit, tapi dia sudah dikunci di luar seperti ini. Amerta menghentakkan kakinya ke lantai semen dengan gusar, bersiap untuk berbalik dan membolos saja hari ini daripada harus berdiri seperti orang bodoh di koridor.

Namun, tepat saat Amerta hendak memutar tubuhnya, terdengar bunyi klik dari dalam. Knop pintu bergerak, dan pintu besar itu perlahan terbuka ke arah dalam.

Amerta langsung menoleh dengan harapan tinggi, siap untuk melayangkan permintaan maaf terbaiknya. Namun, begitu pintu terbuka sepenuhnya, seluruh kata-kata yang sudah disusun di kepalanya mendadak menguap tanpa sisa. Tubuh Amerta membeku di tempat.

Pintu itu menampilkan sosok tinggi besar yang sangat, sangat ia kenali. Pria itu berdiri dengan tegap, mengenakan kemeja formal berwarna hitam yang lengannya digulung hingga sebatas siku, memamerkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang kokoh. Rambutnya tertata rapi, dan sepasang mata birunya yang dingin menatap langsung ke arah Amerta dengan tatapan intimidatif yang pekat.

Iya, dia Mahesa Dirgantara.

Terjadi keheningan sesaat di antara mereka. Amerta mengerjapkan matanya berulang kali, berharap bahwa apa yang dilihatnya saat ini hanyalah halusinasi akibat rasa lelahnya. Bagaimana bisa seorang CEO Dirgantara Group tiba-tiba menjadi dosen di kampusnya? Apakah kegilaan pria ini sudah mencapai tingkat di mana ia rela membeli posisi dosen hanya untuk mengawasinya?

Setelah beberapa detik yang terasa mencekam, Mahesa akhirnya membuka suara. Suara baritonnya terdengar begitu dingin dan berwibawa di depan seluruh mahasiswa yang kini sedang memperhatikan mereka dari dalam kelas.

"Mau masuk atau tidak?" tanya Mahesa datar, sebelah alisnya terangkat sedikit.

Amerta tersadar dari keterpakuannya. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk kaku. "O-oh... mau, Pak."

Mahesa memundurkan tubuhnya memberikan jalan, namun saat Amerta hendak melangkah masuk menuju deretan kursi kosong di belakang, suara dingin Mahesa kembali menghentikannya.

"Siapa yang menyuruhmu duduk?" Ujaran Mahesa membuat langkah Amerta terpaku. Pria itu berbalik, menatap Amerta dengan pandangan tanpa emosi. "Kamu terlambat di jam pelajaran saya. Karena ini hari pertama, saya tidak akan mengeluarkanmu. Tapi sebagai hukumannya, berdiri di depan sini sampai jam matkul selesai."

Amerta membelalakkan matanya tidak percaya. Berdiri di depan kelas selama dua jam penuh di hadapan puluhan pasang mata teman-temannya? Itu adalah penghinaan yang luar biasa! Amerta bisa merasakan wajahnya memanas karena malu dan marah. Ia menatap Mahesa dengan tatapan tidak terima, namun Mahesa hanya membalasnya dengan tatapan memperingatkan yang membuat Amerta tidak punya pilihan lain.

Dengan hati yang luar biasa dongkol dan panas, Amerta melangkah ke sudut depan kelas, tepat di samping papan tulis. Ia berdiri tegak di sana dengan kedua tangan yang mengepal kuat di sisi tubuhnya. Tatapannya lurus ke depan, berusaha mengabaikan beberapa bisikan dan tatapan kasihan dari teman-teman sekelasnya.

Selama dua jam berikutnya, kelas berjalan dengan penuh ketegangan. Mahesa menjelaskan materi kuliah dengan sangat fasih dan profesional, seolah-olah ia memang sudah bertahun-tahun menjadi seorang pengajar. Namun bagi Amerta, setiap detik yang berlalu adalah siksaan. Kakinya mulai terasa pegal, dan hatinya semakin bergemuruh oleh rasa benci.

Sambil berdiri kaku, dalam hati Amerta terus menyumpahserapahi Mahesa dengan segala kutukan yang ia tahu. Dasar monster menyebalkan! Pria gila! Egois! Semoga kopinya pagi ini rasanya asin! Semoga ban mobil mewahnya kempes di jalan! Amerta terus merutuk dalam hati, menumpahkan seluruh kedongkolannya pada sosok pria yang kini sedang menulis di papan tulis dengan ekspresi tenang, sama sekali tidak terganggu oleh aura permusuhan yang dipancarkan oleh gadis yang berdiri di sudut ruangannya.

Amerta bersumpah, ia akan membalas perbuatan pria ini suatu hari nanti. Di balik dinding yang berbisik maupun di dalam ruang kelas yang pengap ini, Mahesa benar-benar telah mengubah hidupnya menjadi sebuah permainan petak umpet yang melelahkan.

Jangan lupa like yaa biar author semngat update 🫰🏻🫰🏻

Dan komenn juga💗

1
Emily
korporat miskin...x ya. kenapa gak bawa ke dokter aneh
Emily
pokoknya tau diri ajalah kau merta
Emily
ya udah klo simahesa cuek kamu cuek juga Amerta gak usah sibuk mau tau urusan si Mahesa..di anggap numpang di rumahnya
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
up doubel thor setiap hari
bulane: bismilah ya sayang kuu
total 1 replies
Reni Anjarwani
bagus sayang upnya lama
Tunik nur Agustina: udah up lagi tuh kak
total 1 replies
bulane
seruuu
Reni Anjarwani
lanjut
bulane: terimakasih atas dukungan nya
total 1 replies
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!