Fair yang terbiasa hidup manja memilih kabur dari rumah karena sang papa yang terus membela orang lain. Dia bahkan nekat pindah sekolah hanya untuk hidup mandiri.
Di sekolah barunya yang terbilang sangat tak terawat itu, Fair bertemu dengan sahabat baru bernama Sasa. Namun baru hari pertama masuk sekolah, dia sudah dibuat pingsan oleh salah satu cowok populer bernama Gino. Mengakibatkan dirinya harus terlibat dengan teman-teman Gino. Salah satunya Tristan, salah satu sahabat Gino yang memiliki hubungan masa lalu dengan almarhum kakaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Tristan menyendiri di rooftop. Ia bolos kelas di mata pelajaran terakhir. Karena pikirannya kini dipenuhi oleh Fair. Ia merasa tidak tenang dan bingung. Kenapa gadis itu menghindarinya? Apa karena Samudera melarang gadis itu dekat-dekat dengan laki-laki?
Tapi itu tidak mungkin. Setidaknya tidak berlaku untuk Tristan. Jelas-jelas Samudera sendiri yang memintanya untuk ikut menjaga Fair. Adik Bion, sahabat mereka yang sudah berpulang terlebih dahulu. Kalau begitu apa yang membuat Fair menjauhinya?
Semakin Tristan memikirkan hal itu, semakin hatinya merasa tidak tenang. Dia harus tahu. Dilihatnya jam tangannya. Tinggal beberapa menit lagi sebelum bel pulang. Dia lalu bergegas turun dari tempat itu. Bukan kembali ke tempatnya. Tapi menuju kelas Fair. Cowok itu bermaksud akan menunggu Fair diluar kelas gadis itu sampai bel pulang berbunyi.
Tapi sepertinya keberuntungan berpihak pada Tristan, karena begitu Tristan muncul di pintu kelas Fair, tidak ada guru yang mengajar di kelas tersebut. Dia bisa masuk sekarang juga tanpa perlu berlama-lama menunggu diluar.
Saat itu juga cowok itu memfokuskan tatapannya ke segala arah. Mencari-cari keberadaan Fair. Semua yang menyadari kehadiran pentolan sekolah itu seketika menghentikan kegiatan masing-masing dan mengikuti setiap langkahnya
dengan penuh perhatian sekaligus tanda tanya. Beberapa cewek bahkan langsung berbisik heboh.
Sesaat Tristan berdiri di ambang pintu, mengamati seluruh isi kelas. Cewek yang dicarinya berada di belakang sekelompok cewek yang duduk berkelompok. Asyik ngobrol dengan riuh. Dasar cewek, katanya dalam hati. Sehari aja nggak ngegosip, mati kali ya? Tapi ia senang karena Fair tidak ikut duduk bergosip dengan sekelompok cewek tersebut.
Benar-benar tipenya. Sedikit bodoh, ceroboh, manja, tapi kalem. Dia akui lebih menyukai tipe seperti itu setelah bertemu Fair. Tentu saja yang ia sukai hanya ada pada Fair. Selama ini belum pernah ada perempuan manapun yang menarik perhatiannya. Hanya Fair seorang yang sanggup membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Ia semakin yakin setelah tahu gadis itu adalah adik dari Bion. Mereka pernah bertemu saat Fair masih kecil dan Tristan waktu itu remaja. Karena satu-satunya perempuan yang bikin Tristan terakhir adalah Fair kecil beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun kemudian gadis yang sama kembali menarik hatinya. Tristan tersenyum.
Tak seorang pun dari cewek-cewek yang tengah bergosip itu menyadari kehadiran Tristan. Sampai Tristan meraih sebuah bangku lalu menariknya tepat ke sebelah Fair dan menjatuhkan diri di sana, baru cewek-cewek yang duduk didepan bangku Fair itu tercengang. Apalagi Fair. Tadi ia terlalu fokus tidur-tiduran sampai-sampai tidak sadar akan kehadiran Tristan. Kakak kelas yang ingin dia hindari itu.
Tristan menyambut tatapan-tatapan kaget yang terarah padanya itu dengan senyuman tipis. Jarang sekali ia melakukannya. Tapi karena mereka adalah teman-teman sekelas Fair, ia mempertimbangkan untuk menjadi sedikit lebih bersahabat.
"Tolong menjauh sebentar ya. Gue mau ngomong sama Fair," ucapnya dengan nada otoritas seorang kakak kelas. Cewek-cewek itu langsung menurut. Mereka bubar. Berjalan menuju bangku masing-masing, tapi dengan kedua mata melirik ingin tahu ke arah dua orang itu. Termasuk dua cewek bernama Miriam dan Surni. Meskipun yang mereka duduki adalah bangku mereka sendiri, dua cewek itu ikutan pergi, duduk berimpitan dengan teman mereka yang duduk didepan.
Tristan sangat terkenal dengan sikap kejamnya. Apalagi kalau sampai ada yang cari gara-gara dengannya. Populer iya, tampan apalagi. Hampir semua cewek di sekolah itu berkhayal menjadi kekasih seorang Tristan. Tapi karena sifat cowok itu yang amat tidak bersahabat dan selalu menolak dengan mulut tajamnya para cewek yang menembaknya, mereka jadi takut mendekati Tristan. Takut tapi tidak berarti membenci cowok itu, pengagum cowok itu makin hari malah makin banyak. Melihat Tristan mendatangi Fair, anak baru dikelas mereka, tentu saja mereka iri. Memang mereka sudah dengar kalau gadis itu dekat dengan geng Tristan, tapi baru sekarang melihat langsung kebersamaan mereka.
Tristan memajukan tubuhnya. Dia letakkan kedua lengannya di meja, kesepuluh jarinya saling bertaut. Dilakukannya itu agar bisa menatap muka Fair, yang tidak bisa dilakukan kalau posisi duduknya sama seperti cewek itu, menempelkan punggung di sandaran bangku.
Kemunculan Tristan membuat suasana kelas menjadi hening. Semua mata terarah padanya meskipun tidak terang-terangan. Semua telinga terpasang tajam-tajam. Tristan tahu itu, karena itu dia bicara dengan suara perlahan. Sebenarnya
dia bisa masa bodoh, tapi ia memikirkan Fair. Takut gadis itu akan marah dan makin menjauhinya.
Dengan kepala dimiringkan, Tristan menatap cewek yang duduk di sebelah kanannya itu. Ketegangan fair terlihat jelas. Bukan hanya di muka dan sorot kedua matanya, tapi juga sikap tubuhnya. Sudut bibir Tristan terangkat.
"Kenapa ngehindarin aku?" tanyanya dengan suara pelan.
"Nggak kok," Fair menggeleng.
"Jangan bohong,"
"Beneran nggak kak Tristan," kata Fair lagi memelas.
"Aku tahu kamu bohong." gumam Tristan tidak percaya. Jelas sekali cewek ini berbohong.
"Kalo kak Tristan nggak per ..."
Fair tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Tristan memotongnya dengan satu perintah.
"Majuin duduk kamu." cowok itu menggerakkan dagunya ke depan. Fair menatapnya bingung.
"Sekarang jujur sama aku, kenapa ngehindarin aku dua hari ini? Aku salah apa?" suara Tristan makin pelan.
Fair yang tadinya masih loading langsung mengerti. Dia majukan duduknya, tapi tanpa sadar arahnya
menyerong, agak menjauh dari Tristan.
"Deketan sini. Malah makin jauh, lagi. Tenang aja, aku nggak ngegigit. Kalaupun iya, nggak bakal aku lakuin itu di depan banyak orang." kalimat itu kontan membuat wajah Fair memerah. Digesernya tubuhnya mendekati Tristan.
"Ya udah, jelasin sekarang." kata Tristan lagi menatap Fair lekat-lekat.
Fair menggigit bibirnya lirih.
"Aku bakal cerita. Tapi jangan di sini ya kak, aku malu diliatin yang lain." gumam cewek itu pelan.
Tristan tidak sadar, dia telah menciptakan keheningan dalam ruangan kelas itu. Meskipun
tidak bisa mendengar percakapan kedua orang itu dengan jelas, seisi kelas tertarik melihat gerak-gerik mereka. Banyak cewek yang merasa sangat iri pada Fair. Berharap mereka bisa bertukar posisi dengannya.
Saat Tristan mengikuti pandangan Fair yang melihat kedepan, ia tersadar. Benar juga. Masalahnya dengan Fair adalah masalah pribadi. Tidak cocok bicara dalam kelas. Cowok itu menghela napas panjang. Lalu bel pulang berbunyi. Kebetulan sekali. Tanpa berlama-lama Tristan meraih jemari Fair, mengambil ransel gadis itu di kursi dan membawanya keluar dari kelas.
Setelah kepergian pasangan itu, barulah kelas kembali riuh. Semuanya berbincang-bincang tentang apa sebenarnya hubungan Tristan dan Fair. Banyak yang berpikir kalau mereka pacaran, tapi banyak juga yang tidak rela. Menolak keras Fair dan Tristan pacaran.