ini adalah kisah cinta adik & kakak dengan pasanganan mereka masing-masing, Zayn merupakan seorang Kapten Pilot yang sedang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan anak sahabatnya padahal saat itu Zayn tau jika salah satu dari anak sahabat kedua orangtuanya tersebut sedang menyukai adiknya, tetapi karena ayah Zayn sedang sakit parah ia terpaksa menerima perjodohan tersebut, ia tak menduga jika ayahnya sebenarnya hanya bersandiwara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viole, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
# Rindu Mentari
Tinggal beberapa bulan lagi ia akan melakukan KKN sebagai seorang mahasiswa, Rindu berharap ditempatkan ditempat yang jauh dari kota C agar tidak bisa bertemu dengan Zayn, dengan adanya KKN ia juga berharap jika pernikahannya juga bisa ditunda, Rindu berjalan sendiri melewati koridor kampusnya yang saat ini mulai sepi karena beberapa mahasiswa & mahasiswi sudah pulang kerumahnya masing-masing. Jadwal kuliahnya hari ini telah usai beberapa jam yang lalu, jam telah menunjukan pukul 4 sore, seharian berada di kampus tak sepenuhnya ia berada didalam kelas, karena seharian ini setelah mata kuliahnya usai ia pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan tambahan untuk makalahnya.
Rindu tiba-tiba mengingat pesan Zayn saat ia akan pulang ke kost-an nya, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Zayn, beberapa kali ia menghubungi nomer telpon Zayn tetapi masih tidak aktif, Rindu kembali berjalan menuju arah luar kampus, Zayn saat ini pasti masih berada didalam pesawat sehingga tidak dapat dihubungi, Rindu akhirnya memutuskan untuk pulang sendiri.
* tit....tit....
Suara klakson yang berbunyi dari sebuah mobil yang berhenti didekatnya, Rindu seketika menengok melihat kearah mobil tersebut, ia sangat hapal jika mobil tersebut milik Zayn, Rindu berjalan menghampiri arah mobil tersebut, seorang pria keluar dari mobil milik Zayn sambil tersenyum yang tak lain adalah Faiz.
" hai, ayo masuk " (kata Faiz)
Rindu pun masuk kedalam mobil begitu juga Faiz, mobil segera melaju menjauh dari kampus menuju jalan raya.
" maaf ya kak ngerepotin, padahal aku bisa pulang sendiri malah dijemput gini " (kata Rindu)
" ah gak papa kok, lagian apa sih yang enggak buat calonnya Zayn " (kata Faiz tersenyum)
" is kok kakak tau sih, pasti kak Zayn ya yang cerita? " (kata Rindu)
" iya dia cerita " (kata Faiz)
" apaan sih kak Zayn pake cerita-cerita segala " (kata Rindu agak kesal)
" ya wajarlah dia cerita, kan gue sepupunya " (kata Faiz tersenyum)
" astaga iya ya, aku lupa kalo kak Faiz sepupunya kak Zayn " (kata Rindu)
Faiz hanya tersenyum melihat kearahnya, Faiz merupakan salah satu sepupu Zayn yang akrab dengan Zayn, Rindu baru mengenal Faiz beberapa hari yang lalu, berbeda dengan Gibran dirinya lebih mengenal Gibran lebih lama karena Gibran merupakan anak dari sahabat ibunya.
" kakak tau banget aku pulang jam segini? " (kata Rindu)
" Gibran yang ngasih tau, katanya tadi Gibran liat Lo di perpus " (kata Faiz)
" oh gitu ya " (kata Rindu)
" Lo ngapain ke perpus? " (kata Faiz)
" cari bahan kak buat makalah aku " (kata Rindu)
" oh iya temen Lo mana si Jiya? " (kata Faiz)
" lagi gak enak body dia kak, jadi gak ngampus " (kata Rindu)
" hahahah, gila ya temen Lo, bisa gitu mabok semalam, Jiya emang sering gitu ya? " (kata Faiz)
" enggak sih kak, lagi banyak pikiran dia makanya begitu " (kata Rindu)
Ponsel miliknya tiba-tiba berbunyi saat sedang asik bercerita dengan Faiz, ia mengambil ponselnya yang berada didalam tasnya, dilihatnya panggilan masuk dari Zayn, Rindu segera mengangkat telepon tersebut.
📞 calling is Zayn....
" hallo assalalmuallaikum " (kata Rindu)
" wa'allaikumsalam, Lo sudah sama Faiz? " (kata Zayn)
" udah kak, ini lagi dalam mobil mau balik ke kost " (kata Rindu)
" suruh mampir bandara dulu " (kata Zayn)
" kalo mampir bandara jadi muter lagi dong kak, kan kost aku Deket sini aja " (kata Rindu)
" pokoknya suruh Faiz langsung jemput kesini " (kata Zayn)
" kak Faiz biar anter aku pulang dulu ya kak " (kata Rindu)
" gak, Lo harus ikut jemput gue " (kata Zayn)
" kenapa? " (kata Rindu)
" bawel, udah Lo pokonya ikut Faiz jemput gue kalo gak gue aduin lo...." (kata Zayn terhenti karena Rindu telah mencela kata-katanya)
" astaga iya-iya, ngancem Mulu sih, nyebelin banget deh " (kata Rindu)
" ya udah gue tunggu, GPL " (kata Zayn)
" hah apaan tuh? " (kata Rindu)
" Gak pake lama " (kata Zayn)
" cih alay " (kata Rindu)
Telepon dari Zayn segera ditutup, Rindu tak menyangka Zayn yang sedingin & sependiam itu bisa juga sealay itu.
" kak kata kak Zayn suruh ke bandara dulu jemput dia " (kata Rindu)
" jadi kata Zayn Lo ikut atau langsung gue anter nih? " (kata Faiz)
" kayanya kita suruh kesana berdua jemput dia, gue gak boleh pulang " (kata Rindu)
" sip " (kata Faiz)
Mobil pun segera berbalik arah karena mereka harus pergi kebandara untuk menjemput Zayn yang baru saja mendarat, kebetulan arah bandara & kost-kostan nya berbeda arah.
" kak Zayn itu emang gitu ya kak? " (kata Rindu)
" kaya gitu gimana maksudnya? " (kata Faiz)
" ketus, dingin, pemarah, tiba-tiba suka diem terus tiba-tiba marah, ngeselin, nyebelin, suka ngancem pula " (kata Rindu)
" hahahahah, apa lagi, kaku? " (kata Faiz)
" kurang lebih sih kak " (kata Rindu)
" sabar Lo ngadepin Zayn, dia itu emang kaya gitu orangnya, tapi aslinya dia itu penyayang Loh, perhatian " (kata Faiz)
" dari mananya lagi penyayang " (kata Rindu)
" ya gak usah contoh yang jauh-jauh deh, Lo liat aja se gimana sayangnya Zayn sama Humaira adek cewek satu-satunya, adeknya aja di sayang nya banget-banget apa lagi tar yang jadi bini nya " (kata Faiz)
" gimana mau di sayang kalo cinta aja enggak kak " (kata Rindu)
" hahahahha, kalian ini pasangan yang lucu ya " (kata Faiz)
" pasangan apanya, pacaran aja enggak tiba-tiba dijodohin aja " (kata Rindu)
" ya tar pacarannya kalo udah nikah aja " (kata Faiz tersenyum)
Rindu hanya menggelengkan kepalanya merasa aneh dengan kehidupan yang harus ia jalani yang ia rasakan bak film-film layar lebar menikah karena perjodohan, takdir yang tidak masuk akal pikirannya. Saat ini mobil telah berada di depan bandara, Faiz segera menghubungi Zayn & menyuruhnya untuk segera kearah luar bandara.
# Abdul Zayn Mikail
Ia berjalan menuju arah luar bandara setelah menerima telepon dari Faiz, dilihatnya mobil miliknya telah berada tak jauh dari tempat ia berjalan saat ini, setelah berada didekat mobilnya Zayn membuka pintu depan, Rindu menatap heran padanya, ia kemudian duduk disebelah Rindu tanpa menghiraukan Rindu.
" ih apa-apaan coba malah duduk disini, sempit tau kak " (kata Rindu)
" jalan bro " (kata Zayn)
Terlihat Faiz hanya tersenyum melihat Zayn duduk berhimpitan dengan Rindu disebelah Faiz, sepupunya itu menggelengkan kepalanya.
" tar kak Faiz jangan jalan dulu, aku mau pindah dulu kebelakang " (kata Rindu)
" udah jalan aja bro " (kata Zayn)
" ok jalan, sorry ya Rindu " (kata Faiz tersenyum)
" ih apaan sih " (kata Rindu memukul lengan Zayn sambil cemberut)
" apa? " (kata Zayn)
" tau ah " (kata Rindu)
Zayn tersenyum karena berhasil membuat Rindu kesal hari ini, Zayn sengaja ikut duduk didepan bersempit-sempitan tepat disebelah Rindu untuk membuat Rindu marah, karena saat Rindu sedang marah menurut Zayn tingkahnya sangat lucu.
" kemana dulu nih bro? " (kata Faiz)
" hotel dulu kali ya " (kata Zayn tersenyum)
Ia sengaja ingin membuat Rindu kesal lagi, Zayn ingin tahu seberapa besar tingkat kemarahan Rindu, mengingat sifatnya sangat lemah lembut ia jadi penasaran bagaimana seorang Rindu garangnya kalau sedang marah.
" kak langsung ke kost aku ya jangan kehotel, ngapain coba mau ke hotel? " (kata Rindu)
" mau mandi lah ganti baju, masa iya mau ngajak Lo nginep bareng, tidur bareng " (kata Zayn)
" hahahaha, kambing Lo bro, bisa aja omongan Lo " (kata Faiz)
" tolong deh kak jangan main-main, pokoknya aku mau kekost aja " (kata Rindu)
" hotel Fa " (kata Zayn)
" sorry Rindu gue harus ngikutin omongan Zayn " (kata Faiz sambil tersenyum)
Mobil pun segera melaju menjauh menuju hotel tempat ia menginap, dilihatnya Rindu sedari tadi hanya memanyunkan bibirnya.
" marahnya cuman bisa cemberut gitu doang, gak bisa marah yang kaya marah banget ya ini cewek " (kata Zayn dalam hati sambil tersenyum)
" besok kuliah jam berapa? " (kata Zayn)
" pagi jam 10 " (kata Rindu)
" jawabannya jangan sambil cemberut gitu bisa gak? " (kata Zayn)
Rindu hanya diam saja tak menjawab kata-kata Zayn, Zayn menatap kearah Rindu sambil tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" apa sih senyum-senyum gitu, gak lucu tau kak " (kata Rindu)
" apa sih, orang senyum kok dilarang, emang ada apa undang-undangnya kalo senyum itu gak boleh " (kata Zayn)
" hahahahha " (kata Faiz tertawa)
" hahahahha, aneh banget sih " (kata Zayn yang juga tertawa)
" nyebelin banget sih bedua " (kata Rindu yang sudah menyilang kan tangannya)
Setelah beberapa saat akhirnya mobil yang mereka kendarai sampai juga diparkiran hotel, Zayn & Faiz segera turun tetapi tidak dengan Rindu, ia hanya diam tak keluar dari mobil tersebut.
" ayo turun " (kata Zayn)
" gak ah, aku tunggu disini aja " (kata Rindu)
" Lo gak takut sendirian diparkiran mana sepi gini " (kata Zayn)
" aku disini aja kak, udah sana, lagian masih terang ini, kalo ada apa-apa aku bisa teriak minta tolong " (kata Rindu)
" lo mau keluar sendiri atau mau gue paksa gue gendong? " (kata Zayn)
Rindu hanya diam tak bergeming dari tempatnya, Zayn yakin Rindu sedikit berfikir apakah yang ia katakan sungguh-sungguh atau gertakan semata, padahal itu memang hanyalah sebuah gertakan.
" oke gue itung sampe dua kalo Lo gak keluar ikut keatas itu artinya Lo mau gue gendong " (kata Zayn)
" satu " (kata Zayn)
Rindu keluar dari dalam mobil berjalan mengejar Faiz yang sudah agak menjauh dari arah parkiran & meninggalkan Zayn sendiri disini.
" stop " (kata Zayn agar Rindu berhenti melangkah & menunggunya)
Rindu tak mendengarkan kata-kata Zayn tetapi malah berlari terus mengikuti Faiz, Zayn berjalan cepat untuk mengejar Rindu.
" stop gak, kalo Lo gak stop gue bakal... " (kata Zayn sekali lagi)
Rindu pun berhenti menghentikan langkahnya & menghadap kearahnya, terlihat sepupunya Faiz lagi-lagi tertawa karenanya. Setelah berada dihadapan Rindu Zayn berhenti, sepertinya Rindu sudah sangat kesal dengannya, Zayn hanya tersenyum karena melihat Rindu dengan muka masamnya.
" ayo " (kata Zayn)
Zayn berjalan kembali setelah mengajak Rindu, sedang Rindu masih tetap diam ditempatnya sambil melihat kearah Zayn.
" Lo mau disitu aja? " (kata Zayn)
" ih,...nyebelin tau " (kata Rindu yang berjalan melewati Zayn kembali)
" jalan pelan-pelan, tar nyasar, kaya tau aja dimana kamar gue " (kata Zayn)
" iya " (kata Rindu)
Mereka berdua kini telah jalan beriringan, menuju pintu lift, sedangkan sepupunya Faiz mungkin telah sampai dikamar terlebih dahulu, Rindu masih terlihat kesal dengannya karena harus mengikuti Zayn pergi ke hotel tempatnya menginap, tapi Zayn tak perduli karena ini adalah salah satu cara Zayn membalas perbuatan Rindu yang berusaha mengerjainya pagi tadi.
" Lo udah makan? " (kata Zayn
" udah kak " (kata Rindu)
" gue belum makan, tar Lo temenin gue sama Faiz cari makan ya? " (kata Zayn)
" harus gitu kak? " (kata Rindu)
" harus lah " (kata Zayn)
" tapi aku belum mandi " (kata Rindu)
" ya udah sih mandi aja tar dikamar gue " (kata Zayn)
" ih nggak ah, aku gak usah mandi aja kalo gitu " (kata Rindu)
Setelah sampai dikamar Zayn mereka berdua segera masuk, Faiz telah duduk di balkon sambil menikmati sepuntung rokok.
# Rindu Mentari
Dirinya merasa agak canggung karena berada dikamar hotel tempat Zayn menginap, kamarnya cukup rapi sebagai seorang pria lajang, barang-barang milik Zayn tersusun rapi di kamar tersebut. Rindu masih berdiri memandangi sekeliling ruangan kamar tersebut.
" anggap aja kamar sendiri, gue mau mandi dulu " (kata Zayn sambil membuka kancing bajunya)
" tunggu, jangan bilang mau buka baju di sini " (kata Rindu)
" ya terus? " (kata Zayn)
" kakak gak malu apa buka-bukaan didepan aku " (kata Rindu)
" ini kan kamar, terus gue suruh buka dimana? " (kata Zayn masih terus membuka kancingnya)
" kamar mandi lah " (kata Rindu)
" astaga, ribet amat sih Lo, kalo Lo gak mau liat gue buka-bukaan ya Lo keluar aja sana ke balkon bareng Faiz, repot amat ketimbang liat orang buka baju aja ribut sih " (kata Zayn)
" dasar batu " (kata Rindu melangkah menjauh dari Zayn ke arah balkon)
" mikir ngeres ya Lo makanya sensi " (kata Zayn)
" jangan ngacok " (kata Rindu cemberut)
Zayn malah tertawa terbahak-bahak sendiri, Rindu hanya menggelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya, sebagai seorang pria dewasa mengapa Zayn tak mempunyai urat malu seperti itu, bahkan Zayn tak canggung akan melepaskan bajunya dihadapannya, mungkin jika Rindu tak mencegahnya bisa saja Zayn melepaskan semua pakaiannya dihadapan Rindu.
" perasaan tiap ada Lo jadi tambah rame deh " (kata Faiz)
" ramenya gimana kak? " (kata Faiz)
" ya rame bikin Zayn ribut Mulu, hahahahah " (kata Faiz)
" emang biasanya kak Zayn diem gitu? " (kata Rindu)
" diemnya sih enggak, cuman dia jarang ribut berisik berantem gitu sama siapa aja, cuman sama Lo aja tuh dia berdebat terus " (kata Faiz)
" aku juga aslinya gak pernah ngajak orang ribut gitu kak, tapi sebel aja kalo Deket sama kak Zayn " (kata Rindu)
" hati-hati Loh tar tiba-tiba cinta " (kata Faiz tersenyum)
Rindu hanya tersenyum garing merasa tidak mungkin jika dirinya akan cinta dengan Zayn yang kerjaannya selalu mengancam dirinya & membuatnya kesal, pria dewasa yang cukup kekanak-kanakan menurutnya, bahkan Zayn kerap memaksakan kehendaknya alasnya selalu orang tua padahal sebagai seorang pria dewasa Zayn harusnya mempunyai pendirian sendiri.