Aqila gadis cantik berusia delapan belas tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan nya di negara Finlandia.
Malam itu untuk merayakan kelulusan nya, Aqila berhasil kabur dari penjagaan ketat para bodyguard milik kakak nya.
Tetapi siapa yang menyangka gadis itu malah kabur ke sebuah night club terkenal di kota tempat ia tinggal dan terjebak oleh sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya? Sesuatu seperti apa yang akan menimpah dirinya? Atau mungkin sebuah jebakan?
Note:- Agar mengerti jalan cerita sebelumnya, disarankan membaca karya "Terjebak Cinta Om Mafia Possesive"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-30-
Aqila membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah celah gorden kamar nya yang memancarkan sinar matahari.
Tubuh nya terasa remuk seakan baru saja di pukuli dan di banting, sedangkan bagian inti nya terasa berdenyut sakit.
Dengan perlahan Aqila menggerakkan tubuh nya, tetapi tiba-tiba ada sepasang tangan yang membantu pergerakan nya.
"Sudah bangun? Kok gak bersuara?" Tanya Bram yang seraya membantu Aqila untuk bersandar.
Aqila tidak menjawab mata nya kini tertuju pada jam dinding di hadapan nya. Wanita itu di buat melotot kaget kala melihat jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Mau mandi atau mau makan dulu?" Bram meletakkan laptop nya ke nakas di sebelah nya yang tadi sempat ia gunakan untuk melihat laporan yang di kirim oleh para karyawan.
Tetapi Aqila tidak memberikan jawaban apapun, melainkan wanita itu langsung memalingkan wajah nya dan menarik selimut yang sempat tersingkap hingga leher nya.
"Say--"
"Puas?" Potong Aqila dengan nada dan tatapan datar nya.
Bram mengangkat sebelah alis nya bingung, kemudian tangan nya terangkat untuk merapihkan rambut istri kecil nya sebelum akhirnya tangan itu di hempaskan oleh sang istri.
"Puas sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan hah?!" Bentak Aqila di depan wajah Bram dan menatap nya tajam.
Sejenak Bram memejamkan mata nya dengan napas yang mulai memberat. Sampai akhirnya Bram kembali membuka matanya dan tersenyum tipis.
"Mau makan?" Tawar Bram mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau ce-- mpphh!!" Ucapan Aqila tertahan kala tiba-tiba bibir Bram meraup kasar bibir nya.
Suara decapan sepihak kembali memenuhi kamar itu, terdengar begitu menuntut. Namun lain hal nya dengan Aqila yang terus memukuli punggung Bram dan mencoba mendorong kepala Bram.
Sudah hampir tiga menit dan lidah Bram masih terus berusaha menerobos masuk, namun pertahanan Aqila sungguh kuat. Hingga akhirnya Bram mengigit gemas bibir bawah istri kecil nya, lalu menghentikan kegiatan nya.
Plak!
"Brengsek!" Teriak murka Aqila setelah menampar pipi Bram.
Air mata nya kembali berjatuhan tanpa izin, hati nya terasa sakit mengingat kejadian tadi mana.
Lain hal nya dengan Bram yang masih terdiam dengan wajah tertoleh akibat tamparan keras Aqila.
Selama beberapa saat di dalam kamar itu hanya terdengar isak tangis Aqila, hingga akhirnya Aqila menurunkan kedua kaki nya secara perlahan dengan rasa nyeri di intinya. Mencoba untuk bangun. Tetapi nihil, kaki nya terasa begitu bergetar dan lemas.
"Siall hikss, tidak berguna hikss" Maki Aqila memukuli paha nya sendiri.
Terdengar begitu jelas suara pukulan itu, lantas Bram langsung menahan kedua tangan Aqila dan menatap nya tajam.
"Apa yang kamu lakukan, Aqila!" Bentak Bram.
"Lepas kan hikss, lepas kan!"
"Berhenti merengek seperti anak kecil. Ingat! Aku tidak akan memaksa mu seperti semalam jika kamu tidak memulai duluan!"
"Lepas hikss.." Suara Aqila mulai melirih bersamaan dengan gerakan nya yang tidak sekuat tadi.
Sedetik kemudian Bram langsung memeluk tubuh bergetar Aqila. Memeluk begitu erat dan penuh kehangatan hingga tangis Aqila semakin menjadi tanpa adanya pemberontakan lagi.
"Lupakan dia, dan ingat karena dia kamu jadi seperti ini"
"Revan gak salah hikss.."
"Masih membela nya?" Ujar tak percaya Bram yang langsung mendapat gelengan kecil dari Aqila.
"Jika dia tidak mencampurkan obat sialan itu, dan tidak memaksa mu meminum minuman haram itu. Pasti kamu tidak akan terjebak lebih cepat bersama ku"
"Setidak nya aku akan menunggu sampai kamu membuka hati mu untuk ku dan barulah kita menikah, tetapi karena dia kamu jadi seperti ini!"
Aqila tidak bisa berkutik lagi, memang sudah ada bukti nya dari rekaman cctv night club itu saat Revan mencampurkan bubuk putih ke dalam gelas milik nya.
Hati nya semakin sakit, senekat itukah Revan hingga mencoba merebut kesucian nya demi mempertahan kan Aqila agar tetap di sana dan terus bersama nya?
"Dia memang mencintai mu, tapi dia lebih mencintai tubuh mu!" Timpal Bram semakin membuat Aqila menenggelamkan wajah nya di dada bidang nya.
Aqila memeluk begitu erat tubuh Bram dan meremat kemeja pria itu, sesak dan sakit secara bersamaan. Entah jalan seperti apa yang harus Aqila ambil.
"Lupakan dia dan coba menerima ku yang sudah jelas-jelas mencintai mu sedari dulu. Dan andai saja kamu tidak lupa ingatan, mungkin sekarang kita akan hidup bahagia"
"Satu lagi, kita sudah terikat dan jangan harap bisa terlepas dari ikatan ini!" Tegas Bram.
...****************...