Aderald Brixton, pengusaha ternama yang tiba-tiba saja dicegat mobilnya oleh seorang wanita hamil dengan pakaian berlumuran darah.
Raut ketakutan dari wanita itu membuat aderald mau tak mau harus membawa si wanita demi menyelamatkan dua orang nyawa sekaligus.
"Tolong bawa aku Tuan!! Bayi ku harus selamat...!"
Apakah yang terjadi? Dan siapakah wanita tersebut? Akankah peristiwa itu membawa mereka kedalam sebuah kehidupan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Untuk Kami
Tak terasa hari sudah semakin sore, menyelimuti mansion dengan cahaya jingga yang hangat. Langit membentang indah, dihiasi awan tipis yang memantulkan cahaya keemasan. Dona duduk di kursi rotan yang terletak di teras belakang, mengenakan gaun rumah berwarna peach lembut dengan rambut diikat ke atas. Tubuhnya masih terasa lelah usai berenang di pagi hari, namun semangatnya tidak surut sama sekali. Pemandangan taman dan kolam renang di depannya terasa semakin indah dengan suasana senja yang tenang.
Aderald muncul dari arah dapur belakang, mengenakan apron berwarna hitam yang bertuliskan “Grill Master” dengan ekspresi puas di wajahnya. Di tangannya, ia membawa nampan berisi daging yang telah dimarinasi, lengkap dengan aneka sayuran seperti paprika, jagung manis, dan potongan jamur. Aroma bumbu yang menguar dari nampan itu begitu menggugah selera, membuat Dona menoleh dengan senyum penasaran.
“Jadi ini yang kau rencanakan sejak siang tadi?” tanya Dona sambil melirik bahan-bahan barbeku di tangan Aderald.
Aderald mengangguk penuh semangat. “Tentu saja. Hari ini sempurna untuk barbeque an. Udara sejuk, langit cerah, dan tentu saja, kau yang jadi teman makanku, karena kalau melakukannya seorang diri sangatlah tidak seru” ujarnya sembari meletakkan nampan di meja kecil dekat panggangan besi yang sudah dipersiapkannya sejak siang.
Dona terkekeh. “Kau terdengar seperti pembawa acara masak.”
“Oh ya? Itu lebih bagus dibanding disebut chef dadakan,” sahut Aderald sambil mulai menyalakan arang di bawah panggangan. Ia tampak cekatan, meletakkan potongan kayu kecil, menyalakan api dengan hati-hati, lalu meniupnya agar bara segera menyala. Tak lama, asap putih tipis mengepul dari dalam panggangan.
Dona memperhatikan setiap gerakan Aderald dengan kagum. Ia tidak tahu bahwa pria itu ternyata cukup lihai dalam hal-hal seperti ini. Biasanya Aderald lebih sering terlihat sibuk dengan pekerjaan, rapat, atau sekadar membaca di ruang kerjanya.
“Apa kau sering barbeque an seperti ini sebelumnya?” tanya Dona sambil menggulung lengan bajunya.
“Dulu, saat masih tinggal bersama kakek. Setiap musim semi, kami akan memanggang daging di halaman belakang sambil menonton langit berubah warna.”
Dona mengangguk pelan, menikmati kisah kecil itu. Ia bisa membayangkan sosok Aderald kecil, duduk di halaman bersama kakeknya, menikmati daging panggang dan tertawa riang.
D sepertinya aderald lebih dekat dengan kakeknya dibanding dengan kedua orang tua atau saudaranya yang lain, Dona juga tidak mau mempertanyakan hal pribadi seperti itu, khawatir aderald tersinggung.
Api kini telah menyala cukup besar, dan Aderald mulai menata potongan daging di atas panggangan. Suara mendesis langsung terdengar ketika daging bersentuhan dengan besi panas, diiringi aroma gurih yang menyeruak ke udara.
“Kau mau coba memanggang?” tawar Aderald, menoleh ke arah Dona.
“Boleh, tapi aku tidak ahli memanggang, lelaki biasanya lebih lihat dalam hal ini” jawab Dona sambil berdiri dan berjalan perlahan menghampiri.
“Tenang saja. Aku akan ajarkan,” ujar Aderald sambil menyodorkan penjepit stainless ke tangan Dona. “Pegang ini. Coba balik dagingnya setelah dua menit.”
Dona menerima alat itu dengan hati-hati, lalu menatap daging yang mulai berubah warna. Ia mencoba membaliknya, sedikit kikuk, namun berhasil melakukannya tanpa membuat daging jatuh.
“Sepertinya aku terlalu meremehkan keahlian ku” celetuk Dona dengan bangga.
Aderald tertawa, “Berarti sekarang kau dalam memasak dan membakar?”
“Ya, membakar daging” jawab Dona sambil tertawa kecil.
“Tentu saja, mana mungkin membakar rumah” keduanya tertawa keras disela-sela kegiatan tersebut.
Setelah beberapa potong daging matang, Aderald mengangkatnya ke piring saji. Ia kemudian menambahkan jagung dan paprika ke atas panggangan. Warna-warna cerah dari sayuran itu memberi kontras indah terhadap bara merah yang menyala di bawahnya.
Mereka duduk di kursi taman yang kini telah dipasangi bantalan empuk. Meja kecil di depan mereka kini telah dipenuhi dengan makanan panggang, salad segar, roti lapis, serta minuman lemon dingin yang menyegarkan.
“Silakan, Nyonya” ujar Aderald sambil menyodorkan piring kepada Dona.
“Terima kasih, Chef” balas Dona sembari mengambil potongan jagung dan daging panggang.
Mereka makan dengan tenang, menikmati cita rasa makanan yang sederhana namun menggugah. Dona sesekali menyeka mulutnya sambil tertawa saat Aderald menceritakan pengalaman lucunya saat pertama kali mencoba memasak barbeku dan malah membakar panggangan kakeknya.
“Waktu itu aku panik, mencoba memadamkan api dengan air minum. Yang terjadi malah asap semakin banyak dan kakek hanya bisa menggeleng,” cerita Aderald tanpa sadar berbicara panjang.
“Dan sejak saat itu kau jadi ahli memanggang?”
“Setelah beberapa kali gagal, iya. Kakek memberiku pelajaran yang tidak tertulis, dan cara agar aku tidak panik saat menghadapi api.”
Dona mengangguk pelan. “Kakek mu terdengar sangat keren!”
Matahari mulai turun di balik pohon-pohon besar di sekitar taman. Warna jingga kini berubah menjadi ungu keabu-abuan, menciptakan suasana yang hangat dan damai. Di kejauhan, burung-burung mulai kembali ke sarang, dan suara jangkrik mulai terdengar samar-samar.
Dona menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap langit dengan mata berbinar. “Hari ini terasa sempurna.”
Aderald mengangguk setuju. “Kau benar. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali menikmati momen seperti ini”
Setelah selesai makan, para pelayan membereskan meja. Dona berniat membawa piring-piring kosong ke dapur namun tidak diizinkan oleh si pemilik mansion. Sementara Aderald mematikan bara dan dilanjutkan oleh pelayan satunya untuk membersihkan panggangan. Semua dilakukan dengan kerja sama yang tenang dan tanpa banyak kata, meski sedikit protes dari aderald saat Dona berniat membantu.
Ketika malam mulai menurunkan tabirnya, mereka kembali duduk di kursi taman, kini diselimuti selimut tipis. Dona duduk berdampingan Aderald, menikmati hembusan angin malam yang lembut.
“Menurutmu, apakah kita akan sering melakukan ini?” tanya Aderal pelan.
“Maksudmu barbeque an?”
“Tidak hanya itu. Tapi... menghabiskan waktu bersama seperti ini. Apa saja untuk mengisi kebosanan”
Dona terdiam sejenak sebelum menjawab. “Aku….. Tidak tahu. Maksudku, setelah melahirkan aku mungkin akan pergi jauh, aku tidak tenang sebelum pelaku itu ditangkap”
Seketika kedua saling membisu, menerawang masa depan setelah mereka sudah berpisah dan mungkin akan menjalani hari-hari yang entah akan seperti apa.
Aderald menghela nafas berat, membayangkan kehidupan nya yang suntuk itu setelah kepergian Dona dan bayinya.
”Aku harap kita masih bisa bertemu lagi meskipun nanti kau tidak disini” lirih aderald.
Dona merasa perkataan aderald barusan sangatlah dalam, seharusnya pria di sampingnya ini merasa bebas karena sudah tidak ada lagi parasit yang menempel padanya, alih-alih senang aderald justru terdengar sedih.
“Tentu saja, aku akan selalu membukakan pintu untukmu. Aku tidak akan melupakan jasa mu, Aderald”
“Kau pahlawan untukku dan bayiku”