Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMI PENGGANTI
"Biar saya saja yang menikahi, Mbak Pev!" sebuah suara yang membuat keluarga besar melongo. Bagaimana tidak, Kalandra, seorang pemuda berusia 18 tahun, yang merupakan keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani, segera maju untuk menggantikan posisi sang pengantin pria. Jelas keluarga besar tak percaya atas penawaran pemuda yang baru lulus SMA itu.
Mama Kala, panggilan Kalandra, langsung menarik lengan sang putra, "Kamu ngomong apa, Kala?" sentak beliau dengan mengeratkan gigi dan mata melotot. Sebagai ibu jelas beliau tak terima anak sulungnya tanpa ada angin tanpa ada hujan mau menikah, sebagai suami pengganti lagi. Masa depan Kala masih panjang, dan tak ada perintah untuk nikah muda juga.
"Kamu mau masuk kuliah, Kala. Kok berani menikahi anak orang segala!" papa Kala ikut berkomentar, tak enak juga pada sang kakak yang merupakan ibu tiri Pevita. Bukan tak suka pada Pevita hanya saja keputusan menjadi suami pengganti bukanlah ide yang baik untuk masa depan mereka.
"Mama gak setuju!" bisik mama Kala dengan tegas.
"Papa juga!"
"Saya juga tidak setuju, dia masih terlalu kecil untuk membina rumah tangga. Kejar masa depan kamu, Kala. Om menghargai keputusan kamu, tapi belum tentu Om terima juga!" sahut papa Pevita, dokter Adi.
"Selama saya tinggal di rumah Om Adi, saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama Mbak Pevita," ya Allah air mata Pevita rasanya disuruh masuk lagi, nih bocah cilik bisa-bisanya mengungkapkan perasaan di depan keluarga besar. Duh, dia yang confess, Pevita yang malu.
"Meski Mbak Pevita hanya menganggap aku, sebagai ponakan Tante Lily (ibu tiri Pevita) tapi aku menyukai Mbak Pevita. Mungkin ini jawaban dari doaku selain diterima di kampus impian, sekaligus dapat jodoh. Semua tidak ada yang kebetulan, harusnya aku ngekos, ternyata malah diajak Tante Lily tinggal, anggap saja mendekati jodohku!" Kala bicara dengan sangat tenang, dan serius. Kedua orang tuanya menunduk frustasi, sangat paham bagaimana putra sulungnya kalau sudah punya keinginan, bakal diwujudkan dengan segala cara.
"Gimana Pa?" tanya Tante Lily, pada sang suami, tampak masih mencerna situasi sekarang. "Kak, gimana?" tanya Tante Lily pada Pevita, dan gadis itu hanya terdiam dengan tatapan kosong. Wajar masih shock, sang calon pengantin pria bilang gak bakal datang, eh dapat kabar lebih mengejutkan lagi diajak nikah bocah cilik. Mimpi apa Pevita tadi malam.
"Apa yang Om pertimbangkan? Usia saya? saya belum bekerja?" tanya Kala pada Om Adi, bahkan Kala tak meminta pendapat kedua orang tuanya sama sekali.
"Kala, kamu masih belum dewasa, Nak. Usia kamu masih cocok untuk main," Om Adi berusaha menyadarkan Kala bahwa pemuda itu masih 18 tahun, dan baru saja melepas seragam putih abu-abunya. Sebagai orang tua, Om Adi jelas ragu. Pria sematang, Refan (calon Pevita) saja bisa lepas tanggung jawab saat hari H, apalagi Kala yang masih sangat muda. Bagaimana dengan menjalani rumah tangga mereka. Ah Om Adi tidak punya bayangan sama sekali.
"Kadang usia belum tentu menunjukkan kedewasaan Om, percayalah sama saya. Meski saya masih bocah, urusan tanggung jawab saya sangat bisa diandalkan, apalagi untuk orang yang saya sukai," harusnya ungkapan ini sangat membahagiakan bagi perempuan yang menjadi tujuan hidup Kala, tapi terdengar menggelitik, bagi keluarga besar. Anak semuda ini, bisa seserius ini bilang di hadapan semua orang soal tanggung jawab.
"Gimana Dharma?" tanya Tante Lily sebagai orang yang masih waras, untuk menengahi masalah ini.
Papa Kala angkat tangan, "Aku menyerah, Mbak. Ponakanmu ingin kawin muda," celetuk beliau sembari angkat tangan.
"Mas, jangan gitu dong. Anak kita masih mau kuliah, Mas. Aku gak mau dia nikah muda," protes mama Kala agar sang suami bertindak, entah melakukan apa agar menghalau keinginan kuat si sulung. Bahkan mama Kala kembali memegang tangan sang putra untuk berhenti menawarkan diri.
"Percuma, Ma. Mama tahu kan kalau keinginan Kala dilarang, dia bakal bagaimana?" papa menyadarkan sang istri untuk menyetujui sajalah, bocah cilik itu seperti tidak takut akan pernikahan.
"Tapi, Pa. Kala, mama mohon, Nak. Pernikahan tidak semudah yang kamu bayangkan, Nak. Tidak hanya soal cinta, tapi butuh kesabaran dan kontrol emosi yang sangat kuat. Nikah tidak setahun dua tahun, Nak. Mama mohon, untuk kali ini saja, Nak. Jangan gegabah." Namanya seorang ibu, tentu tak mau anak laki-lakinya sampai menyakiti seorang istrinya, bila emosi dan finansialnya belum tertata. Beliau tak mau, Kala hidup susah. Orang yang menikah dalam keadaan mapan saja bisa keteteran saat menjalani pernikahan, apalagi Kala. Duh, mama kalau boleh sujud ke Kala, bakal sujud, memohon agar si sulung membatalkan penawarannya.
"Ma, Pa. Percaya sama Kala. Kala bisa menjadi suami yang baik, Ma!" wanita cantik itu hanya tertunduk lesu, ia sangat mengenal sang putra, kalau sudah memutuskan sesuatu, bakal ia jalankan sebaik mungkin.
"Sudahlah, Ma!" papa Kala benar-benar angkat tangan, karena percuma juga dibujuk. Daripada Kala nanti mogok bicara, dan melakukan hal aneh, lebih baik pasrah saja. Benar kata orang, percuma menasehati orang yang sedang jatuh cinta karena pasti keras kepala.
"Saya yang tidak mau," ujar Pevita pada akhirnya. Nyawanya sudah terkumpul, dan dia juga berhak memutuskan tawaran itu. "Bukan meragukan Kala atau meremehkan usianya, tapi menjalani pernikahan tanpa cinta juga tidak baik ke depannya. Apalagi kita baru kenal 3 mingguan, biarlah saya menanggung malu. Biar saya tanggung sendiri batalnya pernikahan ini!" ucap Pevita kemudian menangis lagi.
Gadis itu tak menyangka Refan setega ini, membatalkan pernikahan setengah jam yang lalu tanpa penjelasan yang jelas, hanya memberi clue saya masih mencintai seseorang yang pernah singgah di hatiku dulu. Andai saja, dia jujur masih mencintai mantannya, harusnya tak perlu melanjutkan hubungan dengan Pevita sampai ke jenjang serius begini. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi perasaan dan menanggung malu.
Pevita dan Refan kenal karena papa Adi. Refan adalah calon dokter di bawah bimbingan papa Adi. Melihat karakter Refan yang santun, cerdas, dan pekerja keras, Papa Adi pun mengenalkan Refan pada sang putri. Ternyata mereka cocok dan berlanjut ke hubungan yang serius. Usia mereka juga tak terpaut jauh, saat dikenalkan Pevita masih 19 tahun, dan Adi 23 tahun. Memang keduanya niat menikah muda, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat pergaulan anak zaman sekarang yang bikin elus dada.
"Papa juga sanggup menanggung malu di depan rekan kerja di rumah sakit nanti," ucap papa Adi yang langsung memeluk putrinya itu. Pada moment inilah, hati Pevita langsung terenyuh. Pelukan sang papa menunjukkan beliau sangat sedih, dan sangat kecewa. Ah Pevita tak tega sebenarnya.
"Papa, maafkan aku!"
"Bukan salahmu, Nak. Papa yang telah mengenalkan kamu dengan Refan, ini semua salah papa!" ucap Papa Adi dengan mengusap air mata Pevita.
Semua melihat interaksi papa dan anak itu, bahkan Kala pun melihatnya dengan senyum tipis. Hatinya sudah siap dengan segala resiko, termasuk penolakan. "Papa bahagia kalau Pev menikah dengan bocil itu?" tanya Pevita pelan, siapa tahu dengan cara ini, sang papa tidak perlu menutup telinga di dekat rekan kerjanya nanti.
"Dia serius, dan laki-laki yang baik akan memegang ucapannya," ujar papa Adi.
"Ya udah aku terima, agar papa tak perlu mendengar hujatan orang akibat ulah Refan!" sambung Pevita setuju.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh