Sudah 8 tahun aku mencari dirinya kemana-mana tapi tetap saja diriku tidak bisa menemukannya. Apa dirinya sangat membenci diriku hingga dia tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di dunia ini. ~Leonex Martin.
8 tahun cukup membuatku belajar tentang dunia yang kejam ini. Membuatku mampu melindungi kedua malaikatku dan mampu membalaskan semua yang mereka lakukan kepadaku. ~Luna Nypole.
Waktu yang telah membuat seseorang menjadi menyesal dan waktu yang telah membuat seseorang menjadi kuat. Sebuah kisah yang akan membawamu untuk membalaskan dendam kepada mereka yang telah memberikan kenangan pahit. Sebuah cinta yang dulunya ada dan hilang dengan sekejap sentuhan.
Apakah dia mampu menyelesaikan rencana yang disusun selama 8 tahun silam atau jatuh kembali ke dalam pesonanya.
>>>>Dilarang keras plagiat nanti dosa.
>>>>Jangan lupa like, comment, tekan tanda favorit dan tentu saja Vote yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DNA_2005, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : I'm Back
Luna menginjakkan kakinya di bandara khusu milik angkatan militer, semua pasukan berbaris rapi dan berjajar menyambut kedatangan mereka. Beberapa pelayan dan ajudan bergegas cepat mengambil semua barang bawaan mereka, karena kedisiplinan mengajarkan mereka untuk menggunakan waktu dengan baik dan tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna.
Langkah kaki Luna diiringi beberapa orang terdengar tegas dan jelas, aura dinginnya menyeruak dan terasa di setiap orang yang menunduk hormat di sana. Sebuah senyuman manis menyambut mereka, seorang pria paruh baya dengan pakaian pelatih nya terpakai rapi di tubuhnya.
"Selamat datang, Anakku dan tentu saja Cucuku" tegas Laki-laki paruh baya itu yang diangguk pelan Oleh Luna. 'aku kembali' batin Luna.
"Kami Kembali, Kakek!" semangat Navin dan Laura sambil memberikan senyuman nya. Sedangkan Rangga memberikan hormat dan menatap wajah ayahnya itu.
"Aku telah kembali, Komandan!" tegas Rangga yang diberikan senyuman oleh Henry. Ya lelaki paruh baya itu adalah Henry Nypole pemimpin klan Ular yang akan diteruskan kepada kedua anaknya itu.
Sebuah mobil Jeep hitam terpakir rapi untuk membawa mereka kembali ke mansion untuk membahas semua hal yang perlu dibahas. Neva yang hanya mengikuti pelan-pelan hanya bisa diam dan melihat interaksi keluarga yang sangat hangat itu. 'Anda sangat beruntung nona' pikir Neva hingga kedua pundaknya di sentuh oleh tangan kedua orang manusia.
"A..Apa yang kalian ingin lakukan?" takut Neva saat melihat kedua pelayan perempuan yang sudah merengkuh pundaknya kuat.
"Jangan keras-keras dia tidak seperti yang lainnya dia lemah, dan jangan lupa berikan tugas yang ku perintah kan kepada kalian" jelas Luna dingin lalu masuk ke dalam Jeep hitam itu.
"Baik Nona" ucap kedua pelayan itu hingga mobil Jeep itu pergi dari hadapan mereka.
"Baiklah nama anda Neva bukan?" tanya perempuan paruh baya yang baru datang.
"I..iya" gugup Neva.
"Perkenalkan saya adalah kepala pelayan di mansion tempat kau bekerja, anda sudah di jelaskan kepada nona untuk menjadi pelayan buka ?" tanya kepala pelayan itu ramah yang langsung diangguki oleh Neva.
"Baiklah Nana dan Nina bawa Neva ke mansion dan pastikan perlakukan lembut karena dia juga merupakan ibu asuh nona besar" ucap Kepala pelayan itu lalu pergi
"Baik, Kepala pelayan" Jawab mereka bersamaan. Nana dan Nina melepas Cengkraman tangan nya dan menatap ke arah Neva yang sudah ketakutan dan bergetar itu.
"Jangan takut Kak Neva, kami pernah baikku dan juga maaf kami mencengkram mu terlalu erat karena ini adalah kali pertama kami" ucap perempuan yang menguncir rambut nya di sebelah kanan.
"Ya ini pertama kalinya kami bertanggung jawab untuk orang seperti anda karena biasanya kami hanya berurusan dengan penjahat atau mata-mata yang dikirim oleh nona besar" timpal perempuan yang kunciran rambutnya di sebuah kiri.
"Makanya kami kebiasaan mengengam atau memegang menggunakan tenaga yang kuat jadi maafkan atas ketidak nyamanan nya" ucap perempuan Kuncir kanan itu.
"Ah kalau anda bingung yang kuncir kanan namanya Nana sedangkan saya yang kuncir kiri adalah Nina, salam kenal" ucap Nina sambil tersenyum ramah. Neva menganguk dan menerima juluran tangan milik Nina.
"Ayo cepat mobilnya sudah siap jangan kelamaan bersalaman nanti kita ketinggalannya, loh" ucap Nana sambil menyenggol bahu milik kembarannya Nina.
"Mari kita berangkat Neva" ramah Nina dan memegang tangan Neva menuju mobil yang disiapkan untuk mengantarkan mereka kembali mansion.
Di Mansion~
Navin dan Laura berlarian ke arah Francis yang sudah merentangkan tangan miliknya.
"Kami pulang, Nek!" ucap Laura semangat dan memeluk erat neneknya itu.
"Aku pulang" dingin Navin dan memeluk neneknya dari samping. Francis yang melihat tingkah lucu kedua cucunya itu hanya bisa tertawa manis.
"Astaga kalian tambah besar ternyata" tawa Francis dan mengusap rambut kedua rambut cucunya itu. Sedangkan Rangga berjalan menuju ibunya dan mengecup pipi ibunya itu.
"Aku pulang, Mom" ucap Rangga.
"Apa kamu berkelahi lagi dengan adikmu?" tanya Francis.
"Ti.."
"Iya nek, dan yang paling parahnya seperti biasa drama" potong Laura cepat yang membuat Rangga menggendong Laura dan mencubit gemas hidung perempuan kecil itu.
"Dasar mulutnya tidak bisa dijaga" gemas Rangga. Ke empat orang yang sedang bersama-sama di ruang tamu itu bercanda ria dan tertawa berbeda dengan kedua orang yang sedang ada di ruang tengah sambil mengeluarkan aura pembunuh kental miliknya.
"Apa yang ingin anda tunjukkan, Letnan?" tanya Luna dingin sambil memanggil ayahnya itu Letnan dalam formalnya.
"Karena kau akan bertarung dalam dua pertandingan, saya sudah menyiapkan senjata nya dan anda tinggal memilihnya" jelas Henry dingin yang diangguk paham oleh Luna. Tangan Henry menepuk kedua tangannya meminta kedua butlernya untuk membuka kain yang menutupi senjata-senjata itu.
Semua senjata terlihat rapi dan jelas di lantai itu, susunannya yang rapi membuat Luna mengetahui jenis-jenis dan macam-macam senjata yang ada dihadapannya itu. Dari senjata api, Pistol bahkan senapan sudah tertata rapi di hadapannya itu.
"Semuanya?" tanya Luna datar dan menunduk menyentuh senjata-senjata itu.
"Tentu saja dan ada satu barang lagi yang akan datang besok" ucap Henry lalu mengambil pistol bewarna hitam itu.
"Ku tembak di sini, boleh?" tanya Luna sambil mengarahkannya kepada Butler Lelaki yang ada di seberangnya. Tangannya sudah memegang pelatuk dan siap menariknya lalu mencipratkan darah di depan matanya tetapi sebuah tatapam tajam menatapnya nyalang.
"Bukan di mansion tapi di arena" tegas Henry sambil menatap tajam anak perempuan yang suka sekali bercanda tetapi menggunakan senjata yang bukan mainan.
"Luma melangkahkan kakinya dan melihat-lihat setiap senjata dan shot gun yang ingin dia bawa saat pertandingan nanti dan tentu saja dia uji coba di tempat pelatihan milik ayahnya itu.
"Wow apa ini senjata baru, aku ingin!" girang Laura yang baru masuk ke dalam ruang tengah.
"Maaf Laura sayangnya senjata ini milik mom mu" ucap Henry sambil mengusap pucuk kepala milik Laura.
"Tidak seru" Rajuk Laura sedangkan Rangga berjalan menuju adik perempuannya yang sedang mencoba melihat target dengan senjata senjata yang dia dapatkan itu.
"Apa kamu serius" bisik Rangga di samping telinga adik perempuan nya.
"Kalau kakak cari ribut ku lepas pelatuk ini di depan kakak" ancam Luna sambil memegang senapan miliknya dan mengarahkannya telat di area jantung milik kakaknya. Rangga langsung menjauh dari posisinya dan mendekat ke arah ayahnya itu.
"Daddy kenapa adik perempuan yang seharusnya manis menjadi sangat pahit DNA mengerikan" adu Rangga lalu memeluk ayahnya itu.
"Itulah yang membuat dad menyerahkan mafia ke adikmu dan militer ke kamu" ucap Henry yang membuat Rangga mengerucut kan bibirnya.
"Apa sudah manja-manjanya dan dimana Navin?" tanya Luna dingin.
"Ah dia ikut dengan nenek untuk menaiki tank baru yang dipesan nenek" jawab Laura sambil mengemut permennya. 'aishh anak itu' pikir Luna.
"Kalau begitu aku akan coba ini di luar jangan ada yang mengikuti" tegas Luna lalu membawa satu senjata saja.
"ai ai kapten" jawab Rangga dan Laura bersamaan.