Seren hanyalah gadis biasa yang terlahir dari rahim seorang pelacur. Hidup dan tumbuh dari hasil keringat seorang pelacur tak membuat Seren termotivasi untuk menjadi salah satu di antaranya.
Dalam 18 tahun kehidupannya, Seren selalu bertekad tidak ingin menjadi seperti sang ibu. Karena ia sangat tahu di balik kehidupan mewah seorang Pelacur tersimpan sebuah hal berbahaya yang bahkan satu orang pelacur- pun belum dapat keluar darinya.
"Hmm- Kamu percaya kalau aku ini bajingan, bukan?"
peringatan: mengandung percakapan orang dewasa, disarankan untuk bijak memilih jenis bacaan anda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang-jun!!!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Harga diri
'Bertemu Domo di rumah bordil, Sepertinya dia punya hasrat seksual yang berlebih.'
.......
.......
.......
.......
...SADNESS...
...30...
...Harga diri...
.......
.......
.......
William hanya memperhatikan dari sudut matanya bagaimana pria tua itu memanjakan diri dengan pelacur muda yang sedang memandu lagu untuk menghibur Domo.
Sebagai manusia yang sudah siap dijemput malaikat maut William akui dia pria yang cukup tangguh, bermain dengan 5 wanita sekaligus dan ditemani minuman keras serta ruang VVIP yang tidak banyak kalangan bisa menikmati.
"Aku cukup kesal dengan tempat ini yang bahkan sesama ruangan VVIP malah diberi jendela. Ini bukan privasi namanya." Ucap William menuangkan wine terakhir ke gelas.
Dengan ekspresi ogah-ogahan namun penasaran, William kembali berdiri untuk sekedar berjalan kearah jendela, memperhatikan Domo yang kini sudah memainkan lubang basah sang wanita. Sepertinya pria tua itu sudah bersiap untuk memasukkan benda pusakanya.
"Tidak disangka pria yang terkenal dengan kepribadian bersih bisa bermain semahir itu." Gumam William mengarahkan kamera kearah Domo.
Jpret..
Jpret...
Jpret...
Saat selesai meneguk cairan terakhir, William cukup terkejut saat Domo memandangnya dengan ekspresi panik.
Sepertinya pria itu baru sadar akan adanya cermin di-ruangan ini yang saling terhubung. Domo dengan gerakan cepat kembali membalut dirinya seadanya.
Lantas Domo langsung beranjak dari tempatnya, berjalan ke ruangan William yang memandang ke arah pintu masuk, seolah membuat muka tak perduli William hanya acuh.
Ia kembali ke tempat duduk, mencoba senatural mungkin menghadapi Domo. Smartphone kembali ia simpan rapi di saku celana. Ia membuat ekspresi seolah tak pernah melihat kejadian barusan.
Tangan kanan yang bebas beralih ke atas sofa, sekedar bersandar. Kaki kanan langsung bersilang di atas kaki kiri, mengangkat ujung kaki kanannya dan mengarahkannya pada kejantanan Domo yang hanya berbalut bathrobe seolah mengejek bertapa kacaunya penampilan pria itu. Gelas yang sudah kosong dimainkan diudara, ekspresi datar dilempar pada Domo.
"Karaoke ditemani gadis cantik memang cukup menarik ya." Ejek William mengarahkan gelas kosongnya tepat di depan muka Domo, seolah memberi isyarat pada Domo untuk bergabung didalam kesunyiannya.
Domo yang sedang menatap William membalas "Berpesta sendirian sungguh tidak menyenangkan."
William beralih pandang pada ruangan Domo, mukanya culas mengejek Domo "Sedang malas ditemani. Aku hanya ingin mengasingkan diri dari dunia. Apalagi masalah di rumah," Melirik Domo.
"Oh iya aku lupa, kenapa aku malah berlagak seperti ber-istri, oh astaga aku ini. Hey Domo, bagaimana kabar keluarga? masih amannn?"
Muka Domo mengeras, ia langsung duduk disamping William dan membuka wine yang tanpa sadar ia bawa, tanpa menawarkan satu loki pada William ia memilih meneguknya sendirian.
"Kau pikir orang-orang yang berprofesi dan memiliki tekanan sekeras kita tidak butuh hiburan tambahan? Bahkan banyak pejabat yang menyewa LC sebagai peneman dinas keluar kota."
William yang diperlakukan secara tak sopan hanya mendengus. Ia memalingkan wajah dan merogoh jas kerja yang sudah tergeletak di atas sofa.
"Kau mau?" Tanya William menawarkan Cerutu kearah Domo.
Dengan masih mengoceh Domo mengambil satu cerutu dan meminta api pada Lc yang ia bawa, namun di antara mereka semua tidak ada yang sempat membawa korek dari ruangan Domo.
Ctikkk..
Fruuuuuhhhh....
Dengan santai William mengarahkan korek api Dupont Louise-nya pada Cerutu Domo.
"Sudah, kau tidak perlu membuat mereka repot." Tukas William kembali menyimpan korek api.
"Ah.. Terimakasih." Balas Domo sedikit canggung.
William hanya mengangguk sebagai respon dari balasan Domo. Mereka saling terdiam, sementara para LC masih memainkan perannya untuk memuaskan Domo dengan cara yang lebih vulgar sesuai permintaan.
"Anda ingin satu di antara mereka?" Tawar Domo.
William melirik tajam, namun tersirat rasa tak minat di kedua mata safir itu.
"Tidak," Jawab William singkat. Ia mengarahkan jari telunjuknya untuk mengusap bibir yang mulai mengering.
"Karna aku punya yang lebih menggoda di rumah." Sambung William kembali menyindir Domo.
Domo masih mencoba menahan rasa kesal, ia kembali meminum Wine miliknya dan kembali teringat akan sebuah isu mengenai William.
"Oh iya, aku baru ingat kalau selera pelacurmu itu yang sudah matang hahahahaha...." Domo tertawa puas di akhir.
William melirik, "Issu mu itu pasaran sekali. Lagipula itu bukanlah sesuatu yang harus di permasalahkan, selagi mereka memenuhi tugas mereka padaku aku tidak keberatan untuk usia."
"Itulah yang membuatku tertawa, kau seharusnya belajar dari orang sepertiku. Aku memilih pelacur yang segar, kulit kencang, pantat bohai, lihai, dan lubang V yang masih kencang. Sementara kau malah sebaliknya. Hahahahahhaa...."
Dan terus berlanjut, Domo semakin menjadi. Membacakan asal usul William yang tidak diketahui kebenarannya, hingga mengungkit selera William terhadap para pelacur.
"Jadi itu yang membuatmu selalu disini? apakah istrimu tidak menarik lagi karna lubangnya sudah longgar?"
Domo langsung terdiam, urat emosi langsung tercetak jelas di kening.
"Ck... kau dari meeting hingga kini masih saja bersikap sarkastik, apa itu etika yang di ajarkan keluargamu ha!!? Dasar orang asing!"
"Hmmm... kau ini kekanakan sekali, tapi aku akan mencoba abai. Namun bukti ini bisa menjadi hal yang berbeda." William menunjukkan hasil foto yang ia ambil beberapa menit yang lalu.
"Fuck! kau ini kenapa sih!? Bersikap tidak jelas dan malah mengancamku, padahal aku sudah mencoba untuk akrab padamu!"
Plok! (Suara jentikan jari)
"Itu pertanyaan yang aku butuhkan darimu."
Wajah Domo langsung mengeras, ia menyuruh para LC untuk pergi karna ia merasakan pembicaraan mulai sensitif.
Setelah para Lc pergi, William mengarahkan perhatian pada smartphone, mencoba mengambil satu berita yang menarik.
"Siska, kau kenal?"
William kembali mengarahkan layar smartphonenya pada Domo.
"Uh?" Wajah Domo seketika terkejut.
"Hey aku tanya apa kau kenal bung, aku hanya ingin memastikan saja."
"Apa urusanmu ha? Hey kau hanya orang asing disini tapi sudah berani mengancam orang terkaya di kota ini. Tidak sadar diri sekali. Ck! Sungguh tak bermoral."
"Dia menganggu Club ku dengan menyebar pinjaman berbunga besar pada para pelacur disana. Dan hal yang tak di sangka dia membunuh salah satu pelacur dan mengambil organ tubuhnya. Kau tau, dia bahkan memerasku. Huhhhhhh~" Terang William, dia abai pada kalimat terakhir Domo.
"Lalu?" Tanya Domo mendelik ke arah William.
"Aku melakukan hal yang sama padanya." Jawab William santai, ia bahkan tersenyum sangat lebar untuk beberapa detik.
Domo reflek berdiri, matanya membelalak tak percaya, wajahnya pias, keringat mengalir deras dari wajah hingga ke seluruh tubuh.
"K-kau apa?" Tanya Domo memastikan.
William memangkukan wajah di punggung tangan kanan, sementara tangan kiri tengah mematikan cerutu di atas sofa yang sontak membuat bekas terbakar yang jelek. Matanya hampir menutup namun masih mengintimidasi Domo.
Dengan pelan William kembali mengucapkan kalimat "A K U M E M B U N U H N Y A. Dan aku sudah mengirim petinya ke rumahmu, beserta kartu ucapan berdukanya."
.
.
"Kau baru kembali dari toilet?" Tanya Rasyid memandang Robert.
"Tidak juga, yang membuatku lama adalah mengantar peti besar beserta papan bunga ke rumah orang, dan kau?"
Rasyid menunjukkan 4 botol Azul pada Robert yang mengangguk sebagai jawaban. Mereka berdua berjalan beriringan, tidak ada yang memulai percakapan setelahnya sampai mereka mendengar suara keras seperti perkelahian di ruangan sang tuan.
Mereka berlari tergesa hingga melihat tuan mereka sudah menumbangkan seorang pria tua gendut dengan bathrobe yang hampir lepas dari tubuhnya.
"Itu sebuah balasan karna dia telah menyakiti milikku, dan kami sekarang impas. Kudapatkan kembali uangku dengan menjual organnya ke pasar lelang. Dan ini.."
William mengeluarkan sebuah 'cek' dari saku jas dan melemparkannya tepat ke wajah Domo yang sudah babak belur.
"Ini sisa uang penjualan organ anakmu Siska,"
William berjalan mengambil jas lalu pergi dan tak lupa melangkahi tubuh gempal Domo yang sudah tak sanggup berdiri.
"Dan terimakasih telah berbisnis...."
Saat di ambang pintu, William sedikit menoleh "Jangan pernah sentuh milikku, karna dendam-ku tak akan puas jika tak menghabisi satu keluarganya sekaligus."
.
.
.
.
"Tuan?" Tanya Robert dan Rasyid kompak.
"Kita bicara di manshion saja. Kepalaku semakin sakit saat melihat tempat ini." Perintah William berjalan lebih dulu.
Sementara Robert dan Rasyid hanya dapat memandang satu sama lain, mereka memberikan gekstur mengangkat bahu dan dengan cepat mengejar William.
.......
.......
.......
.......
...TBC...