Tina dan Vivi adalah saudara kandung, anak dari
pak Budi dan bu Lasma. Kehidupan mereka cukup teramat susah dan menderita. Dikarenakan ketidak mampuan mereka, pada akhirnya mereka hanya tinggal disebuah gubuk
kecil tepat diarea persawahan. Bukan hanya itu saja, mereka tinggal disebuah desa yang sangat
pelosok sekali, jauh dari kecamatan apa lagi dari kota. Bayangkan saja, sekolah SMP dan SMA
saja harus menempuh jarak waktu sekitar 3 jam lebih dari desa mereka. Hingga anak pedesaan itu, setelah lulus dari SD harus ngekos dikecamatan demi melanjutkan pendidikan mereka. Mereka diusia dini sudah harus mandiri dan rela berpisah dengan orang tua, tetapi mengabdi pada pemilik kos yang terkadang pemilik kosnya tidak memiliki perasaan.
Budak, iyah budak, kata-kata itulah cocok dirasakan dan dialami Tina selama ngekos dikecamatan. Dirinya sungguh menderita dan tidak hentinya mengerjakan pekerjaan rumah,
dan malah sering dapat hinaan dan omelan.
Semua itu terjadi demi dikarenakan ngekos gratis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maminya nathania bortum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part.30 : Dilema
"Lalu, bagaimana dengan isi surat wasiat
pak Budi? Kamu dituntut untuk bertanggung jawab disemua hidup dan nyawa Tina, Aldi!
Saya akan terus menerus berusaha mengingatkan
hal itu terhadapmu. Tidak bisa kamu mengelak lagi,
sayalah orang pertama sekali membaca isi surat
dari almarhum terhadapmu. Sebenarnya ini, bukanlah urusan pribadi saya, terserah kamu saja
melaksanakan atau mengabaikanya. Karena apapun pilihanmu, kamu sendirilah yang menjalaninya dan menerima konsekuensinya
sesuai yang kamu laksanakan!" papar pak kost
berusaha untuk memberi pemahaman
terhadap Aldi.
Tetapi pak, diusiaku yang masih muda dan tercatat
sebagai pelajar menengah, tidak sepantasnya tanggung jawab itu di tanggulangi terhadapku.
Bagaimana saya siap untuk itu? sementara saya
sendiripun masih anak mami yang semua kebutuhanku dilayani para asisten. Saya benar-benar belum siap menerima tanggung
jawab sebesar itu.
Saya mengerti itu Aldi, tetapi almarhum sudah
terlanjur mempercayakan anak gadisnya terhadapmu. Bahkan saat ziarah di hari pertama
setelah pak Budi dimakamkan, kamu juga memiliki janji terhadap bu Lasma didepan makam almarhum. Surat wasiat atau amanah dari seorang
almarhum bukan dianggap main-main, itu sesuatu
hal yang harus kita jalankan sesuai permintaanya.
Kamu memang anak sultan, kamu memiliki segalanya tetapi segalanya dalam hidup ini bukanlah harta jaminan kebahagiaan yang abadi.
"Ingatlah perkataanmu di depan makam almarhum!" bahwasanya kamu ingin mendampingi
Tina dan mau bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap Tina. Itu semua mengisyaratkan bahwa
kamu setuju dan menerima pesan terakhir almarhum.
Aldipun memikirkan perkataan sang bapak kos.
Pria itu juga mengingat sekilas isi surat wasiat
almarhum pak Budi tersebut. Tiba-tiba saja perasaanya berubah menjadi tidak tenang, bahkan
jantungnya pun berdegup begitu kencang tanpa
beraturan. Tubuhnya terasa lemas dan bermandikan oleh keringat dingin yang mampu
membasahi sekujur tubuhnya.
"Saya sudah membuat kesepakatan dengan wanita
desa itu. Bahwa kami harus membisu selamanya
seperti tidak pernah kenal sama sekali, semua itu
bukan tidak beralasan. Tetapi disebabkan oleh ulah
gadis tersebut, membuat semua benar-benar hancur. Bukan itu saja, banyak dinding pemisah
diantara kami, baik itu dari keluarga maupun
orang tua saya yang tidak sudi anaknya memiliki
teman seperti Tina", gumam Aldi menggigit bibir
bawahnya sembari menarik pelan-pelan nafasnya.
"Pak tolong katakan! harus bagaimana saya untuk
menjalankan amanah itu? sementara ibuku sendiri
menjadi lawanku, jika harus kembali berteman dengan wanita desa itu". Papar Aldi menatap sang pak kost dengan wajah melas.
"Aldi, saya juga laki-laki. Sebagai sesama kaum Adam, saya hanya ingin mengingatkan kamu saja sebagaimana jati diri laki-laki sebenarnya.
Yakni: Berjuang, bertahan, dan bertanggung jawab.
Jika ketiga itu ada pada dirimu, lantas hal apa
yang harus kamu takuti?" ujar sang pak kost sembari memegang bahu Aldi.
" Ya pak, ada benarnya juga.
Tetapi sampai kapan tanggung jawab saya lepas untuk Tina? sementara almarhum berpesan seumur hidup wanita itu harus saya dampingi.
Lantas setelah saya dewasa, bagaimana bisa hal
itu terlaksanakan? saya juga kan kelak memiliki
kehidupan sendiri". Sahut Aldi dengan nada panik
sembari mengerutkan dahinya.
"Sampai hayat hidupmu, hidup kalian berdua sudah
saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.
Kelak kamu dewasa akan semakin paham tujuan
dari pesan terakhir almarhum tersebut. Untuk itu,
jangan biarkan dia menangis dalam kesendirian.
Saat ini, wanita itu butuh teman dan dukungan, kejarlah dia Aldi! temui dia dan bantu sebisamu keluh kesahnya". Ujar sang pak kost dengan nada tegas.
Tanpa pikir panjang lagi, Aldipun langsung memutar motor besarnya. Pria itu langsung
membalab memutar arah dan meninggalkan
sang pak kost sendiri. Pria pemilik kost Tinapun
tersenyum melihat Aldi yang bisa memahami
tujuanya. Dirinyapun bisa tenang berbalik arah
menuju rumahnya.
Tiba-tiba Aldi menepikan motor besarnya, ketika melihat satu titik sudut ada wanita duduk ditepi jalan berteduh dibawah pohon untuk beristirahat.
Tampak wanita itu sesekali mengusap air matanya,
dengan membungkukkan tubuhnya diatas lututnya.
"Tina, dirimu mau kemana? kok menenteng tas
seberat ini. Kamu mau kabur lagi, atau ingin
kembali bersama pria paruh baya itu, hemm?
Sepertinya kamu nyaman hidup bersamanya, tinggal disebuah gubuk di tengah-tengah hutan".
Imbuh Aldi sembari duduk disamping Tina.
" Maaf, saya tidak butuh bantuan apapun,
jika harus menerima perkataanmu yang menoreh
luka dihatiku. Pergilah! tinggalkan saya sendiri,
saya yakin mampu menjalani semua ini tanpa harus mengemis pengasihanian dari siapapun",
jawab Tina dengan memalingkan wajahnya sembari mengusap air matanya yang terus berurai.
"Wahhh, hebat. Kamu sekarang sangat hebat.
Baguslah, jika akhirnya kamu berubah menjadi
Wonder Woman, karena itu yang kuinginkan!"
papar Aldi menjawab dengan lantang.
"Bukankah kamu sendiri yang meminta kita
saling membisu dan seperti tidak kenal satu
sama yang lain? untuk itu, kamu atas hak apa
menegur dan menyapaku? bahkan menghampiriku
mengkepoi kehidupanku." Ujar Tina membalikkan
tubuhnya berusaha membelakangi Aldi.
Saya punya hak atas semua hidupmu, Tina!
kamu tau kenapa? semua itu kehendak dari
ayahmu sendiri.
"Apa? kamu bilang ini kehendak dari ayahku,
bagaimana dengan kehendak orang tuamu?
saya tidak ingin seseorang itu masuk dalam hidupku dengan keadaan paksa". Sahut Tina sembari berdiri menenteng tasnya.
"Saya juga maunya begitu, tetapi nasib takdirku
dipertemukan denganmu, sehingga hidupku
dikelilingi banyak problem", celetus Aldi dengan
nada kesal.
"Baiklah, untuk itu kita akan melawan takdir itu.
Tidak guna juga kita selalu berdebat dan pada
akhirnya saling menyakiti. Saya juga tidak niat
sedikitpun masuk dalam kehidupanmu, terlebih
dalam keluargamu. Sungguh sakit dan masih sakit
atas semua perkataan hinaan yang ibumu torehkan
terhadapku". jawab Tina sembari melangkahkan
kakinya beranjak pergi meninggalkan Aldi.
"Ok, Fine. Tetapi ingat! kamu yang harus bertanggung jawab atas semua pesan dari ayahmu. Ini surat wasiat disaat nafas terakhir ayahmu dan akan kukembalikan padamu!"
seru Aldi sembari mengeluarkan secarik kertas
dari dompetnya.
"Saya masih berduka, saya belum siap membaca
isi surat itu. Lagian itu kan, tujuan pesanya bukan
untukku tetapi untukmu.Maka itu, kamulah berhak
memegang surat itu, terserah kamu saja mau
kamu apakan itu surat". Imbuh Tina dan melemparkan tasnya diperumputan.
Oh, begitukah caramu menanggapi isi surat ini?
Kamu benar, ini tujuanya bukan untukmu,
jadi apapun yang terjadi dengan takdirku karena
mengabaikan pesan ini, dirimu benar-benar tidak
mau tahu begitu? ternyata kamu wanita jahat Tina.
"Diammm! jangan sesekali kamu mengatakanku
wanita jahat, tetapi yang jahat sesungguhnya itu
adalah kalian. Semua kalian jahat, tidak puas-puasnya menyalahkanku dan menghinaku
terus menerus!" seru Tina menangis histeris
sembari menghempaskan tubuhnya di
perumputan itu.
Pria itupun terdiam sejenak, dirinya kehabisan kata-kata setelah melihat reflek dari Tina.
Sungguh pria itu terkejut batin dan sangat bingung
tingkat dewa. Dirinya kurang memahami
seperti apa perasaanya sesungguhnya untuk wanita desa itu. Haruskah kasihan, sedih, sayang atau benci? Ntahlah, waktulah yang akan menjawab seperti apa rasa dan perasaan diantara mereka berdua. Tetapi ketika melihat Tina menangis dan menderita, sepertinya sang
pria itu juga ikut merasakan yang dirasakan
oleh Tina. Bahkan seolah-olah pria itu tidak rela melihat wanita itu tersiksa. Anehnya, justru malah perkataanya sendiri dan tingkah lakunya
yang sudah menyayat hati wanita itu semakin luka.
bersambung..
sungguh menarik ceritanya
pagi menyapa tur
good job dekq
seperti sinetron ahhhh