Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Dunia Kecil.
...~•Happy Reading•~...
Mathias tahu, pihak yang menuntut tidak akan berhenti sebelum mendapatkan yang mereka inginkan.
"Jadi menurut saya, alangkah baiknya anda menjual mobil itu dan simpan uangnya. Setelah anak anda besar, baru belikan mobil baru untuknya. Ini saran saya, agar tidak membuat pusing setiap hari dengan yang itu-itu saja." Ucap Mathias.
"Iyaa, Pak. T'rima kasih. Tetapi saya tidak tahu siapa yang bisa menjual atau membelinya. Apakah Pak Mathias kenal orang yang dipercaya dan bisa membantu saya?" Ambar mengharapkan bantuan Mathias. Saat ini baginya, hanya Sari yang bisa dia percaya. Sekarang, dia merasa Mathias juga orang baik yang bisa membantunya. Jika tidak, Sari tidak akan rekomendasi agar minta tolong kepada Mathias.
"Mungkin asisten saya bisa bantu, karna bebarapa waktu lalu, dia baru jual mobil." Mathias ingat Bagas yang sudah menjual mobil Erwin.
"Baik, Pak. Asisten bapak yang waktu itu ada di kantor?" Ambar ingat pegawai yang pernah bertemu dengannya, jadi dia sudah mengenal.
"Iyaa, betul. Namanya Bagas. Kalau sudah siap, katakan saja, biar dia ke tempat anda." Ucap Mathias lagi.
"Apakah mobilnya bisa dibawa hari ini, Pak? Dijualnya kapan-kapan, terserah asisten bapak saja. Yang penting, mobil ini tidak kelihatan ada di rumah." Ambar sudah cape' dan tidak enak hati dengan tetangga. Hampir setiap hari ada keributan di depan rumahnya.
"Kalau begitu, anda kirim alamat rumah, nanti saya minta asisten ke tempat anda." Ucap Mathias.
"Baik, Pak. Setelah ini saya akan kirim alamat rumah saya." Hati Ambar merasa sedikit lega.
"Bu Ambar, jangan bukakan pintu untuk mereka. Nanti saya akan kirim nomor telpon asisten saya, supaya anda bisa merespon telponnya. Semua nomor yang tidak dikenal, tidak usah direspon. Tolong siapkan semua surat-suratnya, supaya asisten saya bisa segera bawa mobilnya." Mathias menjelaskan, rinci dan tegas.
"Baik, Pak. T'rima kasih." Mathias mengakhiri pembicaraan mereka. Ambar menarik nafas panjang, mendengar ribut dan ketukan dipagar. Dia mengabaikan lalu kirim alamat rumah kepada Mathias.
~**
Setelah berbicara dengan Ambar, Mathias meminta Bagas datang ke ruang kerjanya. "Bagas, tolong bawa mobil Bu Ambar dari rumahnya, nanti parkir di tempat parkir apartemen saya. Setelah itu, kau bantu jual seperti mobil Pak Erwin..." Mathias menjelaskan kepada Bagas sambil menunggu alamat yang akan dikirim Ambar.
"Nanti kau ke rumah Bu Ambar, jangan langsung masuk ke rumahnya. Lihat dulu situasinya dan hubungi Bu Ambar sebelum mendekati rumahnya. Karena ada masalah dengan mobil itu. Keluarga suaminya sedang di depan rumah untuk ambil mobil itu..." Mathias mengambarkan situasi kepada Bagas. Dia khawatir Bagas langsung ke rumah Ambar saat keluarga Rulof masih ada.
"Sekarang, kau kembali ke ruanganmu. Nanti saya kasih alamat, kalau sudah dikasih." Ucap Mathias.
Bagas mengangguk mengerti. "Baik, Pak." Kemudian dia meninggalkan ruang kerja Mathias untuk kembali bekerja.
Berapa waktu kemudian, ada pesan yang masuk dari Ambar. Ketika Mathias buka dan baca, dia terkejut. Alamat rumah yang dikirim Ambar, berada dalam komplek yang sama dengan rumah orang tuanya, hanya beda blok.
Mathias langsung menutup laptop dan masukan ke dalam tas kerja bersama beberapa dokumen yang harus dia pelajari. Dia berjalan keluar ruangan lalu kunci ruang kerja, ke cabin untuk ambil helm dan jacket serta mengunci cabinnya.
Kemudian Mathias menuju ruang kerja Bagas. "Bagas, mari ikut dengan saya. Jangan lupa bawa helmmu." Mathias berkata dan hendak berjalan keluar. Namun melihat Bagas belum berdiri mengikutinya, Mathias mengerti.
"Sudah, berdiri dan bawa helmmu, saya tidak akan ngebut. Jadi cepat berdiri. Kalau lama, saya akan ngebut." Mathias berkata sambil tersenyum dalam hati melihat mimik wajah Bagas.
Bagas segera merapikan laptop dan dokumen di atas mejanya dan masukan ke dalam tas. Setelah mengambil helm, dia mengunci pintu ruang kerja dan berjalan cepat mengikuti bossnya. "Jangan lupa kunci pintu kantor, Bagas." Ucap Mathias, saat melihat Bagas berjalan cepat ke arahnya tanpa mengunci pintu kantor.
Bagas kembali untuk mengunci pintu kantor sambil menepuk dahinya. Dia bisa lupa mengunci pintu kantor, padahal mereka berdua akan keluar dari kantor. Mathias tersenyum melihat yang dilakukan Bagas. 'Pasti dia trauma saat aku ngebut saat itu.' Mathias berkata dalam hati dan tersenyum dari balik kaca helm.
Setelah Bagas duduk dibelakangnya, Mathias menjalankan motor pelan keluar dari tempat parkir ke jalan raya. Bagas duduk di belakang bossnya dengan hati yang sedikit tenang, karena tidak ngebut. Tapi hatinya bertanya-tanya, mereka akan kemana. Tadi dia mengikuti tanpa bertanya lagi.
Mathias memacu motor sportnya dengan kecepatan normal menuju rumah orang tuanya. Tetapi dia melewati blok rumah tempat tinggal Ambar untuk melihat situasi di rumahnya. Ketika melihat di depan rumah Ambar masih ada orang yang menunggu di depan rumah, Mathias langsung putar balik pulang ke rumah orang tuanya.
"Bi Ina, Ibu sudah pulang?" Tanya Mathias setelah sampai di rumah dan Bibi Ina yang membuka pagar untuknya, sedangkan garasi terkunci. "Sudah, Den. Tetapi Ibu sedang istirahat." Bi Ina menjawab sambil mengunci pintu pagar.
"Baik, Bi. Ngga usah dibangunin. Tolong buatkan minuman dingin untuk kami." Mathias melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bagas, masuk dan duduk dulu. Nanti baru kita bicarakan, karna saya mau lihat Ibu dulu." Mathias, mempersilahkan Bagas masuk dan duduk di teras rumahnya. Bagas terkejut, karena baru tahu, dia diajak ke rumah orang tua bossnya. Dia duduk diteras menunggu bossnya sambil menikmati halaman rumah yang asri.
Rumah orang tua bossnya tidak terlalu besar. Tetapi memiliki halaman samping yang cukup luas, karena berada di sudut jalan. Di antara tanaman hias, ada pohon mangga yang sedang berbuah. 'Rumah yang sangat sejuk dan nyaman.' Bagas membatin.
"Ini diminum dulu, Den." Ucap Bi Ina mempersilahkan Bagas minum minuman yang dia sediakan. "T'rima kasih, Bi." Ucap Bagas, sambil melihat Bi Ina dengan wajah tersenyum.
Di dalam rumah, Mathias masuk ke kamar untuk melihat Ibunya. Suster mengisyaratkan dengan tangan di bibir, agar Mathias tidak bersuara. Melihat demikian, Mathias mengisyaratkan suster untuk keluar dari kamar.
"Suster, bagaimana kondisi Ibu dan apa hasil pemeriksaan tadi?" Tanya Mathias setelah mereka ke ruang makan.
"Ibu tadi pagi merasa tidak enak di perutnya, jadi kami ke Rumah Sakit, Pak. Dokter sudah berikan obat, jadi Ibu sedang istirahat." Suster menjelaskan kepada Mathias, tentang kondisi Ibunya.
"Baik, tapi apakah Ibu sudah makan?" Tanya Mathias lagi, karena khawatir melihat kondisi Ibunya.
"Sudah, Pak. Tadi selesai makan, beliau minum obat dan langsung istirahat." Jawab suster.
"Nanti kasih tahu saya kalau Ibu sudah bangun. Saya duduk di teras." Ucap Mathias, lalu menemui Bagas yang lagi duduk di teras.
"Bi, kami makan siang di sini, ya." Ucap Mathias, saat melihat Bi Ina yang baru masuk dari teras.
"Baik, Den. Bibi siapkan sekarang?" Tanya Bi Ina. Mathias mengangguk, lalu berjalan ke teras menemui Bagas.
"Bagas, nanti saat makan siang, kau tolong bantu bawa mobil Bu Ambar. Tadi masih ada orang di depan rumahnya, jadi kita tunggu dulu." Mathias menjelaskan lalu duduk dan minum minuman dingin yang sudah disediakan.
"Iyaa, Pak. Tapi bapak tahu ada orang di depan rumah Bu Ambar dari mana?" Bagas terkejut, mendengar yang dikatakan bossnya.
"Tadi Bu Ambar kirim alamat, ternyata beliau tinggal satu komplek dengan rumah orang tua saya. Jadi tadi itu saya sengaja melewati rumahnya untuk memastikan situasinya." Bagas mengangguk takjub. 'Ternyata dunia ini kecil.' Bagas membatin.
...~●○♡○●~...