Kisah perjalanan hidup Ratna, seorang istri yang dikhianati oleh adik kandung dan suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRATA_YUDHA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdesir
Aku menghentikan langkahku saat pak Marvel memanggil namaku, lalu berbalik.
"Iya pak, kenapa?" tanyaku. Jujur saja, saat itu aku berharap pak Marvel menghentikan dan melarangku untuk bertemu kang Sofyan.
"Udah sarapan?" dia malah balik bertanya.
"Sudah" jawabku berbohong. Padahal, dari tadi tak ada makanan apapun yang masuk kedalam mulutku, semua terasa pahit dan hambar.
"Muka kamu kelihatan pucat, jaga kesehatan, jangan bekerja terlalu keras. Kalau capek istirahat, jangan dipaksakan." ucapnya seolah memberi perhatian.
"Itu aja?" aku kembali bertanya.
Pak Marvel hanya mengangguk, benar-benar diluar expektasiku, aku harus menelan pil pahit saat melihatnya yang kembali melanjutkan sarapan tanpa menghentikanku. Mengecewakan!
Tanpa ragu, aku kembali melanjutkan langkahku untuk menemui kang Sofyan.
Sesampainya didepan, kang Sofyan terlihat sudah duduk di bangku taman halaman depan.
"Maaf lama nunggu kang" ucapku memulai percakapan.
"Enggak kok, akang juga baru sampai" jawabnya sambil tersenyum hangat.
"Ada apa kang kesini?" tanyaku lesu.
"Kamu kenapa? kamu sakit Na? kok wajah kamu pucet?" bukannya menjawab, kang Sofyan malah balik bertanya, dan terlihat sangat khawatir.
"Enggak apa-apa kang, cuma masuk angin aja karena semalam begadang" ucapku sambil tersenyum tipis.
"Beneran enggak apa-apa? udah minum obat?" lagi-lagi kang Sofyan sangat perhatian padaku.
"Udah, enggak usah terlalu dipikirkan, nanti juga baikan. Kang Sofyan ada apa kesini?" tanyaku kembali pada topik pembicaraan.
"Nanti siang ada waktu enggak Na, akang mau ajak Ratna ketemu emak. Sekalian jalan-jalan Na, biar enggak bosen dirumah mulu" ucapnya setengah memohon.
"Kapan-kapan aja ya kang, Ratna lagi enggak enak badan, rasanya pengen rebahan terus. Badan Ratna juga lemes" aku menolaknya secara halus.
"Apa mau akang anter periksa Na?" tawar kang Sofyan.
"Enggak usah kang, Maaf ya kang, Ratna enggak bermaksud nolak ajakan kang Sofyan" aku jadi merasa tak enak hati.
"Iya udah enggak apa-apa, Ikhsan mana?" tanya nya.
"Ada dikamar" jawabku singkat. Entah mengapa rasanya sangat jenuh dan tidak bersemangat.
"Kang, maaf banget ya, Ratna enggak bisa lama-lama, ini masih jam kerja Ratna, belum beres didapur, belum nyuci piring juga" ucapku.
"Iya Na, akang sebenarnya khawatir, kamu lagi sakit tapi masih mikirin kerjaan, coba aja Na terima kang Sofyan, enggak akan dibikin capek gini" ucapnya prihatin.
Aku hanya tersenyum getir menanggapi ucapannya. Setelah itu kang Sofyan berpamitan dan kemudian aku kembali kedalam rumah. Namun, aku tak melihat pak Marvel dan juga Puja, aku hanya melihat Melodi di meja makan yang sedang asyik memainkan ponselnya.
"Puja sama pak Marvel kemana?" aku memberanikan diri bertanya pada Melodi karena saking penasaran.
"Lagi mojok tuh disana" jawabnya tanpa melihat kearahku. Aku melihat ruangan yang ditunjuk Melodi, ruangan itu adalah Ruang kosong tempat dimana aku dan Puja pernah bicara waktu itu.
DEG
Kenapa pak Marvel ngajak Puja kesana? cuma berduaan lagi? Tanpa bisa ku tahan, otakku sudah bertraveling kemana-mana. Rasanya kok jadi dejavu begini, seperti saat mas Ilyas dan Puja yang selingkuh ya? iish! pak Marvel bukan suamiku, dia single, sah sah aja kalau mereka menjalin hubungan. Stop enggak tahu diri begini! Tapi... aku benar-benar cemburu! aku sudah enggak kuat, enggak tahan!
Aku berjalan mendekati ruangan itu, dengan seluruh tenaga yang kupunya, ku dobrak pintu itu dengan sekali tendangan. Aku melihat mereka terkejut melihat kedatanganku yang mendadak. Aku yang sudah dipenuhi amarah langsung mencengkram lengan Puja dengan kasar.
"Puas kamu sekarang? puas bikin aku sakit hati! kamu bener-bener bikin aku mau mati, aku capek sama kamu, capek ngadepin ulah kamu! apa aku enggak boleh bahagia!? apa aku harus menderita terus baru kamu merasa menang?! kenapa kamu jahat? kenapa kamu jahat sama saudara sendiri? kita lahir dari rahim yang sama, darah kita mengalir dari orang tua yang sama, kenapa sekejam ini sama kakak sendiri? punya salah apa aku sama kamu hah!!! jawab!!!"
Ucapku setengah berteriak, aku mengeluarkan semua rasa sakit yang kupendam selama ini. Aku benci melihat wajahnya, rasanya saat itu aku ingin menelannya hidup-hidup!
Puja terlihat meringis menahan sakit karena tangannya ku plintir kuat. Matanya sudah merah, ada kemarahan dan kesedihan disana. Tapi dia tetap bungkam.
"Ratna, kamu salah faham" pak Marvel mencoba menghentikanku.
"Diam! kamu.... kamu sama aja dengan mas Ilyas! semua laki-laki sama, sama aja! aku benci kalian! Puas kamu sekarang? Puas udah mempermainkan saya? Puas lihat saya berantem memperebutkan laki-laki yang bukan suami saya dengan adik kandung saya sendiri?!" ucapku sambil menunjuk wajahnya. Pak Marvel terlihat menghembuskan nafasnya, sambil menahan amarah.
"Kamu yang diam! lepasin Puja, biarkan dia pergi" ucap pak Marvel sambil menatapku tajam.
"Enggak, enggak akan aku lepasin perempuan murahan ini! Mau aku b*n*h!" ucapku lantang sambil terus memperkuat plintiran tanganku ditangannya.
"Aww!! sakit kak" pekik Puja.
"Ini belum seberapa sama rasa sakit yang kamu torehkan dihati aku Puja, kenapa kamu enggak bun*h aku aja sekalian!" ucapku emosi.
"Sayaang... kamu hanya salah faham. tolong dengerin saya. Please" ucap pak Marvel dengan mata memohon. Mendengar kata sayang, aku merasakan hatiku berdesir hebat, seperti tersiram air ditengah gurun pasir yang panas. Begitu saja langsung loyo! apa karena efek janda anyaran? iish! gak bener!
"Kamu enggak usah rayu-rayu aku. Aku capek tau enggak, aku enggak mau di bodohin lagi kayak dulu! kamu sama aja kayak Ilyas, kalian sama-sama menjijikan!" ucapku frustasi. Aku memang bodoh, dan aku kapok dibodoh-bodohin terus.
"Stop! saya bukan Ilyas! jangan kamu samakan saya dengan Ilyas, sekarang lepasin Puja!" ucap pak Marvel sedikit membentak.
Mendengar bentakannya, aku melepas kasar tangan Puja. Lalu mendorongnya dengan kasar.
"Pergi! sebelum aku benar-benar memb*n*h kamu!" ancamku sambil melotot tajam kearahnya. Puja beringsut dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Kini, hanya ada pak Marvel dan aku diruangan itu. Hanya berdua.
"Saya permisi!" aku hendak keluar dari ruangan ini, tapi tanganku keburu dicekal olehnya.
"Mau kemana? kita belum selesai" ucapnya.
"Kita udah selesai, enggak ada yang perlu diselesaikan lagi, semua udah jelas!" ucapku ketus. Aku merasakan sakit sekaligus kecewa pada laki-laki ini.
"Saya enggak akan biarin kamu pergi dalam keadaan salah faham" ucapnya sambil terus menahanku.
"Saya enggak salah faham, sudah jelas apa yang saya lihat, selamat! Selamat untuk kalian" ucapku dengan bibir bergetar menahan rasa sakit yang kian menghujam.
"Kenapa kamu keras kepala sih? apalagi yang harus saya buktikan kalau dihati saya hanya ada kamu!? saya minta maaf udah buat kamu salah faham dan marah sampai seperti ini" ucapannya sontak membuatku merasa dag dig dug. Seperti dilemparkan ke kasur empuk yang penuh dengan bunga.
Tapi, lagi-lagi rasa trauma itu kembali hadir.
"Saya enggak perduli, saya udah enggak percaya laki-laki. Bagi saya, kamu dan mas Ilyas sama aja. Semua laki-laki sama!" ucapku lantang dan membalas tatapannya.
"Saya udah bilang, saya enggak sama dengan Ilyas, dan saya tidak suka disamakan dengan laki-laki brengsek itu!" pak Marvel terlihat marah.
"TERSERAH!" aku mencoba melepaskan tanganku, tapi dia malah menarikku kepelukannya. Dan tanpa ku duga dan tak bisa ku cegah, pak Marvel menempelkan bibirnya pada bibirku.
Aku melotot tajam, apa ini? kenapa jadi begini? aku benar-benar sudah gila, karena tidak menolak dan membiarkan bibirnya menyapu lembut setiap rongga mulutku, menyesapnya dengan menggebu, seperti tak mau melewatkannya sedikitpun. Aku hanya diam, mengikuti alur permainannya, bahkan tanpa sadar aku membalasnya, membalas sesapan demi sesapan yang terasa sangat manis untuk dilewatkan. Kami sama-sama menggebu, mengeluarkan amarah dan emosi yang sudah kutahan-tahan dari semalam.
Aku sangat merindukan pria ini, pria yang membuatku tidur tak nyenyak, makan pun tak enak. Sekian menit aku terbuai, sampai akhirnya aku tersadar bahwa semua ini salah. Aku mencoba melepas, tapi dia malah semakin mempererat pelukannya dan memperdalam cium*n itu. Sampai pada akhirnya aku merasa kehabisan nafas karena diserang terus-terusan, pak Marvel baru melepaskanku. ish, keterlaluan!
"Besok kita menikah"
sok berhati malaikat.