NovelToon NovelToon
Bima

Bima

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Tamat
Popularitas:351.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Sekuel dari novel Abang Penjual Sate, Imamku dan Ibu pengganti. Selamat membaca.

Seorang bayi yang masih merah, terlempar ke dalam jurang yang dalam. Ia ditemukan oleh wanita paruh baya, istri seorang preman pasar yang disegani. Ia dirawat sepasang suami istri itu dengan penuh kasih sayang walaupun cara didikan keduanya berbeda. Bayi itu diberi nama BIMA.

Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang memiliki wajah hampir serupa dengannya. Dengan mempercayai sebuah mitos bahwa jodoh itu pasti memiliki kesamaan, keduanya pun menjalin hubungan pertemanan.

Namun, hal itu membuat ayah angkat Bima ketakutan. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung dan menetap di kota. Hal itu membuat mereka harus mempelajari cara hidup di lingkungan baru itu.

Sampai sebuah pertemuan tak terduga terjadi, menguak siapa sesungguhnya Bima.

"Kak, kenapa wajah kita terlihat sama?" Gadis misterius.

"Kata Nyak gua kalo muka kita mirip ntu artinya kita jodoh. Neng, lu mau kagak jadi bini gua?" Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 30

Seperti mengambang hati dan pikiran Bima. Di saat kedua kaki menapak bumi, berayun mengambil langkah, serasa menapak di atas awan yang tiada permukaan. Melayang tanpa batas, kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang bangir menutupi mata sembabnya bekas tangisan tadi pagi.

"Ck! Ngapa gua kepikiran terus mobil tadi, ya?" Ia menggerutu sembari terus melangkah semakin memasuki gedung tempat di mana ia menimba ilmu.

Bima terus membawa langkah menuju kelasnya, tak acuh dengan sapaan para gadis yang tebar pesona kepadanya. Langkahnya tak terjagal.

"Hallo, sayang! Kenapa terburu-buru?" Seorang gadis berpakaian seksi menghadang langkahnya, Bima menatap tajam dari balik kacamata hitam yang ia kenakan. Jemari lentiknya menari-nari di atas bidang milik Bima yang nampak menyembul dari balik kaos yang ia kenakan.

"Ada undangan pesta untukmu. Apa kau bersedia datang denganku?" katanya dengan nada suara yang dibuat-buat. Kedipan matanya nakal, ia menggigit bibir seksinya menggoda Bima.

Namun, laki-laki itu bergeming, ia mencomot jemari yang masih menyentuh dadanya itu menggunakan dua jari. Menjauhkannya, lalu menepis bekas yang disentuhnya.

"Gua kagak bisa!" katanya. Ia yang hendak melanjutkan langkah terhenti tatkala gadis itu dengan berani membentang kedua tangan dengan dada yang dibusungkan.

"Setidaknya kita mengobrol dulu sebentar. Apa kau tidak tertarik padaku? Kenapa?" Ia merajuk manja. Membuat Bima merasa jengah dan jijik melihatnya.

"Sorry, tapi gua ada kelas," sahut Bima dingin. Ia melanjutkan langkah tanpa tertarik pada godaan gadis yang dijuluki primadona kampus tersebut. Gadis itu hanya dianggap Bima seperti kerikil dan menyingkirkannya amatlah mudah.

Gadis itu berbalik dengan kedua kaki yang dihentakkan. Kesal bukan main karena ia tak pernah berhasil membuat Bima tunduk padanya. Matanya menatap nyalang punggung Bima yang kian menjauh.

"Awas saja kau Bima. Bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkanmu," sumpahnya. Kedua rahang beradu kuat, pandangan tajam menusuk. Ia tidak main-main.

Seolah-seolah dapat mendengar apa yang diucapkan gadis itu, Bima menoleh. Ia membuka kacamata, sorot matanya yang tajam seolah berkata 'jangan mencoba bermain denganku.'

Bima melengos dengan kacamata yang telah terpasang kembali di tempatnya usai melihat keterkejutan di wajah gadis tersebut. Langkah kaki diayunnya dengan cepat, tak ingin tertinggal kelas. Berlomba dengan dosen yang dalam perjalanan menuju kelasnya di lorong yang lain.

Dosen tua itu bukanlah tandingan, Bima berlari lebih cepat dari kedua kakinya. Ia bahkan tidak membalas sapaan temannya dan lekas duduk di bangku. Dadanya kembang-kempis karena napas yang memburu akibat berlari.

"Dari mana kau? Kenapa baru datang?" tanya teman yang duduk di bangku sebelahnya.

"Kesiangan gua gara-gara semalam," sahutnya sambil mengeluarkan buku dari dalam tas. Ia membuka halaman per halaman buku tersebut menunggu dosen datang.

"Waw! Berapa ronde kalian main sampai kesiangan seperti sekarang?" godanya tanpa tahu malu.

"Sialan lu! Emang gua maen tinju pake ronde segala!" sungut Bima sembari memberi pukulan sedikit kuat di lengan temannya itu.

Ia menjerit tanpa suara, mengusap-usap bekas pukulan Bima yang berdenyut-denyut. Bima mendengus. Keadaan hening saat dosen memasuki kelas. Belajar dengan tenang hingga jam selesai.

"Bima! Mau ke mana?" teriak temannya di saat Bima terus berjalan keluar sambil menenteng tas miliknya. Ia berlari menghampiri dan merangkul lengannya.

"Gua mau pulang, ada urusan," katanya. Bima melepas rangkulan temannya dan cepat-cepat berjalan ke parkiran. Pikirannya tak dapat konsentrasi di kelas, terbayang gadis di dalam mobil itu membuatnya penasaran setengah mati.

Bima mengenakan helmnya, di saat itu seseorang duduk di belakangnya tanpa izin. Bima mendengus, ia melepas paksa lingkaran tangan Yola di perutnya. Beranjak turun, selanjutnya menarik tangan Yola agar turun dari motornya tanpa perintah.

Gadis primadona genit itu terjerembab di atas tanah yang dilapisi batako. Ia menjerit kesakitan sambil mengusap-usap bokongnya yang telak menghantam jalanan.

Bima tak acuh, ia yang jengah dengan tingkah gadis itu segera menjalankan motornya meninggalkan Yola yang masih merintih kesakitan.

"Kejam sekali kau, Bima! Apa salahku sampai kau begitu membenciku?!" jeritnya membahana. Bima tak peduli, terus menjalankan motornya tak menanggapi teriakan Yola.

Dua temannya yang sengaja bersembunyi datang menghampiri, membantu Yola berdiri dan memapahnya untuk duduk di sebuah bangku.

"Sialan si Bima! Awas saja kau Bima, aku tidak akan tinggal diam dengan penghinaanmu ini!" kecamnya. Rasa di hatinya berubah menjadi dendam. Ia yang mengejar-ngejar Bima, tapi laki-laki itu terus-menerus menolak semua usahanya.

"Sabar! Tenang! Aku ada ide." Salah satu temannya berbisik. Memberikan ide yang membuat Yola tersenyum licik.

Kita lihat saja! Mampukah kau menolak ini, Bima?

"Bagaimana? Kapan kau akan menjalankan rencananya?" tanya temannya.

Yola melirik sinis. "Secepatnya! Aku hanya ingin tahu apa yang akan dia lakukan setelah kita menjalankan rencana," katanya dengan sorot mata penuh tekad dan dendam. Bibirnya membentuk senyuman sinis.

Secepatnya! Semuanya harus berjalan sesuai rencana. Kau tidak akan bisa lolos lagi dariku, Bima!

Hatinya mengancam, bagaimanapun Bima harus menjadi miliknya. Banyak gadis yang menginginkan Bima, tapi hanya Yola yang berani mendekat dan mengganggu.

Ketiganya meninggalkan bangku tersebut meskipun terbungkuk karena pinggangnya masih berdenyut-denyut ia tetap melangkah menuju kelas. Di hatinya tak henti mengancam dan mengumpati Bima.

Sementara Bima, entah ke mana hatinya menuntun. Ia terus maju tanpa memikirkan arah tujuan. Hatinya berkelana entah ke mana. Ia tak dapat menampik, jauh di palung yang terdalam, ia ingin tahu dan ingin bertemu dengan orang tua kandungnya.

Sekalipun tak ada niat untuk meninggalkan Dewa dan Tina. Bima hanya ingin tahu siapa dan kenapa ia dibuang sampai jatuh ke tangan seorang preman yang berhati lembut seperti Dewa.

Siapa orang tua kandung gua sebenarnya? Hatinya bergumam. Pikiran buruk berseliweran kian kemari. Panas sengatan matahari, tak lagi ia peduli. Tangannya terus menarik pedal gas melaju di jalanan yang tiada bertepi. Selanjutnya, ia tak tahu apa yang akan dia lakukan saat bertemu nanti.

Bima menghentikan laju motornya di sebuah pohon tua pinggir jalan. Ia membuka helmnya, menengadah memandangi langit cerah yang menyilaukan. Air ludah diteguknya saat ia memejamkan mata.

Bima menurunkan kepala, menatap sekitar. Termangu ia di tempatnya saat mengenali rumah siapa yang ia datangi.

"Ngapa gua datang ke mari?" Bergumam heran. Kedua matanya memandang pada sebuah rumah besar di seberang jalan tempatnya memarkir motor.

Gerbang rumah itu terbuka, ada deretan mobil terparkir di halamannya. Tak lepas kedua bola mata Bima dari memandangnya.

Ngapa rasanya gua pernah masuk tu rumah, ya? Padahal, datang aja gua jarang. Segen bet rasanya masuk rumah gedongan.

Hatinya masih merasakan hal yang sama. Setiap kali datang ke rumah itu, ia selalu merasa pernah berada di dalamnya. Ada sebuah tarikan magnet yang kuat dari dalam rumah tersebut.

Seorang gadis berhijab keluar dan berdiri di teras. Ia memandang Bima sekilas sebelum berteriak memanggil Ayahnya.

"Ayah!"

Bima buru-buru mengenakan helm, menghidupkan mesin, dan dengan cepat melesat meninggalkan jejak debu yang berterbangan di jalanan.

"Ada apa?" Razka dan yang lainnya muncul mendatangi gadis itu.

"Aku melihat motor itu lagi. Motor yang membuntuti kita di jalanan, dia terus melihat ke arah rumah di seberang jalan sana, Ayah!" Tangannya menunjuk pada tempat Bima memarkir motornya tadi.

"Apa ada yang mengintaimu? Padahal, kau baru saja sampai," ucap Rendy tak habis pikir.

"Entahlah. Kenapa kota ini selalu berbahaya untuk aku tinggali?" Razka menghendikan bahu.

1
菲菲 Dwi L Arema
G ingat cp dia dlu
菲菲 Dwi L Arema
Dari dlu kenapa aulia ttp bego thor
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
udah bikin aku yg pilek tambah 🤧 ,🤣🤣🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
lah salah bully, anak sultan itu
habis kau Yola dkk 🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
si Akmal kenapa jadi arogan begini 😫
🌹🪴eiv🪴🌹
ya Allah, Ibrahim di gondol anjing 😫
Alhamdulillah masih hidup 🤗
Christina Dariyem
Ya Allah mulianya hati ni orang sekeluarga nyesek banget
Aisy Hilyah: Alhamdulillah
total 1 replies
Christina Dariyem
Sedih banget ampe ikutan mewek dada nysek jg
Aisy Hilyah: terima kasih sudah membaca
total 1 replies
Christina Dariyem
cerita ya bgs banget saya suka sekali baca ini
Aisy Hilyah: Alhamdulillah terima kasih banyak
total 1 replies
Mareew
alur. kisah nya.. semua bagus
Aisy Hilyah: terima kasih banyak
total 1 replies
Mardiati Badri
good enough
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Karmilah Milah
lanjut lagih dong cerita bima seru untuk di baca ngabu burit
Aisy Hilyah: Alhamdulillah hehe terimakasih banyak
total 1 replies
Sri Juliani
akh..ngapa athor begitu romantis dan puitis islami..semoga..bima membawa oran yg dapat menyejukan pembaca...
Aisy Hilyah: aamiin
total 1 replies
Sri Juliani
lama benar author tuk buat tes DNA.ya
Sri Juliani
mudah2 babeh mau berlapang dada..menerima kenyataan yg akan terjadi,jgn sampai karena ke egoisan nyak dan babeh bima jadi benci..
Sri Juliani
hati2 pak dewa..takutnya terjadi percintaan sedara,ayyra ingatkan adikmu,ceritakan pada nassya,agar dia tahu bahwa dia punya kakak laki2..
Yurniati
extra part thorr
Aisy Hilyah: hmm nanti dipikirin lagi hhe
total 1 replies
Yurniati
lanjut thorr
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
sri mindaryati
pas bima ngrokok maskernya dibuka apa ga ya
Aisy Hilyah: dibuka masa dilubangi kayak si kakek 🤭
total 1 replies
Uliana Takbir
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!