NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb9

Ryn berjalan menyusuri koridor sambil membawa nampan berisi sebotol wiski dan satu gelas kosong tanpa es batu. Bayangan malam panasnya bersama Sian kembali berputar. Tatapan Sian terlihat jelas begitu memuja tubuhnya, Ryn memang belum berpengalaman tapi saat mencoba memuaskan Sian pria itu tak henti membisikkan namanya.

'Zhao Ryn, Zhao Ryn,,,'

Langkah kaki Ryn terhenti ketika matanya menangkap sosok yang ingin ia hindari. Yuni berjalan kearahnya awalnya tidak mengenali itu Ryn, kemudian tersenyum meremehkan melihat penampilan baru anaknya. Yuni bersama pria setengah baya di sampingnyapun berhenti.

"Kau memang anakku. Seharusnya kau katakan saja jika ingin gaji ganda, menjadi pelayan sekaligus pemuas." Jika ada yang bilang kasih ibu sepanjang masa maka Ryn menentang pepatah itu. Baginya Yuni sama sekali tidak pantas menjadi seorang ibu.

"Aku sudah tidak memiliki urusan denganmu." Ucap Ryn penuh nada penegasan.

"Oh ya? Kita lihat setelah aku tahu siapa yang telah kau panaskan ranjangnya." Bisik Yuni tepat ditelinga Ryn sebelum melenggang pergi.

Ryn mencengkram erat pinggiran nampan menahan kekesalan pada ibunya. Jangan sampai Yuni tahu soal Sian atau kehidupan Ryn hanya akan terjerat parasit itu lagi.

"Nona, anda sudah di tunggu... " Suara asisten Jun yang tiba-tiba muncul setelah Yuni berlalu pergi menyadarkan Ryn dari lamunan. Untung saja Yuni tidak melihat interaksi mereka. Merasa dirinya hampir terlambat lantas Rynpun segera masuk.

Jun mengambil alih nampan membiarkan Ryn menghampiri Sian tanpa repot. Sian terlihat fokus menata sesuatu di atas piring, dia sengaja menyiapkan camilan untuk Ryn.

Ryn berdiri mengamati Sian, sungguh pemandangan yang luar biasa menyenangkan. Sian tampan, cerdas, kuat di ranjang dan memperlakukan Ryn dengan baik akhir-akhir ini.

"Duduklah." Pinta Sian menyadari Ryn masih asik memandangnya. Ryn menurut, dia menarik kursi bar kemudian duduk patuh di depan Sian.

"Cobalah, ini choi pan buatan nenekku. Dia selalu mengirim untuk stok kudapan." Sian mendekatkan piring ke dekat Ryn sementara Asisten Jun yang ternyata belum keluar cukup terkejut kalau Sian bisa bicara banyak saat bersama Ryn.

"Terima kasih." Ucap Ryn mengambil sumpit dan mulai memasukkan choi pan berisi daging ayam ke mulutnya.

"Lezat, rasanya manis dan juicy." Gumam Ryn usai menelan suapan pertama.

"Kapan waktu liburmu? Besok aku harus ke Sichuan beberapa hari, Jun akan menjemputmu untuk menyusulku." Ryn seketika menghentikan gerakan tangannya yang ingin mengambil choi pan.

"Besok Sian, apa kau yakin akan mengajakku?" Tanya Ryn memastikan takut malah mengganggu pekerjaan pria yang kini menatapnya. Ryn selalu saja kalah setiap beradu pandang dengan Sian.

"Ya Zhao Ryn." Jawab Sian singkat padat dan jelas.

"Nona, anda yakin tidak perlu aku antar?" Tanya supir yang di utus Sian untuk mengantar Ryn ke paradise.

"Ya, ini tidak akan lama." Lalu Ryn segera turun meninggalkan kekhawatiran bagi supirnya. Jika nona tergores sedikit saja bisa fatal nasibnya ditangan Sian.

Zhao Ryn harus melewati klub jika ingin masuk ke asrama dimana kamar bekasnya berada. Matahari bahkan belum tenggelam seutuhnya tetapi beberapa kegiatan tak pantas sudah berlangsung. Mulai dari transaksi obat-obatan terlarang, jual beli berlian ilegal hingga pekerja tuna susila.

Ryn muak, andai saja paspor miliknya tidak ditahan sang ibu dia malas kembali. Yuni terlihat sibuk mendandani para wanita penghibur sekaligus memberi arahan. Melihat kedatangan Zhao Ryn diapun membubarkan mereka.

"Berikan pasporku, anggap saja ganti rugi atas bekas luka yang kau buat." Ryn menyodorkan tangannya menagih benda penting miliknya namun sengaja Yuni tahan untuk beberapa alasan.

"Layani seseorang malam ini, aku akan menyerahkannya." Ujar Yuni tak ada habisnya memaksa Ryn. Karena dia yakin Ryn masih belum tersentuh siapapun. Selama ini Yuni hanya berpura-pura percaya Ryn sudah hilang keperawanannya.

"Sudah ku katakan, aku bukan gadis suci lagi. Berhenti memerintah hal menjijikkan itu!" Tangan Ryn mengepal mencoba meredam emosi agar tidak berbuat kasar pada wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.

"Lakukan atau tidak sama sekali." Yuni keras kepala dan itu memancing Ryn melanggar batasannya.

Dia pergi menuju ruang kerja Yuni, mengobrak-abrik seisi ruangan demi mendapatkan paspornya. Tak suka sang anak berprilaku bar-bar Yuni lantas menarik tangan Ryn kasar supaya berhenti.

Plak.

Satu tamparan keras mendarat dipipi mulus Ryn. Belum puas memberi pelajaran Yuni mendorong Ryn hingga membentur dinding dan terjatuh . Saat berusaha berdiri Ryn kembali ditendang oleh kaki Yuni dibagian perut.

Mual, hal yang Ryn paling benci jika ibunya sudah melampiaskan amarah menggunakan kekerasan. Apa salahnya? Ryn hanya meminta haknya.

"Kau tidak becus mengatur anakmu Yuni." Pen datang setelah mendengar suara gaduh, dia berdecak kesal lagi-lagi Ryn si pembangkang berbuat onar.

"Cepat serahkan paspornya!" Ryn cukup terkejut mendengar perintah Pen. Yuni melayangkan tatapan tajam seolah meminta penjelasan.

"Seseorang membayar besar untuk dia." Ujar Pen memberitahu.

Ryn menebak Sian melakukan hal itu demi melindunginya, tapi Ryn tidak suka. Urusannya dengan Yuni hanya akan mempersulit Sian dimasa depan.

Alhasil meski tidak rela Yuni melemparkan paspor milik Ryn kearahnya. Ryn segera pergi setelah mendapat apa yang ia mau. Supir membukakan pintu untuk Ryn, dia lega melihat Ryn baik-baik saja.

'Sian, aku sangat buruk bukan? Aku sama sekali tidak pantas bersanding denganmu.' Gumam Ryn mengusap perutnya yang masih terasa sakit.

"Aku perlu ke apotek." Ucap Ryn meminta supir mencari apotek terdekat. Dia teringat belum meminum pil kontrasepsi. Sian tidak mau menggunakan pengaman dan mengeluarkan di dalam, hamil bukan pilihan yang baik baginya saat ini.

"Baik nona." Jawab Supir.

Ryn tiba di bandara internasional, sebelumnya Sian memberitahu agar Ryn tidak perlu membawa pakaian ganti karena Asisten Jun sudah menyiapkan keperluan Ryn. Terlihat keramaian mengelilingi Sian yang menjadi pusat perhatian. Beberapa fans berebut ingin berfoto bersamaan dengan reporter yang tak henti memotret untuk bahan membuat berita.

Sian pengusaha, bukan artis namun wajahnya selalu wara-wiri di berbagai majalah bisnis maupun surat kabar. Untuk wawancara eksklusif sendiri Sian belum mau melakukannya. Banyak program acara berlomba-lomba mendapat sesi wawancara eksklusif seorang Lee Sian.

Ryn ragu melangkah mendekati pria itu, merasa rendah diri dan belum siap mereka melihatnya bersama Sian.

"Nona bisa menunggunya di lounge." Jun memberi saran menyadari ketidaknyamanan Ryn.

"Baiklah." Sahut Ryn menuruti apa kata Jun.

Di pesawat pribadi milik keluarga Lee, Sian yang baru saja selesai menerima panggilan telepon menghampiri Ryn. Sejak tadi mereka tidak berinteraksi secara intens.

"Kenapa diam saja? Ingin minum sesuatu?" Tanya Sian memperhatikan Ryn yang memang lebih banyak diam.

"Sian, jangan pernah memberi mereka uang lagi. Aku bisa menangani masalahku."

"Dengan cara menyenangkan pelanggan ibumu?" Potong Sian cepat, dia mulai kesal mendengar ucapan Ryn.

"Ya sian jika kau meyakini hal itu." Ryn malah menguji kesabaran Lee Sian, pria itu langsung menarik tangan Ryn menyeretnya secara paksa menuju satu-satunya kamar pribadi di pesawat.

Sian menghempaskan tubuh Ryn begitu saja keatas kasur yang lebarnya hanya satu meter. Menciumi Ryn kasar dan menuntut juga tak berperasaan, Ryn tentu tidak menyukai Sian seperti ini.

Sian menaikkan ujung dress Ryn, melepas sedikit dalamannya agar membuka celah untuknya masuk. Meski sakit akibat tidak mendapat pemanasan Ryn tetap melenguh nikmat, sehingga Sian semakin semangat menghentakkan miliknya lebih dalam. Merasa Ryn telah menjepitnya erat Sian langsung memuntahkan benihnya, Ryn menggelinjang hebat dengan mata berkaca-kaca. Sian si pemula selalu cepat keluar namun berhasil mengajak Ryn bersama.

Mencabutnya guna melanjutkan keinginan, Sian membalikkan tubuh Ryn menjadi tengkurap. Saat dress itu ia robek paksa Sian terperangah melihat keadaan punggungnya. Penuh bekas cambukan. Nafas Sian masih memburu, semakin merah padam wajahnya menemukan fakta Ryn begitu menderita ditangan sang ibu.

Isak tangis Ryn menyadarkan Sian, segera ia angkat Ryn lalu memeluknya erat. Membisikkan kata maaf beberapa kali karena menyesal telah memaksa Ryn tadi.

"Cukup dia saja yang menyakitiku Sian, jangan kau juga." Hanya pada Sian Ryn mendapat rasa aman, akhirnya di usia Ryn ke dua satu dia menemukan tempat berpegangan karena Sian memang membiarkannya bersandar.

Keduanya saling melepaskan diri, Sian mengecup kening Ryn dan mengusap sisa air mata di pipinya.

"Kau bisa beristirahat, seseorang akan membantumu mengganti pakaian." Kata Sian membiarkan Ryn sendiri, dia membutuhkan waktu guna menstabilkan emosi.

Di sebuah ruang kerja, Pen memanggil Yuni untuk menghadap dirinya.

"Orangku melihat putrimu bersama Jun, asisten Lee Sian." Ujar Pen memberitahu. Yuni yang mendengarnya malah tidak menyukai hal itu.

"Berarti dia yang membayar paspor Zhao Ryn? " Tanya Yuni memastikan, Pen yang awalnya memang tidak tahu mengangguk membenarkan.

"Buat dia mengendalikan Lee Sian agar mau menyuntikkan dana ke klub ini. Jika tidak aku sendiri yang akan menyeret putrimu." Perintah Pen memperingati Yuni, baginya Ryn belum pernah membuatnya untung sekalipun. Jelas Pen merasa rugi sudah menampung mereka berdua.

"Aku mengerti." Jawab Yuni menyanggupi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!