Takdir, secara kikuk menari di atas lembaran putih. Ujung pena menggurat kisah perjumpaan dua insan yang tak bisa menolak kebetulan.
Adik perempuannya yang sedang hamil menerima tindak kekerasan kemudian sekarat di ranjang rumah sakit, Raymundo Alvaro oleh kemurkaan brutal bersumpah akan jebloskan semua yang terlibat ke dalam penjara. Tidak terkecuali, seorang wanita muda yang pernah secara terang-terangan berikan peringatan padanya juga mengancam adik perempuannya.
Raymundo yakini Bellova Driely adalah nama teratas dalam daftar hitam yang paling bertanggung jawab atas segala hal buruk yang menimpa keluarganya.
Sedangkan, Bellova Driely tak menyangka ia akan terseret kasus yang kemudian menghilangkan nyawa bayi Hellena Alvaro.
Raymundo kemudian putuskan menghukum Bellova Driely dengan caranya sendiri. Ia bebaskan Bellova dari penjara dengan banyak syarat dan sengaja ciptakan kegelapan untuk Bellova. Bellova tak berdaya membalas ketidak-adilan yang menimpa karena sebuah janji yang harus ditepati. Bellova menyimpan rahasia besar yang bisa akhiri kesalah-pahaman tetapi ia telah dituntut sumpah untuk pengorbanan berdarah.
Apa yang terjadi ketika akhirnya masa lalu terkuak dan masa depan kehilangan ketenangan? Akankah cinta yang hadir mampu kalahkan kebencian?!
***
Ditulis oleh Senja Cewen
Ja'o Mora Ne'e Masa Miu (Aku Mencintaimu)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29. Stuck in Reverse
Hanya hambar dan hampa. Bahkan sedikit gairah, padam begitu saja. Pertahankan kaki terus menghentak di permukaan jalanan mulai buram, ia mengusap air mata.
Bellova Driely jatuh cinta pada Tuan Raymundo Alvaro. Jika, tidak. Mengapa ia sangat terluka?
Mengusap lagi, air mata Bellova luruh secepat guyuran hujan.
Jangan menangis, Bellova! Kamu hanya punya dirimu saja sebagai pijakan dan kuatkan bahumu untuk bersandar.
Sampai di depan studio. Bellova pandangi diri di kaca studio. Seorang wanita berdandan sederhana, miliki kelopak mata tegas di bawah alis menawan dan bola mata hazel memikat. Rambut keemasan gradasi natural cokelat, orang mungkin menilai rambut indahnya didapat melalui teknik pewarnaan bayalage dan raut baby face-nya mungkin disuntik botox atau perawatan dari klinik kecantikan, tidak. Ia dan Belliza dapatkan semua keistimewaan ini dari Tuhan. Namun, wajah itu sedang merana, sadari ia jatuh cinta pada pria di mana ia lepaskan harga dirinya dan pria itu akan menikahi wanita lain setelah yakin Raymundo Alvaro sedikit punya rasa padanya.
Apa yang kamu harapkan?
Perfect love?
Bukankah kamu sadar bahwa ciuman sempurna, bisikan, rayuan, dekapan tak libatkan emosi? Bukan untuk memiliki?
Murni, hanya hubungan sesaat tanpa masa depan.
Wake up, Bellova! Jika kamu jatuh maka segalanya akan berakhir. Ingat Belliza dan Cheryl, please, bangkit dan berjuanglah! Apakah ada hal lebih penting dari keluargamu saat ini?
Masuk ke dalam studio. Sekali ini Bellova akan kalahkan dirinya sendiri.
"Nona, seorang sahabat menunggu Anda di ruangan atas."
Charlize menyambutnya.
"Sahabat? Aku atau Belliza?"
"Beliau katakan ingin bertemu Nona Bellova dan akan menunggu hingga Anda kembali."
Bellova berikan belanjaan pada Charlize, naik ke lantai atas. Masuk penuh penasaran.
"Queena?!"
Sungguh kejutan sangat menyenangkan.
"Bellova!" seru Queena pelan.
"Queena, aku tak percaya ini."
Bellova datangi wanita yang terlihat sangat rindukan dirinya, dari tatapan haru dan senyuman lebar. Bellova bentangkan kedua tangan. Mereka hanya bersama dalam waktu singkat, mengapa ia seakan mengenal Queena lama. Seakan wanita ini, seseorang terdekatnya.
"Aku merindukanmu, Bellova. Ya Tuhan, maafkan aku sangat terlambat temukanmu. Aku tak tahu kemana mencarimu sedang pria yang aku tanya diam seribu bahasa." Bellova tahu maksud Queena adalah Raymundo Alvaro.
"Queena, apa yang terjadi?"
"Kamu tak tahu, Bellova?" Mata Queena berkaca-kaca dan kepedulian wanita itu sampai padanya. "Ya, sudah aku duga kamu tak tahu," kesah Queena lagi.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya di swalayan dan tahu bahwa Tuan Raymundo akan menikahi salah satu customerku, Viviane Raquel. Gaunnya sedang aku buatkan," keluh Bellova mengangguk pada patung di mana kain yang akan di pola tersampir di sana.
"Sangat di sayangkan."
Queena sepertinya belum benar-benar sembuh. Wajah masih agak pucat dan sesekali kepergok seakan menahan sakit. Dan Queena jelas-jelas mencela pernikahan Raymundo Alvaro.
"Apakah kamu masih sakit?" tanya Bellova prihatin.
"Tidak, Sayang. Aku sudah sembuh sepenuhnya. Jangan cemaskan aku. Malah, aku mencemaskanmu."
"Dengan siapa kamu kemari?"
"Axel Anthony, Bellova. Kantor mereka dekat sini."
"Ya, aku tahu."
"Kamu dan Tuan Raymundo, apakah sungguhan telah berakhir? Bellova, kamu sempurna untuknya. Pria itu tak tahu apa yang sedang ia lakukan. Apakah sungguhan bubar begitu saja?"
Bellova tak sanggup menyahut. Ia dan Raymundo Alvaro tak punya ikatan, tak ada apa-apa, apalagi sepasang kekasih. Mereka hanya pura-pura kencan sekalipun mereka tak pura-pura ketika bersentuhan. Bellova menduga tujuan Raymundo Alvaro menyeretnya ke camping keluarga agar tunjukan pada Axel Anthony bahwa ia telah move on dari Queena.
Ulurkan tangan, Queena mengusap lengannya ketika ia hanya diam.
"Aku menunggunya. Namun, sebulan tanpa kabar, aku sungguh terkejut hari ini. Tuan Alvaro akan menikah." Bellova menghela napas panjang dan tiap tarikan, ia berdenyut nyeri. "Apa yang terjadi, Queena?"
"Dua hari setelah kepergianmu, mertuaku hubungi kami bahwa beliau akan nikahkan Ray dan Viviane Anthony. Aku menentang. Tapi wanita ini adalah mertuaku. Beliau telah jodohkan semua orang sesuai kehendaknya. Aku dan Axel pernah alami hal ini. Adik Axel Anthony, Hector, homeless selama tujuh tahun karena hindari ibunya. Dan Raymundo adalah orang terdekat Ibu Mertua sekalipun dibanding Axel Anthony atau puteranya yang lain."
Bellova pikirkan hal ini. Raymundo Alvaro seperti berjalan di sisi ibunya ketika bersama Nyonya Gracia. Bahkan Nyonya Gracia perhatikan tiap detil yang dibuat Raymundo dan meminta pendapat pria itu meski hanya tentang sekilo buah-buahan.
"Aku menentangnya karena aku tahu Ray memikirkanmu. Aku mungkin lancang, tetapi aku dapati kamu tulus padanya. Pria sulit kami akhirnya akan memulai kisah dengan Bellova Damier. Ia terlihat tak seperti biasa ketika kamu pergi. Aku mengenal Raymundo Alvaro sebaik aku mengenal Axel Anthony. Sesuatu darimu pengaruhi dirinya."
"Begitukah?"
Tentu saja. Mereka berbagi sesuatu sangat intim. Malam panas berakhir, akan tetapi kesan tersirat begitu dalam dan berbekas. Saking kuat jejaknya, tiap pejamkan mata, Bellova bisa melihat wajah Raymundo Alvaro saat pria itu menyerah padanya. Bukankah itu sebuah pertanda?!
"Lalu bagaimana kamu tahu aku di sini, Queena?"
"Raymundo katakan, jika ingin bertemu denganmu, aku bisa berkunjung kemari."
"Aku baru dari Santa Cruz. Sungguh aneh Tuan Alvaro tahu aku ada di sini."
Bellova menghela napas panjang. Jadi, apa yang dilakukan Raymundo Alvaro? Diam-diam menguntitnya?
"Raymundo Alvaro hanya tak kelihatan, Bellova. Sebenarnya terjadi, dia mengawasimu tanpa ketahuan. Begitulah cara kerja mereka."
"Begitukah?"
"Ya, Bellova," angguk Queena. "Aku tak sedang bercanda. Raymundo, Axel Anthony dan Tuan Hellton Pascalito, awasi aku dan Irishak selama tujuh tahun tanpa kami sadari. Mereka pandai menyamar. Jangan percaya pengemis buta, nyanyian burung hantu di malam hari juga suara lolongan anjing. Kamu bahkan dilarang bersandar di sembarang pohon, bisa jadi itu mereka."
Charlize bawakan teh. Baru saja akan dinikmati ketika Charlize kembali mengetuk pintu.
"Nona, Anda kedatangan tamu."
"Oh apakah aku pergi saja?" tanya Queena tak enak hati.
"Queena, mereka di sini."
"Siapa?"
Bellova coba tak meringis.
"Nyonya Gracia, Viviane dan Tuan Raymundo Alvaro."
"Nona?" Charlize menunggu.
"Ya, bawa mereka masuk Liz."
Bellova yakinkan pada diri sendiri bahwa ia tak terlalu peduli, tetapi ia kemudian sekarat saat melihat Raymundo Alvaro.
"Selamat datang, Nyonya." Bellova bangkit layaknya tuan rumah yang baik.
"Queen?!" Nyonya Gracia Anthony keheranan temukan Queena di ruang kerja Bellova.
"Ibu di sini? Aku mengunjungi Bellova." Queena ulurkan tangan pegangi tangan mertuanya, tuntun untuk duduk di sofa.
"Bellova pasti sangat istimewa sampai-sampai kamu abaikan kesehatanmu dan datang kemari."
"Ya, kami sangat dekat, Bu. Itulah, mengapa aku menentang pernikahan konyol ini."
"Queena, aku pikir kita saling pahami selama ini? Berhenti bilang ini konyol!"
"Queena ...," guman Bellova duduk di sofa sebelah Queena, pegangi tangan Queena, tersenyum lembut. "Hubunganku dan Tuan Alvaro telah berakhir. Saat Tuan Alvaro antarkan aku ke bandara pagi itu, semuanya selesai." Bellova tak melihat pria yang menjulang di sisi Viviane. Hanya yakini Queena dan dirinya sendiri yang terus mengelak, seakan tak paham.
"Nah, kamu dengar itu?"
"Oh, ya Tuhan. Aku tak peduli pada apapun yang kalian persoalkan. Aku hanya ingin gaunku terlihat berbeda dan indah." Viviane mulai gerah.
"Maafkan kami," ujar Bellova. "Aku buatkan tampilan pertama dan sebagai dasar gunakan konsep mermaid, lowback and less sleeves. Look kedua, aku akan tambahkan lace skirt agar kelihatan lebih anggun dan pearls belt sehingga bisa highlight bentuk tubuh Anda dengan sempurna. Look ketiga aku tambahkan ditouchable cardigan dengan lace bermotif." Bellova perlihatkan gambarnya pada Viviane.
"Menarik. Jadi, kapan aku bisa fitting?"
"Aku akan selesaikan dalam beberapa hari. Kita bisa bertemu di akhir pekan."
"Baiklah. Lalu, bagaimana dengan pria ini?" tanya Viviane menoleh pada Raymundo yang tak berkedip menatap Bellova.
"Buatkan sesuatu yang bisa hilangkan aura kejam dari wajahnya. Ya Tuhan, bisakah tersenyum sedikit Raymundo Alvaro?" tambah Nyonya Anthony.
"Nyonya, aku tak pandai buatkan jas," kata Bellova terus terang.
"Apakah karena jas ini akan dipakai oleh Tuan Raymundo Alvaro?" tanya Nyonya Anthony penuh selidik.
"Maafkan aku."
"Apakah Anda masih menyukainya?"
"Ibu, ayolah Bu!"
"Baiklah. Aku akan buatkan juga jas untuk Tuan Alvaro," angguk Bellova akhirnya tak ingin perpanjang apapun, bertepatan dengan dering ponsel. Dona menelpon. Abaikan. Berpaling pada Kayla. "Tolong bantu aku, Nona. Dapatkan ukuran Tuan Alvaro."
"Mengapa harus asisten Anda?" tanya Nyonya Anthony.
"Tak masalah Aunty. Gaunku diukur oleh asisten Nona Bellova." Viviane melambai.
"Aku punya banyak jas," tolak Raymundo.
"Tidak. Kemarilah dan jangan sampai aku mendorongmu, Ray!" tegur Nyonya Anthony mendongak pada Raymundo Alvaro, bicara dengan tegas. "Ketika kamu pergi ke altar, orang akan menilai aku dan bukan dirimu."
"Nyonya, aku tak cocok dengan semua ini." Raymundo akhirnya mengeluh.
"Raymundo?!" panggil Nyonya Anthony tajam buat si pria menyerah. "Ambil ukurannya, Nona Bellova. Mari hindari kesalahan dengan tanganmu sendiri."
Bellova tak punya pilihan. Tak perlu sebenarnya, ia tahu lingkar dada Raymundo Alvaro, lingkar pinggang bahkan pinggul pria itu. Ketika tangannya menyentuh Raymundo Alvaro di tenda, tubuh pria itu berikan Bellova semua ukuran secara terperinci. Sedikit menahan napas, ketika Raymundo pergi padanya. Berdiri di sisi meja kerjanya.
Ponsel Bellova terus bergetar.
"Angkat ponselmu! Mungkin penting!" saran Raymundo berbisik cukup dekat di kupingnya hingga ia merinding.
"Aku sedang bekerja," sahut Bellova. "Buka jas Anda."
"Apa harus?"
"Ya. Juga celana Anda jika ingin ukuran akurat."
Raymundo menyeringai kecil.
"Aku serius. Hindari kesalahan." Bellova tambahkan masih berbisik. "Angkat dua tangan Anda, please!" pinta Bellova seperti biasa.
Berdiri menghadap Raymundo Alvaro, seraya berjinjit agar bisa mencapai dagu pria itu dan mengukur lingkar dada. Ulurkan tangan memeluk dada Raymundo Alvaro, pada tubuh besar sebelum menarik tali pengukur. Teramat dekat untuk menangkap beat cepat jantung.
"Uangmu sudah aku transfer," bisik Raymundo Alvaro lagi lebih pelan, menahan napas.
"Terima kasih. Uangnya kelebihan banyak. Jadi, aku pikir, Anda membayar untuk keperawananku juga."
"Aku tak membeli. Kamu menjualnya padaku."
"Masuk akal," sahut Bellova sinis.
Ponselnya bergetar lagi.
"Angkat ponselmu, Bellova! Sepertinya mendesak." Queena mengingatkan.
"Kayla, temani tamu kita." Bellova mundur dan meraih ponsel. Memeriksa pesan. Biarkan Kayla mengambil alih.
"Ibu, ini berlebihan. Axel Anthony dan Raymundo akan temukan seseorang yang tepat untuk buatkan jas, tidak di sini," protes Queena.
"Kapan tepatnya, Queen? Jika aku tak memaksa, tak ada yang berinisiatif."
"Ibuku sangat kreatif. Aku menyayangi Anda, Nyonya Gracia Anthony." Queena tampak putus asa dan menatap Raymundo ingin lampiaskan kesal.
"Kemarilah Queen dan beri aku pelukan. Aku tahu kamu kesal. Tapi, lihatlah Raymundo Alvaro. Apakah kita akan biarkan dia nikahi seorang gadis dari klan lain dan pergi dari rumah? Aku tak bisa kehilangan Raymundo. Lagipula, Viviane cocok untuknya meskipun banyak minus."
"Terima kasih, Aunty. Kita akan saling pengertian," sahut Viviane lipat kedua tangan dan bersandar di sofa.
"Ya Tuhan, temukan juga jodoh untuk Chocolate, Ibu."
Chocolate adalah kucing Persia di kediaman Anthony. Bellova melangkah keluar tinggalkan percakapan di belakangny. Tak biasa Dona terus menelpon.
Naik tangga di sisi ruangan kerja pergi ke ruangan atas, ke kamar yang disiapkan untuknya. Aroma cat merengsek masuk dalam rongga hidungnya. Bellova membuka jendela.
"Dona?! Aku sedang bersama tamu. Ada apa? Apa sesuatu terjadi pada Belliza?"
"Ya, aku ingin beritahukan hal penting padamu. Tetapi, berjanjilah untuk tetap diam hingga segalanya membaik."
"Katakan padaku! Ada apa?"
"Belliza sedang jalani terapi saat ini."
"Apa maksudmu? Apa Belliza bangun?" tanya Bellova tempelkan kening di tembok.
"Ya, sejak sebulan lalu. Tetapi, Belliza minta aku rahasiakan darimu. Aku tak bisa kini, kita butuh uang untuk terapi."
"Aku akan datang, Dona."
"Tidak. Jangan."
"Mengapa? Aku rindukan Belliza, Dona." Bellova tanpa sadar menangis. "Tahukah Belliza aku menunggunya. Aku akan ada di sana untuk mendukungnya."
"Belliza tak ingin kamu sedih. Berjanjilah kamu akan pura-pura tak tahu kondisi Belliza yang sebenarnya saat berkunjung."
Bellova tak menyahut, tetapi ia bahagia dan sedih bersamaan. Bayangkan kakaknya akan terapi sendirian, Belliza juga harus jalani hidup di kursi roda sementara waktu. Cheryl entah di mana dan Helena hamil.
"Baiklah. Aku akan kirimkan uang. Lakukan yang terbaik, Dona."
"Juga, Tuan Vargas tinggalkan nomer ponsel dan alamatnya."
"Beritahu aku. Aku akan menemuinya, Dona."
"Luxury Bar, Bellova."
"Luxury Bar? Tempat itu tak jauh dari sini."
"Ya."
"Apa kamu beritahu Tuan Vargas bahwa aku ingin bertemu dengannya?"
"Ya."
"Baiklah."
Bellova menatap keluar jendela. Tak ada apapun hanya atap bangunan, bata merah dan langit mendung. Ia harus pergi ke São Vicente secepatnya dan membawa Cheryl. Berbalik tetapi sangat kaget temukan Raymundo Alvaro di belakangnya. Miringkan leher amati dirinya.
"Aku benci ekspresi itu!" keluh Bellova sungguhan benci.
"Atau kamu mencintainya." Bukan kalimat tanya.
"Mengapa kemari? Kekasihmu mungkin mencari."
Raymundo bergeming.
"Mengapa menangis?" Raymundo hendak menyentuh Bellova. Ditepis menjauh!
"Apa tangisanku menyerang genderang telingamu, Tuan?"
"Tidak juga."
"Aku suka menangis sama seperti Anda tak suka tersenyum."
"Kami hendak pamitan." Berganti pembicaraan secepat kilat.
"Aku akan kirimkan jas Anda. Tak perlu datang dan mampir kemari!"
"Baiklah."
Mengangguk.
"Apa kamu jatuh cinta padaku, Bellova?" Raymundo Alvaro tiba-tiba bertanya.
Bellova mematung, memandang Raymundo Alvaro.
"Tidak." Diikuti gelengan.
"Ini? Apa?!"
Mengangkat kertas di tangan. Bellova hanya bisa pasrah, menahan emosi di dada. Tidak teliti ketika tinggalkan kertas gambar berisi wajah Raymundo Alvaro di atas meja kerjanya.
"Aku melukis wajah seorang pria yang kumiliki satu malam di sebuah tenda dan itu bukan dirimu."
"Sudah kuperingatkan, jangan terhanyut dan tenggelam padaku! Aku sulit mencintai seseorang."
"Anda hanya tak pernah mencoba," sahut Bellova. Kita bisa mencoba. Aku akan mencintaimu jika kamu mengijinkan.
"Aku mencoba, tetapi seperti katamu, aku tak cocok jadi kekasih seseorang."
"Lalu, mengapa nikahi Viviane?"
"Kami tak saling peduli, Itu menguntungkan kedua belah pihak."
"Baiklah. Jaga dirimu."
Raymundo meraih tangan Bellova dan menaruh sketsa wajahnya di tangan Bellova. Mata mereka bertemu. Bellova kelu saat Raymundo Alvaro mengusap bekas air matanya.
"Semoga pernikahanmu lancar." Bellova menambahkan.
"Terdengar tidak tulus."
Raymundo Alvaro mekarkan jemari tangan, singkirkan rambut Bellova sebelum mencengkeram lembut leher Bellova. Jempolnya mengusap tulang rahang. Juga ujung bibir Bellova.
"Tidak dari hati," tambahnya lagi.
"Anda ingin dengar doa dari hatiku? Huh?" tanya Bellova penuh celaan. Mendongak berani akibatkan puncak-puncak hidung bertemu. Mata Raymundo mengawasi matanya, turun ke bawah. Bibir bertemu tapi bukan untuk berciuman.
"Semoga pernikahanmu dihadiri ratusan tornado, ****** beliung, angin topan, awan panas dan komplotannya. Semoga bumi berguncang, gunung api terbalik dan pengantin wanitamu hilang di hari itu." Bellova mengganti doanya dengan cepat dalam satu tarikan napas. Matanya berkilat.
Raymundo merengkuh pinggang Bellova, hingga tubuh mereka saling melekat.
"Dasar hatimu menakutkan, Bellova. Apa ini kutukan karena patah hati?"
"Aku juga akan menikahi seorang kerabat kami. Jadi, tak ada patah hati."
"Selamat untukmu. Butuh doa dariku?" Pelukan Raymundo makin kuat. Bellova butuh pegangi jas pria itu.
"Tidak. Tak perlu." Bellova akan menyerah saat kening Raymundo menempel di keningnya dan pria itu bicara di atas bibirnya.
"Kita perlu saling memberkati."
"Beri saja berkatmu bagi orang lain," tolak Bellova.
"Semoga tamu tak di undang membuat keributan di hari pernikahanmu dan menembak mati pria-mu di hari itu, Bellova. Cukup setara-kan?"
"Apa maumu?" tanya Bellova lekas kesal. Raymundo Alvaro menyusuri rahang pergi ke kupingnya. Berbisik sangat pelan tapi jelas.
"Aku bingung, apa mauku. Aku menderita ..., dan aku tak suka kamu bahagia."
Bellova ingin mengumpat, tetapi Raymundo Alvaro lepaskan pelukan dan pergi dari sana dengan langkah panjang.
***
Komentarmu dan kasih vote-mu untuk pria menyebalkan ini.
aku datang lagi