Sebuah kejadian mempersatukan Sashi dan Alaric dalam ikatan tanpa cinta. Berjarak tak jauh tinggal keluarga lain. Aruna yang berjualan nasi uduk dan memiliki satu anak kerap mendapat perlakuan buruk suaminya. Hidupnya perih tertatih.
Sembari berjualan, Aruna selalu melihat keluarga itu. Suami yang tampan dan perhatian, terlihat harmonis juga berkecukupan. Salahkah jika hatinya berkata, "Mengapa bukan aku yang menjadi istrinya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAWA SASHI MENEMUI KAY
"Bagaimana pekerjaanmu, Ar? Papa dengar dari Hendra orderan furniture sangat pesat?"
"Alhamdulillah Pa."
"Sashi ... ayo ditambah lagi makannya, Sayang! Kamu kan menyusui, tidak boleh sampai kekurangan nutrisi!" Mama terus berucap sambil mengunyah makanannya.
Rico dan Aric hanya bicara seadanya, menjawab jika ditanya dan hening kembali setelahnya. Suara Kalina yang terus menceritakan kebahagiaannya bertemu Shiza tampak menjadi satu-satunya suara yang sangat ekspresif dalam acara makan itu.
Sashi melirik Aric, ia agaknya melihat gelagat kurang respect Aric terhadap Rico tapi Sashi memilih bungkam. Aric menyadari Sashi yang duduk di hadapannya terus memperhatikannya, beberapa kali ia menarik sepasang alisnya ke atas menatap Sashi. Mempertanyakan mengapa Sashi terus memperhatikannya. Sashi memilih mengerucutkan bibir membalas tatapan Aric, hingga Aric akhirnya tersenyum melihat tingkah polos istrinya itu.
"Arr ... setelah acara makan ini Mama dan Papa ingin bicara denganmu!" ucap Kalina. Aric mengangkat wajah dan melirik Rico sekilas baru ia mengangguk ke arah Kalina.
"Sashi sayang, kamu pasti lelah seharian bersama Shiza. Istirahatlah lebih dulu di kamar bersama Shiza, oke!"
"Iya, Ma," jawab Sashi. Ia lagi-lagi melihat rahut gelisah Aric, hatinya bertanya-tanya apa yang suaminya itu sedang fikirkan, tapi ia tidak dapat menemukan jawaban itu.
Sashi sudah naik ke lantai atas, sedangkan tiga raga tampak duduk bersama di sebuah sofa ruang keluarga. Kalina duduk di samping Aric, sedang Rico duduk di hadapan keduanya.
Seketika Kalina mengenggam jemari putra sulung yang 29 tahun telah hidup bersamanya. Mata itu seketika sendu manatap wajah lelaki kecil yang dulu sering ia gendong kemana pun ia pergi kini terlihat sudah dewasa.
"Maa ... ada apa? Jangan lihat Aric seperti itu! Katakan saja apa yang ingin Mama sampaikan," lirih kata itu terucap. Aric sangat cinta Kalina, ia paling tak bisa melihat Kalina memohon atau memancarkan aura kesedihan. Bagi Aric, Kalina adalah wanita pertama yang mengajarkannya cinta. Kasih sayang yang Kalina beri membuat Aric tau bagaimana rasanya dicintai. Ketulusan Kalina mengajarkan Aric untuk mencintai dan menghargai wanita.
Aric masih menatap wanita yang mulai muncul keriput di pipinya. Disapu lembut pipi itu, menyalurkan rasa cinta yang ada di hatinya. Aric sangat bahagia menjadi anak seorang Kalina, model terkenal di zamannya yang berhati lembut dan penuh cinta kasih, serta tak suka membedakan dari mana kasta seseorang berasal.
Kalina tersenyum merasakan perhatian Aric, ia menghembuskan napas ke udara sebelum akhirnya berucap. "Arr, ka-pan ka-mu akan membawa Sashi menemui Ka-y?"
Jujur sulit rasanya ia meloloskan kalimat itu. Ia tau betul kalimat tersebut akan menyakiti hati Aric, tapi satu sisi bagian hati itu perih merindu lelakinya yang lain. Lelaki yang mengalami koma panjang akibat kecelakaan yang menimpa, Kaysan.
Aric terdiam. Detak itu mulai tak terkontrol menimbulkan bongkahan sesak. Ia menatap Kalina beberapa saat baru berucap. "Maa, Aric mencintai Sash-i!" Sulit kata itu terucap, Aric masih menatap wajah Kalina.
"Sa-yangg ... Mama tau. O-ke ... kamu mencintai Sashi, tapi to-long kita butuh Sashi untuk menyadarkan Kay!"
"Kenapa harus Sashi? Aku ... aku akan lebih sering mengunjungi Kay, Ma!" ucap Aric.
"Jangan lupa, Ma! Perawat dan dokter itu bilang cara tercepat menyadarkan Kay adalah mendatangi orang yang sering dipanggil Kay dalam tidurnya, dan itu adalah Sashi!" lugas Rico mengingatkan Kalina yang hampir saja luluh pada ucapan Aric.
"Papa? Kenapa Papa bicara begitu?" kaget Aric.
"Ada apa, Ar? Kami bukan ingin mengambil istrimu, kami hanya butuh dia untuk menyadarkan adikmu, itu saja! Setelahnya Sashi akan kembali menjadi istrimu!" ujar Rico lagi dengan santai.
"Mudah sekali Papa bicara! Lalu bagaimana perasaan Sashi dan Kay? Sashi yang selama ini tau Kay sudah tiada, bahkan membuka itu semua rasanya aku tak sanggup. Bagaimana perasaannya nanti? Dan Kay, oke ia akan sadar, dan setelahnya ia akan mencari Sashi yang difikir masih calon istrinya, tapi nyatanya ia sudah menjadi istriku! Hahh ... aku lagi-lagi kecewa dengan Papa!" gusar Aric, ia sangat heran melihat Rico yang seolah tak berperasaan dan hanya mementingkan kesadaran Kay saja.
"Ma, katakan pada putramu! Inilah satu-satunya cara, kecuali jika ia memang tidak ingin adiknya pulih!"
Rahang Aric mengeras. Ia tak suka ucapan Rico. Memang hatinya masih gamang. Ia bingung ... tapi bukan berarti ingin Kay selamanya seperti itu.
"Sabar, Pa! Kita cari penyelesaian dengan kepala dingin!" Kalina menatap Rico baru setelahnya menghadap Aric. "Sayang ... Papa dan Mama minta maaf. Tapi kami juga bingung, kami sungguh tak ingin Kay terus seperti itu. Ia harus sadar dan melanjutkan hidupnya!"
"Silahkan lakukan apa yang ingin Mama dan Papa lakukan untuk menyembuhkan Kay. Aku akan mendukung, tapi tidak menggunakan Sashi!" lugas Aric berupaya mempertahankan rumah tangganya.
Kalina menyapu bahu tegap putranya. "Arr ... tapi semua ucapan Papamu tidak sepenuhnya salah! Sashi cepat atau lambat harus tau. Walau Kay setelahnya akan menjadi adik iparnya." Kalina berusaha menengahi dan membuka fikiran Aric.
"Beri Aric waktu, Ma! Setidaknya sampai Aric benar-benar yakin tidak ada Kay dalam hati Sashi!"
"Itu artinya kamu ragu dengan hati Sashi!" ucap Rico spontan. Aric menatap nerta Rico. Sebetulnya ucapan Rico tak salah, hanya saja ia belum siap membenarkan itu. Aric melihat jam dinding menunjukkan hampir pukul 8 malam. Ia ingat masih ada kewajiban pada Ciara, namun ia ingin bertemu Sashi dahulu.
"Sekali lagi Aric minta waktu untuk membuka kebenaran ini pada Sashi, Ma, Pa! Aric izin ke atas sebentar!"
"Arr, tunggu!" Rico memanggil Aric.
"Iya?"
"Shiza! Bagaimana jika kami menggunakan Shiza untuk menyadarkan Kay. Ia darah daging Kay, ikatan batin keduanya pasti kuat! Bagaimana?"
Amarah yang telah mereda mendadak terbakar kembali. Aric sudah menganggap Shiza putrinya. Ia tak siap jika Kaysan mengambil putrinya itu. Aric memang egois, ia ingin memiliki semuanya baik Sashi maupun Shiza. Bagi Aric keduanya adalah miliknya, semangatnya. Jiwa-jiwa yang selama ini berada didekatnya dalam rengkuhannya. Ia ingin selamanya begitu. Ya, ia sadar semua ini salah, mau tidak mau, rela tidak rela Shiza adalah anak Kay. Ia tak boleh egois. Tapi hati kecilnya ingin egois.
"Nanti dulu, Pa! Biarkan Aric berfikir!" ucap Aric setelahnya. Rico bergeming sambil bersedekap, Kalina mengangguk.
Raga tegap itu masuk ke kamarnya. Ia mendekati Sashi yang tengah memainkan ponsel. Dipeluk erat raga istrinya itu seketika membuat Sashi bingung.
"Ada a-pa, Ka-k?" tanya Sashi.
"Aku mencintaimu, sangat! Sashi Mumtaz!" Aric menjatuhkan kepalanya di bahu Sashi.
"I-ya aku tau , Ka-k!" Sashi bingung kenapa Aric tiba-tiba bersikap seperti itu.
"Sash ...!"
"Iya?"
"Katakan kamu juga mencintaiku!"
"Iya aku cinta Kakak!"
"Seberapa besar?"
"Aku tidak tau, sangat besar!"
"Apa lebih dari cinta lain yang pernah hadir?"
Sashi bergeming, bingung maksud ucapan Aric. "Cinta ayah bunda kah maksud Kakak?"
"Bukan! Cinta lain! Cinta lain yang pernah hadir dalam hidupmu?"
"Hmm ... cinta pada Shiza, kah?"
"Bukan!"
"Mima?
"Papa Mama?"
"Teman-teman?"
Hahhh ....
Aric menyugar rambut dan menghembuskan napas kasar ke udara. Melihat Sashi bertambah gemas saja Aric. Gadisnya itu bahkan tidak dapat menerka yang ia maksud.
"Ya sudah! Jangan fikirkan lagi! Yang penting kamu sangat mencintaiku, kan?"
Sashi megangguk.
Dalam hati kecil itu berbisik. "Mungkinkah yang dimaksud Kakak cintaku pada Kay? Ahh ... tidak mungkin! Kay kan sudah tiada ...!" Sashi membuang fikiran itu setelahnya.
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Makasih yang selalu komen dan like tiap bab karya ini❤❤
☕Lagi-lagi Bubu mau promote karya Kakak literasi Bubu, ayo mampir sambil nunggu Bubu up😉
dag dig dug jadinya 😁