Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
"Len ...." Radit menuruni tangga dengan langkah besarnya.
"Udah pulang dianterin Budi, kenapa sih lo?"
"Gue belom ngomong ke dia kalo gue duda, Chila udah nongol ... lagi lo Chila di suruh maen naek aja ke atas."
"Lah ... gue lagi yang salah, Chila itu nyari lo ... Budi bilang lo di atas," jawab Ellen. "Jangan bilang lo sebel sama Chila gara-gara ...."
"Ah, lo mah ... bukan lah, ini masalah status gue, gimana ya Len."
"Udah lo jelasin?"
"Udah ... dan dia belom bisa terima."
"Wajar lah, dia syok ... kasih waktu, jangan temui dulu. Gue yakin kalo lo langsung temui dia, yang ada malah tambah kacau ... biarin dulu."
"Jadi gue biarin dulu?"
"Iya ... kenapa? gak tahan?"
"Gak tenang Len ... bukan gak tahan, kalo tahan mah gue tahan, dua tahun gak ke pake aja gue tahan."
"Orang stres ...." Ellen tertawa. "Dah lah ... saran gue ya kayak tadi, jangan lo temui dulu, kasih dia ruang ... gue mo ngitung duit dulu, oh ya ... Tante Yuli sama Chila lama di sini?"
"Lama ... biarin aja, sekaligus gue quality time sama Chila."
"Nah ... kesempatan lo buat deketin Chila sama Jenna." Ellen berlalu dari hadapan Radit.
Benar juga yang dikatakan oleh Ellen, dia memang harus mendekatkan Chila dan Jenna. Meski awal pertemuan mereka berdua tadi tak secanggung yang Radit bayangkan.
Radit terduduk di salah satu kursi bar, menyanggah kepalanya dengan tangan yang tertumpu. Helaan napas berat begitu terasa, sedari tadi dia mengusap layar gawainya, ingin rasanya Radit menghubungi Jenna namun teringat pesan Ellen untuk memberikan ruang pada Jenna.
Gadis itu memasuki rumah dengan wajah yang begitu kesal. Jenna melempar tas nya ke atas tempat tidur. Perasaan kesal ini luar biasa, bisa-bisanya Radit menyembunyikan semua itu darinya.
Ya Tuhan, tak bisa dia bayangkan yang akan terjadi bila keluarganya tahu dia menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang sudah pernah menjalani hidup berumah tangga dan mempunyai satu orang anak lalu berakhir dengan perceraian.
Jenna memijat keningnya, dia duduk di meja riasnya memandangi wajahnya. Sungguh rumit hidupnya, ketika dia sudah menemukan seseorang yang dia dambakan akan menjadi pasangan hidupnya ternyata berakhir dengan kebohongan lelaki itu.
Padahal baru saja terlintas di benak Jenna untuk mengenalkan Radit pada keluarganya saat acara pertunangan Akbar nanti, dan yang terjadi sekarang malah membuatnya bukan hanya sakit di kepala tapi juga di hatinya.
Jenna butuh waktu untuk bisa mencerna keadaan ini. Berkali-kali gadis itu menghela napas, berat sudah urusan percintaannya dengan Raka bahkan sekarang dengan Radit.
"Ya ampun," lirihnya. "Gimana bisa jadi gini."
Jenna menepuk keningnya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bingung? Jenna benar-benar bingung.
...----------------...
Radit benar-benar memberikan ruang dan waktu untuk Jenna. Tiga hari berlalu dari kejadian kemarin, sampai detik ini Jenna maupun Radit tak saling menghubungi atau saling bertemu. Mereka benar-benar menghabiskan waktunya untuk saling berpikir.
Hanya satu kali Radit mengirimkan pesan pada Jenna, itu pun hanya Jenna baca tanpa membalas.
"Maafin aku." Isi pesan dari Radit kala itu.
Dan hari ini tepat hari pertunangan Akbar dan Lala, acara yang di lakukan di sebuah restoran itu berjalan lancar dan meriah. Penentuan hari bahagia mereka pun langsung diumumkan, dalam waktu enam bulan ke depan Akbar dan Lala akan melangsungkan pernikahan.
Wajah-wajah bahagia itu begitu terpancar. Mata Jenna berkaca-kaca saat dia melihat sang kakak akhirnya menemukan tambatan hati yang sesuai dengan yang dia mau. Keberuntungan selalu berpihak pada Akbar, berbanding terbalik pada dirinya.
Jenna melihat wajah sang Mama yang tersenyum sumringah menerima ucapan selamat dari para tamu dan saudara, akan kah Jenna lihat senyum itu saat dia menentukan pilihan dimana dia akan melabuhkan hatinya nanti?
Ah, entahlah saat ini Jenna benar-benar tak dapat berpikir. Jenna melangkahkan kakinya mencari toilet, kebaya yang dia pakai cukup membuatnya gerah. Jenna butuh tempat untuk melarikan diri dari pertanyaan saudara-saudara dari pihak ayah dan ibunya yang datang ke acara itu.
Seseorang menarik tangannya saat Jenna baru saja akan memasuki toilet wanita. Jenna terkejut, ketika tubuhnya terhuyung dan membentur dada seorang laki-laki.
"Mas ...." Mata Jenna terbelalak.
Radit menempelkan jari telunjuknya ke bibir gadis itu.
"Ikut aku."
"Gak!"
"Kita harus bicara, Na."
"Tapi—"
"Please ...." Mata itu memohon.
Radit mengendap-endap melalui pintu belakang restoran itu, menggenggam tangan Jenna yang berjalan di belakangnya, lalu sedikit berlari menuju parkiran mobil.
"Kita harus bicara," ujar Radit saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Bicaralah," ujar Jenna. "Bicara di sini aja."
Radit menyalakan mesin mobilnya, perlahan meninggalkan pelataran parkir restoran itu.
"Mau kemana? kan aku bilang ... kita bicara di sini aja," ujar Jenna pada Radit.
Mobil Radit memasuki cluster rumah miliknya.
"Turun dulu ... kita bicara di rumah," ujar Radit melepaskan sabuk pengamannya.
"Kenapa gak di mobil aja dan kenapa gak di parkiran tadi?"
"Na ... please kita bicara dengan tenang, gak pake emosi."
"Aku gak emosi ... siapa yang emosi." Gadis itu melipat tangannya. Jelas nampak wajah Jenna yang masih emosi.
"Turun dulu yuk," ujar Radit lembut.
Jenna masuk ke rumah itu, tak di lihatnya ibu Radit dan Chila anaknya.
"Lagi pada ke mall sama Ellen," ujar Radit seakan tahu jika Jenna mencari ibu dan anaknya.
Jenna duduk di sofa ruang tengah, Radit datang membawanya minuman lalu menghidupkan tivi dan pendingin ruangan.
"Panas ya?" tanya Radit yang sudah duduk di sebelah gadis itu.
"Iya ... panas kayak hati aku," jawab Jenna langsung tepat pada sasaran.
"Mau dengerin aku kan?"
"Ngomong aja."
"Dua tahun lalu aku bercerai dengan mama nya Chila, Anna namanya."
"Harus ya aku tau namanya," sungut Jenna.
"Saat itu Chila berumur hampir dua tahun." Radit melanjutkan ceritanya. "Proses perceraian itu gak lama, hak asuh Chila jatuh di tangan Anna karena Chila masih kecil ... aku gak pernah nyangka itu terjadi sama aku Na, selama dua tahun hubungan aku dengan Chila hanya sebatas telpon dan video call." Radit terdiam.
"Anna mengkhianati aku, dia berselingkuh dengan salah satu kliennya di saat umur Chila satu tahun lebih, saat itu usahaku sedang dalam tahap berkembang ke beberapa daerah."
"Dua tahun aku menduda Na, menjalin hubungan dengan seseorang bahkan tak terlintas di pikiranku, yang ada hanya kerja dan kerja gimana caranya aku melupakan rasa sakit hati itu, hingga ... pertemuan sama kamu untuk pertama kalinya saat itu, kamu mengalihkan semuanya ...."
Jenna melirik Radit yang sudah memandangnya.
"Baru sama kamu, aku ngerasain lagi debaran aneh di jantung aku, baru sama kamu aku bisa kembali lagi jadi Radit yang dulu dengan segala gombalan recehnya, baru sama kamu Na ... aku—"
"Terus kenapa gak dari awal kamu cerita sama aku? mau nunggu kapan?" Jenna menatap lelaki itu.
"Kan aku udah bilang waktu itu, belum memungkinkan buat aku cerita sama kamu sedangkan hubungan kita masih harus sembunyi-sembunyi seperti ini, Na."
"Aku juga takut ...," ujar Radit. "Kalo aku jujur sama kamu, kamu bakal pergi dari aku."
**enjoy reading 😘
lik dan komen kalian adalah kebahagiaan aku 😘😍**
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba